
"Atas darah yang akan kami keluarkan, kami rela mati untukmu, baginda Raja!"
Alucard memfokuskan penglihatannya pada satu-satunya pintu, agar kami bisa keluar dari hutan ini. Ingin rasanya aku berbisik pada Alucard, tapi aku takut pertanyaanku malah merusak konsentrasi.
Alucard menarik tanganku agar menjauh dari pintu tersebut. Setelah kami mundur dari pintu, dia berkata, "Miya, sepertinya kita harus mengambil urusan yang sangat pelik!" bisiknya.
"Maksudnya apa? Aku tidak mengerti," Aku berkata sembari mengeryitkan dahi. Walaupun, dalam kegelapan, tapi aku yakin dia bisa melihatku dengan jelas.
"Tidak ada jalan lain, selain kita masuk ke dalam kamar Raja. Entahlah, apakah ini hari terakhirku bersamamu. Atau awal dari cerita kita!" ujarnya sembari menggenggam tangan kemudian menempelkan bibirnya di atas punggung tanganku.
"Tidak, Alucard. Aku semakin tidak mengerti arah pembicaraan kamu! Apakah kamu mencemaskanku?" Aku bertanya padanya, walaupun sebenarnya aku ragu. Karena dia selalu bersikap dingin padaku, berbeda dengan Zilong dia selalu membuat aku tertawa karena ulah nyelenehnya.
Grep!
"Aku sangat mencemaskan kamu, Miya. Entah kapan rasa ini datang dan singgah di hati. Tapi, aku tidak mau kamu terluka, atau kehilangan kamu! Aku tidak mau itu terjadi, lebih baik aku yang pergi meninggalkanmu daripada aku harus bersedih karena kehilanganmu, Miya Shuzuhime! Aku menyukaimu ... sangat menyukaimu." Dia semakin mengeratkan pelukannya.
Aku tidak tahu harus berkata seperti apa padanya. Luka yang kemarin saja belum sembuh, tapi kenapa Alucard datang menawarkan segala kenyamanan yang aku rasakan. Apakah aku mencintai atau menyukainya. Saat ini, aku hanya ingin pulang ke Moon Elf membawa kabar, apabila zilong sudah ditemukan. Semoga mereka bisa menerima kenyataan bahwa sekarang dia telah bergabung dengan Ratu laut pantai selatan.
"Apakah ini tidak terlalu cepat?" Aku bertanya sembari mengusap punggungnya.
"Aku tidak peduli tentang waktu. Kita tidak akan pernah tau, rasa cinta itu datang dan untuk siapa!" Alucard berkata sembari mengurai pelukannya. Aku tersenyum di balik kegelapan. "Kamu tersenyum, Miya?" tanyanya sembari mengusap dari rahang perlahan ke arah dagu. Aku memejamkan mata ketika merasakan sentuhan yang selalu aku rasakan bersama Zilong.
Aku terhanyut ketika ibu jarinya mengusap lembut bibirku, "aku merindukannya," ucapku tanpa sadar.
"Bolehkah! Aku mengecup sedikit bibirmu."
Aku tidak tahu, kenapa aku malah mengangguk, mempersilakan Alucard untuk memberikan sentuhan di atas bibirku yang aku berikan hanya untuk Zilong.
Cup!
Aku merasakan bibir Alucard lebih manis dibanding bibir Zilong. Napasku memburu seiring sentuhan bibirnya yang semakin dalam. Dia mengeluarkan lidahnya yang aku sambut dengan senang hati.
"Apa kamu menyukainya?" tanyanya.
Aku menggigit bibir bawahku, ketika dia melepas paksa pagutan. Padahal aku tengah menikmati permainannya.
"Aku menyukainya!" Segera kupalingkan wajah ini karena menahan rasa malu.
Sekarang dia malah menarik kembali daguku. "Kita ulangi dari awal. Bolehkah!" Pertanyaan bodoh apa ini, bukankah tadi aku sudah mengatakan kalau aku suka sentuhannya.
"Kenapa kamu bertanya padahal kam ... Eemf!" Dia memotong pembicaraanku dengan bibirnya.
Kini, tangannya membelai punggungku, dan lagi-lagi aku merasa nyaman. Apa aku sudah mengkhianati Zilong. Aku semakin tertekan dengan semua rasa yang ada pada saat ini. Di sisi lain aku mulai luluh karena Alucard, namun kenangan bersama Zilong tidak bisa aku hempaskan dalam waktu sekejap.
