
The Wave
SETELAH SERANGAN BURUNG pemakan rambut, Irish dan tim menyusuri Black Coral untuk mencapai pinggir pantai. Karena hari menjelang gelap, matahari akan terbenam, air laut mulai pasang. Ketika mendekati bibir pantai, Merlin bisa merasakan embusan angin melewati kulit kepalanya yang polos.
“Lily, aku benar-benar tidak bercanda akan menghajarmu sepulang nanti jika kau tidak memberiku ramuan penumbuh rambut,” ketus Merlin dari belakang Lily. Terlihat dari belakang, pundak Lily bergetar karena menahan tawa. Merlin lalu menepuk bahu Lily. “Aku akan mencabut seluruh rambutmu agar kamu tahu sebetapa dinginnya kepala saat botak!”
Mendengar ancaman Merlin, Lily malah tertawa keras, bahkan menepuk punggung Vina yang berjalan di sampingnya. “Baiklah, aku pastikan Efron menemukan ramuan itu untukmu,” Lily menarik tangan Merlin agar berjalan berdampingan, “atau rambut palsu model terbaru dari Addison,” lanjutnya usil.
Merlin menepis tangan Lily dan kembali berjalan di belakang. Wajahnya tampak menggerutu dengan alis menekuk ke bawah. Irish dan Vina hanya bisa menahan tawa karena tidak mau ambil risiko jiwa kedua seniornya berakhir berkelahi.
Bunyi debur ombak terdengar makin jelas, mereka terus berjalan hingga keluar dari kawasan karang-karang. Saat itu, elang milik Vina memberi sinyal lengkingan keras, Vina menatap langit, kedua bola matanya melirik kanan dan kiri mencari pet contract-nya. Burung elang itu melengking lagi.
“Klorofox ada di dekat sini, tapi dia terbang ke arah pusat kerajaan,” jelas Vina setelah mendapat informasi.
“Kalau begitu, kita harus menyeberang.” Merlin ikut melirik elang milik Vina yang melayang di angkasa. Perlahan terbangnya semakin rendah, kemudian hinggap di siku Vina.
“Tugasmu sudah selesai, Riger. Kamu boleh kembali dan beristirahat, terima kasih, ya!” Gadis berambut pirang panjang itu mengakhiri komunikasi dengan hewan kontraknya. Keempat gadis itu kembali berjalan sampai akhirnya kaki mereka menginjak pasir pantai.
“Sekarang bagaimana caranya kita menyeberang?” Irish memecahkan keheningan. Dalam turnamen ini, peserta dilarang menggunakan transportasi atau alat bantu selain milik tim, pet contract, dan bakat anggota tim. Tentu saja mereka tidak bisa menyewa perahu untuk menyeberang.
“Bagaimana kalau kita membuat rakit?” Vina menatap mata setiap rekan timnya, berharap jawaban pasti.
“Idemu tidak buruk, tetapi dengan ombak yang seperti itu, lebih aman memakai perahu atau kapal.” Merlin akhirnya buka suara.
Lily mengangguk mendengar saran itu. “Kita bisa buat membuat perahu kecil, lihat!” Lily menunjuk pada sebatang pohon yang sudah tumbang. “Pohon itu bisa dipakai untuk membuat perahu, kita gunakan saja bakat kita.”
“Ide bagus! Vina kamu bisa menjahit? Kita perlu daun yang lebar untuk ditaukan menjadi layar!” seru Merlin dengan senyum kecil. Vina mengangguk percaya diri.
“Aku akan melubangi pohon ini untuk tempat kita duduk.” Merlin mendekati pohon tumbang itu bersama Lily, Irish seketika bingung harus melakukan apa. Dia memutuskan untuk membantu Vina mencari daun. Namun, Irish menyadari kalau jubah turnamennya bisa dipakai sebagai layar saat merasakan angin berembus padanya.
