
Aku masih saja bersimpuh tanpa menundukkan wajah. Aku terus mendongkak mengawasi pergerakan sang Ratu yang belum melepaskan Zilong. Kini, kilatan api itu seperti ditarik oleh sang Ratu. Benar saja, setelah Zilong ada di sampingnya. Sang Ratu melepaskan lilitan api, entah apa yang dilakukannya padanya. Aku hanya berharap dia tidak menyentuh atau melenyapkannya.
"Berikan aku sentuhan yang membuatku terbuai seperti kemarin malam, kekasih hatiku!" pinta sang Ratu.
Aku yang masih mendongkak, seketika bagai disambar ribuan petir. Apa aku tidak salah dengar. "Kekasih? Kenapa Ratu itu menyebutmu kekasih hati ... apa yang terjadi?" Keadaan semakin kacau ketika aku melihat sendiri bagaimana Zilong menarik pinggang sang Ratu kemudian memagut bibirnya begitu dalam.
Air mata yang keluar sudah tidak terhitung lagi, aku merasa semakin lemah. Aku semakin tidak mengerti, kenapa begitu cepat dia berpaling. Apa salahku?
"Zilong!" Aku berteriak sembari meremas dada. Sakit yang kini aku rasakan. Aku berharap masih ada rasa cinta dalam hatinya. Namun, dia seakan tidak mendengar suaraku yang semakin lirih.
"Lihat dia, Sayang! Dia sudah berani mengakuimu sebagai kekasihnya. Sampai rela bersimpuh untukmu, wanita murahan. Apa tidak lagi harga diri dari seorang wanita? Hahahha!" ejek sang Ratu sembari memincingkan matanya.
Apa yang terjadi?
"Zilong, apa yang terjadi? Semudah itukah kamu menghilangkan segala hal indah diantara kita?" tanyaku. Saat ini, aku benar-benar hancur. Apa yang dikatakan oleh sang Ratu mungkin benar. Aku seorang wanita yang tak berharga, aku rela bersimpuh hanya untuk memperjuangkan pria yang tak mempedulikan keberadaanku.
Zilong menatapku dengan tatapan tajam. "Bangunlah! Aku tidak mengenalimu sama sekali. Siapa kamu? Kita tidak pernah bertemu sebelumnya, tapi kamu sudah mempermalukan dirimu sendiri!" Dia menghardikku.
Setelah dia berkata seperti itu, aku tak bisa membuka mulut untuk menimpalinya. Terlalu sakit, sampai napas ini seakan berhenti untuk sesaat.
"Miya, bangunlah! Sadarlah, dia bukan lagi Zilong milik kita. Kamu bisa lihat sendiri mana yang setia pada Moon elf dan mana yang jadi Pengkhianat! Mereka sama saja, Miya. Jangan jadi pengecut!" Suara Nana terdengar begitu jelas di sampingku. Aku merasakan tangannya membimbing supaya aku berdiri.
"Jaga perkataanmu, gadis kecil!" Malahan sekarang Selena ikut berteriak seperti sengaja memperkeruh keadaan. Refleks aku mengalihkan pandangan padanya. Dia mengarahkan senjatanya pada kami. Aku merangkul Nana agar tak terkena kilatan yang bisa melumpuhkan semua sendi.
"Menjauh!" Seru Alucard sembari merangkul kami berdua. Mata ini terkejut ketika Alucard menjadikan tubuhnya sebagai pelindung dari serangan Selena. Aku tidak percaya dia membiarkan dirinya terluka hanya untuk melindungi kami berdua.
Dia tersenyum tipis ketika punggungnya dipenuhi api yang membakar. Nana segera mengeluarkan sihirnya kemudian menyimpan tangannya di atas punggung Alucard. Tak membutuhkan waktu lama, api yang ada di punggung Alucard mati dengan sendirinya. Setelahnya, dia berdiri kemudian mengeluarkan Molina dan melemparkan boomerang ke arah musuh.
"Terima kasih!" Aku berkata pada Alucard sembari berdiri dan segera melangakah cepat untuk membantu Nana. Luka dalam hati ini, aku simpan dulu. Aku harus tetap kuat untuk melawan segala kejahatan yang tak termaafkan.
Kami saling melemparkan sihir dan kekuatan. Aku tidak peduli lagi, apakah anak panah ini akan melukai orang-orang yang dulu aku sayangi. Biarkan Moon God yang menilai itu semua, untuk sekarang ini hanya logikaku yang berbicara.
MELAWANLAH!!!
"Tak ada celah untuk kalian bisa merobohkan kekuatan kami!" Aku berkata lagi seraya menatap tajam pada mereka yang tak memiliki kesetiaan. Anak panah terus aku lesatkan untuk melawan semua serangan.
