Miya Alucard

Miya Alucard
Tawanan Tanpa Dosa



"Dasar bodoh! Kembali ... kembali ke sini!" Aku masih mendengar teriakan Alucard yang terus meneriakku tapi aku tidak ingin membalikkan tubuhku untuk melihat kondisinya. Semoga apa yang dikatakan oleh monster itu benar, dia akan melepaskannya, apabila aku mengikutinya.


Srek! Cring!


Aku mendengar suara berisik di belakang. Begitupun, monster yang membawaku menoleh dia terlihat begitu geram. "Pembantai sialan! Kami akan menghukummu tanpa ampun, tadinya aku akan mempermalukanmu di depan umum karena kamu telah ditolong oleh seorang perempuan tapi sekarang kamu telah membunuh satu orang temanku lagi, maka terimalah hukuman untukmu juga!"


Rasa penasaranku kian menjadi, aku membalikkan tubuh ini untuk melihat keadaan sekitar. Aku melihat satu monster telah terkapar dan terluka. Aku melihat Alucard telah terbebas dari sihir yang membelit. Bagaimana caranya dia bisa terlepas dari lilitan sihir yang belenggunya, untuk hal itu aku tidak tahu karena aku membelakanginya. Aku hanya bisa melihatnya, dia membabi buta mengalahkan dan menyerang monster-monster yang tadi memegangi dan mengawasinya. Monster yang membawaku kemudian mengeluarkan sihir cahaya merah yang keluar dari tubuhnya sampai menembus langit. Aku bertanya pada diri sendiri apakah seperti ini amarah seorang monster?


Dia bergerak kemudian menyerang Alucard dengan sihirnya. Aku tidak tega ketika melihat tubuh Alucard mulai lemah akibat ribuan hantaman sihir melukai tubuhnya. Sihir dari monster ini benar-benar kuat Alucard sampai tak berdaya menerima setiap hantaman. Tak berselang lama, sihirnya membelitnya. Alucard menahan kesakitan. Monster itu berkata ketika Alucard kesakitan, "aku tidak akan melepaskan kalian ikuti kami atau kalian mati dalam kondisi mengenaskan. Jangan coba melawan atau pergi dariku karena aku adalah Panglima Besar penghuni kerajaan di hutan ini jadi jangan coba, melarikan diri!"


Akhirnya, kami berdua mengikuti monster itu karena melawan pun akan menjadi sia-sia. Kalau kami dalam kondisi baik-baik pasti kami bisa mengalahkan monster laknat itu. Aku memberanikan diri untuk melihat Alucard yang berjalan di sisiku ternyata dia pun tengah menatapku. Sesaat kami beradu tatap, aku mengira dia membenciku ternyata tidak, ketika kami saling menatap dia malah melihatku dengan senyuman tipis kemudian dia menggerakkan bibirnya seperti berkata "jangan takut, aku akan melindungimu!" Aku mengangguk, sebagai jawaban dari perkataannya.


"Cepatlah!" Monster berkata tegas. Sihir yang mengikat tanganku memberikan rasa panas yang berlebih. Aku tahu mereka menambah kekuatan sihirnya.


"Arrgh! Lepas!" tegas Alucard.


Monster itu mendekat seraya bertanya, "apa? Melepaskanmu, tidak akan pernah aku lakukan!"


Perlahan kami berjalan menyusuri hutan. Mataku tak percaya dengan apa yang terlihat. Kami memasuki daerah kerajaan. Sebelumnya monster itu meminta izin pada pengawal. Terlihat air terjun indah memanjakan diri. Pepohonan rindang yang berbuah penuh.


Namun, ketika aku tengah takjub dengan keindahan kerajaan ini. Aku melihat para monster tengah memakan satu makhluk, darah segar meleleh diantara gigi tajamnya. Tanpa sadar mereka menatapku sembari tersenyum menyeringai. Segera ku alihkan pandangan. Jangan sampai terlihat ketakutan.


"Apa kamu sudah merasa nyaman di tempat ini?" tanya sang monster yang mengaku sebagai panglima Besar.


"Tidak, tidak aku tidak nyaman berada di sini. Lebih baik di tempatku sendiri dari pada di tempat yang terlihat megah, tapi isinya para monster yang tengah kelaparan. Bukan begitu tuan panglima Besar!" ejekku menimpali.


