Miya Alucard

Miya Alucard
Penolakan Yang Menyakitkan



Alucard menarik tubuhku dari bibir pantai. Setelah mendaratkan tamparan di pipi. "Apa yang sudah kamu lakukan? Kamu rela melepaskan jiwa berhargamu hanya untuk pria yang tidak peduli akan perjuanganmu!" Dia membentakku lagi.


Aku menundukkan wajah, ketika dia berbicara tepat di depan wajahku. Kedua tangannya mengguncang bahuku. Aku tak bisa menjawab pertanyaannya untuk saat ini. Pria tidak mengerti akan kondisiku, kenapa dia harus membentakku seperti itu. Dia tidak tahu, bagaimana aku sangat mencintai Zilong. Bagiku Zilong adalah cinta pertama dan terakhirku.


"Jawab! Apa kamu rela mati untuknya?" Alucard berteriak lagi.


Aku alihkan mata ini untuk melihatnya, "lepas! LEPASKAN AKU. Kamu tidak tahu rasa ini, kamu tidak tau ... bagaimana rapuhnya aku tanpanya. Lepas!" Aku berterik kencang untuk menjawabnya sembari menitikkan air mata.


Aku merasakan Nana juga mendekat padaku. "Apa kamu akan mengatakan hal yang sama tentang Zilong, Nana?" Aku bertanya padanya dengan nada sindiran.


Tangannya membelai punggungku. "Tadinya aku akan berkata hal yang sama. Tapi, aku yakin, kamu lebih tau apa yang harus kamu lakukan untuk mengobati hatimu, Miya. Kami akan selalu ada untukmu!" ujar Nana. Kemudian dia kembali meloncat menjauhi kami yang diikuti oleh kucing kesayangannya—Molina.


Sedangakan, Alucard terus memegangi bahuku yang telah lelah. "Istirahatlah, aku akan menemanimu," tawarnya sembari menurunkan tangannya.


"Tidak, Alucard. Untuk apa aku memejamkan mataku, tapi ketika aku bangun Zilong tidak ada di depan mataku. Jangan tawarkan sesuatu yang hanya akan membuatku terluka," jawabku dengan suara yng sudah malas untuk menjawab.


Alucard berdiri lagi di depanku. "Serapuh inikah jiwamu, Miya Shuzuhime. Apa bedanya kamu dengan anak kecil? Kamu sama saja!"


Plak!


Refleks aku menampar Alucard. Aku tidak suka dengan perkataannya. "Jangan berkata seperti itu. Pergilah, aku hanya ingin sendiri!" Aku berjalan meninggalkan Alucard. Entahlah apakah dia akan mengikuti atau meninggalkanku seperti Nana.


Bagaimana aku menjelaskan pada Moon God, kalau aku ternyata tidak bisa membawa Zilong ke Moon Elf. "Kenapa harus seperti ini Zilong?" Aku berkata sendiri sembari berjalan terseok tak tentu arah.


Cuacanya sepertinya tidak bersahabat di hari ini. Hujan lebat terus mengguyur tubuh yang telah lelah dengan segala cobaan yang harus aku rasakan. Beberapa kali kilatan dari petir hampir saja mencelakaiku, tapi aku sudah tidak peduli lagi. Aku masih ingat ketika Zilong datang menawarkan bantuan pada bangsa elf yang tengah dihadang musuh. Pada saat itu, kami tidak yakin kalau dia ada dipihak kami, namun setelah melihat kelihain dan kecakapannya kami mengangkatnya sebagai Panglima Perang. Sejak kehadirannya, bangsa Moon Elf sangat disegani. Aku tidak mengerti kenapa sekarang dia berubah dalam sekejap.


"Zilong, aku merindukan kamu! Dengarlah, aku akan selalu menunggumu, sampai nyawa ini terlepas dari ragaku!" Aku berteriak memecah sunyinya hutan di dekat pesisir pantai. Suasana di hutan ini begitu mencekam di tambah matahari sudah terganti oleh bulan purnama.


Srek! Srek!


Aku mendengar ada langkah yang mengawasi keberadaanku. Aku yakin ini adalah Alucard yang tidak bosan mengikutiku sedari tadi.


"Keluar! Aku tahu, kamu terus mengikutiku, Alucard. Apa yang kamu inginkan? Sudahlah, selamanya kamu tidak akan mengerti tentang keadaanku!" Aku terus berteriak, namun tak ada jawaban yang terdengar.


