Maple High School Academy Hidden Year 3

Maple High School Academy Hidden Year 3
Marionette Feather in WAET CCXXII - Unforgivable Curse from Demon




Unforgivable Curse from Demon


EMPAT JAM BERLALU semenjak pelarian mereka menghindari amukan kawanan Volibear, satwa endemik pemilik daerah mistis dengan petir abadi itu. Matahari tepat berada di atas mereka. Tak ada awan yang berlabuh melindungi dari teriknya panasnya sang Raja Api itu. Keringat bercucuran, penat? Sudah pasti jawabannya, iya. Daratan Ravenfort dengan segala kesibukannya perlahan terlihat, akhirnya mereka memutuskan mendarat. Zeon mengembalikan hewan panggilannya, sementara Zovras mengarahkan mereka untuk segera mencari tempat beristirahat.


Malaikat bersayap hitam mengilat bertubuh atletis itu merasakan ada yang aneh dengan reaksi benang Marionettenya. Perlahan cahaya muncul makin terang bersamaan langkah kaki mereka memasuki hutan dekat Crystal Lake. Axel mempercepat langkah, hal itu langsung menarik perhatian yang lainnya untuk segera mengikuti Axel. Ia melayangkan benangnya ke angkasa dengan bebas. Benang itu langsung terbang menuju sesuatu di balik rindangnya pepohonan.


Axel mengarahkan pandangannya, "Akhirnya kita mendapatkannya, tapi ...."


Zeon memandanginya kebingungan, "Tapi apa? Jangan buat penasaranlah, Axel!"


Axel mengarahkan jari telunjuknya ke langit, tepat di mana Moonchibi sedang dikepung kawanan burung Haireat. Zeon menganga melihat betapa banyaknya predator kelaparan itu.


"Kita harus segera menangkapnya sebelum burung itu membuat kita gagal dalam turnamen ini!" Zovras bergerak dengan cepat mereplika dan mengalihkan kawanan burung itu.


Kepak! Kepak! Kepak!


"Teman-teman ... kalian mendengar sesuatu yang aneh, tidak?" tanya Zeon ketakutan. Aura seram membuatnya bergidik tak karuan.


"Hm ... kenapa?" sahut Axel datar.


Zeon membalikkan badan dan menelan ludah dengan sulit ketika melihat kawanan pemburu bercakar besar dan tajam. Ia terduduk lemas, "Guys ... we have another trouble here!"


Axel dan Wolfe serempak berbalik badan. Namun, berbeda dengan Zeon yang ketakutan, mereka berdua bersiap untuk menyerang. Mohawk Fluttery, rajawali endemik Rainville, terbang cepat menghujami mereka dengan cakaran. Wolfe dan Axel menyerang bebas ke segala arah, melindungi diri sekaligus menghalau monster bersayap itu.


"Zeon, tak bisakah kau menghipnotis mereka? Setidaknya membuat mereka pergi?" tanya Wolfe merasa terdesak akibat serangan burung yang tak ada habisnya.


Zeon mencoba menggunakan kekuatan sylph-nya, tetapi tak ada hasil. "Ti-tidak bisa."


Wolfe merasa semakin kesal melihat rekannya lemah dan tak ada gunanya, hingga ia sendiri tak sadar kalau beberapa Mohawk mengincarnya. Zeon tak bisa tinggal diam melihat hal itu, ia berlari melindungi Wolfe. Tubuh kecilnya menjadi tameng cakaran tajam itu. Darah segar mulai mengalir, tubuh Zeon perlahan ambruk karena racun yang terdapat pada cakar Mohawk Fluttery.


"ZEON!" teriak Axel histeris. Ia akhirnya mendapatkan ide untuk mengumpan burung itu ke arah Haireat yang mengepung Moonchibi.


Di lain tempat, Zovras tengah sibuk menyerang sekaligus melindungi diri dari pengaruh Haireat. Axel yang melihat ketua klub astronomi juga terdesak, akhirnya mempercepat sayapnya membawa Mohawk kelaparan ini menangkap mangsa alaminya. Tepat saat Mohawk Fluttery memakan satu per satu Haireat, Axel langsung menggunakan kekuatan Marionettenya mengurung Moonchibi dalam sangkar benang emas. Ia mendekat ke Zovras dan memberitahu keadaan Zeon yang terluka.


"Ayo kita ke sana!" Zovras berlari mengikuti arah terbangnya Axel.


