Miya Alucard

Miya Alucard
Semua Berubah Dalam Sekejap



"Kamu tau, Miya. Dia memakiku ketika aku mempertanyakan perihal kejelasan hubungan kami berdua. Saat itu, sungguh aku sangat kesal. Kenapa dia datang seperti membawa air ketika aku dahaga, namun setelah aku meminum air itu dan bahagia dengan perlakuannya. Tiba-tiba dia berubah, dia mencampakkanku layaknya sampah yang menjijikkan! Aku ingin dia mati, Miya. Tapi, aku tidak bisa melakukannya, rasa bahagia bersamanya telah berubah menjadi cinta. Padahal sihirku bisa melenyapkannya dalam sekejap!" tandas Nana. Tangannya mengepal seperti menahan amarah yang semakin membuncah.


Dalam hati terus bertanya-tanya, 'siapa yang sudah membuat saudaraku seperti ini.' Kemudian aku menarik tubuhnya dalam pelukan, "tetaplah menjadi Nana yang ceria. Hapuslah luka hari ini dengan senyuman yang terkembang dari bibirmu. Biarkan semua ingatan tentangnya hilang tanpa kamu paksakan. Sayangi dirimu, jangan mudah patah!" saranku pada Nana. Dia mengangguk dua kali ketika aku berbicara. Entahlah apakah dia mengerti atau tidak, karena aku yakin seiring waktu dia bisa menyembuhkan dirinya sendiri.


"Miya, apa aku seperti anak kecil. Kalau aku menangis seperti ini?" tanyanya lagi.


Aku menggelengkan kepala seraya menatapnya. "Tidak, kamu tidak seperti anak kecil. Bahkan laki-laki pun berhak untuk menangis. Menangislah, biarkan semua luka yang kamu rasa dalam hati, keluar seiring bulir bening yang keluar dari matamu!" Ku belai lembut rambutnya yang sedikit berantakan.


Dia masih saja terdiam di dekapanku. "Miya, semoga aku bisa menemukan pria sebaik Alucard. Aku yakin kamu pun akan menyetujuinya." Keinganannya membuat mata ini tak tahan untuk tidak mengeluarkan air mata. Apabila mengenang sosok Alucard, hatiku seakan dihantam batu besar.


Lelehan air mata keluar lagi. Aku malah terisak sembari menatap perapian. Entah bagaimana kondisi Alucard sekarang ini. Walaupun, aku sangat mengkhawatirkan kondisinya, tapi aku tidak mau dia terluka lagi hanya karena kedatanganku. Biarlah dia bersama Moon God, mungkin apabila dia bersamanya akan jauh lebih baik.


"Miya, kenapa kamu menangis? Apa karena ceritaku, sampai kamu mengeluarkan air mata seperti itu. Maafkan aku, Miya. Aku tidak bermaksud membuatmu terluka!" pintanya.


Setelah berkata dia bangkit dari pelukkan. Kemudian duduk di depanku, matanya tajam menatap. "Aku tidak ingin melihat matamu mengeluarkan air mata. Apalagi hanya untuk seorang teman sepertiku!" Lagi-lagi perkataannya membuat hati terdesak.


"Bukan, air mata ini keluar karena ada hewan kecil masuk ke dalamnya. Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Apa kamu mau bercerita lagi!" Tawarku untuk menutupi semua masalah yang tengah terjadi. "Tidurlah, Nana. Pasti kamu lelah. Tidurlah di kamar sebelah!"


Nana masih saja menatapku penuh curiga. "Ceritakan apa yang terjadi, aku tahu kamu, Miya. Kamu selalu berpura-pura kuat ketika ada masalah. Padahal kamu tengah menahan rasa sakit!" ucapan Nana membuatku tertegun.


Mungkin, benar adanya ketika aku tengah ada masalah, aku lebih memilih diam. Namun, untuk saat ini sangatlah tidak mungkin aku meminta saran atau memintanya untuk mendengar semua kekecewaanku pada Moon God. Sedangkan, dia pun mempunyai masalah yang belum terpecahkan.


"Tidurlah! Kita masih punya hari lain untuk membicarakan hal ini. Tenang saja, aku tidak apa-apa!" Jawabku sembari menarik satu garis senyuman yang dipaksakan.


Akan tetapi, bukanlah Nana kalau belum bisa mengungkap satu permasalahan. Dia masih saja menatapku. Sekarang malahan aku yang jadi salah tingkah karena tatapannya.


"Bicaralah! Atau aku tidak akan memejamkan mata sampai kamu berkata yang sebenarnya. Aku yakin, pasti ada hal yang kamu tutupi?"


