
Noir Crushing Journey
NASTRADAMUS MENOLEH KE belakang beberapa kali, hal itu membuat Miguel yang berada di sampingnya merasa heran. “Kau ini kenapa? Tidak ada yang mengikuti kita, ‘kan?”
“Oh, t-tidak!”
“Kau menyembunyikan sesuatu?” Miguel menatap Nastradamus penuh selidik.
David dan Thann pun menoleh. Mereka sudah cukup jauh dari Garden of Dawn, saat ini tinggal menuju tempat terakhir, Boneyard. Namun, tingkah penyihir bermata hijau itu mencurigakan setelah mengalahkan sekelompok kriminal.
Thann menepuk pundak Nastradamus. “Katakan, Nastradamus. Jangan menyembunyikan sesuatu yang akan merugikan kelompok.”
“Sekelompok mantan kriminal itu menguji dan membodohi kita,” jelas Nastradamus cepat.
Seperti kabar baik dan buruk yang sedang remaja itu sampaikan, membuat ketiganya saling berpandangan, tak mengerti. Padahal mereka melihat sekelompok mantan kriminal tersebut tak sadarkan diri.
Nastradamus menunduk, ia berkeringat dingin. Setelah meninggalkan Garden of Dawn dan mengingat apa yang telah dilihat, barulah dirinya sadar jika tak boleh meremehkan orang asing di wilayah lain.
“Nastradamus, jangan bergurau. Kau tahu, aku lelah dengan semua rintangan yang selalu mengadang,” keluh David.
Miguel melirik si Tukang Mengeluh. “Banyak mengeluh, sedikit usaha, cih!”
“Barusan kau bilang apa?” David menarik kerah Miguel.
Thann menatap malas dua remaja gila yang sialnya adalah bagian kelompok. Ia mengembuskan napas lelah menghadapi anggota kelompok dengan perilaku aneh. Tidak seperti dirinya yang jenius dan menawan.
“Nastradamus.”
Mendengar suara Thann yang terdengar lelah membuat dirinya merasa bersalah. Nastradamus mengatakan kejujuran di depan Thann dengan keberanian sebesar biji ketapang. “Sebenarnya para kriminal itu ingin menguji kekompakan kita. Mereka tidak pingsan apalagi kalah, hanya pura-pura. Intinya mereka ingin melihat seberapa besar kelompok ini saling melindungi.”
Semenjak mengetahui alasan di balik penyerangan di Garden of Dawn, David terus mengeluh. Miguel dan Thann kompak diam, sementara Nastradamus merasa bersalah karena tidak memberi tahu sejak awal. Sekelompok kriminal tersebut sama seperti The Mythic Pyramid yang ingin menguji kekompakan, tentu dengan cara yang berbeda.
Setelah satu jam berjalan, akhirnya mereka sampai di tempat terakhir. Meski Boneyard bersebelahan dengan Garden of Dawn, tetap saja mereka kesulitan dalam berjalan dan melihat. Kepala tengkorak sebagai altar Noir terlihat dari kejauhan walau samar. Hanya itu yang digunakan sebagai kunci untuk sampai di Boneyard.
“Tunggu!” David terduduk dengan napas tak beraturan. “Aku l-lelah!”
Miguel dan Thann duduk bersebelahan, sementara Nastradamus memberikan air pada David. Penyihir itu menunduk dan mengeluarkan beberapa buah segar dari tas ajaib. Buah yang diambil dari Woodville diletakkan antara Miguel dan Thann.
“Makanlah,” kata Nastradamus kalem.
Mereka makan dalam diam sampai Nastradamus membuka suara. “Maaf tak memberitahu sejak awal.”
“Sebenarnya ini bukan salahmu atau kriminal itu.” Thann mengambil buah aneh di depannya. “Mereka hanya ingin tahu seberapa besar rasa peduli antarkelompok.”
Miguel berdiri lalu berdecak, “Kau bilang kita akan mengalami kesulitan ketika malam, sebaiknya kita lanjutkan perjalanan.” Ia pun menepuk pipi David. “Bangun, Beruang Jelek!”
