Miya Alucard

Miya Alucard
Menjadi Pengkhianat Karena Sentuhanmu



Kami berjalan menyusuri hutan tanpa lelah, aku merasa kehadiran Alucard menjadi penghangat dalam hati. Entahlah aku tidak tahu apakah perasaan ini akan selalu tumbuh atau hanya sebatas perasaan yang singgah karena kekecewaan.


"Apa kamu ingin memakan sesuatu? Kalau menginginkan sesuatu, aku akan mencarikan buah-buahan supaya kita bisa memakannya." Dia berkata sembari melihat ke arahku.


Aku menoleh kepadanya sembari tersenyum,"Terserah kamu saja! Apa yang kamu bawa akan aku ambil dan kalaupun kamu tidak membawakan apa-apa untukku. Aku tidak akan meminta," ujarku menimpali perkataannya.


Setelah mendengar perkataanku, dia mengeryitkan dahi, "Kenapa kamu berkata seperti itu? Apa kamu tidak suka akan keberadaanku? Kalau kamu tidak suka, aku tidak akan memaksamu untuk menyukaiku. Karena aku masih ingat ketika kamu bersamaku dan aku mengira kamu menyukai sentuhanku. Namun, ternyata bibirmu tanpa sengaja menyebut nama kekasihmu! Apa itu yang dinamakan cinta? Jadi, jangan memaksakan diri, kalau kamu tidak menyukaiku. Aku tidak akan memaksa, walaupun aku sangat mengharapkan keberadaanmu. "


Sebelum aku menjawab pertanyaan nya. Aku memejamkan mata untuk merasakan semilir angin yang berhembus ketika kami tengah duduk di bawah sebuah pohon rindang. Aku menoleh padanya." Aku tidak memaksakan segala sesuatu untuk dimiliki karena aku mencerna apa yang tadi kamu katakan, ketika kita berjalan di dalam hutan. Kamu berkata bahwa seorang Hero tidak akan pernah melanggar sumpahnya. Sedangkan, aku pernah bersumpah pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan menerima pria manapun kecuali Zilong ... apa aku salah dengan perasaan ini? Tolong jawab, aku bertanya kepadamu. "


Dia menoleh padaku sembari tersenyum,"apa kamu masih mengharapkan keberadaan Zilong? Atau kamu akan menggantikannya dengan hati yang lain? Kalau kamu berusaha untuk melupakan kekasihmu yang telah lalu. Maka izinkan aku untuk mendatangi hatimu," ujarnya seraya membelai rambutku.


Aku terdiam menikmati sentuhannya. Sentuhan yang seharusnya aku tolak karena sumpah pada hatiku sendiri. Namun, aku hanyalah seorang perempuan yang merindukan sentuhan seorang pria yang selalu membuat hangat hati ini.


"Beri aku waktu untuk membuka hati ini. Aku tidak ingin memberikan tempat untukmu tapi tempat itu masih terisi oleh orang lain. Walaupun, saat ini di dalam dasar hati, aku mengatakan kalau kamu adalah pria yang akan mengisi hati. Aku pun tidak tahu dengan rasa ini kenapa akhir-akhir ini aku selalu mengagumimu? Kamu tahu selama bersamamu ... aku harus membohongi diri sendiri, karena aku mengagumimu. Namun, semua rasa itu aku tepis kembali karena keberadaan Zilong yang belum bisa terlepas begitu saja di dalam hati."


Dia terdiam selama mendengarkan apa yang ada dalam hatiku. Dia menghembuskan nafas panjang kemudian berdiri. "Aku akan memberikan waktu padamu hingga satu minggu saja, karena aku Hero pemburu sedangkan pemburu tidak suka menunggu. Semua keputusan ada di tanganmu. Apakah kamu akan bersamaku atau kamu menyuruhku untuk pergi dari kehidupanmu? Jangan buat aku menunggu. Itu yang aku minta darimu tidak lebih. Walaupun, hari ini aku akan mengantarkanmu, tapi aku tidak akan memaksa dan tidak akan berusaha untuk mengambil hatimu. " setelah berkata dia berjalan tanpa mengajakku.


"Hey, Alucard tunggu aku! Kenapa kamu meninggalkanku dan berjalan di depan?" Aku bertanya sembari menyeimbangkan langkah.


"Aku hanya mencoba untuk menjaga hati saja. Menjaga jarak diantara kita karena kita sudah sepakat kalau kita tidak akan melewati garis pembatas."


Aku mengeryitkan dahi, apa dia berkata seperti itu supaya aku tidak menyukainya? Bukankah seorang pemburu, dan pemburu itu akan memburu. Namun, berbeda dengannya, kenapa dia membiarkanku, dia tidak berusaha mengejarku. Padahal dalam hati, aku sangat berharap dia selalu mengejarku. "Sudahlah! Kamu terlalu berpikir yang aneh," ujarku dengab suara yang sangat pelan sembari memukul kepalaku sendiri.


Ketika aku bersikap seperti itu dia menggelengkan kepalanya. Apa dia mengejekku? Entahlah aku tidak ingin tahu apa yang dia pikirkan. Saat ini, aku hanya ingin berjalan menuju rumah dan menutup pintu kemudian membaringkan tubuhku di atas kasur, itu saja yang aku inginkan.


