
"Lihat dengan matamu, Miya! Berapa goresan luka yang telah dia tahan untuk membelamu? Begitu banyak tetes darah yang sudah dia keluarkan hanya untuk menyelamatkan nyawamu yang tak berharga?!" Moon God mendekat padaku sembari menunjuk sarkas.
Aku tersedu sembari menatap Alucard yang berusaha bangkit. Sungguh, aku tidak tega melihatnya seperti ini. Andai waktu bisa diputar kembali. Aku ingin mencintainya tanpa ada hambatan sepertinya ini. Apabila aku tahu Moon God akan seperti ini, mungkin aku akan lebih memilih untuk tidak kembali lagi.
"Sudahlah, Moon God jangan sudutkan Valerie. Aku baik-baik saja. Kalau pun aku harus terbunuh karena mencintainya ... aku sanggup. Please stop, jangan buat dia semakin tertekan!" Alucard terus memohon.
Aku melihat Alucard bergerak lagi dan mencoba berdiri tanpa bantuan. Sedangkan, Moon God menghambat pergerakan Alucard dengan tali sihir. Dia seperti sengaja menghalangi langkahnya untuk mendekat padaku.
"Izinkan aku mendekat pada Miya!" Dia berteriak pada Moon God. Tubuhnya semakin bergetar.
"Untuk apa kamu mendekati seorang peri yang selalu membuatmu terluka. Untuk apa?" Dia seperti menambah kekuatan sihirnya.
Sejujurnya, aku sudah tidak tahan dengan perlakuan Moon God. Aku segera untuk membantu Alucard dari lilitan sihir. "Biarkan kami hidup! Biarkan aku dan Alucard pergi dari Moon Elf. Aku rela hidup berdua di tengah hutan sekalipun! Hentikan sihirmu, aku ingin mendekatinya."
"Hahahaha!" Moon God malah tertawa lepas. Sekarang dia menatapku dengan tatapan jahat. "Untuk apa kamu mendekatinya. Apa untuk menyakitinya lagi? Pergi dari kehidupan Alucard. Aku tidak akan mengizinkan kalian hidup bersama!" Dia menatapku dengan mata yang sudah memerah.
Oh My Lord, kenapa dia berubah menjadi licik dan picik! Tega sekali dia seperti ini. Peri macam apa yang tega memisahkan sepasang kekasih? Aku terus berbertanya dalam hati.
"Moon God! Cukup, aku sudah membayar semua keinginanmu. Jangan sampai aku berbalik menyerangmu!" Alucard berkata sembari menatap Moon God tanpa rintihan. Aku melihat dia mengepalkan satu tangannya.
"Lihatlah, Miya! Hanya untuk membelamu, dia berani menantang kematian dan menyerangku!"
Aku semakin tidak paham dengan Moon God, dia selalu menyalahkan semua kesalahannya padaku. Padahal, sudah jelas dia yang bermasalah.
"Moon God, stop! Aku semakin tidak mengerti dengan sikapmu! Lebih baik aku tidak dicintai olehmu daripada selalu ada dalam tertekan karena perbuatanmu!" Alucard berteriak, terlihat dadanya naik turun mungkin karena amarah yang semakin membuncah.
Kini, giliran Moon God yang memalingkan wajahnya padaku. Dia sepertinya akan menyalahkanku lagi. Namun, ketika dia akan membuka mulutnya, Alucard menimpali. "Jangan salahkan, Miya! Karena aku semakin mengenalmu. Cantik tapi busuk. Sebenarnya kamu bisa bersama dengan seorang pria yang mencintaimu. Asalkan kamu merubah sikap posesifmu!"
Sesaat, Moon God tertunduk ketika Alucard berkata seperti itu. Aku mengira dia tersentuh dengan kata-kata Alucard. Namun, yang terjadi malah dia mendengkus kesal.
"Ingat, Alucard! Aku sudah mengurus lukamu. Sekarang karena kamu berkata seperti itu, maka aku akan membuat perhitungan. Kamu itu sama saja seperti Miya, tidak tahu terimakasih!"
"Perhitungan apa? Perhitungan, berapa kali kamu akan menancapkan senjata tajam pada tubuhku atau perhitungan sihir yang akan menembus jantungku!" Alucard berkata dengan nada tinggi. Matanya terlihat menitikkan air mata.
"ALUCARD! Kamu sudah berani membantahku. Aku rasa lebih baik kamu berpisah dengan Miya!" teriak Moon God pada Alucard makin menjadi.
Aku tak kuasa melihatnya, menjadi kelu dihadapan Moon God. Kemudian, mataku mengedar pada Moon God, dia masih menatap tajam pada Alucard.
"Terserah, silahkan keluarkan strategi untuk memisahkan kami!" Dia berteriak kembali padanya.
Aku benar-benar tidak kuat melihat air mata Alucard terkumpul di sekitar matanya tanpa mengalir.
"Moon God! Tolong hargai keputusan Alucard. Aku tidak menyangka kamu akan seperti ini!" Sesalku menyayangkan sikapnya.
Moon God, mendekat tepat di depanku, sampai-sampai udara dari hidungnya terasa hangat berhembus.
