Miya Alucard

Miya Alucard
Terjebak Cinta Yang Tak Seharusnya



"Rasakan rasa pedih itu, sampai darahmu habis. Sekarang, aku telah menyatu dengan tombakku!" Teriak Zilong seraya memutar tombak untuk menyerang kesekian kalinya.


Aku masih terdiam tak bergerak, untuk apa aku menangkis dan melawannya. Untuk apa? Semua akan sia-sia. Aku masih bisa melihat dengan jelas ketika kekuatan api merajai tubuhnya. Kilatan api berwarna kuning kemerahan membalut seluruh tubuhnya. Dia seperti akan memuntahkan semua kuasanya padaku.


"Bila itu yang kamu inginkan, Zilong. Aku akan menerima segala rasa sakit ini!" Dalam lirih, aku pejamkan mata seraya menikmati rasa pedih hingga akhir kisah hidupku. "Ini sudah menjadi takdirku, aku mati di tangan kekasihku sendiri. Terimakasih Zilong, untuk semua hal pernah yang pernah kita lalui bersama."


"Rasakan!" Ujar Zilong sembari memutar tombak besar yang melebih tubuhnya sendiri.


"Ini adalah napas terakhirku, Zilong. Aku akan melepaskannya dengan senang hati!" Aku telah bersiap mengahadapi kematianku sendiri. Hawa panas terasa membakar tubuhku. Namun, ini hanya awal dari penderitaan. Setelahnya aku akan mati terkena tebasan tombaknya.


"Miya! Lawan Zilong ... lawan Zilong!" Suara Nana terus terngiang. Namun, luka di hati ini lebih besar. Aku tidak mau menyakiti orang yang telah tulus mencintaiku. Biarlah semua cerita tentang kami akan aku tutup sampai di sini. Aku tidak tahu, apakah Nana dan moon elf akan memaafkanku.


Grep!


Saat mataku terpejam, aku merasakan rangkulan di pinggang. Ku buka perlahan mata yang telah lelah karena air mata yang terus mengalir.


"Alucard!" Aku berkata dengan nada rendah sembari menatap wajah dinginnya. Aku tidak tahu kenapa malah dia yang menyelamatkanku. Dia terus berlari menghindari kilatan api dari tombak Zilong. Dia bergerak cepat tanpa menatapku. Apakah aku harus berterimakasih pada Alucard?


"Diamlah di sini, gadis bodoh. Kenapa kamu tidak melawan ketika musuhmu akan menusukmu. Apa kamu menyerah?!" Teriak Alucard sembari menatap tajam. Kemudian dia bergerak menjauh.


Haruskah aku menyesal untuk kesekian kalinya. Aku memang bodoh tapi aku tidak bisa melawan takdirku sendiri. Aku hampa tanpa Zilong.


Cring! Cring!


Kilatan dari tebasan tombak Zilong semakin menjadi. Kilatan api dari tombaknya menyulitkan pergerakan Alucard dan Nana. "Zilong, kenapa kamu malah balik melawan kami!" Suara lirihku keluar seiring rasa sesak di dalam dada.


"Zilong, jangan lakukan!" Aku berteriak ketika dia akan menebas Nana dengan tombaknya. Aku segera berdiri dan memusatkan mata ini untuk melesatkan anak panah. "Tidak, Zilong. Kamu boleh mengambil nyawaku, tapi tidak untuk sahabatku!"


Busur yang ku tarik ternyata tepat sasaran, anak panahnya menancap di lengan Zilong. Dia berbalik ke arahku sembari mencabut anak panah. "Seharusnya kalian mengumpulkan pasukan untuk mengalahkanku. Luka ini tak ada artinya untukku!" Bentaknya sembari bersiap menebaskan kembali tombak yang dipegangnya. "Arrghh! Rasakan kematian yang menyesakkan ini!"


Untuk melawan Zilong, Alucard mengayunkan pedang yang mengeluarkan kilatan warna biru yang tak kalah mematikan. "Gadis kecil, bergeraklah!" Alucard menyuruh Nana untuk bergerak. Aku yakin dia berkata seperti itu, agar Molina bisa ikut membantu. Nana mengangguk seraya melemparkan bumerang pada Zilong, tapi lagi-lagi dia bisa menangkis boomerang Nana dengan tombaknya.


Pertempuran diantara kami semakin memanas. Terlebih lagi, aku tidak sepenuh hati ketika melawan kekasihku sendiri. Alucard terus melangkah maju sembari tetap fokus menangkis serangan. Hati ini terenyuh ketika kekuatannya semakin meningkat melawan dan menangkis serangan dari Zilong.


Kini, kilatan hitam datang lagi menghalangi penglihatan kami. "Aku akan membantumu, Zilong! Bersemangatlah, sampai mereka mati dan jiwanya kita tarik ke dalam neraka bersama para iblis!" Sepertinya Dyrroth mampu melepaskan diri dari sihir Molina. Dia berkata penuh kesombongan.