Thann berdiri setelah memakan beberapa buah, diikuti Nastradamus, kemudian Miguel yang menyeret David.
Boneyard adalah tanah lapang tempat pengumpulan tulang-belulang. Warga yang tinggal di sekitar mengaku sering mendengar derit tulang yang bergerak tiap malam dan berhenti ketika pagi hari. Selain tulang yang berserakan seperti sampah, tanah Boneyard juga ditumbuhi jamur raksasa dan Shine yang berkeliaran. Namun, hewan dengan tubuh bercahaya itu tidak sebanyak di Garden of Dawn. Archimage juga membayar siapa pun yang menyetor tulang-belulang sisa peperangan zaman dahulu ke Boneyard. Necromancer dapat membeli tulang-belulang tersebut untuk dihidupkan sebagai pembudidaya jamur.
“Sepertinya tulang di sini bagus dijadikan senjata,” komentar Miguel saat melihat tumpukan tulang, “atau mungkin dijual.”
Thann melirik Miguel sinis. “Sebaiknya kau mengubah profesi sebagai penjual barang daripada murid Maple Academy.”
“Saranmu sangat bagus, akan kucoba nanti.” Miguel mengatakannya dengan bangga.
Kini, mereka berdiri di depan sebuah kuil. Nastradamus ingat cerita mengenai kuil yang ditinggalkan oleh warga Darkville. Dulu, tempat ini sering digunakan untuk beribadah, tetapi saat ini telah terbengkalai. Ia mengusap papan nama yang tertutup debu, di sana tertulis ‘Offering Shrine’. Kuil tersebut berbentuk ukiran tiga dimensi kepala tengkorak setinggi ukuran setengah tangga.
Sebelum menaiki tangga menuju ruang utama, dulu terdapat tengkorak hidup yang mengawasi orang-orang ketika datang untuk beribadah. Penjaga Altar tersebut memiliki wajah seram dengan tinggi empat meter yang dibekali senjata tempur, lengkap beserta zirah dan alat pelindung lain. Kini, penjaga tersebut tak lagi ada semenjak Offering Shrine ditinggalkan. Mereka menaiki tangga spiral yang dipimpin oleh Nastradamus. Penyihir itu membuka ruang utama yang terdapat altar untuk Noir.
Ruang utama berisi bangku yang disusun rapi, jendela berukuran sedang di kedua sisi bangunan, dan tengkorak raksasa, di belakangnya terdapat pedang emas yang mengelilingi. Kedua tangan tengkorak menopang jantung altar yang ditikam oleh tujuh bilah pedang keemasan. Di bawah tengkorak tersebut terdapat batu yang tersusun membentuk persegi panjang sebagai batu persembahan.
“Di atas batu itu kita meletakkan Noir,” tunjuk Nastradamus pada batu di altar.
Altar dalam turnamen ini digunakan sebagai tempat evolusi dari hewan elemen. Mereka akan melawan Noir yang telah berevolusi, jika berhasil mengalahkan hewan elemen, maka kemenangan di tangan mereka. Namun, hewan elemen yang tak dapat dikalahkan akan membawa kekalahan. Mereka mengalahkan hewan elemen pun di wilayah yang sama dengan elemen Noir.
Noir yang berada didekapan Nastradamus menggeliat setelah tidur, hewan itu bahkan tak terganggu saat Nastradamus bertarung melawan mantan kriminal. Tanpa diperintahkan, Noir terbang menuju batu persegi panjang yang ada di altar.
Tak lama, ubin yang dipijaki bergetar sehingga mereka tersungkur. Pedang emas di belakang tengkorak bergerak melingkari Noir. Muncul cahaya emas dan gelap menyinari si kucing hitam. Tubuh Noir membesar dengan kalung tengkorak melingkari leher, iris matanya berbeda, antara unggu dan hijau, lalu lambang tengkorak di dahi, serta sayap hitam yang besar.
Nastradamus memegang mata kiri, melihat evolusi Noir membuat dirinya mengingat yang telah ia lihat. Seketika, wajahnya pucat menyadari apa yang akan kucing itu lakukan.
