
"Miya! Aku haus!" Suara serak dari Alucard membuat kaki ini segera melangkah.
Namun, sebelum sampai ke tempat penyimpanan air. Moon God dengan cekatan membawakan air untuknya, dia berjalan dengan santai menuju Alucard dengan satu gelas berisi air yang memenangkan. Aku hanya bisa menatapnya tanpa bicara. Aku masih tak percaya pada perubahan Moon God, biasanya dia tidak seperti ini.
Walaupun, aku dan Alucard berada di tempatnya. Tetapi, kenapa hati ini malah cemburu melihat perhatiannya pada Alucard.
"Sayang, kemarilah!" Aku memberanikan diri untuk mendekat pada Alucard setelah dia memanggilku.
Sudut mata ini menangkap ketidaksukaan Moon God. "Apa salahku?" Aku bertanya sendiri dalam batin. Sekarang aku tidak tahu harus bersikap seperti apa padanya?"
"Kamu butuh sesuatu?" tanyaku malu-malu.
"Kenapa kamu bersikap seperti ini?" tanya Alucard.
Apa dia bisa merasakan, apa yang tengah aku rasakan? Entahlah, sekarang aku hanya ingin memastikan perawatan yang diberikan oleh Moon God bisa menyembuhkan lukanya.
"Bagaimana kondisimu saat ini?" Aku bertanya lagi, kini malah terlihat seperti seorang yang sangat bodoh.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Kamu bisa lihat sendiri aku seperti apa," Dia malah balik bertanya dengan nada kesal.
"Sudahlah, Miya. Kami pergi saja dari ruangan ini! Sepertinya keberadaanmu hanya membuat Alucard semakin menurunkan skillnya. Jadi lebih baik kamu keluar saja. Biarkan kami mengobatinya, jangan cemas!"
Tubuh ini menjadi lemah ketika mendengar perkataan seseorang yang aku kagumi. Kenapa dia tega berbicara seperti itu? Perlahan aku mendekat pada Alucard yang masih terbaring kaku.
"Moon God, aku mohon jangan berbicara seperti itu pada Miya. Aku malahan senang akan keberadaannya!" seru Alucard seperti tahu akan kondisi hatiku saat ini.
"Terserah! Terserah, kalian mau berbuat apa. Aku hanya menjalankan apa yang seharusnya aku jalankan!" Nadanya tinggi seperti membentak.
Mendengar jawabannya, aku berkata, "maafkan aku, Moon God. Aku minta maaf!"
"Sudahlah, simpan saja air mata palsumu, Miya Shuzuhime! Ingat waktumu disini sampai jam malam, setelahnya kamu harus pergi dari sini!" Dia pergi meninggalkan kami dalam bimbang.
"Sayang!" lirihnya.
Dia menarikku dalam pelukannya, kemudian membenamkan kepala di bahuku.
"Biarkan aku lemah seperti ini. Jangan meminta agar aku terlihat kuat! Biarkan, biarkan begini dulu! Saat ini aku rapuh tengah rapuh!" lirihku pada Alucard.
***
Malam semakin larut, rasa gundah terus menghantui. Ku tatap langit-langit sembari membayangkan wajah Alucard yang membuat hati ini merindu.
Perlahan aku mendengar samar seseorang melangkah di balik jendela rumah.
Suara langkah itu makin terasa. Kini, ku tatap jendela terlihat bayangan dari tirai yang sedikit terbuka.
"Moon God, tolonglah aku. Selamatkan aku dari orang-orang yang akan berbuat jahat padaku!" Dalam kondisi takut aku mengeratkan genggaman pada seprai.
Kreet!
Tubuhku semakin bergetar ketika daun jendela ada yang membuka. Bayangan jari-jarinya terlihat dari sudut mata. Ingin rasanya mulut ini menjerit. Namun, aku takut kejadian ini hanya sebuah halusinasi dari bayanganku saja. Aku segera membaringkan tubuh yang masih bergetar.