Kami terus berjalan tanpa henti sekali-kali, dia mengambilkan buah-buahan yang ada di hutan untukku. Aku tidak tahu kami harus berjalan sampai kapan karena aku sudah merasakan kaki ini terlalu lelah.


"Apa kamu lelah?" tanyanya sembari menoleh kebelakang karena langkahku semakin pelan.


"Iya, aku lelah. Sangat lelah!" Jawabku pendek saja.


Tiba-tiba dia menggendong tubuhku tanpa diminta. "Kenapa kamu menggendongku? Aku 'kan bisa jalan sendiri."


Dia tersenyum padaku seraya berkata, "aku tidak akan membiarkan kamu kelelahan. Aku tidak suka kalau kakimu nanti menjadi jelek dan bengkak. Apa yang akan aku katakan pada bangsamu, ketika mereka bertanya perihal dirimu padaku."


Tanpa alasan yang jelas dia menurunkan tubuhku. Aku hanya bisa menaruk nafas karena aku benar-benar tidak mengerti perasaan pria di hadapanmu ini. Terkadang dia bisa menjadi orang yang sangat pengertian, namun dalam sekejap dia bisa sedingin es, dan dia bisa menjadi penghibur yang bisa membuat aku tertawa terpingkal.


"Kenapa kamu menurunkanku setelah aku berkata? Aku tidak mengerti apa yang kamu pikirkan, benar-benar tidak mengerti!" tanyaku.


"Aku sudah katakan jangan pernah membandingkan aku dengan pria lain. Aku bisa menangkap pembicaraanmu bahwa bangsa Elf akan menanyakan kondisi Zilong, bukan menanyakan tentang kondisimu, tapi ada rasa sakit yang aku rasakan dalam hati ini. Rasa sakit ketika aku harus mendengar orang-orang yang akan mengatakan kalau kekasihmu selamat atau tidak!" Dia berkata panjang lebar.


"Sudahlah jangan terlalu berpikiran tentang segala sesuatu yang belum terjadi, aku pun seperti itu. Aku tidak tahu sampai kapan rasa cinta padanya akan mendiami hati. Sudahlah! jangan bicarakan tentang dia, aku hanya ingin merebahkan tubuhku di rumah, itu saja ... untuk perasaan, aku simpan terlebih dahulu, bukan aku menolak keberadaanmu. Namun, aku hanya ingin mengenang segala sesuatu tanpa melupakannya. Maafkan aku dan jangan tersinggung dengan perkataanku!"


Dia hanya tersenyum, dia terus berjalan menyusuri hutan sese kali dia menebang ranting-ranting yang menghalangi jalan kami.


Kenapa dia diam terus, apa dia mulai tersinggung atau mulai merasakan lelah ketika aku tidak menyatakan rasa suka padanya. Sejujurnya, aku ingin berteriak padanya dan menjambak rambutnya. Kenapa dia tidak bersikap baik agar aku semakin menyukainya.


"Cepalah, Miya! Jangan mempersulit diri, gerakan kakimu. Jangan memperlambat waktu. Jangan sampai kita bermalam di hutan ini lagi. Walaupun, Raja monster sudah melarang semua kaumnya untuk tidak mengganggu, tapi kita tidak tahu mungkin monster lain datang dan menyerang kita. Cepatlah bergegas!"


Mendengar perkataan dia seperti itu. Aku seperti tersambar petir, Kenapa dia berkata ketus seperti itu? Padahal aku menginginkan jawaban, ketika dia berkata mencemaskanku dan memperhatikaku. Aku ingin dia berkata lembut menggodaku.


Zilong! Kenapa kamu meninggalkan aku di saat aku telah merindukanmu, dan untuk Alucard, kenapa kamu memberikan sentuhan yang akhirnya aku tidak bisa melupakannya?Aku merasa berada di antara dosa dan dusta. Aku merasa menjadi pengkhianat dan pembohong dalam diriku.


"Miya, aku mencarimu kemana-mana! " tiba-tiba suara itu muncul di depanku refleks aku menoleh pada sumber suara.


"Hai, Nana! Aku senang melihatmu dan merindukanmu. Aku tidak tahu jalan keluar dari hutan ini!"


"Maafkan aku, Miya. Aku tidak bisa memasuki hutan misteri ini, aku hanya menunggumu di gerbang hutan. Dan berharap kamu datang dalam keadaan selamat!"


"Oh, jadi ini gerbang hutan misteri? Aku senang sekali bisa keluar dari hutan ini. Aku bersyukur akan hal itu karena Akhirnya aku bisa bernafas lega ... kamu tahu di dalam hutan itu aku bertemu banyak monster menakutkan, Nana!" Aku terus bercerita padanya.


Ketika aku berkata Nana tersenyum, bukan hanya tersenyum dia malah tertawa terbahak seperti tidak mengerti kondisiku.


Tanpa diminta, Alucard datang mendekati kami. "Hai, Nana! Maafkan Aku yang tidak secepatnya keluar dari hutan ini karena saudaramu ini begitu lambat!"


Aku membulatkan mataku, "apa yang dia katakan itu tidak benar!" Aku semakin kesal mendengarnya.