Aku tidak tahu apakah harus berkata padanya. Aku takut dia terbawa emosi dan pada akhirnya menyerang Moon God. Aku sangat hapal bagaimana kondisi hati Nana. Dia mudah terpancing dalam kemarahan. Itulah yang jadi bahan pertimbanganku untuk menyembunyikan semua cerita Alucard dalam hati saja. "Jangan khawatir. Ini hanya masalah kecil. Justru, masalah yang kamu rasakan jauh lebih menyakitkan. Aku bangga, sekarang kamu lebih dewasa dalam menyikapi satu masalah!" Jelasku sembari meraih gelas yang telah berubah hangat. Aku menyeruput minuman yang lebih enak apabila diminum ketika masih panas.


"Jangan mengalihkan pembicaraan, Miya. Aku yakin sekarang hatimu tengah ada dalam dilema," Selorohnya. Dia pun menyeruput minumannya lagi. "Beginilah cerita kita, bagai minuman ini. Ketika masih panas rasanya nikmat, namun setelah berubah menjadi dingin ini tidak nikmat lagi. Begitu pun dengan laki-laki yang dekat denganku, lama kelamaan dia membiarkanku untuk mencari pasangan baru. Apa Alucard seperti minuman ini?" tanya Nana seraya menegak habis minuman yang pasti sudah dingin.


"Nope. Dia berbeda dengan kekasihmu. Dia tidak pernah menyakiti dan dia selalu menjaga cinta kami dalam kehangatan." Setelah berkata aku pun menyeruput minuman sampai habis. Kini, terlihat dalam gelas kami berdua, sisa-sisa dedak dari rempah-rempah.


"Apa maksudmu? Kenapa kamu berkata seperti itu?!" Suaraku meninggi karena tidak mengerti akan pembicaraannya.


"Aku akan bersikap sama sepertimu, tetap diam dan tidak menceritakan apa yang tengah membebaniku. Padahal aku sudah menganggapmu sebagai sahabat dan mungkin lebih dari itu!" Dia bangkit berdiri meninggalkanku.


"Maafkan aku!" Aku memohon untuk menghindari kemarahannya.


"Untuk apa kamu meminta maaf padaku. Kamu tidak salah apa-apa, aku yang seharusnya tau diri. Karena kamu tidak mengganggapku sebagai saudaranmu!" Dia merajuk.


Aku segara menyusulnya untuk berdiri. Setelah kami sejajar, aku tersenyum di balik punggungnya. "Apa kamu tengah merajuk pada saudara kesayanganmu?" tanyaku sembari membalikkan tubuhnya.


Walaupun, posisi kami sudah berhadapan tetap saja dia menghindari bertatapan denganku. Sembari mengacak rambutnya, aku berkata,"baiklah saudaraku. Aku akan menceritakan semua yang terjadi antara aku, Alucard dan Moon God,"


"Aku makin tak mengerti, apa hubungannya dengan Moon God?" Sekarang dia membalikkan wajah sampai matanya menatap, seperti tak percaya akan perkataanku.


"Banyak hal yang akan sulit kamu terima. Aku harap, kamu tidak marah ketika mendengar hal yang sebenarnya," jawabku.


Dia mengernyitkan dahi. "Marah! Kenapa aku harus marah? Tapi, kalau itu permintaanmu, aku akan menahannya. Walaupun, aku akan mendengar hal yang tidak bisa di terima oleh akal dan rasaku!"


Aku menarik tangan Nana, menuju kursi yang cukup untuk dua orang. Setelah duduk, aku menarik napas panjang, berharap bisa berkata tanpa tangisan.


Setelah dirasa siap, aku berkata padanya, "Moon God menginginkan Alucard!" pendek saja aku memberitahukan padanya.


"Apa? Apa aku tidak salah dengar? Tidak ... ini tidak mungkin. Dan aku tidak bisa mempercayainya begitu saja. Jangan mengada-ada, Miya. Jangan bercanda!" Dia masih tidak percaya pada kejujuranku.


"Bukankah, tadi kamu menyuruhku untuk mengatakan hal yang sebenarnya! Selama ini, apakah aku pernah membohongimu?" Tegasku. Aku tidak mau dianggap berbicara tidak benar, padahal hal itulah yang terjadi.


Nana menggeser posisi duduknya jadi lebih mendekat, "aku sangat mempercayaimu. Tapi, aku tidak menyangka akan semua hal yang terjadi. Kenapa Moon God malah menginginkan Alucard? Jangan-jangan, dia juga menginginkan Zilong?!"


Apakah aku harus menjawab semua pertanyaannya? Karena banyak hal yang harus aku sembunyikan. Aku takut dia akan menyalahkan satu pihak saja dan berakhir pada perselisihan. Semoga dia bisa mengerti posisiku saat ini dan tidak memperkeruh keadaan.