Miya Alucard

Miya Alucard
Dijamah Monster



Perlahan pria yang mencengkram pinggang ini, membuka masker yang dia pakai. Detak jantung sudah tak beraturan, karena aku tidak tahu bagaimana wajahnya apakah menyeramkan seperti monster tadi.


"Zilong! Benarkah?" Aku bertanya sembari mengeluarkan air mata. Rasa haru begitu membuncah dalam hati. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, selain merangkul dan mengeratkan tangan ini. "Jangan pergi lagi, aku mohon. Kamu tau sendiri, kalau aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku mohon kembalilah pada kami. Moon God, pasti akan bergembira melihat kedatanganmu!" Aku terus berbicara.


Meskipun saat ini, dia tak mengatakan satu patah kata pun. Namun, itu tidak menjadi masalah untukku. Berdekatan dengan dia saja merupakan berkah terindah. Aku tidak tahu harus berterima kasih pada Moon God yang telah memberikan kemudahan padaku dan Zilong.


"Sayang, kamu lelah? Bagaimana kamu bisa lepas dari kuasa Kadita?" Aku bertanya lagi, tapi dia tetap diam. Hanya senyuman yang terus dia tampakkan.


Ada apa dengan Zilong?


Aku membalas senyuman Zilong dengan kecupan di tanganku, kemudian aku tempelkan di bibirnya, "ini untukmu, Sayang!" Namun, lagi-lagi dia tak bereaksi sama sekali, biasanya kalau aku seperti ini dia akan menyerangku dengan gelitikan yang membuat kami berdua tertawa dalam bahagia. "Apa kamu tidak suka akan perlakuanku ... kenapa sedari tadi kamu hanya senyum?" Aku bertanya karena mulai curiga akan sikapnya.


Mata Zilong perlahan berubah dari hitam menjadi hijau pekat. Kenapa bisa begini. Asap hitam tipis keluar dari tubuhnya, perlahan menjadi pekat. "Siapa kamu? Lepaskan aku!" Aku berteriak sembari mencoba mengeluarkan sihir sekuat tenaga. "Cengkramannya kuat. Moon God, tolonglah aku. Aku tidak bisa bergerak sama sekali!" Kini, tubuhku melemah karena bau yang menyengat dari asap yang aku hirup.


Wajah Zilong kini perlahan berubah menjadi seseorang yang aku benci. "Kenapa kamu tega melakukan ini? Le—pas!" Perlahan tubuh ini semakin melemah, tapi aku masih bisa menatapnya yang telah berubah menjadi monster hitam gelap. Dia adalah monster yang pernah kami usir dari Moon Elf, memang keahliannya dia bisa merubah wujud.


Tubuhku seakan terkunci, busur dan panahku jatuh begitu saja dari tanganku. Aku hanya bisa berteriak dalam hati ketika dia membaringkan aku di atas rerumputan. "Untuk apa dia membaringkan tubuhku di sini?"


"Miya, aku mencintai kamu sedari dulu. Tapi, kamu tidak bisa aku miliki seutuhnya, karena ada kekuatan Zilong yang melindungimu, dan sekarang kamu sedang melemah. Ini kesempatanku untuk memilikimu seutuhnya!" Ujarnya seraya merapihkan rambut yang menutupi wajahku.


Ingin aku berteriak ketika dia berkata seperti ini, tapi sekali lagi aku tidak mengerti kenapa tubuh ini melemah tak berdaya. Air mata keluar dari mata yang tidak tega melihat diri ini akan dijamah monster yang tidak tahu malu. "Enyahlah, aku membencimu, sangat benci. Tolong ... tolong!" Aku mencoba berteriak tapi mulut ini terkunci.


"Miya, jangan menangis, Sayang. Tersenyumlah! Karena saat ini, aku ingin kita berdua menikmati penyatuan tanpa ada paksaan!" Tangan jahatnya membelai wajahku perlahan sampai turun di leher. Dia menempelkan bibirnya dengan lembut. Tapi, aku tetap tidak suka. Aku jijik, walaupun dia merubah dirinya menjadi pria tampan, tetap saja aku tidak suka. Aroma dari tubuhnya semakin menusuk indera penciuman.


"Siapa pun, tolong aku. Aku tidak bisa melawan monster ini. Tolong!" Hati ini semakin sakit, karena aku tak bisa berteriak. Aku berharap ada keajaiban datang padaku.


