
"Miya!" Moon God berkata sembari mendorong tubuh Alucard yang tengah mencium bibirnya.
Kali ini, aku benar-benar hancur. Bagai seorang malaikat bersayap yang dihempaskan ke bumi sampai sayap pelindungnya tak mampu lagi membawa dia untuk terbang menuju nirwana. Semua harapan dan kebanggaan pada kedua orang ini, seakan hancur berkeping-keping. Tak ada lagi jiwa pemberani dalam diri, hanya serpihan rasa yang melukai.
"Miya, aku bisa menjelaskan semuanya. Kami tidak melakukan apapun, ini hanya kecelakaan!" bujuk Alucard yang langsung berjalan tergesa mendekat ke arahku.
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Walaupun, dia sudah bersimpuh sembari mengecup tanganku, namun tetap saja tidak bisa mengobati luka yang tergores. Siapa yang harus aku percaya?
Moon God mendekat padaku dengan gaya santainya. "Kenapa di malam buta seperti ini, kamu datang ke tempatku. Apa kamu sudah tidak mengindahkan semua aturan yang berlaku di Moon Elf. Atau kamu terlalu khawatir kalau aku akan merebut kekasihmu?" Dia malah mempertanyakan hal yang membuat hati ini semakin hancur.
"Miya! Aku minta maaf, diantara kami tidak terjadi apa-apa ... kamu harus percaya!" jelas Alucard seraya menatapku dari bawah. Dia memeluk kakiku seperti menginginkan kata maaf terucap dari bibirku.
Entah kenapa mata ini terus tertuju pada Moon God. Seharusnya aku mengangkat tubuh Alucard dan tidak membiarkannya terus bersimpuh. Namun, aku masih beradu tatap dengan wanita yang selalu aku hormati dan sayangi. Sebenarnya kalaulah dia menginginkan agar aku tidak bersama kekasihku, aku akan memberikannya. Akan tetapi, yang terjadi adalah dia melakukannya di belakangku. Apakah ini pengkhianatan yang nyata? Karena aku paling tidak suka dengan hal yang disembunyikan.
"Kenapa kamu tega melakukannya? Apa selama ini, kamu tidak menyukai keberadaanku? Kenapa kamu tidak berkata kalau kamu membenciku? Lebih baik aku mati ditanganmu daripada aku hancur karena pengkhianatan!" Aku berteriak sembari menahan emosi yang tak tertahan seraya menatap tajam pada Moon God–Wanita yang selalu aku agungkan.
"Siapa yang mengkhianatimu, Miya Shuzuhime? Apa yang kamu lihat, tidaklah benar? Jangan cepat menuduh karena kalau hal itu terjadi makan kamu akan tenggelam sendiri dengan amarahmu," ujarnya sembari melangkah menuju kursi yang sama persis dengan sebuah sofa dengan ukiran berbentuk naga terbuat dari emas.
Aku terdiam dengan segala pertanyaan yang ingin aku perdebatkan dengannya. Namun, aku harus bisa menahan semua kekecewaan ini. Sebagai orang yang pernah dia tolong, aku tidak mau membuat dia terluka hanya karena kemarahan yang belum jelas.
"Miya!" Suara lirih terdengar dari bawah. Aku terkejut saat kepala Alucard mendongkak seraya menatap, air mata telah membasahi sudut pelupuk matanya. "Aku minta maaf. Sungguh, aku tidak bermaksud mengkhianatimu. Percayalah rasa cinta ini hanya untukmu!"
Aku menatap Alucard, meskipun kondisi hati ini sangat tak terkendali. Namun, aku harus bisa bersikap sewajarnya. "Apa yang harus aku percayai dari kalian? Aku percaya kamu, bahkan lebih dari itu. Tapi, kenapa di depan mataku, kamu menciumnya dengan liar. Apa aku salah? Ketika hati ini tercabik, melihat dua orang yang aku sayangi tengah menusukkan benda tajam di hati ini!" tandasku seraya membuang wajah. Sebenarnya aku tidak sanggup lagi ada di sini. Rapuh yang aku rasakan, mungkin lebih rapuh dibandingkan ketika berpisah dengan Zilong. Seakan harapan yang telah ku pegang kini terbang lagi, entah ke mana. Rasa yang tadi membuncah karena pengakuan Alucard yang lebih mencintaiku, sekejap menghilang begitu saja.
