Miya Alucard

Miya Alucard
Kesetiaan Yang Terkoyak



Kenapa malam ini, mata yang seharusnya telah terlelap sangat sulit untuk mengerjap. Hatiku terasa gundah seakan melayang mengingat kekasih hati yang tengah berada dalam perlindungan Moon God. Bagaimana kalau Moon God, tahu kalau dia tadi datang ke rumah. Apa yang akan mereka lakukan. Apa mereka akan mengusirnya dari Moon Elf? Aku tidak sanggup membayangkan semua itu. Rasa gundah ini mendorong untuk menemuinya dan memastikan kalau dia baik-baik saja.


Segera kuraih pakaian kebesaran dan setelahnya aku menutupi seluruh tubuh ini dengan sebuah jubah hoodie. Aku harus menyelinap tanpa diketahui siapapun. Ku raih busur yang masih menggantung dan sedikit berdebu, ku tiup busur kesayangan seraya berkata padanya, "jadilah pelindungku! Walaupun, nantinya akan terjadi perselisihan. Aku tidak akan melukai saudara-saudaraku sendiri dengan busur ini. Aku hanya ingin memastikan keadaan Alucard. Jadilah petunjuk dan pelindungku!" Aku mencium busur kesayangan yang selalu menemaniku dalam pertempuran.


Perlahan aku bergerak setelah keluar dari rumah. Aku tidak tahu, bagaimana jadiannya kalau para penjaga Moon Elf melihatku berkeliaran di tengah malam seperti ini. Akan tetapi, demi Alucard aku harus menepis semua itu. Aku bergerak cepat tanpa suara melewati jalanan sepi. Terkadang ada satu dua penjaga yang berkeliling untuk memastikan semua Elf tidak keluar dari dalam rumah.


Aku menghela napas ketika bangunan nan menjulang tinggi telah ada di depan mata. Aku segera melompat melewati beberapa jendela, supaya sampai di kamar Alucard dengan selamat.


"Kemarilah, duduk di sampingku! Aku akan mengobati luka di tubuh dan hatimu!" Suara lembut terdengar samar dari balik jendela sebuah ruangan. Penasaran dengan perkataan ini, segera ku tempelkan tubuh untuk memastikan siapa saja yang ada di dalam ruangan.


"Terima kasih, Moon God!" Kini malah suara kekasihku yang terdengar.


"Bukalah pakaianmu. Kalau kamu kesulitan, izinkan aku membantunya!"


Aku semakin perasaan ketika Moon God berkata seperti itu. Biasanya, ketika melakukan pengobatan dan penyembuhan, dia selalu bersama seorang asisten dan dikerjakan di siang hari. Namun, sekarang malah berbalik. Apa harus seperti ini?


Jendela ruangan Alucard sedikit terbuka, entah disengaja atau tidak. "Tubuhmu indah! Aku minta maaf apabila tanganku menyentuh kulitmu!" Suara Moon God semakin lembut. Ingin rasanya aku melihat ekspresi wajah Alucard ketika mendengar perkataan Moon God.


Hati ini, terasa panas ketika aku melihat satu persatu pakaian yang dipakai olehnya dibuka satu persatu, dan kini hanya meninggalkan pakaian bawahnya saja. Aku sangat berharap, semoga dia tidak memperlihatkan anggota tubuhnya di depan Moon God. Kalau itu terjadi, aku akan sangat terluka.


Wajahku semakin memanas ketika tangan Moon God membelai lembut punggung Alucard. Aku tahu, dia tidak salah memperlakukan kekasihku seperti itu. Namun, rasa cemburu dalam hati makin menjadi. Tanp sadar, aku mengepalkan tangan sampai keluar cahaya biru yang bisa mematikan musuh apabila aku melemparkannya. Namun, aku bersyukur ketika aku ingin melemparkan cahaya pada mereka, ada burung gagak terbang ke arahku. Dia seperti sengaja menghalangi penglihataku.


Ku hembuskan napas, untuk menguatkan diri melihat apa yang akan mereka lakukan. Kini, cahaya putih menyelimuti tubuh Alucard. Aku bisa memastikan Moon God mengeluarkan sihir terbaik untuk mengobatinya karena aku tahu kekuatan yang ada pada dirinya. Cahaya itu seperti tahu tempat di mana harus menyembuhkan luka sampai mata ini takjub, ketika luka di punggung kekasihku hilang dalam sekejap.


Brugh!


Aku terperanjat ketika Moon God jatuh dari tempat tidur setelah luka Alucard tertutup sempurna dan cahaya yang tadi menyelimuti tubuhnya hilang perlahan.


