
Setelah makan, aku meminta izin pada Alucard untuk menemui Moon God. Pembicaraan semalam tak membuatku tenang. Ada hal yang masih menganjal yang aku rasakan. Sengaja hari ini, aku membuat makanan lebih. Aku tahu makanan kesukaan Moon God.
Aku berjalan dengan hati yang sangat berbahagia karena aku bisa membayangkan bagaimana reaksi Moon God, kalau dia tahu, aku membawakannya makanan yang dia sukai.
"Aku cemburu padanya. Kenapa dia selalu disukai oleh pria yang aku sukai? Apa salahku? Apa aku kurang cantik? Jawab!" teriakkan terdengar dari kamar Moon God.
Brak!
Prang!
Suara keributan makin terdengar dari kamar Moon God. Aku tidak tahu kenapa banyak benda yang terlempar dan dia sedang membicarakan siapa? Rasa penasaranku semakin memburu karena setahuku, kediamannya tidak bisa didatangi oleh sembarang orang. Hanya orang-orang pilihan dia saja yang bisa memasukinya. Aku juga terkejut ketika Alucard mengatakan kalau dia diajak masuk ke dalam kamarnya. Segala perdebatan tentang Moon God dalam hati, aku simpan dulu. Yang terbayang saat ini adalah aku harus melindungi Moon God.
Aku segera mengetuk pintu kamarnya. "Moon God, aku sudah di depan pintu. Bolehkah aku masuk ke dalam?" tanyaku padanya.
"Who are you?!" Dia berteriak.
"Buka pintunya, aku Miya. Aku membawakan makanan yang pasti kamu sukai!" tawarku padanya.
"Aku sedang tidak enak badan, Miya. Pergilah, aku ingin sendiri." Suara bijaknya masih terdengar.
"Aku tidak akan pergi sebelum kamu memakan makanan ini!" Aku berkilah agar dia keluar dari kamar. Aku sangat mengkhawatirkan kondisinya.
"Kenapa kamu berani memaksaku?" Dia masih saja bertanya.
"Karena aku sangat menyayangimu. Aku tidak mau melihat kamu dalam keadaan lapar!" Aku masih membujuknya supaya dia keuar dari kamar.
Kini, tak ada suara yang terdengar dari dalam kamar. Aku semakin khawatir akan kondisi Moon God. Apa yang terjadi?
"Moon God, apa kamu baik-baik saja. Jangan seperti ini, aku mulai khawatir. Buka pintunya!"
Setelah tidak ada suara yang terdengar, aku mengeluarkan sihir dari tanganku yang terlihat seperti kilatan api biru yang aku tempelkan di depan pintu. Namun, bukannya terbuka. Kini tubuhku terdorong sampe ke luar bangunan tinggi ini.
"Aaaa!" Aku menjerit. Aku yakin, pasti tulangku remuk karena menyentuh tanah. Aku sudah pasrah kalau hal itu terjadi.
Grep!
Aku menatapnya ketika dia menangkap tubuhku, bagai malaikat yang menyelamatkan sang peri. Setelah menyentuh tanah, dia menurunkanku.
"Terima kasih, Sayang. Kamu selalu ada untukku!" Aku berkata tulus seraya mencium punggung tangannya.
"Tenang saja, Sayang. Selama aku bersamamu aku akan datang ketika kamu kesulitan, asal dengan satu syarat!" Dia menghentikan perkataannya. Sedangkan aku menoleh padanya karena aku tidak mengerti akan kata-katanya. "Aku sudah melingkarkan benda yang sudah terhubung dengan hati ini. Sampai kapanpun selama benda ini ada di jarimu. Aku akan selalu datang untukmu, Sayang!" Dia berkata yang bisa membuatku terbang menembus langit.
"Alucard, aku mencintaimu dan jangan pernah pergi dari hadapanku. Aku harap kamu tidak pernah membohongiku! Karena kalau itu terjadi aku akan membencimu selamanya!" tegasku.
Dia menarikku dalam pelukan, "mungkin kamu yang akan meninggalkanku. Bukankah para penggemarmu selalu datang untuk menawarkan cinta padamu?!"
Aku mencebik seraya mencubit lengannya. "Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu?" Aku bertanya padanya. Sebenarnya dalam hati ini ada tanda tanya besar. Karena yang aku tahu, seorang pria akan bersikap manis di awal saja, namun setelah bosan dia akan pergi tanpa pamit atau mengucap kata maaf.
