
Aku melihat monster itu berlari mendekat, seakan kami adalah buruan yang akan menjadi santapan. Mereka membawa senjata yang sangat panjang berbentuk tombak dan kapak. Dengan gerak cepat, mereka berlari sembari mengusung senjata-senjatanya. Gigi taringnya terlihat tajam, aku bisa membayangkan ketika daging terkoyak. Seakan seluruh kekuatan mereka keluarkannuntuk menyerang kami.
"Miya, bersiaplah! Siapkan panahmu serang ke arah musuh, jangan sampai lengah ataupun kehilangan fokus. Serang mereka tanpa ragu dan takut." Dia berbalik menatapku kemudian berkata lagi, "aku akan menyerang monster dari arah depan. Bergeraklah!" Seru alucard sembari memainkan pedangnya.
Aku melihat lagi monster itu bergerak cepat dan begitupun denganku. Aku melesatkan beberapa anak panah pada mereka. Walaupun, anak panah tertancap di tubuh mereka, tapi mereka begitu kuat.
"Miya, jangan lengah tetap fokus. Kita harus mengalahkan monster-monster ini. Kita tidak tahu berapa jumlah monster yang ada di hutan ini. Tetapi, setidaknya kita harus bertahan sampai monster-monster itu hilang dari pandangan. Kamu harus kuat, Miya."
"Sudah aku katakan aku itu seorang elf yang tidak pernah menyerah bagaimanapun kondisinya. Aku akan mengalahkan monster itu sampai membawanya pada kematian." Aku berseru padanya yang terkesan terlalu mengkhawatirkan kondisiku.
Saat ini, aku melihat monster itu lemah tak berdaya. Sungguh hati ini bergembira karena akhirnya kami bisa keluar dari hutan ini tanpa adanya gangguan lagi. Aku membalikkan tubuh dan tersenyum pada Alucard seraya berkata,"Alucard, kita berhasil. Aku tidak percaya kalau kita mengalahkan banyak monster hari ini!" Aku berkata padanya dengan wajah sumringah.
"Miyaaaa! Awas di belakangmu mereka akan menyerangmu!" Dia berteriak. Aku terkejut mendengar teriakannya. Segera kubalikkan tubuh untuk melihat ke belakang ternyata benar saja monster yang tadi sudah tak berdaya kini hidup kembali. Mereka seakan tidak pernah terluka oleh panahku.
Aku mulai terdesak. Namun, dia berdiri di depanku sebagai tameng dari monster. Dia mengayunkan pedangnya tanpa ampun ke arah monster-monster yang tengah mendekat. Pedangnya begitu kuat sampai sabetannya bisa mengalahkan monster-monster yang tadi menjadi kuat kembali. "Aku 'kan sudah bilang jangan mencampuri urusanku, dan yang aku takutkan terjadi!" Dia berseloroh. Aku hanya terdiam tanpa mengucapkan kata apapun.
Kemarin aku merasa Alucard sudah menyukaiku. Namun, sekarang dia sama sekali tidak mempedulikan keberadaanku. Apabila Zilong ada dalam situasi seperti ini, dia akan senantiasa memberikan aku arahan agar ikut membantunya dalam pertempuran. Aku tidak tahu kenapa Alucard bersikukuh agar aku tidak ikut melawan monster-monster padahal yang aku tahu, apabila dia melawan sendiri itu akan membuat dia kewalahan.
"Datanglah padaku maka kau akan mati!" Alucard berteriak sembari berlari dan mengayunkan pedangnya. Beberapa kali dia menebas leher monster satu persatu. Walaupun, dia membuatku terpesona dengan gerakannya tapi aku masih tidak suka dengan sikapnya. Dia terlalu sombong, apa dia tidak tahu kalau aku bisa membantunya. Apa karena dia menganggapku sebagai perempuan. Entahlah aku tidak ingin membicarakannya ataupu memikirkan hal itu, yang terpenting aku bisa lolos dari hutan ini.
Beberapa monster telah dikalahkan olehnya. Sedangkan, tiga monster mendekat, aku berkata, "meyerahlah atau kami akan menghabisi kalian dan mengerahkan semuan kekuatanku!" Aku mengertak mereka agar mereka takut. Kemudian, aku melesatkan panahku pada monster-monster itu sampai mereka ak berdaya. Aku berharap jangan sampai kejadian tadi terulang. Aku melesatkan anak panah ke arah jantung monster-monster tersebut sampai mereka benar-benar terkapar dan mati. Aku terengah ketika darah mulai membasahi kaki.
