
Pria itu mendekati kami, aku terus memandanginya karena tidak percaya akan kedatangannya.
"Jangan dekati Alucard, dia sedang terluka. Apa kau akan menyerangnya seperti dahulu? Apa kau mau membuat hidupnya sengsara. Tidak! Tidak! Aku akan menjaganya, walaupun harus berkorban nyawa sekalian pun!" Aku berkata tegas. Sedangkan, tanganku memeluk Alucard untuk melindungi dari pria dihadapanku.
"Miya, jangan berkata seperti itu!" Tiba-tiba Nana malah membentakku. Kenapa dia membentakku? Bukankah dia sendiri tahu, kalau pria yang ada di depanku adalah musuh kami bersama.
"Kenapa aku tidak boleh menghardik pria bengis ini. Apa kamu sudah termakan sihir atau bujuk rayunya?" Jawabku tidak kalah tegas.
"Pria ini yang menyelamatkanku dari lilitan sihir tadi. Apa aku tidak boleh membela orang yang telah memberiku kebebasan?" tanya Nana.
Aku menundukkan kepala setelah Nana berkata. Apa aku terlalu cepat menilai orang hanya dari luar atau masa lalunya? Namun, tetap saja, aku harus waspada padanya.
"Miya, izinkan aku untuk menyembuhkan Alucard. Anggap ini sebagai permintaan maafku pada kalian berdua. Aku sengaja mencari keberadaan kalian, karena aku baru menyadari bergabung bersama Kadita hanya membuat aku semakin tertekan!" Dia berbicara. Matanya melihat luka yang ada di tubuh Alucard. Sedangkan, Alucard menatapnya tajam.
"Kenapa kamu mencari kami, Dyrrot? Bukankah kamu anak buah Kadita yang paling setia?!" Kini, Alucard membentaknya.
"Iya, dahulu! Tidak untuk seminggu yang lalu. Kadita telah berubah, dia seakan hewan buas yang tidak pernah puas pada pasangannya," tuturnya.
Aku terkejut mendengar penuturan Dyrrot, apakah memang seperti itu. Lantas bagaimana kondisi Zilong. Walaupun, sudah ada Alucard yang mengisi hati. Namun, tetap saja nama Zii tidak bisa lepas dari bayangan.
"Miya, apa kamu lebih mencemaskan Zilong daripada kekasihmu yang sedang terluka ini?" tanya Alucard. Dia menarik wajahku agar melihat padanya.
"Tidak, aku tidak memikirkan hal lain!" Aku sengaja berbohong agar tidak melukainya.
Alucard menggangguk dengan tatapan kosong. Entahlah aku tidak tahu, apakah diamnya itu dari rasa cemburu atau tidak peduli akan khayalku yang masih memikirkan Zii.
Aku merasakan ada air yang mengalir di bawah kakiku. Mataku terbelalak ketika luka Alucard masih saja mengeluarkan darah. Apa ini sihir yang diberikan oleh Moon God?
"Miya, kita harus membawa Alucard ke tempat yang lebih baik. Di mana rumahmu? Biarkan aku yang akan mengurusnya!" Dyrrot menawarkan jasa.
Sekarang aku simpan dulu rasa curigaku padanya, karena keselamatan Alucard jauh lebih penting dari kecurigaan dan rasa penasaranku perihal Zii.
Aku dan Nana bergerak cepat. Kami hanya mengangguk tak menjawab pertanyaan dari para moon Elf yang memberikan kami semangat. Kini, mereka malah mendukung kami. Entahlah bagaimana kondisi Moon God saat ini, ketika melihat para Moon Elf menjauhi dan tidak menaruh hormat lagi padanya.
Setelah sampai di rumah, Dyrrot membaringkan Alucard di atas kasur perlahan. "Siapkan air hangat untuk membersihkan luka. Aku akan mencoba menghentikan darah yang terus mengalir dari lengannya!"
Tanpa berkata, aku bergegas mengikuti arahan Dyrrot. Sedangkan, Nana masih duduk di kamar bersama mereka. Semoga Nana pun ikut membantu menyembuhkan luka Alucard.
Aku kembali lagi dengan membawa sebuah tempat yang di dalamnya terdapat air hangat dan kain untuk membersihkan luka.
Aku melihat dengan mata kepalaku, Dyrrot dan Nana mengeluarkan sihirnya. Sampai tubuh mereka terlihat berkeringat. Namun, tetap saja darah dari luka masih saja mengucur.
Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus memohon pada Moon God agar dia bisa menyembuhkan Alucard? Beribu pertanyaan dan pertimbangan terus berputar dalam diri sampai terdengar ketukan dari balik pintu.
Aku segera melangkah, untuk membukan pintu. "Moon God!" pekikku karena tidak percaya akan apa yang aku lihat.
"Ya ini aku, Miya Shuzuhime. Apa aku seperti hantu, sampai kamu kaget seperti ini?!" Dia berkata seraya melewatiku yang masih berdiri di depan pintu.
Setelah, tersadar aku menutup pintu karena aku tidak mau, kondisi Alucard yang tengah lemah terlihat oleh para moon Elf, aku tidak mau membuat mereka cemas.