Aku melihat bayangan seorang pria melompati jendela. Yang kulakukan saat ini adalah aku berpura-pura menutup mata. Walaupun, was-was dalam hati terus mengusik jiwa tanpa henti. Ku tarik selimut untuk menutupi tubuh. Andai ada pilihan berlari, mungkin aku sudah berlari dan menjerit. Namun, aku mengingat kembali tadi Alucard berkata kalau aku harus menjadi wanita terkuat, ketika aku akan meninggalkannya sendiri di tempat Moon God.
Suara langkah kini tak terdengar lagi. "Apa mungkin hantu?!" Aku menggeleng kepala sembari memukulnya. "Hilangkan rasa takutmu!" Aku bergumam sendiri. Aku menghembuskan nafas panjang dan mengucapkannya rasa syukur karena itu hanya khayalan saja. Mungkin aku terlalu memikirkan Alucard hingga aku bisa seperti ini. perlahan aku membalikkan tubuh yang masih bergetar seraya membuka mata meyakinkan kalau itu bukan hal yang menakutkan.
"Sayang!" Aku terperanjat ketika ada seorang pria dengan pakaian ninja berjongkok tepat di mataku.
Bugh! Bugh!
Ku layangkan pukulan dengan bantal. Aku berharap pukulanku bisa mengusirnya.
"Pergi! Atau aku berteriak minta tolong pada Elf!"
Dia memberikan kode dengan menyimpan jari telunjuk di depan bibirnya.
"Diam!" Dia berkata tegas.
"Tolo ...!" Ketika aku akan menjerit tangannya malah membekap mulutku.
Aku berontak mencoba melepaskan tangannya dari mulutku yang ingin segera meminta bantuan.
"Miya!"
"Mmftthh!" Sekarang dia membuka topeng dalam kegelapan dan membekap mulutku dengan pagutan.
Sesaat, aku berontak namun aku merasakan pagutan yang sangat aku kenal.
"Alucard, Sayang!" Aku mencabut paksa bibirku yang masih dipagutnya.
"Yap, ini aku!"
Akhirnya kami melanjutkan pagutan yang tadi sempat terhenti. Dia membaringkan tubuhku. Sedangkan, tangannya membelai lembut wajahku yang telah merah merona.
"Resikonya terlalu tinggi, Sayang. Bagaimana kalau penjaga di rumah Moon God mengetahui keberadaan kamu di sini!" Kilahku berdiplomasi, padahal aku juga menginginkan dia menemaniku malam ini.
"Tenang saja, Justin sudah menangani semuanya! Jadi, izinkan aku tidur bersamamu!" Dia memasang muka sendu.
"Baiklah aku izinkan!" ucapku sembari memijit hidungnya.
Sekarang dia membelai wajahku dengan sangat lembut. Terkadang aku mengecup jari-jarinya ketika dia menyentuh bibirku.
"Aku tidak bisa hidup tanpamu, Sayang. Maafkan aku yang selalu menyakitimu!"
Matanya terlihat tulus ketika berkata.
"Maafkan aku juga. Aku selalu meragukan rasa cintamu. Dosaku terlalu banyak. Maafkan aku!"
Dia menarikku dalam pelukan. Sedangkan, aku menyandarkan kepala di dada bidangnya. "Jangan berkata seperti itu!" jawabnya sembari mengecup dahiku.
Ku usap dadanya yang masih terbalut kain hitam yang terbuat dari bahan kulit halus. Dia mengangguk seraya mengecup dahiku. "Aku sangat beruntung memilikimu, Sayang!"
"Begitupun, denganku!"
Cup!
Aku mengecup lembut dadanya sembari membuka retsleting bajunya. Pemandangan indah tampak di depan mata, bulu-bulu halus menghiasai dada bidangnya.
"Bolehkah aku menciuminya?" tanyaku padanya. Dadanya terlihat naik turun, napas yang tadi berhembus teratur kini berganti dengan napas yang menderu.
"Dengan senang hati, My Lady!"
