Miya Alucard

Miya Alucard
Kesetiaan Peri Kucing



Malam semakin larut, kami berdua tidak bisa memejamkan air mata. Obrolan membuat kami terjaga sepanjang malam. Aku tidak tahu, apakah sesudah menumpahkan semua masalah yang terjadi, Nana akan berubah. Aku harap dia tidak terpancing emosi dan menyerang Moon God. Kalaulah itu terjadi, aku tidak bisa memaafkan diri sendiri. Aku tidak mau hal itu terjadi.


"Miya, aku tidak bisa menemanimu lagi. Aku terlalu lelah untuk mendengar semua ceritamu! Aku ingin tidur." Dia merengek seraya memperlihatkan wajah gemasnya.


Aku tersenyum bahagia karena setelah dia mendengarkan perihalku, dia tidak tersulut emosi. "Sebelah kanan kamarku, ya! Tapi, kalau kamu ingin tidur bersamaku, aku tidak keberatan." Aku tersenyum padanya setelah berkata.


"Tidak, aku tidak mau tidur bersamamu. Itu sama saja, aku tidur di tempat Alucard yang pernah berguling-guling bersamamu. Hehe!" Dia terkekeh, dan menutup bibir dengan tangannya.


"Sodaraku, sudah bisa berkata seperti itu, ya. Sini aku pukul dulu, biar tidak berpikir aneh-aneh!" candaku. Dia malah berlari ketika aku mengangkat satu bantal untuk dilempar padanya. "Hey! Kemarilah!" teriakku seraya menatap pintu yang sudah dia tutup dengan tergesa.


"Mimpi indah, Nana. Semoga masalahmu secepatnya terganti menjadi bahagia, dan untukku...." Aku menghembuskan napas, karena tidak sanggup lagi menahan rasa ini. Rasa rinduku pada Alucard.


Kini langkahku tertuju pada kamar yang masih gelap tanpa penerangan, sampai kaki ini menginjak satu benda. "Aww!" Aku mengaduh karena sepertinya aku telah menginjak benda tajam.


Aku membungkuk untuk mengambil benda tersebut. Ternyata sebuah benda pipih. Aku segera menyalakan cahaya putih kecil dari ujung jari telunjuk, hanya untuk melihat benda yang tak pernah aku temui sebelumnya. "Apa ini? Kenapa benda seperti ini ada di lantai begitu cerobohnya, aku tidak bisa membersihkan ruangan dengan benar.


Setelah cahaya putih itu menyala, mataku bisa melihat benda yang menyilaukan. Ketika aku membalikkan benda tersebut, ternyata ada tulisannya.


'Miya, apapun yang terjadi padaku. Jangan cari aku kemana pun. Aku akan selalu menjadi pembelamu. Walaupun, aku harus meregang nyawa dan melepas semua kekuatan yang aku punya. Aku rela, asalkan kamu bahagia.'


Denyut jantung seakan berhenti sesaat, aku bertanya dalam batin. 'Siapa yang menulis kalimat ini. Apa Alucard? Kapan dia datang ke rumah? Bukankah dia terluka. Nana? Aku tidak yakin dia yang menulis ini, karena aku melihat dia masuk ke dalam kamar.


Rasa penasaran mendorong untuk segera berlari memastikan Nana tidak melakukan hal apapun. Aku khawatir dia berbuat nekad pada Moon God. Aku tidak mau dua orang yang aku sayangi berdebat. Aku bisa membayangkan bagaimana kalau dia menyerang Moon God. Bagaimana kondisinya, aku takut dia terluka?


Brak!


Kubuka pintu kamar dengan kasar. "Nana!" teriakku dengan napas terenggah.


"Ada apa, Miya. Aku baru saja akan memejamkan mata. Tapi, kamu malah ganggu. Kalau kamu mau bercerita lagi. Nanti saja! Aku sudah tidak tahan lagi." Dia malah menguap.


"Baiklah, aku minta maaf. Teruskan saja mimpi indahmu, Sayang!" Senyuman aku tampilkan karena aku telah mengganggunya. Kemudian aku menutup pintu kamar.


Setelahnya, aku membulak-balikan benda tersebut. 'Siapa yang menulis ini? Sudahlah, aku tidak mau memikirkannya. Sebaiknya aku tidur karena besok perjalanan menuju dunia luar akan aku jalani. Berpisah dengan semua moon elf. Semua pikiran terus berputar, sampai aku tidak sadar kalau langkahku kini telah di dalam kamar. Segera ku rebahkan tubuh ini di atas kasur yang dahulu tak pernah sunyi karena kehadiran Alucard. "Beristirahat Alucard. Rindu ini akanku bawa kemanapun. Walaupun, aku tidak yakin kamu akan kembali lagi atau tidak." Mata yang tadi susah untuk terpejam, kini tertutup dengan sendirinya.


