Miya Alucard

Miya Alucard
Bahagia Berakhir Duka



Mata Alucard terus memburu, aku melihat dengan jelas siluet diantara semak-semak menjalar. Aku yakin itu adalah musuh kami. "Sayang, bawa kuda ini agar menjauh. Aku tidak mau mereka melukai kamu! Cepatlah!" titahnya tanpa menatapku.


"Aku ingin bersamamu. Aku khawatir akan keselamatanmu!" Aku berbisik dengan tegas di telinganya.


Dia melirikku dengan tatapan tajam, "apa kamu lebih mencintai ayah dari anak ini atau anak yang akan menemanimu sampai kamu menua?! Jangan banyak berpikir, aku rela meregang nyawa untuk kalian berdua. Pergilah! Jangan khawatir, Alucardmu akan tetap hidup, meski di dalam hatimu saja!"


"Aku belum mengatakan aku sedang hamil. Kenapa kamu malah menyangka aku berbadan dua!" Aku merengek karena aku ingin ikut bertarung.


"Aku sudah menyimpan ribuan calon bayi, bisa saja satu diantara mereka tengah berjuang untuk hidup! Untuk kali ini saja menurutlah pada kekasihmu!" Dia memelukku sesaat, dan segera berlari menuju siluet yang mencurigakan.


Setelah dia menjauh, aku mempercepat langkah mencari tempat persembunyian sembari menuntun kuda yang tadi di tunggangi olehnya. Aku melihat rimbunnya pepohonan di depan mata, segera ku bergerak. Setelah di rasa aman, aku mengikat kuda di sebelahku.


Sekarang, gerak cepat para penyusup menghalangi gerakannya. Aku hanya bisa melihat ketika dia dikepung oleh 10 mahluk hitam pekat. Mereka memakai masker untuk menutupi wajah dan menggunakan baju serba hitam. Ruang gerak Alucard pun sangatlah sempit. Dia mencoba untuk keluar dari lingkaran musuh, namun lagi-lagi mereka mengunci pergerakannya.


Memang salah kami, memacu kuda terlalu keluar dari lapangan. Hal itu kami lakukan agar jarak bidik bisa lebih panjang. Akan tetapi, kini malah dia yang kerepotan harus melawan musuh sendirian. Mungkin karena jarak yang sangat jauh, para Elf belum datang untuk menolongnya.


"Kami akan membawamu!" kata salah seorang dari mereka.


Alucard tak menjawab apapun, yang aku lihat matanya fokus pada satu mahluk aneh diantara mereka yang bersuara. Kemudian, dia menendang batu yang ada di depan kakinya. Aku hanya bisa menatap tak percaya, batu itu terlempar tepat pada mata musuh, sampai dia menjerit kesakitan. Menatap temannya telah menjerit, musuh yang lain secara bersamaan menyerangnya dengan senjata tajam yang disembunyikan di balik punggung.


Sret!


Satu goresan dari musuh melukai tangan Alucard. Sedangkan, yang lainnya bersiap melayangkan senjatanya. Tanpa suara Alucard melompati musuh yang tengah bersiap menusuknya secara bersamaan.


Kakinya sangat lentur ketika dia salto sembari meraih anak panah dari balik punggungnya. Kemudian, melesatkan anak panah, satu bidikan tepat mengenai jantung musuh. Setelahnya, dia berlari menjauhiku, tapi masih terjangkau oleh netraku. Aku sangat paham kenapa dia menjauh dari tempatku? Aku rasa dia melindungiku dari musuh yang terus mendekat.


Dua musuh dia kalahkan dalam waktu singkat, dia membentangkan tali busurnya dan memanah kembali musuh yang terus mengejarnya.


Satu lagi terkapar tak berdaya, terkena anak panah. Namun, ketika dia akan mengambil anak panah kembali, ternyata semuanya telah habis. Tawa dari musuh yang tersisa masih terdengar jelas mengejeknya yang sudah kehabisan senjata untuk menyerang mereka. Mereka tidak menyia-nyiakan keadaan ini, yang mereka lakukan adalah bersiap dengan mengacungkan senjata ke atas dan berlari mendekatinya.


"Aaaa!" Salah satu musuhnya berteriak sembari melayangkan senjatanya. Dia menahan senjata tajam dengan tangannya sampai mengeluarkan darah yang terus mengucur.


Semua musuh tidak menyiakan waktu, mereka bersamaan mengayunkan pedangnya untuk mengeroyok Alucard.


Aku semakin takut, di depan mataku, tubuhnya diserang oleh beberapa orang. Aku berteriak sekencang mungkin, ketika nyawanya terancam. Beberapa kali pukulan musuh mengenai tubuhnya. Aku cemas, membayangkan kondisinya.


