
"Sangat! Aku sangat bahagia. Aku harap kita bisa melewati segala rintangan bersama!" Aku berkata padanya karena aku tidak tahu, apakah bangsa moon Elf akan menerima keberadaannya atau tidak. Aku yakin mereka sangat mendambakan kehadiran Zilong, karena dia adalah Panglima Besar kami.
"Kenapa kamu diam? Apa ada sesuatu yang mengganjal di hatimu?" Dia bertanya sedangakan aku terlalu malas untuk menjawabnya. Membayangkan bagaimana reaksi orang-orang saja, sudah membuat mulas perutku. Apalagi ini aku harus segera menjelaskan tentang pernikahanku bersamanya.
Aku melepaskan pelukannya, kemudian melangkah perlahan. "Apa yang tengah kamu pikirkan?" Dia terus bertanya.
"Aku tidak tahu, bagaimana aku harus menjelaskan pada bangsa Elf kalau aku tidak lagi bersama Zilong!"
Mendengar nama Zilong, wajahnya terlihat sendu. Aku tahu dia kecewa, karena dia tidak suka apabila aku menyebut namanya. Namun, itulah yang akan terjadi. Hasutan dan hardikan mungkin akan terdengar di telinga. Walaupun, bangsa Moon Elf terkenal dengan keramahannya, tapi untuk hal ini aku tidak tahu. Aku sangat berharap pada Moon God, semoga dia sudah menjelaskan pada semua orang perihalku dengan Alucard.
"Apa kamu percaya takdir?" tanyanya.
Aku menjawab dengan anggukan.
"Kalau kamu percaya pada takdir yang telah digariskan untuk kita. Kenapa kamu masih memikirkan tentang pendapat orang lain. Kita jalani saja, pahami segala sesuatu dari hati kita bukan dari pemikiran dan penilaian orang. Hanya kita yang mengerti tentang diri kita sendiri." Dia menggengam tangan dan menyatukan jari-jemari. "Kita hadapi berdua. Apapun yang terjadi, jadilah yang terkuat," pintanya seraya menampakan garis senyum yang sempurna.
Aku membalas senyumannya, benar apa yang dikatakan oleh Moon God. Sebenarnya Alucard menyimpan pesona yang tak terlibat oleh kita, tapi kita bisa merasakannya.
"Terima kasih telah hadir menemaniku, Dante Alucard. Aku sangat mengagumimu." Aku menatapnya.
Kini, kami berjalan beriringan. Aku sudah bisa melihat gerbang menuju Moon Elf yang dipenuhi cahaya. Namun, kali ini cahaya penerangan sangat berbeda dari biasanya. Adakah yang hal yang terjad? Jangan-jangan mereka menyangka kalau aku kembali bersama Zilong. "Maafkan aku!" Aku berkata pelan.
Duaarr!
Suara keras terdengar ketika aku akan memasuki gerbang. Ternyata, asal suara itu berasal dari ratusan cahaya yang dari kekuatan sihir yang dilesatkan. Biasanya hal ini dilakukan apabila menyambut orang terpenting di bangsa Elf. Siapakah yang datang? Apa mereka menyambutku. Aku menundukkan wajah. Untuk apa mereka menyambut seorang pengecut sepertiku aku tidak layak untuk penyambutan ini.
"Miya! Miya! Miya!" teriak suara yang mengalun membuat hati ini bergetar, darah seakan berdesir.
Bulir bening, kini lolos dari pelupuk mata. Aku terdiam tak berani memasuki gerbang ini. Meskipun, semua orang telah melihat ke arahku. Namun, aku merasa tidak layak mendapatkan hal ini.
"Miya! Kenapa kamu tidak datang pada mereka?" tanya Alucard yang senantiasa setia menunggu ketika aku seperti ini. Dia tidak memaksaku untuk masuk ke dalam.
"Kemarilah, Miya Shuzuhime! Kami menunggu kedatanganmu sedari tadi." Moon God berkata sembari mendekat dengan gerakan kilatnya.
Aku tersenyum padanya, "untuk apa semua ini? A–aku tidak layak mendapatkan penyambutan ini," jawabku pada Moon God.
"Datanglah, mereka semua merindukan kamu, Miya. Berjalanlah mendekat supaya kamu bisa merasakan kerinduan kami!" Moon God mengulurkan tangannya. Aku segera menyambut ajakannya seiring tepukan penyambutan.
"Miya! Miya! Miya!" Aku tersenyum ketika melihat satu persatu saudaraku.
