Miya Alucard

Miya Alucard
Tawa Dalam Lirih



"HAHAHAHA!" Mahluk itu tertawa terbahak. Mungkin mentertawakan sikapku.


Prok! Prok!


"Hebat! Anda berani mengusirku, Nona?" Dia mengejek sembari bertepuk tangan berkali-kali.


Kemudian, dia mencengkram rahang dan melemparkan kepalaku bagai barang tak berharga.


Setelah itu, dia menarik paksa tubuhku menjauh dari tubuh Alucard. Aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak bergerak dari posisiku. Namun, dia tetap menarikku sampai tangan ini tak sanggup lagi melingkar di pinggang Alucard.


Ketika aku merasakan tubuhku diseret oleh pria itu, aku hanya bisa menatap Alucard yang terus telungkup tak bergerak sedikitpun. Rasa was-was akan kehilangannya semakin menjadi. Air mata tak berhenti mengalir, seakan mengantar kepergianku meninggalkannya. Aku tidak tahu apakah aku akan meninggalkannya? Alucard baru kali ini, aku begitu mengkhawatirkanmu.


Dugh!


Mahluk itu menempelkan tubuhku ke batang pohon dengan kasar. Seharusnya aku mengaduh, tapi tidak kulakukan. Untuk apa aku mengaduh, kalaulah hari ini adalah hari terakhirku melihat kekasihku. Tatapanku begitu hampa, aku memusatkan semua pandangan ini ke arah Alucard yang sudah tak terlihat lagi.


Mahluk itu mengikatku dengan tali sihirnya. Aku merasakan ketika talinya melilit tubuhku. Aku pasrah ketika ada satu mahluk lagi mendekatiku.


"Bagaimana hasil tangkapan kita?" tanya mahluk yang satunya lagi, mereka sama-sama memakai cadar.


"Lihatlah! Aku merampasnya dari Alucard!" Suaranya lantang terdengar sarkas.


Mahluk yang baru datang itu mendekatiku. "Well, Nona! Aku akan membawamu pada Raja kami! Aku pastikan kamu akan banyak memiliki harta dan sihir! Kamu tinggal melayaninya saja!" tawarnya bagai ejekan di telingaku.


"Jaga mulutmu! Lepaskan kami, Mahluk menjijikkan!" bentakku tepat di wajahnya.


Cuih!


Aku sengaja meludah padanya. Dia berpikir aku ini perempuan seperti apa? Apa dia berpikir harta dan sihir bisa menggodaku? Mataku semakin menajam menatapnya. Aku tidak suka dengan segala ejekannya. Dia kembali mendekatiku.


"Nona! Apa Alucard bisa memuaskanmu di atas ranjang?" bisiknya kembali. Aku bergidik membayangkan mahluk di dekatku ini.


"Jaga bicaramu!" Aku berteriak kencang di depan telinganya.Bulir bening kembali lolos dari pelupuk mata. Aku tidak sanggup lagi. Mereka sengaja mengejekku.


Plak!


Dia menampar dengan kasar kedua pipiku. Saking kerasnya, darah mengucur dari bibirku.


"Dengar! Aku tidak suka wanita bertingkah seperti Anda! Enyahlah dari hadapanku!" Dia menodongkan senjata padaku, sedangkan aku menatapnya penuh kebencian.


Ketika dia mengayunkan senjatanya, satu mahluk mendekati dan menurunkan senjata yang mengarah padaku.


"Jangan lakukan! Ini bukan tugas kita!" pekiknya.


"Aku sangat geram mendengar jawabannya!" ucapnya sembari terus menodongkan senjatanya.


"Sudahlah, biarkan saja begitu. Sampai tuan kita menjemputya!"


Aku tertunduk pasrah ketika mereka akan menyerahkanku pada tuannya. Cobaan apa lagi ini? Aku sudah tidak tahan lagi. Dada ini semakin terhimpit.


"Kenapa Anda menangis?" tanya mahluk itu seraya mendongkakkan wajahku dengan senjatanya.


Lagi-lagi dia membuatku semakin berang. Andai tali sihir ini terlepas yang aku inginkan adalah melempar dengan batu ke matanya. Akan tetapi, sihir ini begitu kuat melilitku. Aku mencoba menggerakkan tangan, tapi susah untuk digerakkan.


"ALUCARD!" Aku berteriak sekencang mungkin.


Dua mahluk tadi menoleh padaku, sedangkan aku masih menatapnya penuh kebencian.


"Lepaskan wanitaku!"


Mendengar suara itu aku begitu bahagia. Moon God, terima kasih Engkau mengirimkan pahlawanku tepat waktu.


"Tidak semudah itu! Anda datang tiba-tiba dan akan mengambilnya? Tidak, tidak ... tidak akan kami berikan, begitu saja!"


"Kalau begitu, apa yang anda inginkan?" tanya Alucard sembari menatapku.


"Bagaimana kalau kekasihmu, ditukar dengan nyawamu?" Alis mahluk itu naik turun.


"Hanya itu?" Tanya Alucard dengan wajah datar. Seperti tidak takut akan semua ancamannya.


"Kami menginginkan kematianmu, Dante Alucard!"


Mendengar pria berbicara seperti itu aku tidak rela menyaksikan Alucard melepaskan nyawanya hanya untukku yang tak berharga ini.


"Stop! Jangan diteruskan lagi, bawa aku saja!" kataku sembari berteriak.


"Hahaha! Jadi sekarang seorang Alucard berada di bawah lindungan seorang perempuan!" katanya diselingi tawa ejekan.


Alucard menatapku berang.


