
"Jangan ... jangan lakukan! JANGAN LAKUKAN!" Aku memohon walaupun itu hanya dalam hati. Tidak! Aku tidak mau ketiga monster ini menjamahku. Bulir bening terus mengalir, seharusnya mereka mengerti kondisiku. Namun, yang terjadi mereka semakin buas membuka baju yang aku pakai. "Moon God! Tidakkah kamu melihat perbuatan mereka?"
Malu! Itulah yang ada dalam benak. Pakaian yang aku kenakan hampir semua terbuka, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Ketika setengah tubuhku terbuka, mata ketiga monster itu berubah menjadi merah. Gigi taring mereka memanjang. Apa mereka jelmaan dari para Vampire.
Sreet!
Brug!
Satu monster jatuh di atas tubuhku, setelah Alucard datang tanpa suara. Dia menebas satu monster dengan gagah berani. Aku berharap dia bisa membunuh dua monster yang tersisa. Dia terus memainkan pedangnya tanpa ampun kepada dua monster. Monster-monster terlihat kewalahan menghadapi serangan bertubi-tubi darinya. Beberapa kali serangan bisa melumpuhkan satu monster lagi. Aku bersyukur akan hal ini.
"Kami akan membalas semua perbuatanmu, karena kamu sudah berani mengganggu dan membunuh kami. Lihat saja, kami akan memburumu!" ancam seorang monster yang tetap dibiarkan hidup oleh Alucard. Kemudian, Monster itu membawa kedua saudaranya yang telah menjadi mayat. Dia berlari dan menghilang ditelan gelapnya hutan.
"Kenapa tidak melawan, Miya?" Alucard bertanya padaku sembari membalikkan tubuhnya. Namun apalah daya, aku tidak mampu bergerak. Dia tidak tahu, kalau aku terkena sihir yang membuat diri ini terdiam.
"Kenapa kamu tidak menjawab atau bergerak, Miya? Jangan-jangan kamu terkena sihir mereka!" Dia langsung berbalik ke arahku. Matanya seperti tak kuasa melihat tubuh yang sebagian telah terbuka.
"Maaf, Miya. Aku berani menyentuhmu, tapi aku tidak bisa melihat kamu dalam kondisi terbuka seperti ini," ujarnya sembari membenarkan baju yang aku pakai.
Hati yang sepi ini sekarang malah menjadi hangat, karena perlakuannya. "Tidak, Miya. Kamu tidak boleh kagum pada pria lagi. Cukup kamu sakit hati oleh Zilong dan untuk yang lain ... hati ini sengaja aku tutup agar tak sakit lagi."
Setelah berhasil menutup kembali tubuh ini dengan pakaian. Dia mengeluarkan sihirnya dan mengarahkan kedua tangan di atas dadaku. Asap hitam kini keluar perlahan, sedangkan telapak tangannya seperti penyedot debu. Dia mengeluarkan semua asap hitam yang ada dalam tubuhku, sampai aku merasakan lagi semua sendi terhubung satu sama lain.
"Terim ...." Ucapanku terpotong.
Brugh!
Baru saja aku akan mengucap, Alucard malah terjatuh di atas dadaku. Walaupun, aku sudah bisa bergerak, namun aku tidak kuasa membangunkannya. Biarlah dia istirahat untuk sementara waktu. Aku membelai rambutnya. "Terima kasih untuk semuanya. Maafkan aku yang tidak mempedulikan perhatianmu. Sampai kamu harus seperti ini. Maafkan aku, Alucard!" Aku berkata pelan seraya menatapnya.
"Terima kasih, Moon God karena kamu telah mengirim sosok Alucard untuk menolongku. Entah apa yang terjadi kalau dia tidak datang. Aku tidak bisa membayangkan, apabila ketiga monster itu menjamah tubuhku. Mungkin sekarang aku sudah menjadi mayat hidup." Aku berbicara sendiri sembari terus membelai rambutnya.
***
Aku tidak tahu kami tertidur berapa lama karena aku terbangun oleh sinar matahari yang menyorot menembus pepohonan di hutan yang sunyi ini. Aku masih melihat Alucard tertidur lelap. Hembusan napas lembutnya masih terdengar. Aku berinisiatif untuk bergerak karena dadaku sudah merasakan sakit. Perlahan aku mengangkat tubuhku sembari menahan kepalanya.
"Hmm," gumam Alucard.
"Tenanglah! Aku hanya memulihkan tubuhku saja!" Aku berkata pelan sembari menyimpan kepalanya di pahaku. Dia mengangguk seperti mendengar perkataanku.