Aku berjalan lagi menuju bangunan yang telah berlumut, bau menusuk dari darah yang telah mengering tercium, menambah rasa takut dalam hati. Apakah aku akan memasuki bangunan ini? Aku berbisik setelah memasuki ruang penuh dengan lumut hijau yang mengering.


Setelah melewati lorong sempit, kini mataku terbelalak kembali. Begitu banyak mahluk yang ada di dalam ruangan mencekam ini. Aku melihat satu mahluk dengan rantai memanjang mengikat tubuhnya. Dia menyeringai ketika aku menatapnya, luka di sekujur tubuhnya menambah miris jiwa peduliku. Rasa peduliku semakin menguatkan janjiku untuk membebaskan mereka sampai titik penghabisan. Namun, bagaimana aku keluar dari sini. Seakan tidak ada celah untuk kami keluar dari sini.


"Masuk!" Sang panglima Monster itu, mendorong tubuhku ke dalam satu ruangan pengap. Dia menutup pintu yang terbuat dari batangan besi. Mata ini masih bisa melihat Alucard yang telah berdiri di ruangan terpisah tepat di depanku. Aku meringis ketika dia di dera oleh pecut api, setelah tubuhnya roboh, dua monster menarik rantai panjang kemudian membelit tubuhnya yang sudah tak berdaya. Kini aku berada di ruang sempit, hanya lampu kecil meneranginya. Hawa dingin dan pengap bercampur. Suara decitan dari tikus, terdengar di telingaku. Aku semakin cemas dan takut.


"Apa kamu sudah puas melihat kekasihmu kami sakiti. Kini, giliran kamu, Nona sok pahlawan!" Panglima itu mengejekku.


Cuih!


Tidak, aku tidak mau dia berbuat sesuatu yang akan membuatku lemah. Walaupun aku sudah tidak mempunyai tenaga lagi. Namun, aku harus melawannya.


"Pergi! Menjauh, atau aku akan membunuhmu!" Aku berteriak.


Akan tetapi, dia tidak menggubrisnya. Dia terus mendekat. Dalam hati terdorong untuk melawannya. Kini, mataku melihat satu senjata seperti tombak. Aku meraih dan segera bergerak untuk menusuknya. Namun, dia malah meraih tombak yang aku pegang.


Brak!


Dia melemparkan aku sampai ke sudut ruangan. Samar dalam penglihatan, dia mendekat dengan membawa cambuk. Aku semakin takut, ku gerakan kembali tubuh ini. "Aku takut, Alucard tolong aku!" teriakku dalam hati.


Sang panglima itu, mendekatiku kemudian mencengkeram rahangku dan membantingnya.


"Aku tidak menyangka, kamu bisa menyerangku seperti ini!" Matanya tajam menatapku sembari menjambak rambutku. Perih ku rasakan. Namun, lebih perih lagi hati ini yang seakan tercabik. Tanpa sadar lelehan air mata terus membasahi pipi.


"Apa salahku? Itu pantas kamu dapatkan," tanyaku berharap dia tidak menuduh sembarangan.


"Apa perlu aku menyumbat mulut yang penuh dengan dusta ini? "Katakan apa rencanamu? Kamu memang hebat bisa menyimpan rahasia!" Tuduh Sang panglima seraya menarik tubuhku. Kemudian dia menarik sebuah kursi, dia melemparkanku di atasnya.


Dia melangkah mundur kemudian mengangkat cambuk yang dia pegang. Kini, aku merasakan cambukan di tubuh. Beberapa kali aku harus menjerit karena pecutnya mengenai sekitar dada. Tubuhku semakin ringkih dan lemah.


"Aku pasrah dengan kehidupanku! Aku tidak bisa menjelaskan kejadian yang sebenarnya!"


Entah berapa kali cambukan mengenai tubuh ini. Kepalaku mulai pening, penglihatanku kabur dan setelahnya aku tidak ingat apa-apa lagi.


Byuur!


Suara air memaksaku untuk bangun. Dalam kondisi masih perih karena cambukan. Kini tubuhku kedinginan karena monster itu menyiramku dengan air dingin. Rasa kaku dan kebas begitu terasa.


"Mengaku atau tetap berkilah?" tanyanya dengan suara yang semakin meninggi.


Aku kembali menggelengkan kepala. Untuk apa aku mengakui hal yang tidak aku lakukan. Tanpa aba-aba dia melesatkan kembali pecutannya yang disusul dengan suara teriakanku.


"Ah, sakit! Lepaskan aku!"