Lenguhan dan ******* terdengar indah. Mengalun seiring sentuhanku di sekitar dada dan perut sixpack-nya.
"Oh, Honey! This awesome, i can't stop! Do it's, My Bicht!"
Mendengar kata-katanya aku semakin tertantang untuk melahapnya. Napas kami kian menderu.
Tanpa berkata lagi dia sudah menguasai tubuh ini. Sesekali aku meringis kesakitan karena dia terlalu menekan dadaku. Aku menahan rasa sakit untuk menikmati kebersamaan. Aku tidak ingin mengecewakannya. "Oh, Honey! Aku tidak tahan!"
"Teruskan!" Aku berkata pendek seraya menatap matanya.
"Sayang! Aku akan melakukannya dengan cepat! Aku takut para petugas datang ke ruangan ini!"
Aku mengangguk sembari menikmati lidahnya yang terus bermain di area sensitifku.
"Aku suka ... aku menyukainya, Alucard sayang!" Aku berkata pelan karena takut terdengar oleh para Elf.
"Aku juga! Aku menyukai semua yang ada di tubuhmu, Sayang!" Dia mengangkat kepalanya sebentar kemudian sibuk lagi memainkan sesuatu yang membuat diri ini bergetar alami.
"Kamu sudah basah, Sayang. Curang kamu!" Lucas tersenyum sembari mengangkat tubuhnya.
Kini, dia siap menghentakkan miliknya. Aku bersiap menikmati semua gerakannya. Momen ini lah yang selalu aku rindukan. Saat dia, tersenyum puas. Walaupun, peluh membasahi tubuh tapi tidak menjadi masalah untuk kami.
"Ahh ... Alucard!" Permainannya benar-benar membuatku tak bisa menahan rasa. Bergejolak namun menenangkan.
"Yes, Honey! Apa kamu menyukainya?"
Aku mengangguk seraya menutup mulutku yang terus memaksa mengeluarkan kata *******.
Senyumannya makin mengembang. Sekarang dia mengungkung tubuhku tanpa melepaskan penyatuan kami. Satu gigitan kecil di dada tidak membuatku menjerit, biarlah rasa sakit ini menjadi kenikmatan untuk kami berdua.
Napas yang tadi memburu kini mulai turun setelah dia mengeluarkan cairan kenikmatan. Kini, dia berbaring di sebelahku.
"Thanks, Sayang. Malam ini adalah malam terindah. Aku akan berusaha mendamaikakan kamu dengannya!" Dia bangkit.
Dia segera mencari pakaianku yang tadi dilempar sembarang. Netraku terus memperhatikan gerak geriknya dalam kegelapan.
Dia mendekat sembari menenteng pakaianku. "Pakailah!"
Alucard segera memakai pakaian setelah dia membersikan sisa-sisa pelepasan kami.
Aku tertegun melihat dia yang bisa memakai baju dengan cepat. Kemudian dia menutup kembali wajahnya.
"Sayang! Apa kamu bisa ke kamar mandi sendiri?"
"Aku bisa sendiri Jangan pikirkan!"
Alucard menempelkan bibirnya di balik topeng tepat tepat di dahiku. "Love you, Miya Shuzuhime!" Dia bergegas mendekati jendela.
Aku sangat berharap dia baik-baik saja terlebih lagi, sekarang penjagaan diperketat setelah kejadian kemarin. Aku tidak mau karena kerinduan kami malah membawa petaka untuknya. Aku tidak mau kalau nantinya dia harus keluar dari sini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sedihnya aku ketika dia tidak lagi bersamaku. Tidak, tidak kejadian pahit bersama Zii tidak boleh terjadi lagi.
Aku berlari menuju jendela untuk memastikan dia baik-baik saja. Namun, mata ini malah terbelalak ketika aku melihat Alucard ditarik oleh dua orang Elf. Aku yakin mereka suruhan Moon God. Sebenarnya aku ingin pergi menemuinya, namun pada jam segini kami tidak diperbolehkan untuk keluar rumah. Aku berharap Alucard baik-baik saja.