Miya Alucard

Miya Alucard
Haruskah Bersedih Lagi?



"Apa kamu mencintaiku?" tanya Alucard padaku. Peluhnya masih bercucuran dari dahi.


"Seharusnya, iya!" jawabku sembari membelai lembut rahangnya yang selalu aku sukai.


Setelah dari Danau, Alucard mengajakku ke Rumah. Aku bertanya padanya kenapa lebih suka berada di dalam rumah, dia malah menjawab karena di sini, dia biasa mengusai dan memiliki selamanya. Saat itu, aku tersenyum bahagia. Walaupun, terkadang bayangan Zilong kadang terlintas di sela penyatuan kami. Namun, aku tepis semuanya dengan senyuman yang aku perlihatkan padanya.


"Aku menyukaimu, Miyaku sayang. Jangan pergi dariku!" pintanya sembari mendaratkan beberapa kali kecupan di wajahku.


Aku terkekeh geli melihat tingkahnya, baru kali ini dia bersikap layaknya manusia biasa yang tengah merindukan kekasihnya.


"Aku tau kamu, menyukaiku. Bisa jadi, karena aku cantik, 'kan?" Aku menggodanya seraya menutup bibirnya dengan bibirku.


Dia melepaskan pagutan, "Tidak, Sayang. Bukan karena kamu cantik," katanya yang langsung membuatku kesal. Tanpa menolehnya, aku menutup wajahku dengan selimut.


"Sayang! Kenapa marah? Aku belum selesai berbicara!" Dia berkata sembari menyimpan tangannya di lenganku.


Aku masih tak bergeming. Aku hanya ingin tahu saja sikapnya akan seperti apa? Ya, itulah istimewanya kaum Elf. Dia selalu menguji laki-lakinya dengan berpura-pura marah. Padahal dalam hatinya beribu cinta tertanam untuk seseorang yang dicintainya.


"Sayang! Aku menunggumu membuka selimut itu. Atau aku paksa kamu untuk mengulang cumbuan tadi!" Ancamnya padaku.


Aku langsung membuka selimut karena takut ancamannya benar. Masih terbayang di benakku betapa gilanya aku dalam penyatuan.


Cup!


Satu kecupan mendarat di bibirku dan aku membalas dengan senyuman.


"Kamu mau tahu, kenapa aku mencintaimu, bukan karena wajah cantikmu?"


Aku mengangguk mengiyakan.


"Karena kamu menyelamatkanku. Tapi, aku tidak punya cara untuk mendekatimu. Dan sekarang aku sangat beruntung bisa bersama dalam pelukan kita yang indah ini!" Dia membelai pipi sampai ke leherku dengan posisi memiringkan tubuhnya.


"Benarkah? Aku tidak tahu itu! Tapi, bisa saja anda salah orang!" jawabku sembari membenarkan posisi tidurku mendekat punggung pada dada bidangnya, agar tidak terlihat aku tengah berbohong. Padahal, aku juga masih ingat ketika aku menolongnya.


"Tidak-tidak, aku tidak mungkin melupakan orang yang telah berjasa padaku. Tapi, aku juga tidak akan memaafkan orang yang telah mengkhianatiku!" Dia menempelkan bibirnya di bahu dan punggungku.


"Apakah kita berjodoh?" tanyaku tanpa berpikir panjang.


"Aku di izinkan Tuhan, untuk mengucapkan janji suci berarti kita berjodoh, Sayang!" ucapnya seraya mendaratkan lagi kecupan di bahu.


"Aku kira anda hanya menganggapku sebagai teman saja?"


"Mungkin aku akan selalu menjadikanmu sebagai teman! Sampai aku tidak terlihat di bumi ini lagi!" ucapannya membuat dada ini sesak. Apa karena aku mulai menyukainya atau rasa ini sebatas ketakutan saja?


"Kenapa kamu berbicara seperti itu?" Tanpa malu aku membalikkan tubuhku dan memeluk erat.


"Dengan kondisi seperti ini akan banyak musuh yang berniat melenyapkanku. Kamu pasti mengerti di sekitarku musuh-musuh bertebaran?" tandasnya. Bibir indahnya mendaratkan kecupan di dahi.


"Aku mengerti, Sayang!"


"Aku harap kamu berhati-hati. Tidak selamanya aku bisa mendampingmu!" jawab Alucard yang bisa membuat jantung ini kembali berdetak kencang.


"Selama ada ini, aku akan tahu keberadaanmu, Sayang," imbuhnya seraya mengecup cincin yang kemarin dia berikan padaku.


"Maksudnya?" Aku masih belum mengerti apa yang dia bicarakan.


"Kamu mau mengulangnya lagi, Sayang?" Tangannya merambat di punggung seraya menciumi dadaku.


