Maple High School Academy Hidden Year 3

Maple High School Academy Hidden Year 3
Marionette Feather in WAET CCXXII - Ultimate Showdown




Ultimate Showdown


MATAHARI sudah mulai terbenam. Namun, mereka belum bisa melumpuhkan Scyllia. Tampaknya kolaborasi tim mereka masih tidak bisa menandingi kemampuan naga es itu. Keadaan mereka sekarat dengan bekas luka yang masih basah dan mengeluarkan darah di mana-mana. Naga itu bergerak mendekati Zeon yang masih pingsan, tetapi Wolfe berusaha menghalanginya dengan sisa kekuatannya.


"ZEON, BANGUNLAH, TELINGA PANJANG!"


Zeon mulai sadarkan diri, tangannya mulai bergerak. Naga Scyllia makin mendekat dan siap untuk menyantap Elf tak berdaya itu.


Haggis, bisa pinjamkan sedikit kekuatanmu?


Kekuatanku masih lemah. Aku hampir tak bisa menggunakan sihirku lagi.


Baiklah, simpan dan kumpulkan tenaga sebisamu. Aku butuh bantuanmu!


Hm ... cepatlah selamatkan temanmu sebelum ia menjadi santapan naga ganas itu!


Axel secepat kilat terbang memindahkan tubuh Zeon ke tempat Zovras. Elf itu memegang kepala dan perlahan membuka mata. Kesadarannya masih separuh, bahkan ia belum mengingat kondisi terakhir.


"Argh ... kepalaku sakit sekali."


"Tidurmu nyenyak juga. Bahkan di saat genting seperti ini," sahut Zovras dengan senyum semringah. Padahal wajah dan tubuhnya berlumuran darah.


"Loh, kalian kenapa?" tanya Zeon tak memercayai apa yang ia lihat. "Kenapa bisa sampai babak belur seperti ini?"


"Dasar Pangeran Tidur! Lihatlah ke atas sana," jawab Zovras sambil menunjuk naga Scyllia yang sedang memusatkan tembakan esnya ke arah mereka.


"Berengsek! Jadi ini ulahmu!" Zeon bangkit dan mengambil serulingnya. "Rasakan ini naga biadab! Bayonetta Grim Dimentional Mark!"


Zeon menggigit ibu jarinya, mengoleskan darah tepat pada seruling dan tanah yang ia pijak. Ia memainkan harmoni Dewa Kematian. Anting yang ia kenakan membentuk gerbang dunia bawah. Mata Zeon menghitam, tampaknya ia menukarkan nyawa untuk memanggil makhluk legendaris. Seekor Cerberus keluar dan mengamuk, mengikuti kendali Zeon dan menyerang Scyillia. Harmoni itu mengaktifkan mode berserker Wolfe dan kutukan Axel. Wolfe kembali menjadi raksasa, sedangkan Axel berhasil mengendalikan tiga replikanya.


Haggis, sekarang pinjamkan aku seluruh kekuatanmu!


Tapi itu terlalu berbahaya. Kau akan binasa, begitu pula denganku.


Tidak apa-apa, aku tak ingin dicap beban. Jadi, lebih baik aku mati secara terhormat.


Baiklah kalau itu maumu.


Haggis melolong kuat. Motif emas di dadanya bersinar. Gelang leher dengan tiga bola roh itu muncul entah dari mana. Mata Haggis bertransformasi menjadi ungu kehitaman. Motif sihir Cryonos dan Laplace, sang dewa dan iblis penguasa waktu, bersinar tepat di bawahnya. Pancaran sinar mana berhamburan menembus tubuh Axel. Benang emas marionettenya berubah menjadi rantai yang bisa ia kendalikan.


Axel mengarahkan tiga replikanya mengunci pergerakan Scyllia. Ia memanfaatkan rantai dan pedang artefaknya. "SEKARANG, ZEON! WOLFE!"


Wolfe melayangkan tumbukan raksasa tepat mengenai kepala dan mata Scyllia, sementara Zeon mengarahkan Cerberus untuk mencabik-cabik tubuh Scyllia. Zovras hanya bisa menyaksikan adik tingkatnya bertarung dari jauh, sementara ia dalam ketidakberdayaan.


