Miya Alucard

Miya Alucard
Aku Mulai Menyukainya



"Sudah sudah kalian ini seperti anak kecil, aku yang masih kecil aja nggak pernah bertengkar, sedangkan kalian sudah dewasa malahan bertengkar di depan aku yang masih kecil. Sudahlah sebaiknya kita pergi secepatnya dari sini, aku takut akan banyak monster di malam hari!" Mendengar Nana berkata seperti itu, aku menunggu persetujuannya untuk bergerak meninggalkan hutan.


Namun, Nana malah mencandai kami. Dia datang, "kalian seharusnya hidup bersama. Kalian jangan bertengkar, tau tidak kalian itu audah satu hati."


"Kenapa aku?" Aku melirik pada anak ini. Kenapa Nana berkata seperti itu, bukankah dia tahu kalau aku itu bukan kekasihnya. Dia malahan seperti menyetujui hubunganku bersama Alucard.


***


"Kalian mau ke mana? Ini wilayah kami. Kenapa kalian ada di sini!" gertak dua makhluk bersayap.


"Jangan halangi langkah kami karena kami hanya ingin menjauh dari tempat ini. Atau kami akan menyerangmu tanpa ampun!" Alucard menggertak monster itu.


Namun, berbeda dengan monster itu dia terlihat tidak suka dengan gertakannya. Mereka langsung mengarahkan senjatanya padanya. Sebagai Hero pemburu dan pelindung kami. Dia sangat tahu apa yang harus dilakukan, dia maju ke depan dengan mengarahkan pedangnya.


"Aku akan bertarung dengan kalian sampai kalian mati!" Ketika Alucard menyerang monster dengan mata yang begitu menakutkan.


Monster itu berkata, "aku tidak takut denganmu karena aku tahu kamu bukanlah seorang pemburu yang kuat!" Monster malah mengejeknya.


Alucard, kembali berkata, "Oh, baiklah kalau itu yang kamu inginkan aku akan melayanimu sampai kamu mati!" Aku tahu, dia hanya menimpali ejekan.


Monster itu kembali menyeringai dan tertawa dia melirik pada monster yang lebih kecil di sampingnya, "hai, saudaraku! Apa kamu dengar perkataannya. Dia sangat merendahkan kita!" Monster yang ada di pinggirnya kemudian berjalan dengan angkuh. Dia memperlihatkan kekuatannya dan sihirnya.


"Dia tidak bisa melawan kita! Paling-paling akn berakhir sama dengan hero yang lainnya, ketika dia bisa mengalahkan kami. Dia akan pergi atau mereka sendiri yang akan kalah di tangan kita! Hahaha!" Mereka tertawa terbahak seolah benar-benar mengejek kekuatan kami.


Mendengar ejekan dua monster ini, aku dan Nana mengepalkan tangan, ada rasa marah dalam hati, tapi aku tidak ingin memperlihatkannya. Karena ketika kita terpancing dalam kondisi marah. Justru itu yang akan membuat kita kalah dan sia-sia. Aku terdiam menunggu apa yang akan dilakukan oleh Alucard


Benar saja dia mendekatiku. "Miya, aku yakin kamu bisa mengalahkan. Bersiaplah di tempatmu dan untuk kamu Nana, aku yakin bersama Molinamu, kita bisa mengalahkan monster ini dalam sekejap. Jangan sampai kita menghamburkan waktu kita, hanya untuk kedua monster ini. Apa kalian sanggup?"


Aku mengangguk menimpali perkataannua. "baiklah kalau kamu memerintahkan kami seperti ini, aku akan bersiap begitupun dengan Nana. Apa kamu setuju?" aku bertanya pada Nana.


Nana tersenyum, "aku sangat menyetujui yang diperintahkan oleh Alucard. aku akan mengeluarkan Molina sampai mereka tidak merasakan gerakkan sama sekali. Ini adalah kesempatan kita untuk menyerangnya sampai mereka mati!"


Alucard mengangguk dan berjalan ke depan. Dia memainkan dan mengarahkan pedangnya beberapa kali. Monster itu masih saja tangguh, aku segera melesatkan anak panah agar kami tidak kehilangan banyak waktu untuk bertarung dengan Monster ini. Aku harap monster ini cepat dikalahkan agar kami cepat sampai di tempat yang aman..