Cakram yang ada di pergelangan tangannya berputar sembari mengeluarkan cahaya besar. Dengan cekatan Nana melemparkan boomerang ke arah Dyrroth, sedangkan Alucard memainkan pedangnya menghambat tebasan dari tombak Zilong.


Pertempuran terus berlangsung. Walaupun, lelah menghampiri tapi aku tidak boleh menyerah demi sahabat kecilku–Nana. Mataku melirik ke arah Alucard, entahlah sekarang aku malah mengkhawatirkan kondisinya. Aku melihat kekuatannya semakin bertambah. Senyum tercipta begitu saja dari bibirku ketika dia bisa bergerak sangat cepat. Kemudian aku berbalik untuk melihat kondisi Zilong.


"Zilong, sadarlah! Kenapa kamu berubah? Apa kamu sudah membenciku?!" Aku meneriakinya. Akan tetapi, dia masih saja bergeming tak menatapku sama sekali.


Di tengah pertarungan, aku merasakan pergerakan tanah menjadi tak stabil. Mata ini terbelalak ketika Seorang Ratu yang begitu cantik datang dengan pengawalan. Rasa sesak menghantam, terlihat di kedua sisi sang Ratu berdiri Selena dan Karina. Dia adalah bangsa kami yang sudah berbelot dan bergabung dengan bangsa Abyss.


"PENGKHIANAT!" aku berkata sembari mengeratkan tangan pada busur. Ingin rasanya aku melesatkan ribuan panah pada mereka. Namun, aku masih punya hati untuk menahan segala amarah.


"Hai, Selena. Apa kalian tidak tahu balas budi pada moon elf? Bukankah mereka yang membuatmu menjadi kuat seperti ini?" tanya Nana.


"Apa urusanmu? Urus saja, sihir yang masih tidak bisa kamu kendalikan!" Walaupun, perkataan Selena benar, tapi dia tidak berhak berkata seperti itu pada Nana.


"Jaga bicara kamu, Selena. Kamu tidak ada bedanya dengan Demon yang telah mengusai tubuhmu dan adikmu. Jadi siapa yang harus bercermin, kamu atau Nana?!" Aku menimpali perkataan Selena.


"Lindungi diri kalian!" teriak Alucard menyadarkan kami yang masih berseteru. Kami tidak melihat, ternyata ratu yang memakai baju hijau itu tiba-tiba menyerang kami dengan senjatanya. Kilatan seperti petir hampir saja membunuhku dan Nana.


Aku semakin tersanjung dengan sikap Alucard. Ternyata di balik dingin ekspresi wajahnya, dia terus menyelamatkan kami. "Terimakasih!" Aku berkata pelan seraya menatapnya yang berdiri tegak sembari mengarahkan senjatanya ke depan musuh.


"Untuk apa kalian ke sini?" tanya sang Ratu sembari menunjukku dengan senjatanya.


"Aku akan mengambil kekasihku yang telah kamu ambil. Kembalikan dia pada kami!" jawabku padanya.


"Hahahaha! Zilong ... dia kekasihmu?" tanya sang Ratu yang membuatku tidak mengerti. "Apa aku tidak salah dengar?" Dia kembali menyambung pertanyaan yang membuat hati ini semakin tertohok.


"Ya, Zilong itu kekasihku!" tegasku.


Sekarang aku melihat Ratu hijau itu mengarahkan senjatanya pada Zilong. Apa dia akan membunuh kekasihku?


"Zilong!!" Ketakutan dalam diri membuatku terpancing untuk berteriak. Walaupun, dia sudah berubah tapi tetap saja rasa cinta dalam hati ini berharap dia akan senantiasa baik-baik saja. Kilatan petir membelit tubuh Zilong. Dia berusaha untuk keluar dari putaran yang menyerupai api, namun dia tidak bisa terlepas dari kekuatan sang Ratu.


"Jangan lakukan!" Aku berteriak sembari mengusap air mata. "Hentikan, jangan menyakitinya. Aku mohon!" Deraian air mata terus mengalir. Aku tidak sanggup melihat kekasihku terluka. Aku tidak sanggup. "Tolong hentikan!" Aku bersimpuh di hadapan sang Ratu agar dia melepaskan Zilong.


"Miya, bangun! Jangan pernah bersimpuh di hadapan musuh!" teriak Nana.


Aku tahu, aku salah. Aku tahu, hal ini tidak boleh dilakukan oleh moon Elf. Akan tetapi, aku tidak bisa melihat penderitaan Zilong di depan mataku sendiri.


"Bangunlah, Miya. Bukankah tadi kamu melihat kalau kekasihmu itu telah bersatu dengan mereka!" Alucard mengingatkanku.


Akan tetapi, aku masih saja tidak mendengarkan permintaan mereka. Rasa cintaku telah mengalahkan sumpah yang telah terucap bahwa moon elf tidak akan pernah tunduk pada musuh, walaupun kami harus menderita.


"Lepaskan, Zilong!"