“Ayo—”
Sebelum menyelesaikan ucapannya, mereka terlempar oleh kepakan sayap Noir yang menghasilkan angin. Kucing itu menghampiri mereka yang terkapar di luar kuil. Nastradamus mencoba berdiri dan ia melihat rekannya meringis kesakitan.
Noir dikelilingi oleh tulang. Nastradamus memiliki firasat buruk akan hal itu. Sebelum Noir berbuat lebih jauh, ia memperingatkan teman-temannya. “Jangan lengah! Kucing itu akan memanggil satu roh yang berbahaya!”
Nastradamus meminta Thann menyerap energi dari jamur raksasa, kemudian menyimpan di dalam pusaran tubuh sebagai energi cadangan.
Noir memanggil satu roh berbahaya, angin berembus membuat tulang berserakan itu mengelilingi Noir. Tak lama, semua tulang tersebut membentuk kerangka tanpa awak dan kaki. Tak sampai di situ, sebuah pedang sabit muncul dari dalam kuil dan bersandingan dengan roh tulang.
“A-apa itu.” Mereka melihat roh tulang dengan tubuh bergetar.
Thann menatap tajam musuh. Tanpa menoleh, ia berkata, “Miguel, David! Kalian bekerja sama menghancurkan roh tulang. Nastradamus dan aku akan meghabisi Noir!”
Kedua remaja yang selalu bertengkar itu saling melirik, kemudian mengangguk bersamaan. “Baik!”
Aux membuat duplikat cuaca hujan, sementara David menciptakan cuaca berangin. Hujan membasahi tanah Boneyard, Miguel menggunakan kesempatan tersebut untuk membekukan roh tulang. Namun, pedang sabit hampir mengambil nyawa Miguel jika David tak mendorongnya.
“David! Miguel!”
Miguel meringis saat tubuhnya didorong, ia menggeram di bawah hujan yang mengguyur.
“Bantu Miguel,” perintah Nastradmus pada Xiovi.
Burung hantu seputih salju itu berubah menjadi sekeping salju dan mengelilingi Miguel. Perubahan fisik pada Miguel mulai terlihat, dari rambut hitam, iris, dan sayap dengan ujung setajam jarum es.
David mengendalikan air hujan agar mengelilingi roh tulang, kemudian Miguel membekukan air tersebut dibantu oleh Xiovi yang meningkatkan kekuatannya. Roh tulang mengayunkan pedang sabit hingga mengeluarkan lava, kedua remaja itu mundur.
“Kita tidak bisa begini. Roh tulang akan terus mengeluarkan lava dan membuat kita meleleh!” David menggeram kesal.
Miguel memperhatikan roh tulang menghancurkan bagian tubuh tanpa awak yang membeku dengan pedang sabit. “Kita harus mengambil pedang tersebut jika ingin menang.” Miguel menoleh. “Kau buat pedang sabit itu terpental dengan cuaca angin.”
David mengangguk. Ia memejamkan mata, selang beberapa detik pusaran angin muncul di hadapannya. Lava bermunculan, David membuat perisai angin sehingga lava itu tak mengenainya. Muncul tornado yang tak begitu besar menghampiri roh tulang, pedang sabit seperti ditarik oleh tornado.
Miguel terbang, kepakan sayapnya menghasilkan jarum es yang menempel pada roh tulang. Xiovi berubah menjadi busur es, sedangkan Miguel membentuk anak panah dari air hujan yang dibekukan. Anak panah memelesat, membuat rok tulang membeku setelah pedang sabit terlempar oleh tornado.
“Miguel, sekarang!” David menghentikan hujan.
“Fire bow!”
Busur api memelesat ke arah roh tulang yang membeku. Noir yang melihat ciptaanya hampir menjadi debu pun mendekati roh tulang. Namun, Thann menembakan energy shoot, membuat Noir mundur. Roh tulang hancur dilahap api biru. Saat itu juga Miguel dan David memejamkan mata.