Molina berlari mendekati dua monster ini kemudian dia meloncat ke arah mereka, benar saja setelah Molina meloncat mereka tidak bisa bergerak sama sekali. Ini kesempatan kami untuk menyerangnya. Sekarang Monster itu tidak berdaya, dan kami menyerangnya.


"Cepatlah! Cepat bergerak, aku tidak ingin langkah kita terhalang oleh Monster kecil seperti tadi!" Dia terus berbicara. "Gerakan langkahmu! Walaupun, aku tahu saat ini kamu telah lelah!"


Molina mendahului kami untuk mencari jalan keluar dari gerbang hutan ini. Tidak lama kami telah keluar dari hutan ini. Aku melihat dari kejauhan bangsa Moon Elf.


"Nana, aku sangat berterima kasih padamu. Aku tidak bisa membayangkan kalau kamu tidak ada, mungkin aku tidak akan bisa kembali lagi. Mungkin saja, aku sudah mati dimakan monster!" Aku tersenyum pada Nana.


Namun, Nana malah memberi kode padaku dengan dahunya menunjuk ke arah Alucard yang tengah membelakangiku. Aku mengerti mungkin dia tidak senang dengan perkataku yang hanya memberikan pujian pada Nana.


Aku berdiri untuk mendekat padanya, kemudian merangkulnya dari belakang dan menempelkan kepala di punggungnya. "Terima kasih karena kamu selalu menjadi pahlawan. Aku sangat terima kasih, aku tidak tahu kalau tidak ada kamu bagaimana kondisiku!" aku mengulang perkataan kepadanya dan dia pun menyadarinya.


"Kenapa kamu memelukku, kalau perkataanmu sama? Jangan berbasa-basi denganku, kamu tahu sendiri 'kan, kalau aku tidak suka bersama orang yang hanya mengucap tanpa bisa merasa!"


Dia melepaskan tanganku dari pinggangnya, kemudian berjalan mendahului dengan gerak cepat. Aku tertunduk, namun dalam hati ini kenapa seperti ditusuk oleh ribuan anak panah. Kenapa sesakit ini ketika aku mendengar perkataannya. Kenapa aku hancur ketika dia berkata.


Nana seperti mengerti kondisiku, dia merangkulku, "sudah, Miya! Jangan terlalu dipikirkan, apa yang dikatakan olehnya. Tetapi ada benarnya perkataanmu tadi tidak ada bedanya. Padahal aku bisa membayangkan bagaimana usahanya dalam pertempuran pasti antara hidup dan mati, hanya untuk membela gadis yang baru dia kenal itu pasti menyakitkan. Kejarlah dia, jangan sampai kamu kehilangan seseorang yang kamu sayangi. Aku tahu Alucard mulai mengisi hatimu, jadi pergilah jangan sampai kamu merasakan rasa kehilangan untuk kedua kalinya! Cepatlah, sebelum dia pergi jauh!" tandas Nana.


Aku tersenyum mendengar seorang Nana yang masih kecil tapi bisa berpikir dewasa. "Apakah aku harus mengajaknya?" tanyaku sembari tersenyum.


"Sudahlah, Miya jangan banyak bercanda itu terserah, bukan urusanku. Urusanku adalah bagaimana caranya aku menyatukan kalian," Kata Nana, aku tersenyum kemudian bergerak untuk menyusul Alucard yang sudah berjalan jauh meninggalkan kami.


"Alucard! Please, aku mohon berhenti jangan melangkah lagi!"


Namun, dia terus melangkah tanpa menolehku sama sekali. Aku berjalan kemudian berdiri di depannya. Tanpa malu aku memeluknya dan menempelkan kepala di dadanya. "Aku mohon jangan pergi! Aku membutuhkanmu!"


Aku sangat berharap dia tersenyum kepadaku dan menerimaku. Namun, tangannya malah mengurai pelukan. "Sudahlah! Jangan memaksakan dirimu, aku mengerti aku bukan makhluk yang kamu cintai. Aku adalah makhluk yang banyak kekurangan berbeda dengan kekasihmu yang sempurna itu!"


Mendengarnya berkata aku memeluknya, "jangan berkata seperti itu. Aku sangat membutuhkanmu ... benar-benar membutuhkan kamu, kalau kamu benar-benar menyukaiku tinggallah bersama kami. Jangan Tinggalkan Aku karena aku menyukaimu!"