Monster itu, membuka baju yang aku kenakan. Ketika dadaku terbuka, matanya menatap tajam tak berkedip. "Pemandangan indah inilah yang selalu aku impikan, menyentuh dan mengulumnya sembari menghisap kekuatan sihirmu. Terima kasih, Sayang. Kamu sudah datang untukku!" Dia mengecup dada sembari menurunkan baju yang menutupi.


"Jangan lakukan ... jangan!" Kenapa harus seperti ini. Aku tidak mau dijamah oleh seseorang yang tidak aku sukai, walaupun dia sangat mencintaiku. "Aku tidak rela!"


"Izin dari semesta? Yang ada, sebentar lagi semesta akan menghukum perbuatan kamu yang sudah melanggar batas!" Aku menatap tajam padanya. Semoga tatapan ini, bisa menjadi jawaban tegas pada dirinya. Namun, bukannya berhenti, dia malah terlihat berang.


"Apa kamu menolak sentuhanku, Miya!" Dia membentakku. "Nikmatilah hukuman ini!" Sekarang aku tak berdaya ketika bibirnya meraup kasar bibir yang masih kaku tak mampu bergerak.


Krek!


Dia sengaja menggigit bibir bawah, aku merasakan darah masuk ke dalam tenggorokan. "Biadab, bangsat! Pergi dari sini!" Aku menatap tajam lagi, tanpa menangis sedikitpun. Andai saja aku bisa terlepas dari sihirnya yang kuat ini, mungkin sekarang aku bisa menembus jantungnya dengan anak panah.


"Itu hukuman karena kamu melotot padaku! Teruslah melotot seperti itu, karena itu keuntungan untukku dan penderitaan bagimu. Hahahahaha!" Sekarang dia malah tertawa terbahak sembari menatapku. Entahlah, apakah dia tertawa karena mengejekku yang tengah melemah, atau tertawa karena dia bisa bebas menjamah tubuhku tanpa perlawanan.


"Miya, Miya. Kamu sangat bodoh ternyata. Seharusnya kamu tidak memberikan aku sebuah kecupan. Karena itu yang akan membuatmu melemah!"


"Apa?" Aku baru sadar, kalau tadi aku memberikan kecupan padanya. "Bodohnya aku. Kenapa aku cepat tertipu? Aku terkecoh, hanya karena dia menyerupai Zilong. Seharusnya aku berhati-hati!" jeritku lagi merutuki semua kecerobohan.


Pantas saja tubuh ini semakin melemah. Kecupan kerinduan pada Zilong, telah membawa petaka untukku. Apakah penyesalan ini akan terganti? Aku semakin lemah diantara banyaknya penyesalan yang datang dari kecerobohan. Sungguh, aku menyesal.


"Apa kamu menyesalinya? Jangan, Sayang. Jangan pernah menyesal, karena aku akan membawamu pada kenikmatan terindah yang tak akan pernah kita lupakan. Izinkan aku untuk membuka baju kesayanganmu, Sayang! Aku sudah tidak sabar, menghisap kekuatanmu dari tempat yang kami sukai!" Dia berkata lagi, sembari membuka kancing penutup.


"Tidak, tidak kenapa dia berkata kami, bukankah dia hanya sendiri!" Aku bertanya dalam hati.


Baru saja, aku mempertanyakan apakah dia mempunyai teman? Ternyata benar saja, tak lama tubuh monster itu terbelah menjadi tiga, mereka tersenyum tipis sembari menatap ke arah tubuhku.


"Moon God! Tolonglah aku!" Aku tidak bisa membayangkan kesucianku akan terenggut oleh tiga monster. Tidak aku harus bisa melepaskan sihir yang membelenggu, tapi bagaimana caranya aku pun tidak bisa bergerak sama sekali. Sekuat tenaga aku mengendalikan dan mencoba menggerakkan setiap sendi agar terbebas, namun semua sia-sia. Semakin aku mencoba mengeluarkan sihir, aku merasakan kekuatan monster ini semakin besar.


"Tenang saja, Miya. Kami akan membuaimu dengan sentuhan bukan siksaan. Nikmatilah, karena kami pun akan menikmati kebersamaan ini. Sampai kita terbang dalam kenikmatan surgawi dalam tubuhmu!"