"Jangan berkata seperti itu, Sayang! Ciuman itu hanya untuk mendamaikan Moon God yang tengah dikuasai amarah. Cinta ini hanya untukmu. Percayalah, hanya kamu yang ada di dalam hati. Kalaupun dada ini, kamu belah dengan pedang untuk melihat berapa besar cintaku. Aku rela terluka, demi kamu, Miya Shuzuhime. Jangan berubah hanya karena rasa cemburu yang tak terbendung!"
Pengakuan Alucard membuatku berpikir, apakah aku terlalu cemburu pada mereka. Aku tidak tahu dengan semua rasa ini. Kini, aku menurunkan tubuh untuk mensejajarkan dengan dia yang masih menatapku seraya meneteskan air mata yang dibiarkan mengalir melewati kedua pipinya. "Aku mempercayaimu, Sayang. Tapi, kenapa kamu melakukan pengkhianatan ini di depan mataku. Apa kamu sudah tidak mempedulikan keberanianku lagi? A-a-ku tidak ta.... " Perkataanku terpotong karena isakan dari dada yang semakin terhimpit rasa.
Tanpa sadar, aku terus memukul-mukul punggungnya. "Aku tidak bisa membaca ini hatimu. Walaupun, dalam dada ini terasa sakit tapi aku tidak bisa melepaskanmu. Kenapa ini harus terjadi? Kenapa ini harus terjadi?!" Aku berkata lirih. Pukulanku semakin melemah, seakan tak ada lagi kekuatan yang menyelimuti. Rasa cemburu ini telah melemahkan jiwa dan ragaku.
"Jangan lemah seperti ini, Miya Shuzuhime. Kamu bukan seorang elf yang gampang terluka!" Alucard berkata seraya mengeratkan pelukannya.
Aku terdiam seraya membenamkan kepala di bahunya. Saat ini, aku hanya ingin merasakan kejujuran dan kesetiaannya. Semoga apa yang dia katakan benar adanya.
"Hai, kalian berdua! Sampai kapan kalian akan di sini? Aku sudah muak melihat drama cinta yang memuakkan diantara kalian berdua. Apa kalian menginginkan agar aku memberikan penghargaan dari drama percintaan kalian ini?!" Suara Moon God membuyarkan lamunanku. Aku sadar apa yang kami lakukan hanya membuatnya marah dan terluka.
Aku bangkit sembari mencoba melepaskan pelukan Alucard, karena aku tidak mau membuat hati Moon God semakin tak menentu. Namun, dia malah menahan tubuhku, semakin bergerak maka semakin erat pula pelukannya. "Diamlah! Aku hanya ingin memperlihatkan pada Moon God kalau aku hanya mencintaimu, bukan yang lain! Jadi tetaplah di siaiku," imbuhnya dengan suara pelan.
Sejujurnya, perkataan yang keluar dari bibir Alucard membuatku berbunga. Akan tetapi, aku tidak sanggup melihat kemarahan Moon God.
"Miya, apa rasa persaudaraan diantara kita telah hilang? Aku sudah katakan jangan bercumbu di hadapanku. PERGI DARI SINI!" Dia berteriak di depanku sembari mengarahkan jari telunjuknya. Aku tahu, dia akan mengeluarkan sihir yang mungkin saja melukai punggung Alucard yang masih membelakangi Moon God. Aku segera menarik tubuhnya ke sembarang arah, agar kami terhindar dari tembakan sihir.
Brak!
"Akh!" Alucard mengaduh karena punggungnya membentur satu patung cupid yang terbuat dari besi.
"Kamu tidak apa-apa?" Aku bertanya dalam cemas.
"Aku tidak apa-apa, Miya. Jangan pedulikan aku. Kita harus mengendalikan kemarahan Moon God. Aku yakin jauh di lubuk hatinya, dia masih menyimpan rasa cinta untukmu!" Dia berkata seraya memegang bahuku. Kemudian kami berdua berdiri seraya menatap Moon God yang tengah mengendalikan amarahnya.
"Moon God!" Pekikku.