"Ayolah, Zovras! Kau pasti bisa membantu mereka! Ayo bangkit!" gumam Zovras pada diri sendiri.


"Akhirnya kita berhasil."


Zeon kehilangan kesadaran dan keseimbangan, akhirnya ia terbanting ke tanah. Dampak kutukan Axel juga menggerogoti tubuhnya, ia tak bisa menggunakan sayap dan berakhir sama seperti Zeon. Wolfe juga kehabisan tenaga, perlahan badannya mengecil kembali. Ia berjalan sempoyongan ke arah Zovras.


"Akhirnya kita berhasil kawan."


 Cause if I can't be close to you,


I'll settle for the ghost to you,


I miss you more than life.


And if you can't be next to me,


Your memory is ecstacy,


I miss you more than life,


I miss you more than life.


Alunan nyanyian itu membangunkan Wolfe. Ia seperti mengenal pemilik suara itu. Ia mencoba bangkit, meskipun rasa sakit di kepala masih mendera. Ia menatap seorang wanita yang tengah duduk di tepi danau sambil bernyanyi. Wanita itu mendengar suara langkah kaki Wolfe, tetapi ia sengaja tak membalikkan badan.


"Ah, kau sudah bangun rupanya, aku kira kau bakal jadi yang terakhir." Wanita itu berbalik badan dan menghadap Wolfe. "Tangkapan kalian besar juga, ya, wajar saja kalian terluka begitu parah."


"Ke mana saja kau?" tanya Wolfe dengan nada kesal seperti bocah. "Aku mencarimu ke seluruh tempat. Dan masih tak menemukanmu juga."


"Apa kau yakin? Haha ... padahal aku selalu berada di dekatmu dan juga mengawasi perkembanganmu," sahut Putri Bulan.


"Argh! Kau membuatku makin kesal, tetapi aku juga merindukanmu. Siapa kau sebenarnya?"


"Belum saatnya kau mengetahui itu, sebaiknya kau bangunkan temanmu. Misi kalian belum selesai, ada mutiara Scyllia yang belum kalian hancurkan. Jika ingin menang, segeralah tuntaskan!"


Wanita itu pergi menghilang ditutupi kabut malam. Wolfe ingin mengejarnya, tetapi ia juga tak ingin mengalami kekalahan. Akhirnya, ia memutuskan untuk membangunkan semua anggota tim. Ada kejanggalan yang baru saja Wolfe sadari, bagaimana bisa mereka sembuh? Apakah ini ulah wanita itu?


Wolfe menjelaskan seluruh informasi yang ia dapatkan. Mereka pun bergerak memeriksa dan berhasil menemukan mutiara naga itu. Zovras merapalkan mantra penghancuran, seketika bangkai tubuh Scyllia melayang ke udara bersama dengan mutiara itu. Seberkas cahaya berkilau dari tubuhnya, dan akhirnya meledak hancur. Ledakan itu seperti kembang api kemenangan, mereka berhasil menyelesaikan turnamen tepat waktu.


"Akhirnya selesai juga," ucap Wolfe senang. Ia pergi menuju tepi danau dan duduk menatap kembang api malam. Aku pasti akan menemukanmu!


Zovras dan Zeon berjalan ke arah Wolfe. Mereka mengambil posisi duduk masing-masing dan mulai saling berbincang menikmati malam. Tiba-tiba, cahaya muncul dan menghilang dengan cepat di balik kabut. Axel menatap kejadian itu dan perlahan menelisik. Ia melihat empat orang keluar dari kabut dengan keadaan payah juga. Zeon yang melihat Axel termenung memanggilnya.


"Axel, ayo kemari! Ayo, gabung dan nikmati malam kemenangan kita!" teriak Zeon.


Axel tersentak dan mengangguk. Ia berjalan menghampiri teman timnya dan masih merenungkan sesuatu. Bagaimana bisa empat orang itu bisa muncul dari kepulan asap hitam yang membumbung tinggi ke angkasa itu, sedangkan ia yakin sekali kalau tak ada lubang ataupun portal yang muncul di tempat itu?