Begitupun, dengan Nana tanpa ragu dan rasa takut, dia terus melawan Selena dan Karina. Aku sangat berbangga padanya. Kini, aku melihat Karina mulai diam tak mampu bergerak karena ulah Molina. Sedangkan, Selena seperti tidak mau menyerah menghadapi serangan Nana.
"I am the moon light that breaks the darkness, you can’t run from my arrow! Aku adalah cahaya bulan yang menembus kegelapan, kalian tidak bisa lari dari panahku!" ucapku lantang sembari membidik kedua musuh. Satu anak panah bisa membelah sembari mengeluarkan cahaya yang mematikan.
Aku melihat Zilong terkena anak panah yang datang dari belakang, sepertinya dia terlambat mengayunkan tombak. "Maafkan aku!" Aku berkata pelan, sebenarnya aku tidak sanggup melihat dia terluka, tapi sekarang semua telah berubah. Aku tidak ingin larut dalam rasa cinta yang memberikan luka yang teramat dalam.
Dyrroth maju ke depan, sepertinya dia akan menghalangi pergerakan dari panah yang terus menembus dinding pertahanan mereka. Dia melemparkan senjata yang ada di pergelangan tangannya. Aku bersiap untuk membidik kembali anak panah.
Cring!
Tiba-tiba Alucard datang menangkis senjata Dyrroth dengan pedangnya. "Ini bagianku, aku harus menghancurkan mereka!" tegas Alucard yang telah berdiri di sampingku, namun matanya tak menolehku sama sekali. Dia masih saja bersikap dingin, tapi hal ini tidak membuatku membencinya karena sekarang dia ada di pihak kami.
"Hentikan!"
Di tengah pertempuran, suara sang Ratu bisa membuat semuanya terdiam termasuk aku yang akan membidik kembali.
"Mendekatlah, wahai pengikutku!" Tanpa pikir panjang mereka segera menghampirinya, bagai sapi yang telah dicocok.
Ingin rasanya aku menarik tangan Zilong ketika langkah cepatnya menuju sang Ratu. Aku tidak tahu, apakah teman dan kekasihku ada dalam pengaruh sihir sang Ratu atau mereka memang pengkhianat yang sesungguhnya.
"Dengar, Miya! Aku adalah Kadita—Ratu yang menguasai seluruh lautan. Untuk kali ini, aku tidak akan menyerangmu sampai mati. Tapi, ingatlah jangan pernah mencari kekasihmu karena sekarang dia adalah penjaga sekaligus pemuas hasratku!" tegas Kadita yang baru saja memperkenalkan dirinya.
Dia menghentakkan senjata yang mirip seperti tombak. Setelahnya, tanah yang kupijak kini bergerak dan bergetar tak beraturan. Angin kencang terus meniup pepohonan seakan-akan ingin mencabutnya. Langit biru dan awan putih berubah menjadi hitam kelam seperti akan memuntahkan isinya. Air laut yang tadinya tenang berubah menakutkan, suara dari gulungan ombak makin mengerutkan jiwa. Beberapa kali petir yang begitu besar menghantam tempat kami berdiri. Kami bersyukur masih bisa menghindarinya. Air laut yang terus bergulung sekarang mengusai kami, seolah menjadi dinding pembatas diantara kami.
Perlahan sang Ratu dan yang lainnya termasuk Zilong masuk ke dalam pusaran air. Mata ini seakan terhipnotis tanpa berkedip sedikitpun. Aku hanya mengangkat satu tangan, ketika tubuhnya makin tak terlihat.
"Zilong ... jangan pergi!"
Brugh!
Kini aku menjatuhkan diri di atas pasir pantai yang masih diterpa angin. Aku kalah, aku menyerah pasrah dengan segala yang terjadi. Kenapa harus seperti ini. Apa rasa cintamu sudah hilang hanya karena pertemuan sesaat dengan Kadita. Bagaimana aku bisa menjalani hidup tanpa kamu Zilong. Aku menangis tersedu, seiring kilat yang masih terdengar. Angin kencang menerpa tubuh yang tengah kecewa ini.
Perlahan aku berdiri kemudian mengarahkan busur panah kelautan. "Pengkhianat! Kenapa aku harus mencintaimu Zilong?!" Ku menangis sembari melesakan panah ke lautan. "Ini menyakitkan ... kamu tega berpaling begitu cepat. Apakah aku harus masuk ke dalam lautan agar kamu kembali dalam pelukanku? Aku lemah tanpamu!" Tanpa sadar kaki ini terus membimbing menuju lautan yang masih bergejolak. "Aku harus menemuimu. Jangan pergi Zilong. Don't go!"
Plak!
"Gadis bodoh, apa yang akan kamu lakukan!"