
"Hentikan! Apa yang kalian lakukan? Ini saudara kita, Demon apa yang sudah memasuki tubuh kalian semua. Lihatlah, ini saudara kita. Apa kalian sudah lupa tentang kesetiaan?" Aku berteriak sembari berdiri di depan Nana. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka. Darah segar mengalir dari setiap luka menganga.
"Dia sudah melanggar etika!"
Aku terbelalak ketika ada yang menimpali perkataan. Aku tidak menyangka dia akan berkata seperti itu.
"Apa kamu tega melihat dia seperti ini. Apa salah Nana, sampai dia harus merasakan malu dan pedih?" Aku bertanya dengan teriakan yang menggema. Aku tidak peduli, apakah para moon elf akan membenciku yang aku inginkan sekarang hanyalah kebebasan untuk sodaraku sendiri.
"Dia sudah berani mengusik ketenanganku. Siapa yang mencoba mengusik Moon God maka kehinaan untuknya. Itu sudah menjadi aturan yang harus dipatuhi semua!" Moon berteriak kencang, sampai semua orang yang ada di tengah lapangan bergetar.
Dia mengeluarkan lagi sihirnya, tapi dengan cepat aku menghalangi serangannya dengan panah yang bisa membelah kekuatan. Memang, aku sendiri tidak yakin apakah aku bisa mengalahkan Moon God atau tidak. Sekarang hanya institusiku saja yang mengarahkan supaya aku melindunginya.
Setelah tembakannya meleset, dia tampak marah. Kini, tangannya dipenuhi cahaya putih. Aku mengambil lagi anak panah, berharap tembakanku bukan untuk melukainya.
Bunyi menggelegar terdengar begitu keras. Para Moon Elf saling berpelukan satu sama lain. Apakah Dewa langit marah melihat kami seperti ini. Aku tertunduk seraya menurunkan busur yang telah siap dengan anak panah untuk menembak. Akan lebih baik aku diam. Walaupun, jiwaku terancam serangan moon God.
"Kenapa diam? Apa kamu sudah menjadi pengecut? Bukankah tadi kamu mengatakan akan melindunginya? Lawan aku Miya, supaya aku bisa melihat jasadmu terbaring di depan mata!" Dia membentak seperti tidak mempunyai rasa lagi.
"Aku tidak diam. Aku hanya takut pada peringatan dari Dewa Langit, apa kamu mengacuhkan pesan tadi?!" tegasku padanya. Aku sudah tidak peduli lagi tentang kedewasaan atau kehormatan.
Di mataku ketika ada orang yang sudah bertindak tidak baik, harus dilawan.
"Hahahaha!" Dia malah tertawa terbahak. "Bilang saja kalau kamu takut aku kalahkan. Bersiaplah Miya!" Dia mengeluarkan lagi sihir yang lebih besar.
"Miya, menyerah saja! Aku tidak mau kamu terluka. Berhentilah melindungi, aku seorang hero. Bukakankah seorang hero tidak takut akan kematian di depan mata," ujar Nana.
"Biarkan aku saja yang menjagamu. Aku akan menangkis setiap serangannya. Tenang saja, kita pasti menang!" imbuhku bersungguh-sungguh.
Nana malah menatapku, "apa aku harus berteriak supaya kamu percaya kalau aku bisa melawan!"
"Bukan begitu, hanya saja aku tidak mau melihatmu terluka." Aku berjalan mendekatinya. Namun, dia malahan menunjukkan wajah yang memerah.
"Dengar, Miya. Menjauhlah, biarkan aku saja yang menghadapi Moon Good!" Dia memberi kode supaya aku menjauh. Namun, perkataannya tak aku gubris. Aku terus bergerak untuk menghalangi Nana dari serangan.
Kilatan cahaya yang begitu pekat memaksa mataku tertutup. Tekanan dari sihir itu membuat tubuhku terasa melemah. Seharusnya, aku melawan Moon God tapi aku tidak kuasa. Aku tidak bisa membuatnya terluka.
"Miya!" Suara yang aku rindukan kini memanggil namaku.
"Alucard!" Aku berseru sembari mencoba mengangkat tubuh yang masih sakit. Oh, Alucardku sudah pulihkah? Hati ini terasa berbunga.
"Miya, apa kamu baik-baik saja. Bangunlah! Jangan pergi, aku mohon jangan tinggalkan aku sendirian!" Suara serak dari Alucard membuat kaki ini ingin segera melangkah.
Namun, ketika aku akan mengangkat tubuhku. Moon God mendekat pada kami berdua dengan cepat. Terlihat dari mataku yang telah sayu karena rasa sakit.
"Lepas, Moon God! Aku ingin bersama kekasihku!" ujarnya sembari menyingkirkan tangan Moon God yang masih memegang senjatanya.
Mendengar perkataan Alucard hati yang tadi sendu kini terganti dengan senyuman. Perlahan aku mengangkat tubuh untuk berdiri dan melangkahkan kaki untuk mendekat padanya. Jiwaku terasa bahagia ketika matanya terus menatapku.
"Miya, bagaimana kondisimu saat ini?" tanyanya. Walaupun, tubuhnya terluka, tapi dia masih saja memperhatikanku. Membersamaimu penuh luka tapi aku sangat bahagia.
