Miya Alucard

Miya Alucard
Antara Cinta Dan Sesal



Aku sudah tidak peduli lagi, kalau dia membenciku, yaang aku lakukan hanya menatapnya saja. Aku melihat emosinya sudah menurun, tatapannya kembali seperti Alucard yang aku kenal.


"Aku tidak tahu kalau keadaanmu seperti itu. Aku minta maaf!" ujarnya semakin memeluk erat tubuhku.


"Sudah. Aku tidak butuh simpatimu!" jawabku semakin ketus.


Aku berusaha melepas pelukannya, tapi dia makin mengeratkan pelukannya dan membenamkan dagunya di bahuku. "Aku minta maaf, Sayang. Ingat, aku akan tetap mencintaimu sampai kapan pun."


Aku tidak bisa apa-apa, selain membalas pelukannya. "Jangan bersikap seperti ini lagi! Tapi, aku tidak akan menahanmu ketika kamu menjumpai seseorang yang datang untuk mencintaimu!"


Dia membelai punggungku seraya berkata, "tidak! Hati ini hanya untukmu, Sayang!"


Kemudian dia mengangkat tubuh mungilku. Dia mengendongku seperti anak kecil. Sedangkan aku mengalungkan kaki dan tanganku padanya. Sesekali dia meraup bibir yang ku balas dengan senyuman.


Dia seperti tahu pintu kamar karena sekarang dia mendorong dengan punggungnya. Setelah terbuka dia membaringkanku di atas kasur empuk tak bersuara.


"Jangan nangis lagi! Aku mencintaimu!" Bibir kami saling memagut sampai dia terjatuh di sampingku.


"Love you!" ucapnya.


Aku tersenyum tanpa menjawabnya, biarlah malam ini menjadi malam yang tak pernah kami lupakan.


***


"Pagi, Sayang!" sapaku padanya ketika malam telah terganti menjadi pagi hari.


"Sarapan dulu. Aku sudah masak khusus buatmu," ucapku.


Mendengar aku yang sudah mempersiapkan kebutuhannya, dia terperanjat. "Sudah jangan melamun gitu " Aku bercanda padanya. "Mandi dulu!" pintaku.


"Mandi bareng, please!" Dia malah merengek.


"Malas!" jawabnya asal berkata.


Tanpa basa-basi dia menggendongku menuju kamar mandi.


"Hey, turunkan aku!" Aku berteriak karena terkejut.


Dia malah menurunkan aku di kamar mandi, kemuadian mengunci pintunya. Dia menyalakan shower. Air dingin membasahi kami berdua. Dia menatap lembut padaku, diantara guyuran air yang membasahi kepala kami. Perlahan dia mengecup lembut bibirku. Aku tahu ini salah, tapi aku hanya ingin melupakan sejenak kenangan pahitku bersama Zilong.


Alucard menatap lembut sembari membenarkan rambutku yang berantakan. "Ada yang sakit? Apa aku menyakitimu?" tanyanya dengan wajah cemas.


"Tidak!" ucapku pendek.


Akan tetapi, dia tidak lagi menyentuhku. Malahan setelah membersihkan diri. Dia keluar tanpa menatapku.


***


Semenjak kejadian di kamar mandi, sikap Alucard menjadi berbeda. Sekarang dia lebih banyak terdiam dalam sepi.


Untuk mengurangi susana horor, aku mengajaknya berjalan di sekitar danau. Tempat penuh kenangan antara, aku dan Zii menghabiskan waktu. Sekarang kami berjalan menyusuri danau yang indah dan mengeluarkan wangi yang sangat menenangkan hati.


"Sayang, apa kamu merasa ada yang mengikuti?" tanyanya padaku.


Aku menoleh ke belakang dan benar saja ada para Moon Elf kecil yang tadi malam banyak bercerita bersamanya.


"Alucard! Setelah belokan itu, kita berpencar dan lari secepatnya!" Aku berkata seperti itu untuk menghindari para Moon Elf.


"Memangnya ada apa?" Dia memasang muka penuh tanya.


"Ada mahluk yang mengikuti kita. Mereka itu adalah ... !"


Kami terus berjalan teratur, setelah belokan kami berlari dan terpisah.


Setelah, Alucard tidak terlihat. Aku melambaikan tangan pada empat Elf yang terus mengawasi. "Datanglah padaku!" pekik pada mereka.


"Kenapa kalian mengikutiku?" tanyaku pada mereka.


Mereka seperti malu lagi, tangan saling menunjuk satu sama lain. Melihat mereka seperti itu, aku yang menjadi pusing sendiri. "Siapa yang akan berkata?" tanyaku.


