
"Apa yang harus ku lakukan, ketika kamu tidak pernah melihatku? Ketika kamu hanya sibuk dengan wanita yang selalu membayangi keberadaan dan tahtaku?!" Moon God meneriaki Alucard, seolah dunia ini milik mereka berdua.
Aku benar-benar tidak menyangka kenapa dia berpikir kalau aku akan merebut kekuasaannya. Tidak pernah terpikir sekalipun dalam benak untuk mengkhianatinya. "Oh, Moon God. Sungguh aku kecewa dengan sikapmu!" Aku masih berkata pelan sembari terus memperhatikan mereka berdua.
Aku melihat Moon God mendekat lagi pada Alucard yang telah berbalik melihatnya. Detak jantung berdetak kencang seiring pergerakan Moon God yang semakin mendekatinya.
"Kenapa kamu masih diam, Alucard? Kenapa matamu tidak pernah tertuju padaku?" Dia berdiri di depan Alucard, sedangkan Alucard bergeming tak membuka bibirnya. Aku semakin penasaran apa yang akan dikatakan olehnya.
Aku mengepalkan tangan, di depan dada yang kian terasa sakit ketika dia menyentuh Moon God dengan jari telunjuk tepat di hatinya.
"Jawabannya ada di sini. Seseorang akan selalu tertuju pada satu hati. Maafkan aku, karena hati ini telah tertuju pada satu gadis dan tidak bisa berubah sampai gadis itu meninggalkanku. Jadi, selama hatinya masih terikat denganku, aku tidak akan tertuju pada yang lain."
Mendengar dia berkata seperti itu, hati yang tadi sakit seolah terganti dengan debaran yang melenakan. "Oh, Alucard. Aku tidak menyangka, kalau kamu begitu tulus mencinta! Semoga aku bisa menghapus semua kenangan bersama Zii. Dan menyambutmu dengan kekuatan cinta hanya untukmu!" Aku berkata pelan sembari tersenyum sendiri.
Kini, ku dongkakkan kepala untuk melihat langit yang tengah cerah bertabur bintang. Malam ini, semesta seperti mewakili segala rasa yang tengah berbunga dengan segala pengakuan kekasihku. Namun, aku juga tidak ingin melihat Moon God terluka. Harapanku adalah dia merestui dan tidak menjadi penghambat kebahagiaan kami berdua.
Setelah melihat ke atas langit, aku melihat ke dalam ruangan lagi. Udara dingin terus menerpa kulit yang terbalut jubah ini, tidak menggoyahkanku untuk beranjak dari tempat ini. Padahal, sedari tadi aku sudah merasakan sakit di sekitar kaki yang terus berdiri memperhatikan mereka berdua.
Namun, kini mataku malah terbelalak karena Moon God ada di dalam pelukan Alucard. Kenapa dia berani memeluknya?
"Jangan berkata seperti itu. Jangan buat aku terluka karena kamu mengacuhkanku. Jangan buat aku menangis karena kamu tidak pernah peduli padaku. Aku rela mencintamu, walaupun harus berbagi dengan Miya. Aku rela jadi orang kedua di hatimu, asalkan kamu memberikan cintamu. Meskipun, nantinya aku hanya akan menjadi tempat pelampiasan!" Dia semakin mengeratkan pelukannya.
Walaupun, aku juga merasakan rasa sakit yang tak tertahan dalam dada tapi aku masih ingin tahu, apakah hati Alucard akan goyah karena perkataan Moon God.
Alucard mencoba melepaskan tangan Moon God. Aku tidak tahu, apakah dia risih dengan pelukan wanita yang selalu aku hormati atau karena rasa cintanya padaku. Akh! Sudahlah jangan terlalu memikirkan apa yang tengah dipikirkan olehnya.
"Jangan merusak atau membohongi diri hanya untuk cinta yang tak terbalas. Aku yakin, kamu bisa hidup tanpa cintaku. Aku tidak ingin menyakiti hatimu dan Miya!" Suaranya terdengar tegas.
"Kenapa kamu terus berbicara seperti itu? Aku muak dengan semua ini ... begitu memuakkan!"
Aku terkejut ketika Moon God mengeluarkan sihir dengan kilatan warna putih bercampur api. 'Apa dia tengah marah? Aku tidak mau dia melukai Alucard,' batinku terus berkata sembari bersiap dengan busur yang aku tarik untuk berjaga-jaga.
