
Suara kembang api begitu bising ketika kami mendekati rumah. Aku melihat semua orang berkumpul di sana seraya menyalakan sihir api.
"Ini ada acara apa?" Mataku begitu takjub melihat sihir api yang indah meluncur mewarnai langit.
"Ikut aku!" Tangan Alucard mengulur padaku. Aku terkesima menatapnya. Entahlah apakah aku harus menangis atau berteriak? Namun, saat ini aku benar-benar terharu.
"Ini semua untuk kamu, Sayang! Kami sengaja mempersiapkan untuk menyambutmu kembali di Moon Elf. Tanpa basa-basi aku memeluk erat tubuh Alucard. Bisa-bisanya dia bersikap romantis seperti ini.
"Terima kasih!" Mataku tak dapat lagi menahan air mata. Beribu do'a syukur aku panjatkan.
Alucard mendekapku, kemudian menyimpan tangannya di bahu. Dia mengajakku menemui Moon God yang tengah tersenyum padaku.
"Moon God! Aku tidak menyangka kalau semua ini telah kamu persiapkan," ucapku padanya seraya mendekati untuk bercipika-cipiki. Namun, dia malah berdiri hingga tubuhku hampir terjatuh. Untung saja, Alucard masih berdiri di belakangku.
"Maafkan aku, Miya. Aku kira kamu tidak akan mendekat padaku!" Moon God berkata seperti tidak terjadi apa-apa.
Aku terdiam ketika Moon God melewatiku, tidak seperti biasanya. Apa yang terjadi? Apa aku berbuat salah?
"Kenapa diam lagi? Semua tengah berbahagia untukmu, Sayang! Tersenyumlah," pintanya seraya mengecup kepalaku.
Ya, mungkin ini hanya perasaanku saja. Aku terlalu sensitif akhir-akhir ini. Sudahlah, Miya. Akan sangat tidak mungkin kalau Moon God membenciku.
"Kita gabung sama mereka, Sayang. Kamu lihat Justin dan yang lainnya tengah bermain tongkat. Bagaimana kalau aku ikut serta?" tanya Alucard.
Aku tersenyum sembari berkata, "ikut saja. Aku akan menemui Moon God. Aku tidak tenang, apabila melihat dia seperti tadi."
"Baiklah, terserah kamu saja. Karena aku yakin Moon God tidak apa-apa." Setelah berkata dia berjalan mendatangi bergabung dengan para Elf.
Aku berjalan mencari keberadaan Moon God. Aku hanya ingin tahu kenapa dia bisa bersikap tidak seperti biasanya. Kalau aku mempunyai kesalahan, aku harap dia memaafkanku.
"Moon God, bolehkah aku berbicara sebentar saja!" Aku meminta pada perempuan yang telah aku anggap sebagai pegangan hidupku.
"Ikuti aku!" jawabnya pendek sembari bergerak cepat menuju sebuah bangunan yang menjulang tinggi—kediaman Moon God.
Aku mengikutinya dengan langkah cepat juga, agar dia tidak menungguku terlalu lama.
Setelah ada di bagunan paling atas, aku melihat Moon God telah rebahan di Sofa kesayangannya.
"Mendekatlah!" ajak Moon God sembari menaikkan gaunnya hingga paha putih mulusnya terlihat. "Apa yang ingin kamu tanyakan?" Dia bertanya.
"Maafkan aku, apabila aku telah berbuat salah! Aku hanya ingin bertanya kenapa sikapmu jadi berubah?" tanyaku berharap Moon God tidak marah atau salah paham.
Blash!
Mataku terbelalak ketika dia melemparkan sihirnya pada benda di sampingku.
"Apa salahku? Apa kamu akan mencelakaiku?!" Refleks aku berkata seperti itu dengan suara tegas.
"Ini hadiah darimu, Miya. Apa kejutan itu harus sebuah pesta atau barang?"
Aku semakin heran dengan perkataannya. "Aku tidak mengerti apa yang tengah kamu katakan dan lakukan? Asal kamu tahu, hampir saja jatungku terpisah dengan ragaku hanya karena kejutan yang kalian rencanakan. Itu bukan kejuatan lagi!" aku meninggikan suara karena aku tidak tahu kenapa dia berubah setelah kedatanganku. Apa dia masih marah ketika aku tidak membawa Zilong? "Apa semua ini karena aku tidak bisa membawa Zii, kembali bersama kita?" tanyaku semakin menumpahkan kekesalan.