"Apa kamu akan bangun dari mimpimu, Alucard?" Tanyaku tanpa menyentuhnya. Sebenarnya aku ingin membelai rambutnya, tapi itu tidak sopan karena dia sebenarnya sudah bangun.
"Sebentar lagi, aku masih capek, Miya. Aku pinjam kakimu, sebentar saja!" pintanya.
Aku tersenyum sembari berkata, "baiklah! Anggap saja, hal ini sebagai ucapan rasa terima kasihku padamu!"
Dia mengangguk lagi. "Kenapa kamu tidak membelai rambutku lagi?"
Darah seperti mengalir begitu cepat, jantung ini seakan berdetak kencang ketika mendengar permintaannya. "Aku tidak pernah menyetuh rambutmu!" kilahku. Aku berbohong padanya dengan jawaban yang sudah tak beraturan.
"Eh ... mm, aku tidak tahu. Apa aku harus menjawabnya?" tanyaku menutupi rasa malu, mungkin wajahku sekarang sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Kenapa kamu harus membohongi diri sendiri? Kalau sebenarnya seorang pria tampan sekelas Alucard, telah mengisi celah kosong di hatimu," jawabnya sembari menyugar rambut, kemudian dia mengedipkan satu matanya.
Aku tersenyum sembari menyimpan kepalanya di atas rerumputan. Kini, aku hanya bisa menyembunyikan rasa aneh dalam hati dengan berjalan ke tempat yang lebih terang. Aku meregangkan tubuh yang telah kaku ini, dengan mengangkat kedua tangan ke atas.
"Biarkan aku memelukmu, Miya. Aku hanya ingin memberi kehangatan dalam hatimu!" Alucard berkata sembari memelukku dari belakang. Ketika aku menurunkan tangan untuk melepaskan tangannya, dia malah menahan dengan membenamkan kepala di bahuku.
"Sebentar saja! Aku tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak!"
"Alucard, apa kamu tahu keberadaan Zilong?" Aku mengalihkan pembicaraan agar aku tidak terbuai oleh sentuhannya.
"Jangan bicarakan dia, kalau kamu sedang bersamaku!" Dia berkata tegas.
Alucard semakin membenamkan wajahnya. Aku berharap dia bisa mengendalikan dirinya. Aku tidak mau ada cinta diantara kami, karena hati ini hanya milik Zilong. Aku tidak mau membuka hati untuk pria lain.
"Alucard, apa kamu tidak lapar?" tanyaku padanya.
"Aku tahu kamu berkata seperti itu, agar aku melepaskan pelukan. Benar, 'kan?" Jawabnya malah balik bertanya.
Semilir angin yang membawa wangi daging bakar, mengusik pikiran dan perutku yang belum terisi sedari kemarin.
Kruuk! Kruuk!
Sekarang perutku malah bunyi. "Aku lapar," celetukku seraya menggaruk leher yang tidak gatal.
Alucard melepaskan pelukannya. "Baiklah kita ikuti, wangi daging ini darimana? Bersiaplah, jangan jauh dariku karena ini hutan yang penuh dengan sihir hitam dan pada iblis. Jangan sampai kamu lengah!" titahnya.
Aku segera mengalungkan tempat anak panah dan menteng busur di tangan. Sedangkan dia, menyimpan pedang yang berukuran besarnya di atas bahu kanannya.
"Semoga mereka bisa memberikan kita sedikit makanan untuk menganjal perutmu yang sudah meronta," selorohnya tanpa mempedulikan aku yang sudah mencebik kesal. Dia tersenyum tipis seraya menggelengkan kepala, "maaf, jangan marah seperti itu. Aku hanya bercanda, aku juga lapar. Hanya perut kita saja yang satu tujuan, belum tentu hati kita berdua."
"Maksudnya?" Aku bertanya karena aku tidak mengerti akan perkataannya.
"Sudahlah, jangan di tanyakan lagi!" Dia berjalan mendahului.
"Hey, Alucard. Tunggu, Jangan tinggalkan aku sendiri!" Aku terpaku dengan ucapanku sendiri, kenapa sekarang malahan aku yang membutuhkannya.
Kami terus berjalan menyusuri hutan rimbun. Saking rimbunnya, hanya sedikit sinar matahari yang bisa menembus pepohonan rindang di sekitarnya.
"Bakar! Bakar!" Aku mendengar banyak orang berteriak.
Kami berlari mendekati sumber suara riuh. Namun, aku terkejut ketika melihat sesuatu yang tengah mereka bakar.