
"Benarkah?" Aku mengangguk sembari tersenyum. "Bolehkah aku mendengarnya lagi?" pintanya.
"Aku menyukaimu Dante Alucard!" Aku berteriak sembari menengadahkan kepala.
Alucard tersenyum, aku melihat rona wajahnya kini sumringah. "Aku sangat menyukai Miya Shuzuhime! Apa dia menerimaku?!" Dia berteriak juga. Setelahnya dia mengecup bibirku.
Di sela pagutan kami yang semakin dalam, dia berkata, "aku mencintaimu, Sayang. Jangan pernah merubah segala takdir yang telah digariskan!"
"Aku juga mencintaimu. Jangan pernah pergi dariku! Berjanjilah kalau kamu akan selalu ada di sampingku!" Ujarku. Aku menarik lehernya, supaya mendekat lagi. Kami pun melanjutkan pagutan yang tadi terjeda.
Aku merasa pergantian hari ini, penuh warna. Apakah ini takdir yang telah di gariskan? Entahlah, saat ini aku hanya ingin menyalurkan rasa bahagia bersama pria yang baru saja memasuki hati yang tengah sunyi.
Prok! Prok!
Kami melepaskan pagutan karena mendengar suara tepukan dari belakang kami.
"Kalian sudah melupakan aku, ya. Sampai lupa, kalau di sini ada anak kecil yang tidak boleh melihat adegan seperti tadi!" seloroh Nana. Dia seperti pura-pura kesal pada kami. Padahal dia sendiri yang menyuruhku mengejar Alucard dan menyatakan rasa sukaku.
"Tidak, Nana. Aku tidak akan melupakan anak kecil imut seperti ini!" jawabku sembari menariknya dalam pelukan kami. Pada akhirnya kami saling berpelukan. Kami melepaskan pelukan ketika Molina mendekat.
"Molina! Apa kamu ingin bersama?" tanya Nana sembari menggendong kucingnya menjauh dari kami. Karena apabila, kucing itu menyentuh. Bisa-bisa tubuh kami berhenti untuk sesaat.
Aku berjalan beriringan dengan langkah Alucard, dia menyimpan tangannya di ata bahuku. Sedangkan, Nana berjalan di depan kami.
"Sebentar lagi kita akan memasuki gerbang Moon Elf!" Seru Nana sembari meloncat kegirangan.
Aku menoleh pada Alucard, "Sayang, apa kamu siap berkata dan menjelaskan tentang hubungan kita pada Moon God.
Dia mengangguk dengan senyuman terindah, kemudian mengecup pucuk kepalaku. " Aku akan mengatakannya, dan meminta izin untuk menikahimu!"
Seharusnya aku berbahagia mendengar dia berkata, namun trauma ku belum sembuh sepenuhnya. Aku takut kondisiku sama seperti ketika Zilong berkata akan menikah denganku, tapi dia malah pergi meninggalkanku.
"Miya, kenapa kamu malah sendu ketika aku berkata seperti ini! Apa kamu tidak suka, kalau aku mempunyai niat untuk menikah dan hidup bersama?" Dia bertanya dengan wajah datar.
Aku menggelengkan kepala, "bukan karena itu. Tapi, ketakutanku terus menghantui, aku takut kamu meninggalkanku setelah aku melabuhkan segala cinta dan rindu hanya untukmu!"
Alucard membalikkan tubuhku, kini kami saling berhadapan. "Apakah aku seperti itu? Aku tidak akan meninggalkan kamu, Sayang. Aku akan selalu kembali padamu, walaupun rintangan akan senantiasa menghadang. Aku tidak akan menyerah! Ini janjiku setia ku padamu. Ingat Miya, seorang pemburu tidak akan melepas buruannya, dia pasti akan membawanya masuk ke dalam rumah...."
"Dan setelahnya dia memakan buruan itu?!" Jawabku memotong perkataannya sembari mencebikkan bibir.
Aku yang semakin kesal karena perkataan dan perbuatannya, langsung melancarkan andalan perempuan yaitu mencubit perutnya. Namun, setelahnya aku terdiam ketika aku mencubit perutnya yang masih terluka. Darah segar keluar dengan deras. Aku segera mengumpulkan tenaga dan mengeluarkan sihir untuk menutup lukanya. Meskipun, dalam keadaan panik aku tidak boleh bersikap gegabah. Aku tidak tahu, ketika aku mengobati lukanya, bulir bening keluar dengan sendirinya.