Moon God menuntunku untuk berdiri dan memberikan kesempatan padaku untuk berkata. Aku mulai membuka bibir ini setelah Alucard tersenyum dan mengangguk, seperti mempersilahkanku untuk berbicara.
"Selamat malam saudara-saudaraku. Aku tidak bisa berkata banyak pada kalian, hanya saja aku sangat terharu akan penyambutan ini. Aku sangat bahagia, walaupun aku harus kehilangan Zilong. Maafkan aku yang tidak bisa membawa pulang panglima Besar kita. Aku tidak bisa menjelaskan kenapa dia tidak ikut bersamaku. Ini terlalu berat ...." Aku diam untuk semestinya karena ternyata rasa sakit itu masih bertengger dalam hatiku. "Maafkan aku!" Aku berkata lagi untuk mengakhiri perbincangan ini.
"Siapa yang kamu bawa pada kami, Miya? Apa dia kekasihmu?" Salah satu teman dekatku berteriak lantang.
"Miya, kami tidak akan membencimu. Tadi, Moon God telah menjelaskannya pada kami. Jadi, jangan merasa terhina. Karena kami Moon Elf, selamanya kita bisa merasakan susah dan senang bersama. Berbahagialah!" Dia berkata jujur. Semua bertepuk tangan.
Aku menatap Alucard dan menarik tangannya supaya mendekat, "ini adalah Alucard sekaligus pengganti Zii. Bukan aku tidak suka padanya. Namun, sekarang dia telah banyak berubah!" Aku tertunduk tak berani menatap mereka. Apapun yang akan mereka katakan aku harus siap menerimanya.
"Jangan menyesal seperti itu. Kami tahu semuanya, tidak akan menyalahkanmu!" Mereka betkata lagi.
Mendengar jawaban mereka, ingin rasanya aku berlari pada mereka kemudian merangkul mereka semua. Aku merentangkan tangan agar semua saudaraku mendekat. Ternyata mereka semua berlarian mendekat padaku.
"Miya, kami begitu merindukanmu!"
Malam ini, kami habiskan dengan candaan dalam riang gembira. Aku tersenyum ketika semua menawariku makanan, begitupun dengan Alucard dia terlihat bersemangat karena banyak gadis yang mendekat padanya. Apakah aku cemburu tentu tidak, karena aku yakin dia bisa menjaga hatinya.
Kini, langkahku terhenti pada satu kursi di depan danau. Biasanya aku menghabiskan sore hari bersama Zilong. Namun, sekarang kursi ini menjadi saksi bisu diantara kami berdua.
"Apa kamu masih merindukannya?" tanya Moon God mendekatiku.
"Terlalu banyak kenangan bersamanya yang tak mungkin aku lupakan begitu saja," ucapku sembari duduk di kursi yang terbuat dari kayu. Begitupun dengan Moon God, sekarang dia duduk disampingku.
"Tutuplah cerita indahmu bersama Alucard, dia bisa menjadi teman terbaikmu, Miya!"
"Yap, aku tahu. Aku yakin dia lebih baik dari Zii. Aku tidak akan menyakiti hatinya!"
Moon God menepuk bahuku, "berbahagialah!"
"Terima kasih!"
***
"Apa aku harus bermalam di rumahmu?" Alucard bertanya sembari melihat kesekitar ruangan di dalam rumahku. Walaupun, rumah ini tidak besar tapi aku sangat menyukainya. Ini tempat ternyaman untukku.
"Aku sangat mengagumi desain ruangan ini! Aku tidak menyangka kalau rumah ini terbuat dari lilitan kayu, ini sangat rapih, Sayang." Dia terus berkata sembari meneliti setiap detail dari sudut ruangan.
"Sayang bolehkah aku duduk di kursi ini?" Dia bertanya dengan suara yang agak dikeraskan.
"Duduk saja!" jawabku dari arah dapur. Aku datang mendekat padanya sembari membawa nampan berisi dua gelas besar yang berisi minuman hangat.
Tadi, setelah acara penyambutan. Semua membubarkan diri karena di Moon Elf pada jam yang telah di tetapkan kami harus tertidur walaupun kami masih ingin berada diluar. Itu sudah menjadi aturan yang harus kami patuhi.
"Sayang, mendekatlah!" Alucard menyuruhku untuk duduk di dekatnya.
Aku tersenyum sembari menyimpan nampan di atas meja. Setelahnya, aku duduk di sampingnya. Aku sengaja menyimpan kepala di bahunya.
"Apa malam ini kita akan tidur bersama?" tanyanya.