
"Menjerit lagi, Nona! Aku suka melihat ketika mahluk sepertimu dalam kesakitan. Bagaimana kalau aku memainkan permainan yang akan kamu sukai?" Dia tersenyum, seraya menyimpan tangan yang dipenuhi bulu panjang. Aku bergidik karena geli.
"Kamu terlalu bereaksi cepat, Sayang!" Dia malah tersenyum seakan terbuai dengan gerakanku. Aku tidak tau apa yang tengah dia pikiran. Dalam hati berjanji apabila berani membuka bajuku dan menyentuh tubuh ini, aku akan membunuh diriku sendiri. Aku lebih baik mati, daripada harus jatuh pada seorang monster.
"Lepas! Jangan coba-coba menyentuhku!" Aku berkata tegas pada monster yang tidak tahu sopan santun ini.
"Hahahaha, berani kamu berkata seperti ini pada monster yang paling di hormati! Hah!" Dia menarik dan memijit keras kedua pipiku. Sampai aku merasakan sakit yang tak terperi di rahang. Kemudian dia membanting wajahku, sampai aku terjatuh dari kursi.
Dia melihat tubuhku yang telah telungkup di atas lantai. Matanya menyorot merah padam. Api keluar dari dalam tubuhnya, dia berjalan terus mendekat. Aku segera menggerakkan tubuh yang telah banyak luka ini, untuk menjauh. Sekarang yang terpikir olehku, kalau aku tidak bisa melawannya sampai dia mati, berarti aku yang akan bunuh diri. Ini sumpahku.
"Mendekatlah, Sayang! Berbaringlah, jangan bangun. Marilah kita menikmati hari ini, tidak apa, kita melakukannya di dalam ruangan ini. Aku sudah tidak sabar mencicipi tempat yang aku sukai!" Dia berkata sembari melepaskan tali-tali kecil yang menyatukan pakaiannya.
Gila! Memang gila, monster ini. Apa dia akan melakukan hal yang tak senonoh di depan orang-orang yang ada di dalam ruangan ini.
"Menjauh! Pergi. Dasar monster tidak tau malu. Pergi, jangan mendekat!" Perlahan aku meraih jerami yang ada di lantai dan menyemburkan sisa sihirku.
Terlihat dia kesakitan, karena jerami itu menusuk matanya. Ini kesempatanku untuk berlari dari ruangan ini. Secepatnya, aku berlari menuju pintu. Aku tidak peduli lagi, apakah dia kesakitan atau tidak yang penting aku bisa keluar dari sini.
Segera ku buka pintu yang terbuat dari besi. Walaupun, sangat berat, tapi aku harus melarikan diri. Aku melihat Alucard masih lemah dalam lilitan besi. "Alucard, bangunlah!" Aku berkata sembari melebarka pintu, tujuanku kini, membebaskan Alucard.
"Mau kemana, Nona?" Suara itu terdengar lagi dari belakang. Aku sudah tau, itu adalah Sang panglima. Aku berusaha berlari, Namun dia malah mencengkam satu bahuku.
"Lepas! Alucard, tolong aku. Alucard banguuuuuunlah. Tolong aku, tolong aku!" Aku berusaha membuka cengkraman tangan monster itu. Kini dia membating tubuhku ke atas lantai. Dia menindihku. Napasku terenggah karena berat tubuhnya. "Jangan lakukan. Please, jangan lakukan!" Aku berkata sembari melelehkan air mata.
"Menjeritlah sepuasnya. Karena itu akan membuat gairahku semakin meningkat! Jadi, Nona, layani aku sampai aku puas!"
"Alucard!" Aku berteriak menyebut nama Alucard. Entahlah, kenapa aku berharap dia datang menolongku. Apa pertolongannya sudah menjadi candu untukku kenapa bukan Zilong yang aku panggil.
Ketika monster itu ada di atas tubuhku, aku merasakan getaran dari lantai. Aku membalikkan wajah ini sembari menatap Alucard. Namun, justru aku terkejut, ketika dia mengeluarkan cahaya biru dari tubunya. Rantai Sihir yang membelitnya kini terlepas.
Matanya menyorot, seperti siap mematikan musuh yang ada di depannya. Setelah terlepas dari ikatan besi, dia menendang pintu besi sampai hancur. Monster yang ada di atas tubuhku terkejut, kemudian dia berjalan mendekati Alucard. Namun, kini dia seakan dipenuhi oleh kekuatan yang tak akan terkalahkan.
