Miya Alucard

Miya Alucard
Pencarian Melelahkan



Aku masih terdiam dalam sepi, menyesali semua yang terjadi memang membuat hati semakin teriris bisu. Aku melangkah pergi meninggalkan bangsa elf untuk mencari kekasih yang sudah pergi entah kemana. Kini, sesal tak lagi berarti.


Tanpa sadar kakiku telah memasuki sebuah hutan. Angin sejuk menerpa, tak menbuat hati menjadi tenang. Bayangan Zilong terus tergambar dalam benak. Entahlah sudah berapa bulir air mata yang lolos dari pelupuk mata ini. Tatapan kosong seperti menghantarkanku pada kehancuran.


"Di mana kamu, Zilong?" gumamku sembari menyingkap dedaunan yang menghalangi.


Aku yang masih tertegun meratapi segala yang terjadi, terbangun oleh sebuah pemandangan indah di depan mata. Aku duduk di atas rerumputan sambil bersandar pada pohon rindang di Magic Forest. Seorang peri kecil melompat bersama kucingnya. Aku sangat kenal pada mereka berdua. Sesaat pemandangan ini mengalihkan semua penyesalan. Aku tersenyum ketika peri itu tertawa terbahak, dia seperti tidak merasakan rasa sakit padahal dia tengah dililit oleh akar.


Dia mengeluarkan senjata boomerangnya untuk meloloskan diri. Aku masih terdiam, melihat apa yang akan dia lakukan. Dalam sekejap lilitan akar tersebut terlepas dari tubuhnya, tak ada air mata keluar dari pelupuk matanya. Hanya suara tawa yang terus terdengar. "Andai aku bisa seperti dirimu, Nana." Aku tersenyum kembali ketika Nana sadar akan keberadaanku. Dia melangkah mendekat. "Nana, bermainlah. Aku akan melihat kamu terus berlatih." Aku berteriak untuk menghentikan langkahnya.


Akan tetapi, Nana tidak menggubris keinginanku. Dia terus meloncat mendekati. "Aku merindukan kamu, Miya!" Teriak Nana sembari merangkul sampai kami terjatuh. Sekarang, dia malah menindih tubuhku.


"Kenapa kamu merindukanku, Nana? Bukankah kamu tengah berlatih bersama Molinamu itu?" tanyaku sembari mencoba bangun dan tentu saja Nana pun mencoba bangun dari atas tubuhku.


"Aku merindukanmu Miya, sungguh!" Dia memelukku untuk kedua kalinya.


Entah kenapa ketika dalam pelukan Nana, aku malah menangis tersedu. Padahal aku tidak ingin menumpahkan segala rasa sedihku ini.


"Miya, apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?" tanya Nana. Tangan mungilnya membelai rambut panjangku.


Aku tidak mempedulikan apakah rambutku bersih atau tidak, karena setelah kejadian malam itu, aku tidak menemukan air untuk membersihkan diri. "Ini salahku, Na. Ini salahku ... aku memang bodoh!" Aku berteriak menyesali semua.


Nana memeluk erat tubuh ini. "Menangislah, Miya. Kalau tangis bisa menyembuhkan rasa sakit dalam hatimu. Menangislah!"


Aku membenamkan wajah di pundak mungil Nana. Aku memang mempunyai beberapa teman di Moon Elf tapi Nana adalah peri yang paling jujur. Walaupun, dahulu Nana pernah dijauhi karena tidak bisa mengendalikan kekuatannya. Namun, aku sangat peduli dan menyayanginya.


"Aku tidak bisa menyelamatkan Zilong dari Kaja. Dan yang aku sangat sesalkan ... Selena ada dibalik semua kejadian. Dia sudah berubah, dia bukan teman kita lagi, Na!" Sesaat aku terdiam sembari mengusap air mata yang terus mengalir, kemudian aku bertanya padanya. "Apa aku seorang pengecut, Na? Saat terjadi peperangan, aku tidak mematuhi apa yang telah diperintahkan oleh Zilong." Aku tertunduk seiring bulir bening yang terus mengalir.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Nana.


"Aku hanya ingin tahu kondisi Zilong. Dan kini aku tidak tahu dia ada dimana," lirihku seraya mengusap air mata di pipi.


Nana melepaskan pelukan, kemudian dia mengangkat daguku seraya berkata, "aku akan membantumu dengan kemampuanku. Aku akan melacak keberadaan Zilong dengan kekuatan navigasi Molina. Percayakan semua padaku!" Nana berkata tegas sembari mengepalkan tangannya. Kemudian dia bergeser dan duduk di sampingku.


