
"Moon God," pekikku seiring dengan lesatan garis putih yang diarahkan pada kami. Sebaris cahaya yang bisa membuat kami terluka. Kami segera bergerak agar terhindar dari kilatan-kilatan sihir. Beberapa kali kami harus menggulingkan tubuh kami agar terhindar dari serangan yang mematikan.
"Pergi dari sini! Aku muak melihat hal yang membuat amarahku tidak terkendali. Terutama kamu, Miya. Kamulah penghancur semua mimpi yang sangat aku dambakan. Kamu tidak pernah mengerti tentang semua yang terjadi dalam hati ini!"
Aku terdiam ketika Moon God berbicara seperti itu. Ada berjuta alasan kenapa aku tidak bergerak, walaupun kini kilatan sihir terus datang ke arahku. Semua terasa kaku sembari mendengar kejujurannya. Selama hidup bersamanya tidak pernah terlintas untuk menyakitinya. Dahulu aku pernah berjanji untuk mengabdi padanya, walaupun harus mengorbankan nyawa. Selama ini, aku merasa dia nyaman hidup bersamaku. Akan tetapi, selama itu pula dia menyimpan rasa cemburu padaku.
"Miya!" Alucard berteriak.
Grep!
Tubuhku kini berguling di atas lantai. Tatapan kosongku, menatap pada Alucard yang telah ada di atas tubuhku. Seharusnya, aku tersenyum melihat wajahnya. Namun, sekarang aku merasa hampa dan kaku.
Plak!
Alucard malah menampar sampai kepalaku berbalik ke arah kanan. Aku diam tak melakukan perlawanan. Untuk apa aku melawan perlakuannya. Memang benar adanya, aku layak mendapatkan tamparan ataupun pukulan untuk menyadarkan perlakuanku pada Moon God. Seharusnya aku lebih peka terhadapnya.
"Kenapa kamu diam saja ketika Moon God menyerangmu!" teriaknya seperti membangunkanku dari semua rasa risau yang tengah mengusai. "JAWAB, MIYA!"
Aku masih saja bergeming. Sakit di pipi karena tamparan, tidaklah sebanding dengan rasa sakit yang aku toreh di hati Moon God.
"Aku salah! Tanpa sengaja, aku telah merenggut kebahagiaan Moon God!" Aku berkata lirih sementara bulir bening terus mengalir dengan sendirinya.
"Kamu tidak salah, Miya. Sadarlah! Apa kamu ingin dia membunuhmu? Sudah seberapa tangguh kamu bisa menahan sihir yang akan melukai dan mengoyak tubuhmu!" Dia berteriak kembali. Sedangkan, aku tak mengubah posisiku sama sekali.
"Akh!" Alucard meringis.
Aku baru membalikkan kepala setelah terdengar suara Alucard mengaduh. Aku melihat dengan jelas, wajahnya menjadi pucat pasi seperti tengah menahan rasa sakit yang menjalar di setiap sendinya. "Apa yang kamu rasakan?!" Pekikku sembari bangkit untuk berdiri dan menolongnya.
Mataku tertuju pada Moon God yang telah dikuasai oleh api merah menyala. Baru kali ini, aku melihat sihirnya begitu kuat. Bagaimana kami bisa melawannya?
"Moon God! Jangan lakukan!" Aku berteriak ketika dia akan mengarahkan sihirnya pada Alucard. Tanpa sadar aku menghalangi tubuhnya dari serangan sihir seraya memejamkan mata. Biarlah sihir ini membuat nyawaku melayang, asalkan Alucard selamat. Kalaupun nantinya dia akan hidup bersama Moon God setelah aku tiada, tidak akan menjadi penyesalan. Lebih baik aku yang mati daripada melihat kekasihku menderita lagi.
Brak!
"Alucard! Dasar bodoh!" teriakan Moon God jelas terdengar.
Kini, Moon God terlihat cemas. Dia segera menyatukan tangannya dengan tangan Alucard sembari mengeluarkan cahaya putih sedikit berkabut. "Moon God, sembuhkan Alucard. Aku rela melepaskannya untukmu, tapi jangan siksa dia seperti ini. Ambil saja! Aku rela kalian bahagia." Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk menolongnya.