Sesampainya di tempat kejadian itu, Zovras melihat Zeon yang sudah pingsan. "Gawat! Apa yang terjadi dengannya?"


"Ia terkena cakaran Mohawk," sahut Wolfe dengan tampang tak bersalah, "Dia lemah, tetapi sok melindungiku!"


"WOLF—"


Ucapan Axel terpotong sesaat suara kepakan sayap terdengar makin kuat. Benar saja, monster kelaparan itu telah tuntas menyantap makanan pembukanya. Kini ia ingin memuaskan nafsu dan rasa laparnya. Ya …, itulah Zovras dan timnya yang sedang diincar sebagai makanan berat penutup.


"Gigantic!" Wolfe tanpa strategi apa pun membesarkan tubuhnya setinggi lima meter. Tak memedulikan teman tim yang berada di bawahnya.


"WOLFE! YOU'RE BIG RAINDROP! JANGAN SEENAKNYA, SERIGALA NAKAL!" teriak Zovras murka dengan tindakan Wolfe yang selalu keras kepala.


Zovras dan Axel menghindari langkah besar tak beraturan Wolfe. Bukannya menyelesaikan masalah, ia malah menambah kerusakan di mana-mana. Alhasil, bukan hanya Zeon yang terluka, Axel dan Zovras terkena imbas amukan Wolfe. Mohawk Fluttery akhirnya berhasil diatasi sendirian oleh serigala berbulu putih lembut itu. Kekuatan gigantic telah habis waktunya.


"Akhirnya beres, huh!" Wolfe membersihkan seragam turnamen dan menepuk debu yang menempel, "kalian baik-baik saja?"


"Menurutmu?" sahut Axel terpancing kesal, "Pakai matamu lain kali!"


"Hei, biasa aja kali!" ketus Wolfe.


"Argh! You are too childish, Wolfe!" Zovras bangkit dan muncul dari balik pohon yang tumbang. Tubuh mereka penuh dengan luka, kecuali Wolfe.


Dengan rasa bangga berlebih pada diri Wolfe, ia berjalan mendahului Zovras dan Axel menuju tepi Danau Kristal. Sore itu, Zovras memutuskan untuk beristirahat di sana sembari merawat luka masing-masing dan menghambat pergerakan racun Zeon.


Wolfe mendekat sambil membawa ikan hasil buruannya, "Ayo makan!"


"KAAAAU! MULAI DARI AWAL KAU BERTINGKAH SESUKAMU, AKU MULAI MUAK DENGAN SIKAP EGOISMU!"


Axel mengepalkan tangannya, perlahan bangkit dan menghadap Wolfe. "BAHKAN ZEON SUDAH BERULANG KALI MENGORBANKAN DIRINYA UNTUKMU!"


"Lalu kau mau apa, Malaikat lemah?" sahut Wolfe dengan nada menantang.


Mata Axel bertransformasi menjadi ungu kehitaman. Aura membunuhnya jauh lebih terasa. Perlahan, motif aneh muncul di keningnya. Sayapnya mengembang, mengempaskan angin yang begitu kencang.


"Lah kenapa?" tanya Wolfe remeh, "Dia hanya junior lemah."


"Itu Irremissibile Meledictum, kutukan iblis tertanam dalam dirinya." Zovras tak keruan, sangat khawatir melihat kejadian itu.


"Kita harus segera menghentikannya, Wolfe!"


Axel berteriak sangat keras. Lingkaran sihir malaikat Axel berubah menjadi ungu kehitaman. Aura iblis itu mengempaskan angin yang begitu kencang. Zovras dan Wolfe terpental.


"AAA! MATILAH KAU WOLFE!"


Axel mengepakkan sayap malaikatnya dengan cepat, menghujam Wolfe dengan tumbukan tangan kosong. Wolfe mampu mengatasinya dengan mudah dan membanting Axel dengan keras ke batuan kristal di tepi danau. Seolah tak merasakan sakit, Axel bangkit dan menumbuk bumi, kristal biru keunguan muncul dan menghujam Wolfe. Namun, ia dengan gesit melewatinya. Tak disangka, salah satunya berhasil menggores kulit Wolfe.


Gawat, anak ini benar-benar berbahaya, batin Wolfe, aku harus segera mengatasinya atau bisa mati mengenaskan.


"Mirror of Darkness Illusion!"