"Aku tidak menyalahkan kamu akan kepergian Zii. Aku hanya ingin memberikan kamu kejutan yang berbeda. Sekarang turunlah, mereka telah menunggu kehadiranmu. Nikmati malam ini sampai waktu yang telah ditetapkan!" Dia memelukku. Sedangkan aku hanya terdiam tak mengerti akan pelukan ini. "Turunlah, tinggalkan aku. Malam ini, aku hanya ingin sendiri!" Pintanya.
Aku menggangguk kemudian pergi meninggalkan Moon God sendirian. Ketika turun dari bangunan tinggi aku melihat para Elf riang gembira menikmati pesta. Untuk saat ini, aku ingin menikmati kebersamaan dengan para Elf. Aku berharap semoga semuanya tetap seperti ini. Tidak ada perseteruan dan permusuhan.
Pada malam ini, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, seorang Alucard tersenyum penuh bahagia. Dia tidak segan ikut permainan melewati tongkat, dan parahnya dia selalu menjadi pemenang. Seberapa pun ukuran, dia pasti bisa melewati. Tubuhnya begitu lentur dalam bergerak. Pantas saja apabila dia berjalan di malam hari, suara langkahnya hampir tak terdengar.
"Kamu harus memberikan dia hadiah, Miya!" teriak Justin setengah berteriak. Sontak semua yang berkumpul meneriakiku dan harus memberikan hadiah padanya.
"Aku tak membawa apapun untuk sang juara," candaku melerai semua teriakkan mereka.
Namun, dengan senyuman smrik-nya. Alucard malah menunjuk bibirnya, seakan memberi kode supaya aku mengecupnya. Aku menggelengkan kepala karena menurutku ini permintaan yang konyol.
Dia mendekatiku, "Come on, Honey. Mendekatlah!" Dia mengajakku ke depan semua orang.
"Are you crazy, Sir. Aku malu! Apa aku harus melakukan di sini?" bisikku dengan nada kesal.
"Kenapa tidak? Yours, My Honey," tandasnya sembari mengukir senyuman.
***
Mata ini mengerjap ketika jam weker berbunyi tepat pukul 06.30. Dia masih tertidur pulas di sampingku. Napasnya teratur, menghantarkanku dalam dekapannya.
"Bangun, Sayang. Ini sudah pagi!" Aku menggoyangkan lengannya. Tetapi, dia tak bergerak sedikitpun.
"Sayang!" Aku menatapnya. Memindai setiap lekuk wajah tampannya, kulit putih, rahang tegas, hidung mancung. Ide gila terbersit dari angan liarku, sengaja ku pijit hidungnya sampai dia tidak bisa bernapas. Tapi, usahaku membangunkannya sia-sia, dia masih saja tertidur pulas.
"Kalau pagi ini tidak bangun. Tidak ada lagi sarapan panas di pagi hari!" sarkasku sembari terkekeh. Aku hanya menggertaknya saja.
Mendengar perkataanku, dengan cepat dia terbangun dari tidurnya. "Sayang, jangan seperti itu, aku masih malas untuk bangun!" rengeknya membuat aku semakin berbunga.
"Kalau kami malas berarti aku juga malas melayanimu!" Aku mencebikkan bibir sembari menggeser tubuh dalam posisi duduk bersandar pada bantalan kasur.
Tangan Alucard kini melingkar di kakiku. Mengunci hingga aku sulit untuk bergerak.
"Sayang! Aku mau ke kamar mandi!"
"Jangan ke mana-mana! Tetap di sini, Miya Shuzuhime. Stay with me!" katanya. Matanya tak terbuka sama sekali. Perlahan dia memposisikan kepalanya di atas pahaku yang masih polos tanpa sehelai kain.
"Kamu itu hanga! Aku suka ini!" Dia semakin bersuara manja.
Aku tersenyum sembari memainkan rambutnya. Bayangan tentang Moon God masih mengusik jiwaku. Aku tidak ingin dia berubah hanya karena kehilangan Zilong.
Alucard bangkit dari tidurnya dan dia menindihku. "Mau sarapan pagi yang hot, Sayang?" tanyanya menggoda sembari memasukan helaian rambutku ke belakang telinga.
"No! Aku tidak mau! Aku belum gosok gigi!" kilahku.
"Kalau begitu, kita lakukan di kamar mandi saja!"
Alucard mengendongku ke kamar mandi dan setelah sampai, dia mengisi bathtub. Kemudian, menarikku masuk ke dalamnya.