Sejujurnya aku takut, apabila dia belum bisa mengendalikan kekuatan sihirnya. "Jangan terbawa emosi, aku takut kamu tidak sadar dan pada akhirnya kamu melukai banyak orang. Aku tidak mau karena masalahku, kamu dikucilkan oleh orang-orang lagi!" Aku berkata tegas karena masih hangat dalam bayanganku ketika Nana dimusuhi oleh semua orang karena dia melukai sampai dia harus pergi. Hanya kami–moon elf yang bisa menenangkannya.


"Aku sudah banyak berlatih dan sekarang ... aku sudah bisa mengontrol sihir ini." Dia tersenyum sembari mengeluarkan sihirnya.


"Terima kasih!" ucapku.


Nana mengangguk, kemudian bergerak meloncat-loncat. Aku segera menyusulnya dengan cepat. Sekarang aku merasa mempunyai kekuatan baru karena kehadirannya. Aku sangat berharap Molina bisa menemukan keberadaan Zilong.


Walaupun saat ini, matahari semakin menyorot tapi tak ada rasa lelah yang kami rasakan. Kami terus berharap akan ada jalan untuk menemukan Zilong. Mungkin bukan aku saja yang berharap dia kembali pada kaum Moon Elf, namun semua mengharapkan kedatangannya. Dia adalah jendral yang paling tangguh dalam strategi perang. Dalam peperangan, tidak ada kata mundur untuk seorang pria tampan yang gagah perkasa ini. Aku sangat menghormati dan mengaguminya, apalagi kalau dia sudah memakai baju kebesaran. Semua orang akan terpana hanya melihat tubuhnya saja. Apabila ada di dalam peperangan, dia semakin terlihat tangguh ketika memainkan tombak kebanggaannya. "Ahh! Zilong, mengenangmu membuat hati ini semakin merindu," ucapku sembari terus bergerak cepat mengimbangi gerakan Nana.


***


Kami bergerak cepet meninggalkan Magic Forrest. Kini, kami sampai di pesisir pantai. Kami tidak tahu kenapa Molina membawa kami ke tempat ini. Aku hanya mengikuti instingnya saja.


"Molina, apakah ini tempatnya?" tanyaku pada Molina yang telah diam di satu tempat dan dia tidak berani melangkahkan kakinya lagi.


Aku merasakan aura hitam di sekitar tempatku berdiri. Apakah Zilong dibawa ke sini? Aku melemparkan pandangan pada satu bayangan membentuk aurora.


Dengan mata tajamya Nana berkata padaku, "Miya, aku melihat Zilong ada di dalam istana Kadita!"


"Kadita?!"


Aku terperangah ketika mendengar nama penguasa pantai selatan ini. Aku tidak tahu kenapa dia menginginkan Zilong. Apakah dia ingin mengusai Moon Elf, beribu tanya terus membayangi.


Ketika kami masih dalam kebingungan tiba-tiba aku merasakan aura kuat ada di belakang kami. Aku membalikkan tubuh untuk melihat siapa sosok yang terus mendekat pada kami.


Satu kilatan yang dia keluarkan membuat tubuh ini terhempas. Aku menatap sosok laki-laki tinggi dengan memanggul pedang yang sangat besar di pundaknya. Wajah tampan, dengan rambut pirang tidak membuatku terpana, karena aku yakin dia adalah bagian dari musuh yang harus aku kalahkan.


"Majulah jika kau ingin mati!" Dia berkata sembari mengayunkan pedang besarnya.


Aku dan Nana segera maju untuk mengalahkan pria yang aku tahu persis siapa namanya. Seorang pria yang memiliki kehidupan menyedihkan di masa lalu–Alucard.


Aku menatap Alucard seraya menarik anak panah, "Aku adalah cahaya bulan yang menembus kegelapan, kau tidak bisa lari dari panahku!" tegasku menimpali kesombongan Alucard.


Aku tidak akan mempertimbangkan apakah aku harus menyerah kalah pada pria ini. Tujuanku hanya satu yaitu membebaskan Zilong dari dera Kadita. Aku akan melawan semua halangan tanpa keraguan.


"Kami tidak akan mundur. Seorang peri tidak akan menyerah, tidak peduli berapa banyak penderitaan yang akan kami alami. Maka bersiaplah, aku bisa menangani kamu, Alucard!"