Karena khawatir akan kondisi Moon God, aku bergerak cepat masuk ke dalam ruangan. Kini, kabut tebal menutupi jarak pandang, aku tidak bisa melihat mereka berdua.
"Jangan lakukan! Jangan lukai dirimu!" Aku hanya bisa mendengar Alucard berteriak.
"Biarkan sihir ini melukaiku. Sampai aku hilang dari hadapanmu! Lebih baik seperti ini, daripada cintaku tidak pernah berbalas ... lebih baik aku melenyapkan diri dari semesta. Biarkan semua menangis akan kepergianku!"
"Jangan lakukan!"
Dalam cemas aku terus bergerak mendekati sumber suara. Perlahan aku melangkahkan kaki, kini suara Moon God dan Alucard tidak terdengar lagi. Kabut yang tadi menyelimuti perlahan turun. Aku sangat bersyukur, setidaknya aku tahu kalau amarah Moon God telah reda. Walaupun, dia menginginkan cinta Alucard tapi aku tidak ingin melihatnya terluka. Apalagi sampai melukai diri sendiri.
Bayangan kisah lama teringat ketika aku pertama bertemu dengan Moon God. Pada saat itu, terjadi peperangan yang sangat luar biasa antara orc dan monster. Peperangan menyebar luas hingga mendekati desa elf. Para kaum elf tidak bisa tinggal diam, kami kemudian mengumpulkan pasukan untuk ikut berperang. Aku meminpin peperangan yang bertujuan untuk mengusir mereka yang sedang berperang.
Dalam peperangan tersebut terjadi sangat sengit, para elf mengerahkan semua yang terbaik untuk mengusir para orc, hingga jumlah pasukan tak terhitung jumlahnya. Pada saat itu aku terpojok oleh lawan, hingga akhirnya para elf yang tersisa meminta pertolongan pada Moon God, dan terjadilah suatu keajaiban. Dia menjawab doa para elf, hingga memberikan kekuatan yang hebat pada busur milikku. Pada saat itu, aku sangat percaya diri dengan mengambil busur panah dan membidik ke arah pasukan musuh.
Kulepaskan satu panah yang bisa terbang sangat cepat dengan kekuatan yang sangat luar biasa, kekuatan tersebut diisi oleh para bintang. Panahku menjadi sosok Elang yang terbang dengan cepat menusuk ke arah lawan dan menghancurkan mereka.
Setelahnya aku menyelamatkan bangsa elf yang terjebak di dalam kuil bulan, sembari melepaskan anak panah pada lawan yang tengah berperang. Serangan panahku terus mengarah dari udara dengan arah yang cepat.
Saat itu, aku sendiri pun takjub ketika satu anak panah berubah menjadi hujan panah yang mengakibatkan para orc mundur. Aku sangat bersyukur, kami berhasil menyelamatkan desa. Sejak kejadian itu pula Moon God mengangkatku sebagai elang pelindung elf.
Dari pengorbanan Moon God itulah, apapun kesalahannya. Aku akan senantiasa melindunginya, karena dialah dewi penyelamat kami. 'Moon God, aku akan selalu memaafkanmu!' Dalam batin aku berkata. Perlahan kabut itu menghilang. Namun, apa yang terjadi, hati ini seakan tertusuk melihat dua orang yang sangat aku cintai.
"Moon God! Alucard!" Aku berkata lirih.
Kaki yang seharusnya bergerak dari tempat ini. Seolah tak mampu lagi melangkah, seakan ribuan pasak memakunya dalam diam. Debaran jantung, sudah tak terhitung detaknya. Kini, hanya ada rasa sakit ketika mata ini tak berkedip.
Tadinya aku menganggap semesta mendukungku. Namun, kini semesta pun seakan berpaling dariku seiring pemandangan yang tak ingin aku lihat. Kedekatan mereka membuatku terluka. Entah kenapa rasa ini seakan tercabik dan tersayat dengan rasa sakit yang tak tertahan. Apakah aku harus mengucapkan salam perpisahan pada mereka. Supaya mereka hidup bahagia. Kenapa ini terjadi di depan mataku? Baru saja aku menyembuhkan luka dan sekarang harus terluka lagi.
"Miya!"