"Kami akan di sini! Aku tidak mau, kamu melukai ke dua sahabatku. Aku takut pengobatanmu malah membuat Alucard makin tersiksa. Lebih baik kami ada di sini, mengawasi!" bantah Nana.
Moon God, mengalihkan pandangan pada Nana dengan sorot mata yang menakutkan. Aku yang telah ada di dekat Nana, segera menarik tangannya agar menjauh dan menghindari kemarahan Moon God. Aku takut, kondisi akan semakin memanas, sedangkan waktu semakin menipis dan darah terus keluar. Aku takut hanya perselisihan kecil ini, bisa membahayakan kondisi Alucard.
"Kami akan pergi, Moon God. Aku yakin kamu bisa menyembuhkan luka dan menghentikan aliran darah yang terus mengalir!" pintaku.
Walaupun, wajah Nana terlihat marah dan ketus karena tidak suka akan keputusanku. Bukannya tidak mengerti akan kemarahan Nana, tapi sekarang nyawa Alucard jauh lebih berharga daripada sebuah persahabatan.
"Miya, kenapa kamu membiarkan mereka di dalam kamar berdua. Apa kamu tidak cemburu?!" Nana masih saja tidak menerima keputusanku.
Aku tersenyum seraya mengajaknya untuk duduk di kursi. Sedangkan, Dyrrot masih saja berdiam di depan jendela yang mengarah ke danau.
"Aku akui aku cemburu. Tapi, apakah aku hanya mempedulikan amarahku saja, sedangkan Alucard sedang membutuhkan pengobatan dari Moon God! Aku rela melakukan apa pun demi keselamatannya," tandasku mencoba menjelaskan agar dia mengerti kenapa aku mengikuti arahan Moon God.
Mendengar penjelasan, dia menghadiahiku dengan sebuah pelukan. "Aku minta maaf, Miya. Aku masih egois. Aku bukannya menenangkan hatimu, aku malah membakarmu dengan hasutan!" Nana tersedu di bahuku.
Ku belai lembut punggungnya. "Tidak apa-apa, kamu tidak salah. Aku tahu, kamu berbuat seperti ini, karena kamu menyayangi kami! Bukankah begitu?" Aku tersenyum perih ketika berkata.
"Aku bangga memiliki sahabat sepertimu, Miya!" jawabnya.
***
Hari semakin sore, kami terus menunggu dalam cemas. Bagaimana kondisi Alucard sekarang ini?
Aku mencoba melihat dari celah pintu yang masih bisa melihat ke arah kamar. Aku melihat Alucard tidak tertutupi sehelai kain pun, dan dia masih tidak membuka matanya. Kenapa harus seperti ini? Kenapa Moon God tega melakukannya? Apakah ini ritual pengobatannya?
Sembari membalikkan tubuh yang masih terkejut melihat hal yang tidak diinginkan, aku memukul dada yang terasa sakit. Sejujurnya, hati ini terluka melihat Moon God seperti itu. Namun, aku harus mengalah untuk kesembuhannya.
"Miya apa yang terjadi?" Dyrrot mendekat padaku.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Dada ini hanya terasa sakit saja!" kilahku.
"Apakah di dalam kamar terjadi sesuatu? Aku harus melihatnya, ini sudah terlalu lama?!" Dyrrot melangkah, namun sekuat tenaga aku mengenggam tangannya agar dia tidak melangkah lagi.
"Biarkan dulu. Moon God tengah memberikan pengobatan terbaiknya. Aku tidak mau, kedatanganmu malah membuat Moon God marah dan kecewa!" Jelasku. Sebenarnya, aku tidak kuat memberikan penjelasan pada Dyrrot.
"Apa harus selama ini, Miya? Ini tidak masuk akal!" Dyrrot berkata tegas. "Apa Moon God menginginkan Alucard?" tanyanya.
Aku menggelengkan kepala, agar dia tidak bertanya lagi perihal yang memalukan itu.
Namun, berbeda dengan Nana. Dia langsung berkata lantang, "memang benar. Moon God sengaja mengusir Mita dan melukaiku hanya untuk mendapatkan cinta Alucard!"
Dyrrot menatapku, "apa benar yang dikatakan oleh Nana? Jawab Miya, apa kamu akan membiarkan orang lain merebut Alucard dari tanganmu. Bodoh sekali kamu, Miya! Tadi aku berpikir, Nana bersikap kekanak-kanakan ketika menyuruhmu tetap di kamar. Ternyata seperti ini dirimu, Miya. Kamu tidak mempertahankan apa yang seharusnya kamu miliki! Apa kamu mencintai Alucard atau masih berharap pada kekasihmu yang sudah dalam kuasa Kadita!"
Aku menangis tersedu, bukan karena aku sakit hati akan perkataan Dyrrot. Namun, aku menyesali semua ini. Kenapa kisah cintaku terus menemui penderitaan. "Aku mencintai Alucard dengan sepenuh hati. Bahkan aku rela meninggalkannya, asal dia bahagia!" Aku berkata dengan nada yang tertahan karena tangisan.
"Tidak, Miya itu bukan cinta setia. Tapi, itu cintanya seorang pengecut. Kenapa kami tidak berusaha mempertahankannya, walaupun kamu harus menemui ajalmu untuk meraih cinta! Kamu terlalu lemah dalam urusan hati!" Dyrrot terlihat kesal.