Axel mengayunkan tangannya, tiga cermin kristal muncul tepat di hadapannya. Ia mereplika dirinya menjadi tiga, tetapi berbeda dengan Zovras, Axel mendapatkan tiga replika yang masing-masing memiliki kekuatan pengendali kristal, rantai emas, dan ahli pedang. Ketiganya terhubung melalui benang mana yang digerakkan Axel sama seperti saat ia menggunakan marionette-nya.


Mampus aku, batin Wolfe.


Gawat! Kalau begini caranya, Wolfe bisa tewas. Siapa sebenarnya anak itu? batin Zovras sembari mengamati pertempuran itu.


Zovras mengamati perubahan replika Axel, "Bukannya itu ...."


Iya benar, tidak salah lagi. Itu salah satu artefak suci malaikat Frozen Ocean, Exocelestial Sword. Bagaimana mungkin ia memiliki pedang itu?  batin Zovras.


Zovras berlari kencang mendekati Wolfe. Akan berbahaya jika Wolfe bertindak ceroboh. "Wolfe, waspada dengan pedang perak bercahaya itu. Kita harus merobohkannya sebelum kutukan itu menewaskan kita semua," titah Zovras dengan cepat mereplika dirinya juga.


Replika Axel bergerak gesit menghantam mereka. Namun, ada yang aneh. Sasarannya hanya Wolfe. Hal itu dimanfaatkan Zovras untuk memotong benang mana Axel.


"Wolfe, sekarang!"


Secepat kilat, Wolfe melayangkan tinju besarnya tepat di perut Axel. Ia terpental jauh mengenai pohon. Momentum itu dimanfaatkan Zovras untuk menyegel kembali kutukan itu. Namun, belum sempurna segel itu, Axel terbangun dan mengerahkan bonekanya menyerang Zovras dan Wolfe. Pedang itu melesat ingin menusuk Wolfe, tetapi entah dari mana, Zeon datang dan berdiri di hadapan Wolfe.


"HENTIKAN, AXEL!"


Pedang perak itu terhenti. Tak tahu pastinya bagaimana bisa suara itu mampu menghentikan aksi pembunuhan Axel. Perlahan, aura dan replika Axel pudar dan menghilang, kesadarannya  pun hilang.


"Fyuh! Syukurlah." Zovras menghela napas, kembali tenang.


 Malam begitu tenang, suara air mengalir menambah damai suasana. Axel masih terbaring tak sadarkan diri, sementara Zeon masih dalam keadaan lemas. Zovras meminta Wolfe memasak ikan tangkapannya, sedangkan dirinya masih berkutat pada pikiran tentang kejadian sebelumnya.


Suara perut Zeon terdengar oleh Zovras dan Wolfe, "Aku sangat lapar."


"Tunggu sebentar!" ucap Wolfe dengan nada sedikit meninggi, "Nah! Sudah siap!"


Mereka berkumpul dan menyantap makan malam. Tiba-tiba suara batuk terdengar, ternyata Axel mulai sadar. "Argh! Kepalaku sakit ...."


"AXEL!" sorak Zeon berbahagia, "ayo sini makan!"


Axel perlahan bangkit dan mendekat. Namun, matanya menatap sinis Wolfe seolah mengisyaratkan 'Tak ada ampun bagimu!'. Wolfe mengernyitkan dahi, tak memahami maksudnya.


"Nah, ambil milikmu!"


Axel tak merespons, bahkan bergeming sekalipun, Zeon mengambil ikan itu dan memberinya ke Axel.


"Ayo, makanlah!"


"Aku tak sudi memakan ikan bakarannya. Dia tak tahu terima kasih, mirip anak kecil. Bahkan mengontrol kekuatannya saja tak mampu, itukah kakak angkatan kita yang katanya serigala terkuat? Cih! Najis!" ketus Axel sarkas.


"Axel ... sudahlah," sahut Zeon berusaha menyudahi.


"Apa kau masih mau membela bajingan sepertinya? Mending aku pergi saja."


Axel bangkit kembali dan meninggalkan mereka yang tengah sibuk mengisi ruang hampa di perut masing-masing. Wolfe yang sedari tadi terdiam, seolah tertampar dengan ucapan Axel. Ia menyudahi makannya, tak menghabiskan ikannya dan memilih pergi ke arah tepi danau Crystal Lake. Zeon menjadi semakin murung melihat pertikaian rekan timnya, sedangkan Zovras menggelengkan kepala dan sesekali memijat keningnya.


"Oh God! When can I get peacefulness, huh?"