Alucard memainkan senjatanya. Yang tidak aku mengerti kapan dia membawa senjata? Bukankah tadi dia terkapar tak berdaya.


Satu mahluk mendekatinya dengan kayu panjang di tangan. Ketika kayu itu akan mengenai Alucard. Aku berteriak lagi.


"Alucard!"


Aku tidak peduli lagi, apakah dia akan semakin berang menatapku atau berterima kasih? Yang ingin aku lakukan adalah menolongnya dari mahluk yang telah bersiap melayangkan pukulannya.


Dia menarik kayu yang akan menghantamnya. Dengan gerak cepat dia membanting mahluk tersebut ke atas tanah.


"Menyerah atau masih mau berhadapan dengan Alucard?" Tangannya mencekik leher sang pria. Tiba-tiba pria itu membalikkan tubuh Alucard.


"Aku tidak percaya kenapa Alucard begitu lemah? Di mana Alucard yang tangguh? Di mana dia yang selalu membuat musuh bergetar seketika? Yang aku lihat, kini dia telah berubah layaknya Elf kecil yang tengah berseteru dengan temannya."


"Apa ini karena kehadiranku?"


"Aku akan membunuhmu, Justin!" ujarnya sembari menahan tawa. Dia melayangkan pukulan ke pinggir telinga Justin.


"Hahhahha!" tawa Justin membahana.


"Miya kamu memang tangguh. Tidak salah kalau kamu selalu mempertahankannya!" jawab Justin sembari membersihkan tanah di atas kepalanya. Dia adalah teman dekatku.


Perlahan dia membuka cadarnya di depanku. Namun, aku tidak suka sama sekali.


"Yes of course! I love her. Aku akan selalu menjaganya, walaupun harus bertaruh nyawa." Alucard melirikku sembari mengedipkan mata.


Apa ini? Aku telah dikerjai kekasihku sendiri. Tega! Itulah kata yang bagus untuknya.


Alucard melangkah mendekati, kemudian berjongkok sembari membuka tali sihir yang mengikatku. Sedangkan, aku tidak mau melihat wajahnya. Aku begitu kesal dengan perbuatan mereka.


"Kenapa dengan wajahmu? Kamu marah?" tanyanya dengan wajah lebih segar.


Setelah terlepas dari tali yang membelit, aku berdiri dan mengacuhkannya. Tak peduli dengan apa yang telah diucapkannya. Kalau dia ingin menguji cintaku tidak begini caranya? Kesal, kesal, kesal!


Aku terus melangkah tanpa menoleh ataupun menatap pada teman-temanku. Mereka telah membuatku ketakuatan setengah mati.


"Miya! Stop, Sayang!" Dia berteriak di belakangku.


Saat ini, aku tidak peduli padanya. Terserah dia mau mengejarku atau tidak? Aku muak dengan candaannya yang menurutku itu terlalu berlebih.


"Miya!"


Dia sudah berdiri di depanku dengan satu buket bunga yang ada di sekitar danua. Bunga dengan wewangian yang begitu menenangkan.


"Untuk kekasihku yang selalu setia dan berani bertaruh nyawa untukku. Terima kasih untuk semuanya, Sayang!"


Mendengar dia berkata seperti itu, rasa kesalku langsung hilang seketika. Aku menerima buket bunga yang dia berikan. Kemudian dia menarikku dalam pelukannya.


"Aku minta maaf atas semua kesalahanku!" Dia semakin mengeratkan pelukannya dan mengecup bibirku sesaat.


Aku hanya mengangguk.


"Kamu tahu siapa yang memberi ide gila ini?" tanya Alucard sembari melepaskan pelukan, kemudian melingkarkan tangan di pinggangku.


"Siapa?" jawabku balik bertanya.


"Moon God!"


"Dia?" Aku tidak menyangka, dia punya ide gila seperti ini.


"Kamu tahu 'kan. Aku tidak bisa menolak keinginannya." kilahnya kembali datar. Jadi! Aku hanya dijadikan tonton semua orang.


"Berarti kamu melakukannya, hanya untuk Moon God, 'kan?" Hati ini terasa sakit kembali, apa aku saja yang terlalu sensitif? Aku kira dia melakukannya untuk menguji seberapa tangguhnya aku sebagai kekasihnya. Ternyata hanya dijadikan sebagai hiburan.


"Yes! This for Moon God!" Suaranya terdengar datar lagi.


"Ok, fine!" Aku menjawab sembari menahan air mata supaya tidak keluar di depannya. Aku tidak tahu apa dia mengerti tentang rasaku. Tadi siang aku sangat nyaman bersamanya. Namun, kini aku merasa dicampakkan dan terhempas.


"Bunga ini untuk Moon God atau untukku? Aku takut salah, tadi aku kira ini untukku. Maaf aku salah mengartikan!" Sengaja aku memasang wajah datar dan tidak mempedulikannya.


"Itu buat kamu dong, Sayang! Moon God, sengaja membuatnya untukmu!"


Bagai disambar petir di tengah malam. Aku makin tak mengerti padanya, aku kira dia yang mempersiapkan buket bunga ini. Akan tetapi, ya sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan, memang dia seperti ini, tidak mudah ditebak.


"Aku kira kamu yang mempersiapkan semuanya!" jawaban sendu aku tampilkan padanya. Aku berharap dia mengerti apa yang diinginkan oleh wanita? Sebuah perhatian kecil yang dikhususkan hanya untuknya. Namun, lagi-lagi dia tidak mengerti dan merasa sudah melakukan hal yang terbaik.


"Hmm!" jawabnya pendek.