Pertempuran dengan monster cukup menguras energi. Sejujurnya, saat ini tubuhku semakin melemah. Aku pun mengakui apa yang dikatakan olehnya memang benar adanya, lebih baik tidak ikut bertarung. Walaupun, sikapnya dingin tapi dia sangat memperhatikan kondisi tubuhku yang tidak bisa melawan dengan kekuatan maksimal.
"Sebaiknya kita bergegas meninggalkan hutan ini. Aku tidak mau kalau nanti kita akan bertemu dengan monster yang lebih banyak, dan asal kamu ingat monster yang seperti ini hanyalah prajuritnya saja. Jangan sampai kondisimu yang tengah lelah seperti ini, bertemu dengan raja. Asal kamu tahu, dia sangat sulit untuk dikalahkan. Apalagi kondisi kita seperti ini. Kondisi kita benar-benar tidak maksimal sebaiknya kita segera bergerak Apa kamu masih kuat untuk berjalan, Miya!" aku menggangguk ketika dia bertanya seperti itu. Padahal kondisiku benar-benar rapuh saat ini. Aku sangat merindukan kasur empuk dan merebahkan badan di atasnya. Sendi-sendiku terlalu rapuh untuk digerakkan tapi aku harus memaksakan diri agar tidak bertemu dengan hal yang tidak diinginkan.
Ketika langkahku mulai goyah, tanpa diminta alucard menggendong. Dia bergerak cepat, aku hanya bisa melihatnya dalam kesunyian. Kini, tak ada suara dari bibir kami. Dia terus bergerak cepat, matanya menatap ke depan seperti mencari celah untuk keluar dari hutan ini. Kami terus berjalan menyusuri hutan, sampai pada akhirnya dia menghentikan gerakannya. Karena penasaran aku memberanikan diri bertanya kepadanya," kenapa berhenti di sini?"tanya aku pendek saja.
"Diam, jangan bergerak dan jangan berkata! Aku mencium bau monster. Jangan sampai mereka tahu keberadaan kita!" dia berbisik di samping. Aku tahu dia memberikan peringatan. Berarti ada hal sangat membahayakan kita berdua. Aku terdiam dalam pangkuannya.
"Di mana mereka, kita harus menemukannya. Kalian harus mencari mereka kalau tidak ... kalian yang akan menanggung semua resikonya. Kalian tahu apa yang akan terjadi, apabila Raja kita marah!"
Aku mendengar samar apa yang mereka katakan. Aku yakin Alucard pun mendengar obrolan monster. Kami diam dalam senyap, nafas kami seakan berhenti untuk menghembus. Aku tahu dia melakukan ini bukan karena dia pengecut tapi mengingat kondisi kami yang tengah tidak baik-baik saja.
"Periksa bagian sebelah barat hutan ini dan kamu periksa bagian sebelah timur. Aku yakin mereka masih ada di sini. Kita harus mendapatkan mereka karena itulah satu-satunya jalan menuju balas dendam dan kebebasan kita. Bergeraklah!"
"Baik, kami akan melaksanakan karena kami yakin musuh masih ada di sekitar sini, aku sangat yakin karena tadi aku sudah melihat mereka dalam kondisi kelelahan dan kelaparan!"
Monster yang tadi memerintahkan untuk mencari kami setelah mendengar hal itu dia mengangguk-ngangguk seraya mendekat pada monster yang tengah memberi informasi. Dia berkata lagi, "itu akan menjadi bagian kita, aku akan sangat senang apabila mereka tertangkap, karena mereka yang akan menjadikan kita lebih kuat dan setelah mereka tertangkap, kita akan hidup bebas. "
Aku takut ketika mendengar percakapan monster-monster itu. Aku yakin inilah yang dimaksudkan Alucard agar aku segera melarikan diri karena setelah mereka tahu kalau monster-monster itu dikalahkan mereka akan mencari dan membalas dendam. Aku berharap tidak ada apa-apa yang menimpa kami. Aku masih menatap wajahnya dalam kecemasan. Namun, berbeda dengannya, dia menatap tajam pada monster-monster yang telah berjajar dan bergerak mengintai kami.