"Aku baik-baik saja, Sayang!" ujarku dengan senyuman yang dipaksakan.
"Sayang! Aku tidak bisa melihat kamu terluka seperti ini. Maafkan aku ... aku menyesal, Alucard!" Wajahnya tersenyum tulus. Kemudian dia menggerakkan tangannya seperti memberi kode supaya aku mendekati.
"Jangan berkata seperti itu! Aku itu kekasihmu, apapun masalahnya kita hadapi bersama, jangan menyalahkan diri sendiri!" Alucard memberikan hadiah yang selalu aku rindukan, dia mengecup pucuk kepalaku.
Aku merasakan rasa nyaman yang tak terhingga ketika dia berkata. Serasa berjuta kupu-kupu terbang dan menari dalam perut.
"Miya, apa kamu lupa akan janjimu. Kamu akan pergi dari sini. Kenapa kamu masih ada di Moon Elf!" Moon God berkata sarkas sembari menarik lenganku.
Aku melihatnya sudah siap untuk melayangkan tamparan. Akan tetapi, Alucard tetaplah kekasih yang menjelma sebagai Malaikat Penyelamatku. Melihatku yang akan ditampar oleh Moon God, dia mencoba menahan tangan Moon God yang hampir sampai di pipiku.
"Stop, Moon God! Jangan usir Miya dari sini, yang lebih berhak keluar dari bangsa Elf itu aku ALUCARD DANTE ... bukan perempuan yang tengah kalian dakwa!" Teriaknya begitu tegas.
Namun, tetap saja Moon God tidak menerima apa yang telah terjadi. Dia menampar kedua pipiku. Dia berhenti menamparku ketika Alucard berdiri di depanku.
"Tumpahkan semua rasa marahmu, padaku. Bukan gadis ini! Sadarlah, cinta itu tidak bisa dipaksakan. Walaupun, kamu membunuh kami berdua, cinta kami akan tetap melegenda!" tegasnya seraya menatap tajam pada Moon God.
"Baiklah kalau itu maumu, aku akan menguji dengan mematahkan hatimu. Perhatikan apa yang aku bisa!" Dia berkata dengan wajah yang menakutkan.
Sreet!
Satu kilatan, membuat lengan Alucard terluka.
"Sayang!" teriakku sembari melepaskan cengkraman tangan Moon God. Ini kulakukan agar dia berhenti menyakiti kami berdua.
Setelah aku menghempaskan tangan Moon God, aku bergerak cepat untuk mendekati kekasihku yang tengah kesakitan. Namun, lagi-lagi Moon God malah menghempaskan ke atas tanah.
Setelah melihatku kesakitan karena membentur batu besar. Dia menyeringai kemudian melangkah menuju Alucard. Dia membangunkan Alucard yang tengah menatapku.
"Jangan sakiti Miya, Moon God! Dia satu-satunya milikku, aku ingin bersamanya!" Dia berteriak.
Akan tetapi, dengan teganya Moon God malah menghempaskan tubuhnya. Kini, satu kepalan tangan telah siap untuk dilayangkan. Tetapi, kekuatan Alucard belum pulih seutuhnya, hingga ketika menerima serangan dari Moon God dia seperti kewalahan sendiri.
Alucard terlihat mengaduh, aku yakin itu sangat menyakitkan. Setangguh apapun dia, tetap saja ketika dia terluka pasti mengaduh. Apalagi ini, dengan teganya Moon God menghempaskan pria yang menurut dia sangat dicintainya. Apakah rasa cemburu bisa menghilang akal sehat?
Melihatnya yang tengah kesakitan, aku melangkah kembali. Akan tetapi, baru beberapa langkah, Moon God menghalangi tubuhku dengan menjulurkan satu tangannya.
"Diam! Aku sedang memberikan pelajaran pada kekasihmu supaya dia sadar bahwa mencintaimu hanya akan menyakiti hati dan raganya!" tegas Moon God tanpa menoleh padaku.
"Tapi, jangan seperti ini. Jangan sakiti, dia tengah terluka!" Aku berkata dengan menaikkan nada suara. Aku sudah tak peduli lagi dengan norma.
"Ya, dan dia terluka karena kamu, MIYA SHUZUHIME!" Dia menghempaskan tubuhku dengan satu tangannya sampai aku merasa akan terjatuh.
Grep!
Aku bersyukur, Nana yang telah terlepas dari sihir dengan gesit menangkap tubuhku ketika aku akan jatuh ke lantai.
"Nana!" Aku menatapnya dengan segala haru. Aku sangat berterima kasih atas pertolongannya. Nana, mengangguk sembari mengangkat tubuh yang terasa lemah ini.
"Lepaskan aku dan Miya! Biarkan kami hidup tenang, tanpa bayangmu! Aku sudah menyerahkan sebagian kekuatanku, aku tidak melawan saat kamu menyerang, jadi berhentilah menganggu kehidupan kami!" Ujar Alucard.
Aku dan Nana terisak ketika Alucard berkata penuh permohonan. Ingin rasanya aku menghempaskan Moon God dan berlari mendekati priaku yang masih merintih di atas tanah, darah segar mengalir dari lengannya semakin deras.