
Alucard mengayunkan kembali pedangnya dan mengeluarkan cahaya yang mampu mematikan musuh. Nana terlihat meloncat melewati cahaya tersebut. Sedangkan aku segera melepaskan anak panah yang tak kalah mematikan.
Alucard berlari menghindari kilatan anak panah yang bisa menyerang dari berbagai arah. "Hey hey, not to bad!" Dia tersenyum menyeringai seperti mengejekku. Aku yang belum bisa mengalahkannya hanya bisa mendengkus kesal.
"Miya biar aku saja. Biarkan aku melindungimu, aku bisa mengendalikan kekuatan!" Nana berteriak sembari meloncat untuk menyerang Alucard.
Aku segera melesatkan panah kembali. Aku tidak akan membiarkan Nana berjuang sendiri melawan Alucard. Ini pertempuran tentang harga diri. Walaupun, harus mengorbankan nyawa, aku tidak akan menyesali. "Alucard, bersiaplah untuk mati!" ujarku sembari melepaskan anak panah yang kesekian kalinya. Mata jeliku melihat Alucard mulai kelelahan menghadapi serangan kami berdua.
Aku sudah merasa di atas angin, ketika Alucard mulai melemah. Ini adalah kesempatanku untuk menembus benteng kerajaan Kadita. "Semoga ini adalah awal yang indah." Aku bergerak ke depan untuk membantu Nana.
Lesatan cahaya dari senjata kami mewarnai keadaan pesisir pantai yang dipenuhi aura hitam. Aku berharap semoga tidak ada lagi pasukan Kadita yang akan menghalangi. "Semoga kemenangan menjadi milik kita, Nana!" Aku berteriak dengan nada sumringah.
"Percayalah padaku, Miya. Aku bisa membantumu." Nana berkata sembari mengeluarkan Molina. Apabila dia mengeluarkan kucingnya, kemudian mengenai musuhnya. Aku pastikan dia tidak bisa bergerak, dan apabila ini terjadi pada Alucard. Kesempatan untuk untuk menyerangnya sampai dia tak berdaya.
Walaupun, Alucard terlihat lelah, namun jiwa sebagai assasin tak membuatnya menyerah begitu saja. Serangan demi serangan yang kami lancarkan tidak menggoyahkan tubuhnya. Julukan si pembantai, aku masih ingat akan kata-kata sombongnya pria ini "Membunuh selalu lebih baik daripada memberi belas kasihan."
"Aku akan menghancurkanmu, Alucard. Enyahlah!" Ujarku terus mendekat padanya.
Aku kembali menarik tali busur, namun yang terjadi malah sebaliknya. Aku tidak tahu kapan Dyrroth datang menghalangi kilatan dari panahku. Dia menangkis semua serangan dengan lengannya yang kuat.
"Alufeed!" ejek Dyrroth pada Alucard. Aku melihat wajahnya menatap tajam pada Alucard yang masih terlihat lemah.
"Biarkan aku yang mengalahkan mereka, jangan ikut campur! Akanku tunjukan padamu seni membunuh!" berang Alucard sembari mengayunkan pedamgnya.
Molina yang masih berkeliaran segera mendekati Alucard, dan benar saja ketika dia mendekat, tubuh kekar Alucard menjadi terdiam. Melihat kondisi yang terjadi Dyrroth mendengkus kesal seraya menatap jijik pada Alucard. Sekarang dia fokus berlari melawan Nana yang masih bergerak lincah sembari melemparkan boomerang ke arahnya.
Kini, aku memusatkan serangan pada Dyrroth karena dia sangat tangguh dan jarang terkalahkan. Ketika melemparkan serangan, dia seperti tidak peduli pada siapapun.
Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, akibat serangannya malah melukai Alucard yang tubuhnya masih terkunci sihir Molina. Alucard terlihat semakin lemah. Entahlah, kenapa hati ini terenyuh melihat Alucard yang tengah terluka.
"Nana, tangani Dyrroth!"
Setelahnya aku bergerak cepat mendekat pada Alucard untuk menarik tubuhnya agar menjauh dari pertempuran. Biarlah, aku menolongnya untuk kali ini saja. Sebagai keturunan Moon Elf, aku tidak membiarkan seorang mahluk terluka.