"Sudahlah, Miya. Jangan mendesakku! Karena aku yakin, setelah dia aku sembuhkan, maka kalian akan hidup bersama lagi. Bukankah begitu?" tanya Moon God yang terus sibuk memancarkan sihir untuk menyembuhkannya.
"Tidak, Moon God. Asalkan dia sembuh, aku akan pergi meninggalkan Moon Elf. Dan aku tidak akan kembali untuk selamanya. Aku akan pergi, tapi berjanjilah untuk menyembuhkannya!" Aku berkata sembari membelai rahang Alucard yang masih memejamkan mata. Perlahan bulir bening kembali terkumpul di sudut kelopak mata dan rasa sesak bercampur dengan kehilangan, "tetaplah hidup untukku. Aku akan melihatmu dari tempat yang tak akan pernah kamu temukan!"
Walaupun, rasa sakit dalam hati ini kian menghimpit tapi aku harus rela menjauh dan meninggalkan Alucard demi kebaikan semuanya. "Moon God! Aku mohon jagalah dia untukku, semoga kalian selalu dalam bahagia!" Aku berbicara pada Moon God yang dijawab hanya dengan anggukan.
Setelah keluar dari bangunan nan tinggi itu, aku berjalan perlahan. Meskipun, ada dua orang penjaga Moon Elf yang bertanya kenapa aku masih berkeliaran di luar rumah, namun aku tak mengindahkannya. Aku terus berjalan menuju pintu gerbang. Aku tahu akan ada lagi penjaga yang menanyakan perihal aku yang keluar dari moon Elf, tapi sekali lagi aku tidak akan mempedulikannya.
"Nona Miya! Aku rasa Anda salah jalan, ini arah menuju gerbang dan sebagai Moon Elf seharusnya Anda tahu aturan untuk tidak keluar di malam hari!" Dia berkata tegas sembari menghalangi langkahku dengan senjata tombaknya.
Kini di depanku terdapat pintu kayu yang menjulang tinggi, dengan hiasan ukiran-ukiran yang terbuat dari perak bercampur tembaga.
Barithon dari penjaga pintu tak aku indahkan. Kaki ini terus berjalan ke arah pintu gerbang. Dua orang penjaga menghalangi langkahku dengan menancapkan dua tombak di hadapanku.
"Jangan halangi langkahku. Sebaiknya kalian membuka pintu ini sebelum aku menghancurkannya dengan panahku!" Jawabku jauh lebih tegas dari sanggahan mereka.
"Tapi, Nona! Moon Elf memerintahkan agar kita tidak membuka pintu di malam hari. Apabila kami langgar, hal ini akan membahayakan Anda dan Moon Elf lainnya. Kita tidak tahu, apakah para monster tengah tertidur atau bersiap masuk ketika pintu terbuka. Akan lebih baik, Anda datang lagi di pagi hari!" Mereka memberi saran yang bisa diterima oleh logika. Memang benar adanya, apabila gerbang ini terbuka maka bahaya akan mengancam. Untuk menghindari konflik dengan para penjaga, aku berbalik arah dengan cepat.
"Tidurlah dengan nyaman di rumah bersama kekasihmu!" Satu penjaga pintu berkata dengan nada tinggi.
Sebenarnya ada rasa sakit ketika mereka bercanda seperti itu, apalagi aku masih mendengar mereka berisik yang diselingi dengan tawa kecil. Mereka tidak tahu, kondisi hatiku saat ini. Mungkin mereka menyangka kalau aku tengah baik-baik saja.
Langkahku kian terseok seakan tak ada kekuatan yang memberikan semangat hidup. Semua terasa hampa dengan bayangan Alucard yang terus tergambar dalam benak. Sejujurnya, kaki ini ingin kembali lagi ke bagunan besar Moon God. Akan tetapi, aku sudah tidak bisa lagi memasukinya. Janjiku sama saja seperti kunci seumur hidup. Entahlah, apakah aku akan bertemu lagi dengan Alucard atau tidak.
Berjalan dalam kegelapan membuat kaki ini malah melangkah menuju Danau. Suara aliran air begitu menghanyutkan, suara binatang malam pun tidak membuatku takut. Malahan aku ingin terdiam di sini dengan segala perasaan gundah.
"Miya!"
Terdengar sayup-sayup suara di balik pohon besar yang sudah ditumbuhi lumut.
"Siapa?"