"Memangnya siapa kamu? Berani mengatur seorang Moon God! Urus saja dirimu yang menjijikkan itu!" Dia mengangkat satu tangannya. Entahlah apa dia akan menamparku atau tidak? Karena ketika tanganku refleks menutupi wajah, tubuh Nana sudah menutupi jarakku dengannya.
"Sudah aku katakan jangan sakiti Miya!" Dia berkata tegas. Sekarang tak ada lagi Nana yang terlihat seperti kanak-kanak.
Aku tahu ini suara Nana yang aku kenal. Dia berani melawan gurunya sendiri.
"Kamu membela perempuan ini? Sekarang kamu sudah berani melawan gurumu sendiri? Ingat aku tidak akan diam, Nana!"
"Asal kamu tahu, aku tidak akan diam. Aku akan membalas perbuatanmu?" Dia mencengkram kedua lengan Nana.
Aku tidak bisa diam berdiri melihat Moon God memperlakukan Nana seperti ini. Aku menarik tangan Moon God dari lengannya.
"Jangan sakiti dia. Aku mohon, lepaskan tanganmu!" Aku berteriak di depannya. Entahlah apa dia akan mendengarkan permohonanku atau tidak? Aku hanya tidak ingin melihat Nana terluka.
"Moon God, sudahi siksaan yang kamu timpakan pada kami! Aku tidak tahu sampai kapan kamu akan melukai kami. Apa kalian bangsa Moon Elf tega melihat darah kami mengucur hanya karena dia ingin memisahkan aku dan Miya. Di mana letak kesetiaan dan rasa peduli kalian!" teriak Alucard dengan nada sangat kencang.
Jantungku terasa terlepas karena teriakannya. Begitupun, dengan Moon God kini dia melepaskan tangannya dari lengan Nana.
"Ohh! Oke, itu pilihan kamu Alucard. Kamu sudah berani padaku!"
Semua orang berkumpul di lapangan saling berbisik. "Moon God, kamu salah. Kami melihat dengan mata kami sendiri, bagaimana perjuangan mereka mempertahankan sebuah cinta dan kesetiaan. Apakah kamu tidak malu dengan semua perlakuan kasarmu. Sungguh, sekarang kami lebih baik dipimpin oleh Miya Shuzuhime daripada kamu. Pergilah ke tempatmu dan biarkan mereka hidup dengan tenang!" Seorang Moon Elf berbicara lantang.
Orang-orang yang tadi berbisik sekarang riuh memberikan tepuk tangan. Sungguh, aku sangat terharu dengan momen seperti ini. Artinya mereka masih peduli pada kondisi kamu. Aku melihat Moon God tak berkata lagi. Dia hanya melihat ke semua Moon Elf tanpa berkata. Kemudian dia memberi kode pada pasukannya untuk meninggalkan kami.
Setelah Moon God pergi, aku mendekati Alucard. "Sayang!" lirihku.
Alucard menarikku dalam pelukan, kemudian membenamkan kepalanya di bahu. Aku merasa bahuku basah karena tetesan air. Apakah dia menangis? Aku berusaha melepaskan pelukannya, untuk memastikan dia baik-baik saja. Namun, dia semakin membenamkan wajahnya.
"Biarkan aku lemah seperti ini, Miya. Jangan meminta agar aku terlihat kuat! Biarkan ... biarkan begini dulu! Saat ini aku rapuh!"
Aku tak kuasa mendengar perkataannya. Pada akhirnya, kami saling merangkul dalam tangisan tanpa raungan.
Terkadang kita harus menyimpan ego kita untuk berserah pasrah karena setangguh apapun kita, sekuat apapun otot-otot kita. Kita tetap manusia yang memiliki kelemahan. Tinggal kita menyikapinya seperti apa?
"Maafkan aku! Kamu tidak apa-apa?" Sekarang dia malah menanyakan kondisiku.
Aku menggelengkan kepala sembari tersenyum padanya. Aku kembali memeluknya tanpa malu. Padahal aku tahu semua mata Moon Elf menatap pada kami.
"Aww, sakit!" Dia meringis menahan rasa sakit karena aku tidak sengaja menyentuh lukanya.
"Maafkan aku!" Dia malahan tersenyum sembari mengusapku lenganku.
"Tidak apa-apa, Sayang! Sakit ini tidak seberapa dibanding kebaikanmu!" Alucard menatapku penuh kelembutan.
Cup!
Aku mengecup lembut bibirnya yang sangat kurindukan. Dia tersenyum menatapku. Kemudian dia mengalihkan pandangannya pada Nana. "Nana, kamu tidak apa-apa?"
"Tenang saja, aku baik-baik saja! Tadi, ada seorang pria membantuku lepas dari sihir Moon God! Mungkin aku akan berterimakasih padanya." Sekarang dia malah tersenyum seraya menggaruk kepalanya. Entahlah, apakah hatinya tengah berbunga-bunga.
Aku tersenyum pada Nana yang telah berani membelaku di depan Moon God. Segeraku bantu Alucard untuk berdiri. Tujuanku adalah rumah. Luka di sekujur tubuhnya harus segera mendapatkan perawatan.
"Kita obati semua luka di tubuhmu!" ucapku sembari mengecup lembut dahinya.
"Ekhm!"
Aku mendengar satu deheman dari belakang. Aku mengira itu suara Nana yang berubah serak, ternyata salah. Aku melihat seorang pria tersenyum menatap kami berdua.