"Moon God! Kenapa bisa seperti ini?" tanyanya dalam cemas. Dia mengendong kemudian membaringkan tubuh Moon God di atas tempat tidur.


Aku berinisiatif untuk membuka jendela dan masuk ke dalam ruangan. Namun, jantung ini kembali berdetak kencang dan darah dalam tubuh seakan berdesir dengan sangat cepat ketika cahaya seperti kilatan menarik tubuh Alucard sampai dia terjatuh dan menimpa tubuh Moon God.


Mataku terbelalak sampai tak bisa mengerjap. Pemandangan yang membuat hati ini, seakan tercabik olah ribuan benda tajam.


"Temani aku, Alucard. Aku kesepian, di sini aku merasa sendiri. Temani aku!" kata Moon God seraya membelai rahang Alucard.


"Aku tidak bisa menemanimu. Aku sudah dimiliki oleh Miya. Aku tidak mau dia terluka hanya karena aku menemanimu!" sanggah Alucard, perlahan dia bergerak dari tubuh Moon God. Tetapi, Moon God malah menarik tangannya, sampai lebih dekat dari posisi sebelumnya.


"Sentuh aku, Alucard. Miya tidak akan tahu apa yang kita lakukan pada malam ini. Dia pasti sudah terlelap di ranjangnya. Temani dan sentuh aku, Dante Alucard!" Kini, tangannya malah membelai leher perlahan merambat di dada Alucard. Dada ini, terasa sesak melihat sesuatu yang tidak aku inginkan.


"Tidak, aku tidak bisa. Maafkan aku ... Aku tidak melakukannya. Aku tidak mau menjadi pengkhianat!" Dia berusaha bergerak lagi.


"Sudah aku katakan, Miya tidak akan pernah tahu apa yang akan kita lakukan. Asal kamu tidak memberitahukannya!" Moon God menurunkan pakaian sampai terlihat setengah dadanya.


Sejujurnya, aku sudah tidak sanggup melihat semua ini. Namun, aku harus memastikan apakah Alucard menolak atau malah melayani keinginan Moon God.


"Jangan lakukan! Kamu terlalu berharga untuk merendahkan dirimu di hadapan kekasih saudaramu sendiri!" Hati ini berbunga-bunga ketika Alucard menolak keinginan Moon God. Walaupun, tangannya memasangkan kembali baju Moon God sampai dadanya tertutup lagi.


"Kenapa kamu menolakku? Apakah aku tidak secantik Miya? Atau karena kamu belum melihat tubuh indahku?" tanya Moon God dengan sedikit menaikan suara.


Alucard bergerak menjauhi tubuh Moon God. "Bukan karena itu. Tapi, hati ini telah terikat bersamanya. Aku tidak mau membuatnya sedih dan aku bukan seorang pengkhianat. Meskipun, dia tidak melihatku bersamamu. Namun, batin kami berdua tidak akan bisa dibohongi!" tandas Alucard sembari meraih pakaian, kemudian memakainya sembari membelakangi Moon God yang masih terlentang di atas ranjang yang dibalut seprei putih.


Perasaanku, kini seakan melayang ke Nirwana ketika Alucard dengan tegas menolaknya. Mataku berbinar menatapnya dengan perasaan yang semakin membuncah.


Grep!


"Kamu bisa menjaga hati Miya agar dia tidak terluka. Tapi, kenapa kamu tidak bisa menjaga hatiku? Aku juga membutuhkanmu!" Moon God malah memeluk Alucard dari belakang.


Alucard membuka pelukkan Moon God. "Maafkan aku! Aku tidak bisa melakukannya." Dia melangkah menuju ke depan pintu.


"No, Alucard! Jangan pergi dulu. Kalau kamu pergi, maka nyawa Miya akan aku lenyapkan sekarang juga!" tegasnya.


Mendengar perkataan Moon God seperti itu. Dada ini, terasa makin terhimpit. Aku tidak menyangka kalau dia akan mengancam Alucard dengan mempertaruhkan nyawaku. "Moon God, kenapa kamu tega mengatakan hal itu? Apa salahku padamu?" Air mata kembali keluar dari pelupuk mata. Sungguh, mendengarnya aku sangat terluka. "Apa selama ini kamu membenciku Moon God?" Aku terus bertanya dengan nada rendah sembari mengeluarkan air mata yang terus mengalir deras. Aku menatap Alucard masih bergeming tak bereaksi ketika Moon God mengintimidasinya.


"Aku tanya sekali lagi. Apakah kamu siap kehilangan Miya? Karena nyawanya kini ada pada jawabanmu. Kalau kamu menolakku maka dia akan lenyap dengan sihir yang sangat menyakitkan!"


"Serendah itukah kamu berusaha untuk mengambil hati seorang pria?"