"Kami diminta seseorang untuk mengawasi kalian!" ujar salah satu Elf sembari menundukkan wajahnya.


"Katakan padaku, siapa yang telah menyuruh kalian. Jawab!" Aku sengaja membentak untuk menggertak mereka.


"Maafkan aku, Kak. Aku tidak mau mengatakannya, lebih baik kami mati daripada aku mengatakan seseorang yang memerintah kami!"


Aku menepuk bahunya sebagai simbol kekuatan, "baiklah kalau kalian bersikap seperti ini. Aku hanya tidak enak kalau kalian terus mengikuti. Akan lebih baik kalian pergi dari sini!" pintaku pada mereka.


Akan tetapi, mereka seakan tidak mendengar apa yang aku inginkaninginkan. Mereka diam terus di dekat kami.


Meskipun, kebimbangan ini terus bergantungan dalam angan-angan. Namun, aku mencoba tidak menunjukkannya di depan mereka.


"Maafkan, Kak. Aku menjaga nama baiknya! Kalau kakak tahu, pasti kakak akan terkejut."


"Bolehkah, aku mendengar tanda dari mereka?"


Akhirnya, empat Elf ini berkata, "aku akan memberikannya inisial, dia adalah Sel ...!" Aku sengaja memotongnya.


Dalam benak, terlintas nama Selena. Untuk apa dia melakukan? Kenapa dia tidak pernah merubah sikapnya? Apa karena aku tidak pernah melawannya? Semua bayangan tentangnya terus bergelantungan dalam angan.


"Pergilah, katakan pada Elf yang menyuruhmu. Miya tidak akan pernah takut padanya!" Mereka membalikkan tubuhnya dan melangkah meninggalkanku.


Tubuh ini terasa lemah, sembari menahan sakit aku duduk di kursi yang selalu aku rindukan, "Zii, kenapa kamu meninggalkanku. Aku tidak tahu apa salahku. Kenapa Zii, kamu tega meninggalkanku dengan segala rasa sesal. Kenapa kamu jahat?!" Aku berteriak seraya memegangi dada yang terasa sesak.


"Oh, jadi kamu masih mencintainya. Jadi, untuk apa kamu berkata padaku, kamu akan melupakannya, kalau hatimu saja masih sakit ketika mengenang kebersamaan bersamanya!" Dia seperti kesal sembari melangkah.


Tanpa pikir panjang aku melangkah cepat memeluknya erat. "Aku minta maaf!"


Mendapat pelukanku, seperti biasa, dia bergeming sedikitpun. Hanya deru napas yang aku rasakan di dadanya.


"Kali ini aku memaafkanmu! Tapi, apabila nanti kamu masih mengenang tentang bersamanya, maka aku akan pergi meninggalkanmu!" Ancammya. Suaranya tertahan penuh penekanan.


Aku menggelengkan kepalaku. Meskipun, dia seorang terjahat sekalipun ketika dia menjadi calon suami, sangatlah tidak terpuji apabila aku lebih mengkhawatirkan laki-laki lain selain dirinya.


"Aku minta maaf!"


Dia mengecup dahi dan menatapku, "Untuk kali ini aku memaafkan kamu, karena itu bukan kesalahanmu!"


"Aku gendong kamu," katanya. Meninggalkan seribu jejak tanya dan tak percaya dengan perkataannya.


"Apa?"


Belum menjawab pertanyaanku, dia sudah mengangkat tubuhku.


"Kenapa kamu mau mengendongku?" tanyaku masih penasaran.


"Karena kekasihmu mungkin melakukannya!"


Aku membenamkan wajahku di bahunya. Entahlah, tapi rasa malu dan bersalah kini ada dalam benakku.


Pov Author:


Ketika Alucard mengendong Miya menuju rumahnya. Ada seorang perempuan cantik yang terus melihat memperhatikan mereka. Wajahnya sendu seperti ingin menyampaikan kalau dia pun sangat menyukai Alucard. Namun, dia tidak bisa mengungkapkan rasa yang telah ada dalam dadanya.


"Aku tidak akan membiarkan hidup kalian bahagia!"


Tangannya mengepal menunjukan kalau dia tengah menyimpan amarahnya. Perlahan dia pergi setelah Alucard tidak terlihat lagi olehnya.


"Kenapa kamu berharap pada Miya, yang hatinya saja masih memikirkan kekasih yang telah lama mengisi hatinya? Kita lihat siapa yang akan mendapatkan hatinya!" Dia berkata dengan wajah ketus.