Aku mendekat pada Alucard yang terkapar lemah. Aku segera menariknya ke tempat yang paling aman dari serangan. Aku melihat rerumputan yang bisa dijadikan tempat persembunyian. Aku berharap tidak ada monster hutan yang tiba-tiba menyerang kami.
Mata Alucard terus menatapku, diaasih saja dingin walaupun aku sudah menolongnya. "Aku tidak akan menjadikannya hal ini sebagai hutang budi. Jadi, jangan menatapku seperti itu karena aku hanya menolongmu saja!"
"Terserah apa katamu. Seharusnya kata-katamu itu, kamu tujukan untuk Dyrroth, temanmu yang telah membuatmu menderita!"
Aku berkata sembari berlalu menjauhinya. Ada rasa kecewa yang aku rasakan dari sikap Alucard. Bukannya berterima kasih, dia malah menunjukkan sikap dingin.
Aku bergerak cepat menuju pertarungan antara Dyrroth, Nana, dan Molina. Aku melesatkan kembali anak panah yang telah diberkati oleh cahaya bulan. Namun, Dyrroth memang Demon yang sangat kuat. Sekarang dia malah mengeluarkan cahaya biru yang sangat besar untuk menyerang kami bertiga. Nana kembali memperlihatkan skillnya, dia tak henti-hentinya terus melakukan serangan.
Aksi saling serang terus terjadi, aku berharap mampu melemahkan Demon ini. Aku tahu dia sangat kuat tapi aku yakin bisa mengalahkannya. "Tunggu aku Zilong. Tunggu, Sayang. Sebentar lagi, aku akan menyelamatkanmu!" ujarku sembari melesatkan panah, menggempur setiap serangan yang dilancarkan Dyrroth.
"Seperti inikah serangan kalian. Semua serangan ini tidak berarti. Seharusnya temanku mengajari kalian teknik membunuh!" ejek Dyrroth yang semakin membuatku kesal.
Aku melihat cakram yang ada di pergelangan tangannya berputar, kemudian terlepas. Cahaya dari putaran cakram membuat mata tidak fokus. Tiba-tiba Nana dengan boomerangnya menangkis cakram milik Dyrroth. Aku sangat bersyukur untuk hal ini.
"Apa kamu merendahkan Nana?" tanya Nana balik mengejeknya karena sekarang Cakramnya tidak bisa kembali lagi.
Mendengar ejekan Nana, dia terpancing. Amarahnya terlihat dari rahang yang terlihat mengeras. "Aku akan membawa kalian ke dunia lain. Bersiaplah menerima kematian kalian!" teriak Dyrroth. Dia mengeluarkan semua kemampuan yang pasti akan menyakiti kami.
Aku dan Nana, bersiap pada posisi masing-masing. Nana mengeluarkan Molina supaya bisa menghentikan gerak Dyrroth. Aku sangat hapal apabila terkena Cakramnya maka besar kemungkinan kami akan kalah.
Molina dengan cekatan mendekati Dyrroth dan meloncat untuk menghentikan laju Dyrroth walau sesaat, aku dan Nana segera berlari menjauh dari sihir Molina. Namun, bukan untuk mundur, tapi untuk bersiap kembali menyerang musuh.
Sheet!
Aku membidikkan panah tepat di kepalanya. Namun, mata ini terpana dengan kedatangan seseorang yang bisa membuat degub jantungku tak bekerja dengan benar.
"Zilong, kamukah itu?!"
Aku berlari mendekati kekasih yang tengah aku cari. Walaupun, aku harus bertempur dahulu, ternyata takdir masih berpihak padaku. Aku terus menatapnya dengan perasaan membuncah. "Aku sangat merindukan kamu, Zilong!" Aku berteriak sembari berlari mendekat padanya.
Dooaarr!
Aku tidak tahu, kenapa ini terjadi? Zilong, ada apa demganmu kenapa kamu menyerangku sampai aku harus merasakan semua sendi seakan teriris oleh tombakmu. Zilong kenapa kamu berubah? Apa kamu sudah tidak mencintai dan ingin melenyapkanku?
Kini tubuku terasa mati rasa karena serangan yang dilakukan oleh kekasih yang tengah aku rindukan. Apa seperti ini balasannya?
"Kenapa kamu jadi seperti ini, Zilong? Selemah ini kah aku harus merasakan rasa cinta bersamamu?!" Aku bertanya pada Zilong yang akan menyerangku kembali tombaknya.