Noir tak diam saja, kucing hitam itu menciptakan tongkat tengkorak dan membuat Thann terpental. Nastradamus merapalkan mantra, sehingga membuat Noir kesakitan sampai tongkat tengkorak itu jatuh.
Miguel memaksa tubuhnya bangkit, ia menciptakan busur api, kemudian mengunci Noir dalam lingkaran api. Remaja Fallen Angels itu menumbuhkan sayap dan Xiovi membantu Miguel memperkuat kekuatan es.
"Apa aku sudah mati?" lirih David membuka mata.
Melihat Miguel yang memunculkan kekuatan es dan Nastradamus menyerang Noir dengan mantra beku, seketika rasa ingin menghancurkan Noir membara akibat dendam. "Mari hancurkan Noir!" teriak David bersemangat.
Miguel dan Nastradamus mendengar teriakan David pun menoleh, keduanya seperti tertular virus semangat yang Demigod itu lakukan. David segera menciptakan angin ****** beliung, ia bisa melakukannya setelah beristirahat beberapa menit. Angin ciptannya memperbesar api yang mengelilingi Noir.
Dalam lingkaran api, Noir meraung kesakitan. Tongkat tengkorak berubah menjadi sekelompok tulang-belulang hidup. Melihat hal yang sama, membuat Miguel dan David tersenyum miring.
"Mari hancurkan tulang busuk itu!" Keduanya bersemangat.
Petir menyambar dari awan hitam ciptaan David, lalu menyambar tulang hidup yang ingin menyerang mereka, dan Miguel langsung membakar semuanya.
"Protevor!" Nastradamus melindungi teman-temannya dengan mantra pelindung saat Miguel dan David membuka jalan untuk Thann menyerang.
"Kali ini kita bekerja sama untuk menghabisi Noir," kata Miguel, David pun mengangguk.
Miguel terbang dan Xiovi mengelilingi tubuhnya. Kedua iris Miguel berwarna merah api dan biru laut. Sebuah busur muncul dengan kekuatan api dan es yang menyatu. Anak panah pun memelesat tepat mengenai jantung Noir.
David dan Aux membuat petir yang menyambar disertai angin topan, petir itu menyambar Noir sehingga membuat hewan itu kejang-kejang. Tak lama, Thann muncul dengan kecepatan tinggi. Nastradamus melindungi Thann dengan mantra pelindung, sehingga api yang membakar Noir tak ikut membakar Thann saat ia menyerap energi kehidupan Noir dengan energy absorption. Tanpa sadar, ia menyerap seluruh energi kehidupan kucing itu.
"Mundur!" teriak Thann.
Setelah Thann menyerap energi kehidupan Noir, mereka melihat Noir yang berada dalam api, tubuh yang tak mampu bergerak karena es telah membekukan tubuh serta mantra kesakitan. Setelah satu menit, ledakan akibat Noir yang telah musnah menciptakan debu berhamburan.
"A-apa kita menang?" tanya Nastradamus lelah.
Thann menatap telapak tangannya. Ia baru sadar jika memiliki kekuatan ability absorption atau menyerap ability makhluk hidup bahkan sampai mati, tetapi ia sadar ada konsenkuensi berupa kenangan buruk dari ability makhluk yang ia serap. “Cukup menyenangkan.”
Mereka borsorak dalam perisai ciptaan Nastradamus, kemanangan sudah diraih. Setelah debu menghilang, muncul kepala tengkorak melayang di udara dan memancarkan cahaya hitam. Dari cahaya itu muncul sebuah portal, tak lama keluar beberapa orang berpakaian seragam Maple Academy; Candra Manhera, Arion Acwelen, Evander Castor, dan Ashlen. Kemunculan mereka seperti jawaban dari turnamen ini.
Nastradamus menatap penuh haru beberapa orang yang keluar dari portal tersebut. Ia bangkit dan berlari. "Ashlen! Aku merindukanmu!" teriaknya, kemudian memeluk Ashlen erat.
Ada apa ini? Kenapa aku harus bertemu dengan Thann dan Nastradamus, batin Ashlen lelah.