
"Kenapa kamu berkata seperti itu? Kenapa malah aku yang disalahkan dari semua yang terjadi. Apa kalian tidak tahu rasa kecewa melebihi rasa sakitku? Apa kalian mengira aku tengah baik-baik saja? Tidak, kalian tidak akan mengerti!" Aku berteriak histeris. Semua penyesalan dan kehilangan berputar dalam benak. Aku tidak tahu, apakah aku harus mengikuti kata hati atau membenarkan apa yang dikatakan oleh Dyrroth dan Nana. Aku memegangi kepala yang semakin berat.
Perlahan aku melihat Dyrroth dan Nana mendekatiku. "Maafkan kami, Miya. Maafkan karena kami terlalu menekanmu. Sekarang terserah pada keputusanmu kami akan senantiasa mendukungmu!" Dyrrot berkata. Dia menarikku dalam pelukan.
"Kenapa ribut sekali? Apa kalian tidak tahu, kalau aku sedang mengobati Alucard?!" Moon God berbicara seraya memegangi pintu.
Aku hanya menatapnya sesaat, kemudian mengalihkan tatapan ke arah lain. Sungguh, hanya ada rasa benci ketika melihatnya.
"Apa kamu akan bersikap arogan seperti ini?" Dyrrot menjawab. Dia berdiri dan melangkah mendekati Moon God.
"Apa kamu menantangku?!" tanya Moon God pada Dyrrot dengan membusungkan dada.
Sejujurnya, aku tidak suka apabila harus berdekatan dengan Moon God. Namun, kali ini aku tidak mau ada yang terluka lagi. Aku segara mendekati mereka yang sedang berselisih.
"Tolong hentikan! Jangan ada lagi yang terluka. Cukup satu orang saja yang menjadi korban. Tolong Moon God jangan cepat terpancing emosi. Aku harap kamu fokus pada pengobatan yang akan kamu berikan pada Alucard!" Ku berdiri diantara mereka untuk melerai pertikaian.
"Tidak, Miya. Aku harus memberikan pelajaran pada orang baru ini. Siapa dia? Orang baru yang hanya bisa menilai orang dari luarnya saja!" ketus Moon God.
"Moon God, hentikan! Bukankah kita harus bersikap baik, apabila ada orang asalkan dia tidak menyerang dan mengancam keselamatan. Apa kamu sudah lupa akan aturan di Moon Elf?" Aku berkata tegas. Moon God mendengkus kesal, mungkin perkataanku yang sedikit meninggi. Dia menutup pintu dengan sangat kasar.
Ku tatap pintu yang sudah tertutup. Tidak ada lagi, Moon God yang bijaksana. Sekarang, dia telah berubah. Dia seperti tidak mau menerima apa yang menjadi perselisihan saat ini.
"Kenapa kamu tidak mendobrak pintu itu, Miya. Ini kesempatanmu untuk membuktikan pada semua bangsamu, kalau Moon Elf tidak sebaik yang mereka pikir!" Dyrrot memprovokasi.
Pada saat, dia berbicara ada rasa kecewaku pada Moon God dan membenarkan apa yang dikatakannya. Namun, aku harus waspadanya. Aku takut ini adalah siasatnya untuk memecahkan belah.
"Aku tidak akan berbuat seperti itu. Karena ada perjanjian diantara kami yang tidak bisa kami lepaskan begitu saja. Kami tidak ingin terpecah karena kesalahpahaman," tandasku.
Dyrrot tersenyum, dia melangkah menuju jendela. Dia seperti mendekati Nana yang berdiri di depan jendela.
"Kamu sedang menatap apa?" tanya Dyrrot bertanya pada Nana. Layaknya seorang kakak bertanya pada adiknya.
"Aku sedang menatap bulan yang semakin bersinar. Semoga hidupku bisa bersinar terus tanpa adanya redup!" Nana berbicara. Aku tidak tahu, ekspresinya saat ini karena mereka berdua membelakangi.
"Bolehkah aku menjadi penerang hidupmu? Aku janji tidak akan meredup sampai akhir cerita hidup kita!" Dyrrot malah merayu Nana.
"Boleh, boleh!" jawab Nana seperti tersipu malu.
Aku tak percaya dengan sikap Nana, kenapa bisa seperti ini? Apa Dyrrot sengaja melakukannya? Aku membiarkan percakapan mereka. Membiarkan sikap Dyrrot yang sangat aneh di mataku.
