Miya Alucard

Miya Alucard
Sosok Hitam Kecil



"Miya!" Suaranya pelan, tapi masih terdengar jelas.


Karena rasa penasaran, aku terus berjalan mendekat pada sumber suara. Aku berharap bukan seorang musuh atau monster. "Siapa kamu? Kenapa kamu memanggilku?" Aku bertanya untuk memastikan.


"Kecilkan suaramu! Aku tidak mau para penjaga melihat keberadaanku!" Suaranya semakin tegas terdengar.


"Katakan dahulu, siapa kamu? Kalaulah kamu masih berteka-teki seperti ini, lebih baik aku meninggalkanmu sendirian!" Sengaja aku mengancam, agar orang ini keluar dari tempat persembunyian.


Suara binatang malam menambah suasana makin menakutkan. Namun, rasa ketakutan yang belum pasti ini, aku singkirkan dalam benak.


"Kemari! Mendekatlah, aku butuh bantuanmu, Miya." Dia berkata lagi.


Dalam hati terus meracau, kenapa dia harus meminta bantuan padaku. Apakah selama ini ada seorang Moon Elf yang terbiasa berkeliaran di malam hari. Kenapa dia bisa lolos dari penjagaan.


"Miya, cepatlah jangan banyak berpikir. Kakiku terhimpit akar!" Suaranya terdengar mengaduh, mungkin karena sakit yang tak tertahan.


Perlahan aku menyibak daun-daun besar yang hampir menutup tubuh kecilku. Kini, mataku melihat sosok kecil hitam. Siapa dia? Dalam hati terus bertanya. Apabila dilihat dari postur tubuhnya aku hapal sosok yang tengah memegangi kakinya, tapi sangat tidak mungkin dia ada di sini.


"Miya, tolong aku! Jangan berdiri terus!" pintanya lagi.


Aku merunduk untuk mensejajarkan tubuhku dengannya. Tanpa berkata, aku membuka akar yang telah membelit kakinya. Akar dari pohon ini memang mempunyai kebiasaan membelit makhluk yang ada didekatnya. Bukan untuk menyakiti tapi pohon ini mengajaknya bermain, karena setelah kita akan terlepas dengan sendirinya.


"Siapa kamu? Kenapa akar pohon ini bisa membelitmu sampai kamu tidak bisa bergerak?!" Tanyaku sembari membuka akar yang membelit.


"Aku hanya ingin bertemu denganmu. Tapi, aku takut moon Elf tidak menerima semua kelakuanku di masa lalu."


Mendengar, sosok ini berkata. Aku langsung teringat akan sosok kecil yang menyenangkan. Ku buka penutup muka yang hampir menutupi wajahnya.


"Nana, kenapa kamu tidak datang ke rumahkurumahku? Malahan kamu terjebak di hutan ini!" Pekikku sembari memeluk tubuhnya.


Dia malah tertawa kecil, kemudian berdiri setelah terlepas dari akar. "Kamu juga sama saja, Miya. Seharusnya kamu ada dirumah bersama Alucard. Ini malah ada di danau!" sindirnya sembari tersenyum manis.


Perkataan Nana malahan membuat hati ini kembali terluka. Aku terdiam sesaat, apakah aku harus menceritakan semua yang terjadi padanya. Apa dia bisa dipercaya? Karena selama ini, dia selalu ada untukku sebagai balas budi karena aku telah mengajari sampai dia bisa mengendalikan sihirnya.


"Miya, apa kamu mendengar kata-kataku!" tanya Nana yang samar terdengar.


"Apa?" Aku tersadar, ketika tangan mungilnya menggoyangkan bahu.


Kini, dia diam seraya menatap lekat padaku. "Sahabatku yang sudah aku simpan namanya di dalam hati terdalam, bicaralah! Apa Alucard menyakitimu? Kalau memang seperti itu, aku akan melumpuhkan dan menyiksanya. Katakan dia ada dimana!" Nafasnya terengah seperti menahan amarah.


"Sudahlah! Jangan cepat marah. Kendalikan sihirmu untuk kebenaran. Alucard tidak menyakiti ...." Sengaja aku menghentikan suara karena dada ini kembali terasa sesak. Tangisan yang seharusnya aku tahan, sekarang malah keluar dengan sendirinya. Aku tidak tahu kenapa di depannya, air mata keluar deras tanpa suara.


Aku menundukkan pandangan di hadapannya. Sekarang, aku melihat kakinya mendekat padaku.


"Menangislah, apabila tangisan bisa membuatmu nyaman!"


"Tapi, aku tidak mau menangis. Aku sudah merelakan cintaku terlepas dari pada dia terluka!"


Tangisanku pecah di atas bahunya. "Apa aku terlalu manja kalau aku menangis seperti ini!" tanyaku.