Aku mengangguk kembali dan memejamkan mata menikmati sentuhan-sentuhannya. Sampai aku sadar ketika dia mengecup dadaku. "Ahh! Zilong kenapa begitu nikmat. Aku menyukai sentuhanmu, Alucard!" Ku pejamkan mata ini. Untuk menerima Alucard seutuhnya. Aku harus melupakan Zilong yang sudah mengkhianatiku. Aku menunggu, namun sentuhan itu tidak terasa lagi. Perlahan aku membuka mata masih dalam kegelapan. Tanganku meraba dalam hampa untuk mencari keberadaan Alucard tapi tak kutemukan.
"Alucard, di mana kamu? Kenapa kamu menjauhiku. Apakah kamu tidak menyukaiku?" tanyaku sembari berbisik. Aku masih meraba mencarinya. Akan tetapi, tetap saja tidak ada. Aku mencoba untuk maju ke depan sampai ada tangan yang menghalangi.
"Jangan maju terus! Apa kamu mau kepalamu terluka karena terantuk tembok!" ketusnya. Aku tidak mengerti akan sikapnya. Baru saja dia menyentuhku dan berkata menyukai, tapi sekarang malah dingin lagi seperti es kutub.
"Maaf aku tidak tahu. Kamu kenapa?" tanyaku sembari meraba tubuhnya, aku memastikan ini adalah tanganya. Setelah aku menemukan jari jemarinya, aku menarik kemudian mengecup. Namun, yang membuatku terhenyak dia malah menarik tangannya.
"Ada apa? Apa aku salah berkata?" tanyaku karena merasakan keanehan dalam dirinya.
"Hati kamu masih memikirkan Zilong kekasihmu, bahkan kamu menyebut namanya ketika kamu bersamaku! Kamu tidak menyadarinya 'kan?!"
Jelb!
Pertanyaan yang begitu menohok untukku, benarkah aku menyebut nama Zilong ketika dia menyentuhku. Apa yang sudah aku lakukan? Aku yakin hal ini, akan membuat jiwa Alucard tidak tenang. Tanpa pikir panjang, aku memeluk Alucard. Entah bagian mana yang aku peluk. Aku hanya ingin minta maaf padanya.
"Aku minta maaf! Aku minta maaf!" jawabku sembari menitikkan air mata.
APA AKU SUDAH MENCINTAINYA DAN MELUPAKAN ZILONG?
"Tidak usah minta maaf, Miya. Aku tidak akan memaksakan cinta ini. Aku tidak ingin dicintai oleh seorang gadis yang masih menyimpan hatinya di tempat lain. Maafkan aku yang sudah memaksamu untuk menyukai, Miya." Jawaban lirihnya semakin membuatku merasa bersalah.
"Aku minta maaf, Alucard! Maafkan aku!" Aku berkata sembari menundukan wajah. Derai air mata kini terasa hangat mengalir di atas pipi.
Dia memdekat, kemudian menarikku dalam pelukannya. "Jangan menangis, Miya. Jangan menangis hanya untuk seorang pria brengsek sepertiku. Aku tidak layak untuk kamu tangisi! Berhentilah!"
Aku semakin tersedu mendengar jawabannya. "Kamu tidak salah, Alucard. Kamu tidak salah. Aku yang salah masih menyimpan namanya ketika bersamamu!" Sesalku semakin mengeratkan tanganku di tubuhnya.
"Aku akan menunggu sampai kamu bisa menghapus namnya dalam hati. Dan menggantikannya hanya untukku!" Katanya mencoba mengurai pelukan.
Akan tetapi, itu membuat aku semakin bersalah, "tidak, jangan lepaskan aku, Alucard. Jangan lepaskan!"
Alucard membiarkan aku dalam pelukannya, sesekali dia mengecup pucuk kepalaku. "Akankah kamu membuka hatimu untuk pria lain, Miya?" tanya Alucard. Pertanyaan simple tapi membuat darahku berdesir, karena aku berjanji tidak akan membuka kunci untuk pria lain selain zilong. Namun, sekarang aku malah terjebak dengan sumpahku sendiri.
"Aku akan mencoba membukanya lagi untukmu, Alucard!" Aku menjawab seraya menitikkan air mata. Bukan karena bahagia, tapi karena aku telah melanggar sumpahku sendiri dan mengkhianati sumpah bersama Zilong bahwa kami tidak akan membuka pintu untuk siapa pun juga.
"Maafkan aku, Zi!" Batinku terus berkata. Aku terjebak diantara rasa senang dan sesal.
Brak!
"Siapa kalian? Lancang, kenapa ada di lorong ini? PENJAGA!" teriak seseorang yang membuat kami langsung terkesiap.