"Kenapa kamu menangis, Miya?" tanyanya sembari mengusap air yang mengalir di atas pipi.
Aku menggelengkan kepala, "aku tidak apa-apa, aku hanya menyesal kenapa aku mencubit kamu, Alucard!" Kataku sembari terisak.
"Apa? Coba ulangi lagi!" pintanya.
"Ulangi perkataan yang mana? Terlalu banyak kata yang aku keluarkan hari ini!" Aku tidak mengerti apa yang tengah dia katakan.
"Kenapa kamu menyebutku dengan namaku. Apa aku tidak bisa merajai dalam hatimu!" Sekarang malah dia yang merajuk.
Aku tidak tahu, apa yang dia inginkan. Aku mencoba mengingat lagi perkataan dan jawabanku padanya. Sesaat setelah aku berpikir aku baru ingat kalau aku menyebutnya tanpa memanggil dengan kata yang menyanjung. Aku tersenyum sembari tertunduk, "apa harus seperti ini? Apa yang ingin kamu dengar dari bibirku ini, Sayang?" aku bertanya setelah bisa mengendalikan bibirku supaya tidak tertawa.
Dia tersenyum, "itu saja sudah cukup! Cukup ketika bibirmu selalu memanggilku dengan kata Sayang. Itu sudah cukup membahagiakan hati ini. Terima kasih karena kamu sudah mau membuka hatimu untukku yang belum bisa melindungi dan membahagiakanku." Kemudian dia menarik leherku, sampai wajah kami berhadapan, "aku mencintaimu, sangat mencintaimu, Miya. Dengar, Miya! Suatu saat, kalau aku yang pergi dari hadapanmu maka bawalah panahmu, kemudian tembakkan sampe anak panah itu menembus jantungku. Setelahnya biarkan aku mati!"
"Tidak, Sayang! Aku tidak akan melakukannya. Kalaupun nanti kamu meninggalmu, aku akan menunggumu sampai ajalku tiba!"
Perlahan air mata jatuh dari mata Alucard, aku tidak menyangka kalau pria dingin seperti ini bisa peka. "Miya, Sayang. Aku sudah jatuh dalam cinta dan pelukmu. Jangan pernah pergi dari hadapanku, apapun alasannya. Jangan pergi!" Aku menggangguk untuk kesekian kalinya. Aku tidak tahu apakah perkataannya bisa di percaya atau tidak karena Zilong pun dulu sama tidak bisa hidup berjauhan denganku, namun dia meninggalkanku hanya karena seorang perempuan yang lebih super Power.
"Kenapa kamu diam tak menjawab perkataanku, Sayang?" tanyanya.
"Aku takut kata-katamu hanya selama hari ini saja, setelahnya kamu akan berlalu seolah kamu tidak pernah berkata dan berjanji seperti ini!" jawabku.
Alucard menarik dalam pelukannya, "biarkan hari ini, aku menumpahkan segala rasa cinta yang membuncah ini. Terserah apakah kamu meragukan cintaku atau tidak! Aku harap kamu tetap ada di sampingku." Dia mengangkat daguku, sedangkan aku masih menundukan mataku. Sejujurnya aku tidak berani langsung bertatapan dengan matanya. "Bolehkah, aku mengulang lagi?"
Aku mengeryitkan dahi, dalam hati bertanya, apa ingin dia ulangi. "Apa? Aku tidak mengerti. Apa yang kamu inginkan?"
Dia memiringkan wajahnya dan meraup bibirku dengan lembut. Aku menikmati pagutan ini seiring air mata yang terus mengalir. "Apa kamu menyesal karena ciuman ini?"
"Tidak, aku tidak menyesal, Sayang! Aku sangat menyukainya! Terimakasih karena kamu ada untukku ... dikala hati ini tengah sendu," ucapku seraya memperdalam pagutan. Aku tidak tahu dengan semua rasa ini. Pagutan Alucard begitu menghanyutkan. Aku tidak bisa berhenti, napas kami saling memburu.
"Miya, aku mencintaimu!" ujarnya di sela pagutan. Kami mengambil napas terlebih dahulu. Selanjutnya kami mengulang lagi untuk beberapa kali sampai aku merasakan tepukan di bahuku.
"Kenapa kamu tega melakukan ciuman itu bersama orang lain? Secepat inikah kamu menghapusnya dalam hati kamu! Bagaimana kondisi hati Zilong kalau dia tahu kekasih hatinya telah mengkhianatinya!"