Sekarang aku malah melihat bayangan besar menutupi tubuhku. "Apa ini?" Aku berkata sembari berbalik untuk melihat monster apa yang ada di belakangku.


"MATILAH!"


Aku terkejut ketika di depanku, kini telah berdiri satu monster besar.


"Matilah! Matilah!" ancamnya. Satu monster besar dengan tubuh menyerupai kura-kura itu bersiap menyerang.


Aku segera berlari cepat untuk menjaga jarak darinya. Aku tidak bisa membidik apabila terlalu dekat seperti ini. Setelah dia rasa ada tempat yang lebih tinggi aku bersiap untuk melesatkan anak panah. "Kamu akan kalah hanya dengan satu panahku saja. Terimalah ini!"


"Biarkan aku yang mengalahkannya, itu sudah menjadi tugasku. Melindungi elf dari Demon dan Monster!" Suara Alucard tiba-tiba terdengar di belakang.


Aku menoleh sembari berkata, "biarkan aku saja yang mengalahkannya. Apa urusannya denganmu?!" Mendengar, aku yang semakin dingin padannya. Dia hanya tersenyum tipis, kemudian berlari sembari memainkan senjatanya.


Cring!


Dia terus menebas tubuh monster yang terlihat seperti kura-kura. Aku terpesona melihat cepatnya gerak Alucard. Tak ada kata menyerah dalam kamusnya. Aku menyanjung dia dari lubuk hati.


"Jangan ganggu kami. Berikan saja kekuatanmu untukku!" Ujarnya sembari menebas leher Monster sampai mati tak berdaya. Setelahnya dia seperti menyedot kekuatan monster itu. Rasa penasaranku tergelitik untuk menanyakan hal ini pada Alucard. Tetapi, aku tahan untuk menghormatinya.


"Aku akan menemanimu, sampai kamu pulang ke rumah!" Alucard memberi sebuah penawaran yang membuatku terkejut.


"Tidak usah. Aku tidak ingin merepotkan siapapun. Aku bisa sendiri!" tegasku seraya melangkah mendahuluinya.


"Aku tidak akan menolongmu, kalau bukan karena balas budi. Aku tidak mau berhutang pada siapapun. Bukankah tadi kamu sudah menyelamatkan aku dari kesombongan Dyrroth? Jadi izinkan aku untuk membayar semua itu. Setelahnya aku akan pergi dari kehidupanmu." Setelah berkata dia malah berjalan mendahuluiku, padahal aku belum menjawab permintaannya. Namun, sudahlah aku tidak mau memcampuri apa yang dilakukannya.


"Cepatlah, gadis bodoh!"


Aku mencebik ketika dia selalu menyebutku sebagai gadis bodoh. Aku hanya mendengkus kesal di belakangnya sembari mengepalkan tangan yang aku arahkan ke punggungnya.


"Apa kamu mengejekku?!" tanyanya sembari menengok ke belakang.


"Untuk apa aku mengejekmu. Tidak da manfaatnya juga!" kilahku sembari menahan tawa.


Dia mengeryitkan dah, ketika aku berkilah. Sepertinya, dia tidak suka. Tetapi, sekali lagi aku tak mempedulikannya.


"Miya, Stop!" Dia berteriak ketika aku bergerak cepat meninggalkannya.


"Aku tidak akan berhenti! Aku takut kamu akan menebasku dengan pedang yang selalu pakai!" Aku sengaja menyindirnya lagi.


"Aku akan menangkapmu, Miya. Apa kamu tengah bercanda?" Dia berteriak.


Aku terus bergerak cepat agar dia tidak mengikutiku lagi. Walaupun, dia sudah menjelaskan kalau dia hanya ingin membalas semua tindakanku. Namun, tetap saja, aku tidak suka dia ada di sampingku. Untuk saat ini, aku hanya ingin sendiri, meratapi kepergian Zilong.


Grep!


Aku merasakan satu tangan menarik pinggangku. "Jangan seperti ini, aku tidak suka!" bentakku seraya membalikkan tubuh.


Kini, kami saling berhadapan tanpa ada jarak. "Kamu? Siapa kamu?" tanyaku. Aku kira yang merangkulku itu adalah Alucard, ternyata bukan dia. Di dalam hati aku hanya bisa menyesali kenapa aku tidak menerima tawarannya. Sekarang malah aku yang sibuk sendiri, agar dia melepaskan cengkramannya.