"Aku tidak bisa hidup tanpamu, Miya. Itu adalah janjiku!"
"Jangan berjanji seperti itu karena aku hanyalah mahluk yang akan membuatmu kesal dan lama kelamaan kamu akan bosan. Kemudian pergi dengan sendirinya!" Aku berjalan sembari menatap lahan luas untuk balapan kuda. Di lahan ini pula aku mengasah keahlianku—memanah.
Alucard kembali memelukku dari belakang. "Jangan bandingkan aku dengan pria lainnya. Karena aku berbeda dengannya!"
Aku tersenyum seterusnya aku mendongakkan wajahku kearahnya.
"Bibir ini yang selalu membuatku merindukanmu. Berjanji untuk tetap di sisiku apapun rintangannya!"
Kami menikmati pagutan terindah yang sudah tidak terhitung lagi. Pada saat ini, hanya butiran cinta yang ada di dalam hati. Aku tidak tahu entah sampai kapan rasa cinta ini berlabuh di dermaga kami. Aku berharap selamanya kami selalu bersama.
***
"Good job, Sayang!"
Alucard memberikan pujian ketika aku bisa membidik dari jarak bidik panahan yang sangat jauh. Satu anak panah aku lepaskan, tepat mengenai sasaran.
"Kamu hebat, Sayang!" Senyuman dan tepuk tangan terdengar dari bibirnya.
"Seorang Miya tak pernah meleset, Sayang!" Aku sengaja bersikap sombong untuk memanas-manasi dia yang masih belum berani memegang busur.
"Sombong kamu!" Seru Alucard sembari terkekeh.
Beberapa menit matanya memfokuskan pada satu titik. Dengan kelihaiannya, dia bisa melesatkan bidikan tepat di samping anak panahku.
Aku mengacungkan jempol padanya dan dibalas dengan senyuman tipis. Kini, giliranku kembali. Dia menatapku, "Miya tunjukkan kesombonganmu. Tunjukan kalau kamu mampu, bukan hanya kebetulan!" teriaknya.
Aku mengeryitkan dahi, apa dia menyangka kalau ketepatanku dalam membidik hanya kebetulan saja? Oh, My God, dia tidak tahu apa? Ketepatan pada panahan butuh latihan yang lama, bukan hanya kebetulan. Tetapi, sudahlah akan ku perlihatkan, kalau aku bisa membidik tepat di tengah sasaran.
Aku fokus untuk membidik pada sasaran, dan anak panahku tepat menancap lagi di sebelah anak panahnya. Para Elf bersorak.
"Hidup, Miya! Hidup, Miya!"
Aku hanya tersenyum dibuatnya.
Setelah, nilai kami seri. Dia menantangku memanah di atas kuda.
Aku masih ragu untuk hal ini, aku hanya berharap kuda yang aku tunggangi bisa sehati denganku. Mungkin, kalau latihannya di rumah Justin. Aku akan menaiki kuda kesayanganku, kuda jantan berwarna coklat. Aku selalu memangil Molly.
Dua Elf mengeluarkan dua ekor kuda. Warna coklat dan putih. Alucard memberikan kuda berwarna putih, tapi aku lebih memilih warna coklat karena mengingatkanku pada Molly. Ku belai halus kulitnya dan dia pun tidak berontak sama sekali.
Aku menaiki kuda tanpa rasa ragu. Memposisikan cara duduk, sembari mengalungkan tempat anak panah. Kami memacu kuda sembari melesatkan anak panah. Setiap anak panah yang aku lesatkan tidak ada yang meleset.
Sampai akhirnya, ada suara yang sangat keras membuat kuda yang aku tunggangi syok. Kuda itu pun mengamuk sampai menjatuhkan tubuhku.
Brugh!
Aku terjungkir dari kuda sampi tubuhku terhempas berguling-guling. Aku terdiam di atas tanah merasakan nyeri yang menjalar di tanganku.
Alucard turun dari kudanya, dia bertanya, "sayang! Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya dengan tatapan sendu.
"Tidak, aku tidak apa-apa! Apa kudanya baik-baik saja," tanyaku.
Alucard mememindai di sekitar lahan. "Siapa kalian? Keluarlah!"