"Aku pun demikian, semenjak pertama kali menolongmu. Aku merasa dekat dan nyaman berdekatan denganmu, Nana. Dulu aku berpikir kalau kamu adalah anak kecil yang sulit diatur. Tapi, kamu cukup manis juga, ya?" Dyrrot sekarang membalikkan tubuh Nana hingga mereka berhadapan.
"Dyrrot, cukup. Hentikan, apa maksudmu merayu nana?" Aku mendekat pada mereka berdua.
"Apa maksudmu? Aku tidak merayunya. Aku hanya menyatakan isi hati pada Nana, itu saja. Tidak ada hal lain, selain aku memang mengaguminya! Apa kamu keberatan, Nana? Kalau aku menyukaimu?" Dyrrot menatap lembut pada Nana. Aku tidak habis pikir kenapa Dyrrot bisa bersikap seperti ini.
"Dulu memang ada satu pria yang telah menghancurkanku, tapi sekarang aku yakin Dyrrot sudah berubah dan akan membangun hati yang telah hancur berkeping-keping ini, Miya!" Dia menitikkan air mata, dan menarik tangan Dyrrot kemudian menggenggamnya.
"Jangan bersedih, karena aku yakin kamu akan baik-baik saja!" Jawab Dyrrot yang semakin membuatku begah.
"Benarkah?" tanya Nana padanya. Sedangkan, aku yang mendengarnya begitu kesal dan membuat tangan ini mengepal.
"Yes, of course. Mungkin suatu hari kamu bisa menemukan penggantinya," imbuh Dyrrot dengan nada rendah.
"Bolehkah aku memintamu sebagai penggantinya?" Nana bertanya dengan kekehan kecil. Dia menutup mulut dengan tangannya.
AKU TIDAK PERCAYA INI AKAN HAL INI! Masalah Alucard saja belum selesai, sekarang di tambah oleh kelakuan mereka berdua. Aku semakin kesal dan ingin pergi saja dari rumah ini. Aku menatap pada Dyrrot dengan membulatkan netra. Bisa-bisanya dia mengatakan hal itu di depan mata kepalaku sendiri. Apa maksudnya?
Dyrrot menarik tangan Nana dan mendaratkan kecupan manis di tangannya. Apakah aku iri melihat mereka berdua yang tengah memadu kasih? Tidak! Bahkan aku merasa jijik pada Dyrrot.
"Apa kamu mau menerimaku sebagai seorang sahabat atau menerimaku sebagai pangeran yang akan senantiasa melindungimu sampai kita menikmati hidup bersama?" tanya Dyrrot dengan mata berbinar.
Apa ini? Kepalaku seakan mau pecah mendengar kata-katanya. Apa dia sengaja membuatku semakin bingung? Wajahku terasa panas. Namun, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu keputusan Nana.
"Aku menerimamu sebagai ...," ucap Nana seperti memberi jeda agar jantungku terlepas menunggu keputusannya.
"Ehm!" Dyrrot seperti memasang muka cemas menunggu jawaban Nana.
"Emm, aku menerimamu sebagai pangeranku. Bawalah aku menuju cintamu!" kata Nana sembari menundukkan pandangannya. Mungkin karena malu.
Aku berdiri dengan wajah kesal. "Tidak, Nana! Kenapa kamu langsung menerimanya?" tegasku pada Nana karena sangat tidak mungkin seorang Dyrrot bisa langsung jatuh cinta pada seorang wanita.
Wajah Nana terlihat berubah seketika, "Miya! Apa kamu tidak suka, kalau aku memiliki hubungan bersama seorang laki-laki yang aku sukai? Jawab!" Nana malah berteriak padaku.
Aku segera memeluknya untuk menyadarkan dia dari rayuan Dyrrot. "Aku minta maaf, Nana. Jangan seperti ini!"
"Please, Miya! Aku bukan anak kecil lagi! Aku sudah bisa menentukan pilihanku sendiri. Aku mohon, Miya, mengertilah perasaanku," lirihnya sembari tersedu dalam pelukan. Aku mengusap punggungnya dengan lembut.
"Baiklah! Aku mengerti, aku tidak akan mengulanginya lagi. Jangan menangis lagi!" pintaku sembari menatap wajahya yang ditekuk.
Sebenarnya, apa yang direncanakan oleh Dyrrot? Padahal baru saja dia berselisih dengan Moon God. Jiwaku semakin takut dengan keberadaannya. Apakah dia mempunyai misi untuk menghancurkan dan mengadu domba kami supaya kami terpecah?