"AKU TIDAK AKAN MENYERAH SAMPAI KAPANPUN! AKU TIDAK AKAN GOYAH SAMPAI KAMU SADAR AKAN KELAKUANMU! AKU KECEWA. HUKUM AKU, MOON GOD. HUKUM SAMPAI KAMU LELAH MENDERAKU!"


Suara ramai membangunkanku dari tidur lelap. Siapa yang terus berteriak? Aku segera berlari menuju kamar Nana.


"Nana, bagun! Kita harus melihat moon elf yang ada di luar sana!"


Namun, aku terkejut ketika membuka selimut, ternyata Nana sudah tidak lagi ada di tempatnya.


"Nana? Jangan-jangan dia yang tengah berteriak." Aku segera berlari ke kamar mandi dan menganti pakaianku. Dengan gerakan cepat, kini tubuhku telah terbalut pakaian kebesaran dengan panah dan busur yang aku bawa.


Benar saja ketika aku keluar dari dalam rumah. Begitu banyak orang yang telah berkumpul. Mataku terbelak ketika Nana dibelit oleh tali sihir pada satu pancang yang terbuat dari besi. Udara begitu dingin menusuk kulit, cahaya matahari belum muncul sepenuhnya. Namun, sepertinya orang berkumpul karena teriakan Nana.


Sekarang, dia terus meneriaki Moon God. Sedangkan, orang-orang memincingkan matanya, seakan membenci kelakuan Nana.


"Lenyapkan saja gadis ini! Sedari dulu dia hanya menjadi benalu untuk kita. Apa kalian tidak ingat dahulu dia seperti apa?! Dia hampir membunuh kita semua." Satu Moon elf yang usianya sudah ratusan tahun berkata ketus seperti menahan dendam padanya.


Memang benar, dahulu Nana pernah berbuat ulah yang mengancam keselamatan bangsa Moon Elf. Nana terlahir di daerah dalam hutan ajaib yang jauh dari peradaban. Nana terlahir sebagai peri kucing yang diberkati dengan kekuatan yang besar sedari lahir. Namun kekuatan sihir yang cukup besar itu masih terlalu cukup sulit untuk dikendalikan dengan baik olehnya. Kekuatan sihir yang dimilikinya itu juga berbahaya karena bisa menghancurkan separuh kampung halaman. Ketika Nana hilang kendali untuk mengontrol sihirnya.


Kala itu aku datang pada Nana ketika tengah berkelana, untuk menemuinya atas perintah Moon God. Saat itu, aku melihat banyak sekali kekacauan yang timul. Saat itu pula, aku memiliki sebuah pemikiran cermelang dan aku rasa cocok untuk Nana dalam mengatasi masalah yang sering dihadapinya.


Aku memberikan sebuah teknik padanya. Dia belajar dengan cepat ketika aku mengajarkan agar bisa mengendalikan kekuatan sihir besarnya itu dengan mudah. Aku mengajarinya setiap hari dan aku sangat bangga ketika dia juga dapat menyimak dan paham mengenai apa yang diajarkan.


Sampai pada suatu hari Nana berhasil mengendalikan kekuatan besar milik nya itu berkat teknik yang diajarkan olehku. Karena aku bisa mengajarkan Nana, aku dikeanl sebagai sang pengelana dari suku Moon Elf. Semua tersenyum ketika Nana sudah bisa mengontrol dengan mudah sihir yang ada dalam dirinya. Dia juga bisa memanfaatkan sihir sesuai keinginan dirinya sendiri. Tidak ada lagi insiden dimana kekuatan sihirnya mengamuk dan menghancurkan sebagian bangsanya.


"Menyerah atau kamu akan lelah kerena ulahmu sendiri!" Satu penjaga Moon Elf menyerangnya dengan sihir yang mengakibatkan tubuh Nana bergetar hebat.


"Hentikan! Apa yang kalian lakukan? Ini saudara kita, Demon apa yang sudah memasuki tubuh kalian semua. Lihatlah, ini saudara kita. Apa kalian sudah lupa tentang kesetiaan?" Aku berteriak sembari berdiri di depan Nana yang sudah banyak luka di sekujur tubuhnya.


"Dia sudah melanggar etika!"


Aku terbelalak ketika ada yang menimpali perkataanku. Aku tidak menyangka dia akan berkata seperti itu.