Tangan Nana membelai lembut punggungku, "menangislah! Aku tahu kamu sudah menjalani hari terberat. Jadikan bahuku tempatmu bersandar!"


Isakan dari tangis rasa sakit membuat dada ini sesak tak tertahan. Bebeberapa kali aku harus mengendalikan. Namun, tetap saja air mata terus keluar.


Kini, suara malam semakin mengiringi penyesalan yang tak berujung. Memang benar adanya, terkadang suasana menyepi itu penting. Seolah malam menyampaikan apa yang tak terlisankan terang, sunyi memiliki gaduhnya sendiri, dan kosong tak selalu dapat disinggahi. Aku terus meracau dalam hati ketika tangan mungil Nana membelai lembut punggungku.


"Aku tahu, ini pasti masalah yang sangat berat. Namun, akan lebih baik apabila kita membicarakannya di dalam rumahmu. Aku takut tangisanmu membangunkan bangsa Elf yang tengah terlelap dalam mimpi." Dia berkata bijak.


Aku mengangguk seraya melepaskan pelukan. Aku paksaan senyuman di bibirku yang masih terasa kaku. Sedangkan, tanganku sibuk membersihkan lelehan air mata yang terus mengalir tiada henti.


"Aku yakin, kamu bisa menghadapi semua rasa kecewa dan ketakutan dengan jiwa ksatria dalam dada!" Katanya. Kami melangkah meninggalkan hutan yang ada di sekitar danau.


***


Aroma minuman rempah membuat nyaman dalam diri. Nana sengaja membuatkannya untukku. Tadi setelah kami memasuki rumah, dia langsung menanyakan di mana letak dapur. Ternyata dengan cekatan dia membuat minuman dari rempah yang masih ada di dalam beberapa kotak.


"Apa kamu menyukainya, Miya?" tanya Nana dengan mata berbinar.


Aku tersenyum melihat tingkahnya yang terkadang masih seperti anak kecil. Namun, pada kesempatan lain dia bisa berubah menjadi gadis dewasa yang bijak.


"Suka ... aku menyukainya. Pandai sekali kamu membuatnya. Apa ini resep turun temurun dari bangsamu?" tanyaku sembari menyeruput minuman yang melegakan tenggorokan yang tengah merindukan kehangatan.


Sekarang dia malah tersenyum sembari meletakkan gelasnya di atas meja. Kemudian dia berjalan menuju perapian seraya mendekatkan tangan di depannya.


Agar suasana lebih akrab, aku berjalan mendekatinya dengan membawa dua gelas minuman–milikku dan miliknya.


"Gelasnya jangan ditinggal sendirian. Bagaimana kalau dia sedih?" ujarku dengan kekehan kecil. Walaupun, hati ini terasa sakit. Namun, aku mencoba untuk menutupinya supaya dia tidak khawatir.


"Terima kasih!" Imbuhnya. Dia mengambil gelas kemudian meletakkannya di samping perapian.


"Kenapa aku tidak menjumpai Alucard? Seharusnya dia ada di sini bersama kita. Apa dia meninggalkanmu, Miya? Memang semua pria sama, dia akan pergi setelah bosan pada wanitanya! Aku paling tidak suka melihat perubahan itu, Miya. Terlalu naif kalau aku mengatakannya. Tapi, aku sangat membenci apabila Alucard cepat berpaling hanya karena perempuan yang lebih menarik. Di mana hatinya?!" Cerocosnya sampai tidak berjeda.


Sesekali bibir ini terbuka untuk meluruskan cerita yang sesungguhnya. Namun, dia malah berasumsi sendiri tentang seorang pria yang mungkin dia benci.


Sembari mendengkus kesal, tangannya bergetar seperti menahan amarah. Apa dia pun tengah mengalami masalah? Aku hanya bisa menebak dari perubahan sikapnya saja.


"Nana, apa kamu tengah mengalami masalah? Sampai kamu berkata seperti itu?" tanyaku seraya menatap lurus padanya.


Kini, dia malah melihat lurus pada perapian. Rasa penasaranku semakin menjadi. Apa aku harus menanyakan perihal kondisinya, padahal aku sendiri tengah dirundung rasa sedih karena kehilangan Alucard.


"Aku membencinya, Miya. Sungguh memuakkan, aku tertipu oleh perkataan manis yang membuatku terbuai, dan setelah dia bosan dia pergi dengan amarah. Seperti aku yang berbuat salah padanya. Aku membenci pria itu!" Suara Nana tiba-tiba meninggi. Sedangkan, aku hanya bisa diam untuk mendengarkan dahulu segala keluh kesahnya. Biarlah malam ini, dia yang bercerita tentang kekecewaannya. "Andai waktu bisa diputar kembali, aku ingin dia lenyap dari semesta. Akan tetapi, ketika aku mengayunkan tangan untuk melumpuhkannya. Aku tidak tega, aku lemah dalam penyesalan!"