Sekarang aku malah takut kehilangannya. Dalam kondisi tangan kanan yang sudah tak bergerak. Aku memaksakan tubuh ini untuk berdiri dan menaiki kudanya yang masih berdiri di sampingku. Aku memacu kuda dan memberanikan diri mendekati musuh yang tengah mengurungnya. Kuda yang aku tunggangi seakan mengerti tugasnya, dia menaikkan kedua kaki dan menghentakkannya pada musuh. Dua orang terkapar karena tendangannya.


Alucard menatapku dari bawah sembari tersenyum sekilas dan kekuatannya kembali, dia melepaskan tempat anak panah yang mengalung kemudian menjadikannya sebagai senjata. Sedangkan, aku menahan kuda untuk berputar di dekat musuh.


Tak lama menunggu, para Elf datang dan segera bergabung bersama kami. Dengan sigap, mereka mematahkan tulang-tulang musuh. Kini, tak ada musuh yang tersisa, karena para Elf mematahkan tulang lehernya, sampai mereka meregang nyawa.


Setelah, semua aman. Alucard mendekati dan menaiki kuda yang aku tunggangi. "Aku yakin ada beberapa orang yang masih mengintai keberadaan kita. Aku mendengar salah satu dari mereka membawa senjata mematikan. Bergeraklah!" perintahnya dengan nada yang begitu sarkas.


Kemudian, dia memacu kuda mengarah ke Rumah. Aku masih tidak menyangka kini aku dan dia menaiki kuda bersama. Walaupun, tubuhku masih terasa remuk. Tetapi, saat ini aku begitu nyaman ketika dada bidangnya menempel di punggungku.


"Ya Tuhan, apa aku sudah mencintai Alucard seutuhnya?" tanyaku dalam hati.


"Sayang, beribu rasa hormat aku sematkan untukmu. Atas keberanian yang telah kamu lakukan. I love you, Miya Shuzuhime. Love you so much!" Dia menempelkan bibirnya di rambutku, dan dia memacu kuda dengan menggerakkan kedua kakinya. Kuda putih pun dengan cepat bergerak.


***


Setelah, sampai di kamar dia membaringkanku di atas ranjang, kemudian memeriksa tangan yang sudah sulit untuk bergerak.


"Kamu bisa bertahan, kalau aku memutar tanganmu? Ini hanya keseleo saja!" tanyanya padaku.


Aku meraih dan menggigit bantal, setidaknya bisa menahan rasa sakit dan yang paling utama adalah menghindari suara jeritan.


"Tahan, ya!"


Dia mulai memijat lembut tangan kananku.


Krek!


Bunyi tulang yang diputar mengantarkanku pada jeritan yang tak dapat ditahan lagi. Nyeri yang sangat terasa sampai kepalaku terasa berat.


***


"Miya!"


Suara lirih seorang perempuan yang sangat aku rindukan, kini ada di dekatku. Walaupun, mataku masih ingin terpejam, tapi ku paksakan untuk menatapnya.


"Moon God!" Pekikku karena begitu senang akan kehadirannya.


"Ya, aku di sini!" ucapnya sembari membelai lembut rambutku.


"Miya!" Baritonnya lembut sembari mendekatiku.


"Ya, Justin!


"Kami akan menjaga kalian selama kalian belum pulih," kata Justin sembari tersenyum.


"Maksudnya apa?" Sanggahku.


Moon God datang mendekatiku. "Kalian dirawat di sini!"


"Kenapa Alucard ikut dirawat? Padahal, tadi dia baik-baik saja!" tanyaku masih pada Moon God.


"Dia kehilangan banyak darah. Punggungnya terkena tebasan senjata tajam. Mereka menemukan kalian pingsan di atas ranjang!" Moon God bercerita sembari menitikkan air mata.


"Sekarang di mana Alucard? Aku harus menemuinya!" tanyaku dengan nada tegas.


Aku mencoba menggerakkan tubuh, namun terasa begitu sakit.


"Jangan dipaksakan! Dia baik-baik saja!" ujar Justin sembari menahanku.


"Alucard masih tertidur! Tepat di sebelah kananmu." kata Moon God menunjuk dengan dagunya.


Mendengar perkataan Moon God, aku begitu senang dan segera ku balikkan kepalaku. Tampak, kekasihku masih tertidur tenang. Lelehan air tak sanggup lagi ditahan. Ingin rasanya, aku berlari memeluk tubuhnya yang selalu aku rindukan.


"Alucard! Andai saja kita tidak panahan! Kamu pasti baik-baik saja!" lirihku sembari menyesali semua yang terjadi.