
Rasa takut kini menyelimuti, aku tidak tahu apa harus berdiam diri atau segera berlari dari tempat ini? Namun, Alucard masih saja diam tak bergerak. "Alucard, lebih baik kita harus pergi dari sini, daripada nantinya kita akan terdesak!"
Akan tetapi, Alucard menjawab pertanyaanku, "aku tidak akan pergi dari sini! Tapi, sebaiknya kamu pergi menjauh karena aku yakin mereka adalah monster pilihan rajanya."
"Tidak! Aku tidak akan meninggalkan tempat ini hanya karena takut kalah atau lari dari masalah. Aku akan bertarung bersama kamu!" Sahutku sembari memegang busur panah. Alucard kembali menggelengkan kepalanya, tapi aku tidak peduli dia suka atau tidak akan keberadaanku.
"Baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusanmu tapi aku berharap kamu bisa berlari dengan cepat ketika kita mulai terdesak" ujarnya. Aku mengangguk sembari menatap matanya untuk meyakinkan kalau aku bisa diandalkan.
Aku bergerak mengikuti arahan yang diperintahkan olehnya dengan gerakan perlahan agar musuh tidak menyadari keberadaan kami berdua. Aku berdiri dan melesatkan anak panah setelah alucard memberikan aba-aba agar aku mulai menyerang musuh. Aku berdiri sembari melesatkan anak panah. Anak panah itu berhasil menembus jantung dua orang monster yang tengah membelakangiku. Kemudian aku membidik mereka beberapa kali sampai mereka benar-benar terkapar. Aku tidak mau kejadian yang telah terjadi terulang lagi. Aku harus memastikan monster itu benar-benar terbunuh.
Setelah dua monster itu tak dapat bergerak, Alucard menebas lehernya. Supaya mereka tidak mampu bergerak sama sekali. Setelahnya kami bergerak dengan cepat. Kami bersembunyi di balik pohon yang sangat besar, untuk memastikan keadaan.
"Tuan, ternyata mereka ada di sekitar sini. Mereka telah membunuh dua monster, kita harus menajamkan penciuman agar mereka bisa kita tangkap!" Aku mendengar jelas apa yang dikatakan oleh monster itu, kami berdua saling bertatapan. Alucard bergerak lagi untuk maju mendekati monster tanpa ada rasa takut diraut mukanya.
"Matilah, kalian! Aku akan menjemput nyawa kalian bersiaplah menerima kekuatanku!"
Cring!
Alucard bergerak cepat mengayunkan pedang tanpa jeda. Aku yang masih berada di tempat persembunyian menatap kagum akan keberaniannya. Akan tetapi, aku segera menyadarkan diriku sendiri bahwa aku tidak boleh mengagumi seorang pria manapun. Hati dan rasa cinta ini hanya milik kekasihku. Walaupun, dia telah pergi meninggalkanku aku akan setia menunggunya
Mataku terpejam ketika beberapa monster datang mendekat padanya. Mereka bersama menyerang. Aku tidak bisa diam melihat hal seperti ini. Meskipun, dia menyuruhku untuk diam di tempat. Namun, aku tidak bisa melihatnya terluka. Apalagi aku harus meninggalkannya dan bertarung sendiri. Tidak, itu bukan ciri khas dari bangsa kami. Kami terkenal saling melindungi satu sama lainnya. Walaupun, terkadang dia dingin tapi aku tidak pedulikan akan hal itu yang terbersit sekarang adalah aku menolongnya dari monster-monster yang datang menyerangnya.
Aku membidikan panah ke arah monster yang tengah mengungkung tubuhnya. Aku tidak peduli kalau nantinya dia akan marah dan menjauhiku ... aku tidak peduli, karena yang aku pedulikan adalah bagaimana caranya agar dia bisa selamat.
Grep!
Aku merasakan tangan besar menangkapku dari belakang, aku tidak tahu siapakah yang memelukku dari belakang. Aku membalikkan tubuh dan berkata, "siapa kamu lepaskan!"
"Apa?! Melepaskanmu, aku akan membawamu pada raja karena kamu telah membunuh saudara-saudara kami. Ikuti kami karena aku akan menghukum kalian tanpa ampun. Aku akan serahkan kalian semua pada sang raja. Aku tanya, siapa lagi yang ada di belakangmu?!"