"Cepat tangkap, mahluk ini!" Sang panglima seperti ketakutan melihat tubuh Alucard yang semakin membiru. Alucard menarik tubuh monster itu kemudian membantingnya ke atas lantai.
Brak!
Sang monster terlihat kesakitan. "Berani menyentuh perempuan lagi! Maka kamu akan merasakan kematianmu untuk kesekaliannya!" Alucard berkata tegas sembari meraih tombak yang ada di ruanganku. Tanpa ragu, dia menusukkan tombak tepat di jantungnya.
Alucard menarik tanganku, wajahnya masih tanpa ekspresi. Hal itu tidak menjadi masalah bagiku. Untuk dia telah bersusah payah, menyelamatkan dan menjaga kehormatanku saja, aku sangat lega dan bangga.
Kami berlari, melewati ruang lainnya. Mereka seakan meminta untuk dilepaskan. "Alucard, aku ingin melepaskan mereka," pintaku.
Namun, Alucard tetap menarik tanganku agar terus melangkah menjauh dari tempat ini. Aku hanya bisa terdiam ketika tidak ada jawaban dari bibirnya. Aku tahu, pasti ada pertimbangan yang dia utamakan. Walaupun, rasa kasihanku mendorong aku untuk menolong mereka. Aku berharap, mereka akan senantiasa dalam lindungan Moon good!"
Mata Alucard seperti meneliti setiap detail dari ruangan. "Cepatlah!" Dia berjalan menuju ruangan lain, ternyata mata tajamnya bisa menemukan senjata kami, yang tadi diambil paksa oleh salah satu Monster.
Setelah mengambil senjata, suara riuh dari bisingnya desisan para monster terdengar lagi. Aku semakin mengeratkan tanganku.
"Tetaplah berjaga, jangan lengah. Aku akan melindungimu, Miya!" Dia berkata datar, namun berhasil meluluhkan hati yang tengah sepi.
"Cari, mereka. Jangan terlepas lagi. Mereka telah membunuh panglima kita. Raja memerintah agar kalian mencari mereka dalam keadaan selamat atau tak bernyawa. Apabila ada yang berhasil menemukan mereka. Kalian akan diberikan kekuatan lagi oleh raja!"
Aku beradu tatap lagi dengannya, kami bersembunyi di balik sebuah pintu penghubung ruangan. Kami terus berjalan melewati lorong sempit. Entahlah aku pun tidak tahu, langkah ini akan menuju kemana. Kini, aku harus bersiap untuk membantunya mengahadapi berbagai rintangan.
"Alucard, apa kita bisa keluar dari sini? Aku bertanya karena sedari tadi kita terus berlari kecil. Entah berapa panjang lorong ini, karena kami tidak melihat cahaya sedikit pun.
" Jangan takut. Selama ada mataku yang masih utuh kita bisa menemukan jalan. Walaupun, terkadang navigasinya tidak benar!"
"Apa? Apa dia tengah bercanda atau apa? Navigasinya tidak akurat!" Aku mencebik dalam kegelapan.
Namun, dia berkata, "kenapa kamu membentuk bibirmu seperti itu, Miya?" Aku semakin pusing juga untuk membalasnya. Sepertinya dia bisa melihat dari kegelapan. Kini, aku percaya pada perkataannya, aku yakin dia mengatakan kalau navigasinya tidak akurat hanya candaannya saja.
"Aku minta maaf atas sikapku, Alucard. Apa kamu akan balik memarahiku?" tanyaku padanya. Padahal sebenarnya aku berkata hanya untuk menutup rasa malaku yang telah menuduhnya tidak bisa diandalkan.
"Tidak apa-apa. Untuk apa aku memarahimu. Apa kamu masih meragukan kesetiaanku dalam membayar balas budiku!"
"Iya, aku melihat dan merasakan sendiri ketika kamu selalu ada ketika aku dalam bahaya," jawabku pelan saja. Aku sempat berpikir kalau dia mulai menyukai dan mencintaiku ternyata dia melindungi tetap saja, hanya untuk membalas kebaikanku. Huff! Aku menghembuskan nafas seraya menahan rasa kecewa.
"Miya, ada cahaya! Semoga ini jalan dan pintu keluar dari tempat ini!"
Aku bersemangat dalam melangkah sembari mendekati satu buah pintu.
"Kami sudah mengerahkan pasukan untuk mencari mereka. Kami mohon do'a dan restunya dari baginda Raja!"
Suara itu terdengar jelas.