"Ah, Sayang!" Suara menggoda keluar begitu saja dari bibirku.


***


Setelah puas dengan hubungan panas kami di atas ranjang. Dia minta izin untuk keluar selama aku menyiapkan makanan untuknya. Setelah urusannya selesai dia datang dengan wajah sumringah. Tidak seperti biasanya, setelah kami selesai makan. Dia mengajakku ke danau lagi. Untuk apa? Aku pun tidak tahu.


Sekarang, kami menyusuri danau lagi. Kami berjalan berdua saling mengeratkan tangan. Terkadang berhenti memungut ranting kemudian melemparkan ke danau. Semoga waktu tak berjalan lagi, aku ingin berhenti ketika dia bersikap seperti ini. Walaupun, dia tidak seceria Zii. Tapi, saat ini aku nyaman bersamanya.


Kemudian dia berlari menjauhiku, menuju satu pohon tinggi. "Sayang! Apa kamu percaya aku bisa naik pohon ini?" teriaknya. Kakinya sudah menggantung di atas pohon yang tidak jauh dari tempatku berdiri. Mendengarnya berteriak aku mendekati.


"Aku tidak percaya, kamu 'kan sudah tua!" teriakku mengejeknya.


Aku kira dia akan marah, ternyata tebakanku meleset. Dia malah menaikan dua jari menempatkan di alis kemudian turun seperti seorang prajurit memberi hormat. Kakinya sangat cepat menaiki pohon. Namun, dia berhenti sejenak seperti memindai daerah sekitar. Kemudian, dia turun tergesa. Aku sangat cemas melihatnya. Dia berlari mendekatiku dengan wajah cemas.


"Sayang, ada mata-mata. Aku melihatnya ada atas sana! Cepatlah kita harus meninggalkan tempat ini!" Tanpa menunggu jawabanku, dia menarik tanganku kemudian kami berlari secepat mungkin. Aku berlari tanpa memperhatikan langkah. Aku tidak peduli dengan kerasnya bebatuan yang sakit apabila terinjak. Di dalam benak, kami harus lari menyelamatkan diri karena aku dan dia tidak membawa senjata andalan.


Jantungku terasa berdetak lebih cepat. Begitupun, dengannya tanpa menghiraukan apapun dia terus menarikku menuju rumah yang masih jauh dari pandangan.


"Cepatlah, Sayang! Kita harus menuju rumah secepatnya! Aku tidak membawa senjata. Aku takut mereka bergerak cepat!" Dia berbicara sembari mengatur napasnya.


Dugh!


Satu orang bercadar memukulnya dari belakang. Pukulannya tepat mengenai kepalanya, darah segar mengucur. Tangannya melepaskan genggamanku. Dia menatapku seraya tersenyum, kemudian tubuhnya terhunyung karena kuatnya pukulan.


Brugh!


"Alucard!" teriakkanku menggema di danau yang sudah mulai gelap.


"Hai, Nona! Kenapa gadis secantik anda harus menangisi pria menyebalkan sekelas Alucard?" Dia bertanya namun seperti mengejek.


Aku tak bisa menatap mahluk itu dengan jelas. Dia mendekati tubuh Alucard yang telah roboh. Sesekali dia menendang tubuhnya dengan kasar. Meskipun, Alucard belum lama aku kenal tapi aku tidak rela mahluk itu menendang tubuhnya. Aku mendekap tubuhnya, agar mahluk itu tidak melukai tubuh kekasihku. Aku berharap dia cepat sadar.


"Nona! Aku tanya sekali lagi! Kenapa kamu mengkhawatirkannya?"


Aku mendongakkan kepala, mengumpulkan semua keberanian. Walaupun, air mata masih membasahi.


"Dia kekasihku, sudah selayaknya aku peduli padanya!" teriakku padanya.


Mungkin benar kata mahluk ini, untuk apa aku peduli padanya? Tapi, Aku tidak mau Alucard mati secepat ini.


Mahluk itu mendekat kembali, lebih tepatnya dia berbisik, "Tinggalkan dia, Nona! Maka hidupmu akan bahagia. Aku akan membunuhnya untuk nona. FREE! Tanpa bayaran, silahkan Nona lari secepatnya!" titahnya.


"GO! I SAID GO!" Aku berteriak padanya.


"HAHAHAHA!" Mahluk itu tertawa terbahak. Mungkin mentertawakan sikapku.


"MATILAH KAMU ALUCARD! AKU TIDAK AKAN MENGAMPUNIMU SELAMANYA!" Dia bersiap menusuk Alucard dengan senjatanya.


"JANGAN!" aku berteriak sekencang mungkin agar pada Elf datang membantu, namun tak ada yang mendengar. "Alucard, bangun. Bangun, Sayang. Bangun...!"