"Apa apa yang barusan kamu katakan kamu tidak akan mengikuti kami?" Kemudian dia berkata lagi, "kalau kamu tidak mau mengikuti keinginanku. Kamu akan mati mengenaskan dan kamu akan menjadi tawanan kami"
"Aku tetap tidak akan menyerah dan aku akan melawanmu!" Aku berkata tegas.
"Baiklah, kalau kamu masih bersikukuh tidak tidak mau mengikutiku maka kekasihmu itu akan menderita! " Dia berkata tegaas di depan wajahku sembari mendesis. Aku tidak mengerti apa yang tengah dibicarakannya. Siapa kekasih. Kekasihku hanya satu yaitu Zilong.
"Kenapa kamu mengancam padahal kamu sendiri tidak bisa mengalahkan kekuatannya aku tidak percaya akan semua ancaman yang kamu katakan kepadaku."
"Benarkah kekasihmu setangguh itu?" dia bertanya padaku kemudian dia berkata lagi, "Lihatlah kekasihmu, dia sekarang tak berdaya dalam ikatan sihir. Aku tidak akan melepaskan dirinya sampai dia mati! "
Ketika monster itu berbicara, terlintas dalam benak ketika Zilong tengah merasakan kesakitan di sekujur tubuhnya. "Aku yakin kamu berbohong karena setahuku ... kekasihku bersama Kadita."
"Oh, Nona! Kamu terlalu Naif dan merendahkan kami. Lihatlah ke depan, itu kekasihmu bukan? Sekarang dia terjebak dalam ikatan." Monster itu mengejekku.
Kini mataku terbelalak tak percaya aku melihat Alucard tengah diikat oleh sihir cahaya merah yang membelit tubuhnya. Dia menatapku dalam sendu, dia berkata kepadaku agar aku melarikan diri dari tempat ini. Namun, aku tidak bisa tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Walaupun, dia bukan kekasihku.
"Aku akan mengikutimu asalkan kamu melepaskannya. Biarkan dia bebas. Aku ikut denganmu. Aku tidak takut menghadapi kalian!" Aku berkata sembari meluruskan kedua tangan agar mereka mengikatku dan melepaskan Alucard. Akan tetapi, berbeda dengannya, dia menampakan wajah geram padaku. "Dasar wanita bodoh! Kenapa kamu melakukan hal itu. Aku tidak akan memaafkanmu!"
"Lepaskan dia, aku akan ikut bersama kalian!" Aku menjawab kata Alucard tanpa melihat matanya. Walaupun, aku tahu saat ini dia sangat kesal atas keputusanku, tapi biarlah aku saja yang menjalani hukuman demi orang yang telah melindungiku. Meskipun, aku baru mengenalnya beberapa saat. Anggap saja ini adalah pengorbanan kecil dari pertempuran kami lakukan.
Monster itu kemudian membelitku dengan lilitan api kecil yang terasa panas di tanganku. Teriakan Alucard, aku hiraukan. Aku terus berjalan mengikuti monster itu. Apakah aku akan di bawa ke mana, entahlah apakah mereka akan menyiksaku atau seperti apa yang terpenting keselamatan orang lain lebih penting dibanding aku sendiri.
"Wanita bodoh! Kenapa kamu melakukan ini, jawab aku dasar bodoh. Kembali ... jangan ikuti mereka!"
"Maafkan aku, Alucard. Aku tahu kamu memakiku bukan karena kamu membenciku. Tapi, aku tahu kamu mengkhawatirkan kondisiku, biarkan ... biarkan aku yang menanggung semuanya. Karena bagiku melindungi orang-orang, lebih penting daripada kehidupanku saat ini, terlebih lagi aku sudah berpisah dengan kekasihku. Untuk apa ... untuk apa aku merengek hidup akan lebih baik aku mati oleh tebasan pedang musuh karena melindungimu."
Aku tertunduk pasrah akan semua ini, apakah aku menyesal ketika aku melakukan pengorbanan ini. Entahlah, semua rasa dan ragaku saat ini tak bisa memilih. Bertahan atau melarikan diri akan sama saja untukku. Kehilangan Zilong pun, membuat separuh nyawaku seakan hilang entah kemana. Sekarang aku harus siap melepaskan nyawaku untuk melindungi mahluk yang baru aku kenal. "Tenang saja, Alucard. Aku tidak akan menyesal!"