Di lain sisi, asap samar-samar mengepul di sekitar mereka. Rupanya asap itu bersumber dari batang pohon yang sedang dimodifikasi oleh Merlin. Dia menggunakan bakat apinya, hanya dengan dua jari dia melubangi badan kayu seperti menggambar oval besar di atasnya. Akhirnya, terbentuklah cekungan untuk mereka duduk di perahu berbentuk pohon itu.
“Ya, ampun, matahari sudah hampir tenggelam!” pekik Lily saat melihat ke langit. Benar saja, sinar matahari perlahan menjadi gelap dan semakin gelap.
“Oh? Rupanya kamu perlu pertolongan!” Lily memegang sisi lain perahu, tetapi tetap saja berat. Irish dan Vina spontan berdiri untuk membantu kedua seniornya itu. Perahu tersebut berhasil diangkat sampai perbatasan pasir dan air laut. Vina memasangkan jubah Irish pada tiang dengan ikatan akar tanaman. Merlin melotot melihat itu, lalu beralih melotot pada Irish.
“Apa? Jubah kita diciptakan tidak akan bisa sobek, kan?” Irish menyengir.
Lily yang lebih dulu naik untuk duduk di bagian paling nyaman.” Ayo, semua naik!” Irish dan yang lain menurut, mereka masuk satu per satu. Merlin masuk paling akhir. Tidak lupa dia mendorong perahu agar sepenuhnya mengapung di air asin, karena sudah di atas air, jauh lebih mudah untuk mendorong perahu itu meski sudah dipenuhi orang.
“Syukurlah, ternyata cukup!” Gadis botak itu duduk di belakang, memastikan luas tempat duduk cukup untuk timnya, tetapi ketika dia duduk, barulah dia sadar kalau rupanya tempat duduknya sempit. Akhirnya, dia duduk setengah berjongkok sambil memeluk lutut. Bertiupnya angin pada layar, maka perahu mulai mengarungi lautan.
Dari perahu kecil itu mereka dapat melihat matahari yang kian gelap, makin lama makin turun, seperti bersembunyi di balik selimut air laut.
“Cahaya mataharinya mirip dengan rambut Lily, ya!” Vina menunjuk matahari terbenam.
Lily mendengar itu langsung mengibaskan rambutnya percaya diri. Vina yang tidak bersalah terkena tamparan rambut api yang baru saja dia puji. “Ups, maaf, aku sengaja.” Lily tertawa renyah. Tawanya tidak disambut baik oleh lautan, perahu mereka diserang oleh ombak besar. Gadis berambut api itu spontan berpegangan pada sisi perahu, percikan air laut bercipratan mengenai mereka. Seragam mereka basah kuyup setiap kali air bercipratan ke sisi perahu.
“Hati-hati, semuanya berpegangan!” perintah Lily. Perintah itu dituruti seluruh anggotanya yang ikut panik. Dewi Fortuna belum puas menguji kesabaran mereka, kali ini gelombang yang datang lebih tinggi, hingga perahu mereka terangkat lalu terbanting keras di air.
“Sepertinya aku mabuk laut,” keluh Vina menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Lily menoleh dengan cepat pada gadis kuncir dua itu, menganalisis tanda bahaya, jangan-jangan Vina akan muntah dan mengenainya. “Kamu terlalu sering terbang, begitu berada di laut langsung mabuk?” Suara Lily terdengar lantang seperti akan marah. Emosinya didukung oleh gelombang berikutnya yang lebih tinggi dan cepat! Perahu yang mereka tumpangi terangkat tinggi lagi, lalu terbanting ke depan dengan posisi terbalik. Keempat gadis itu masuk ke dalam dinginnya air laut.
“Irish! Merlin! Vina!” Lily berteriak memanggil anggotanya satu-satu. Merlin muncul di permukaan, menstabilkan dirinyadi air yang bergerak di sekelilingnya. Matanya bertemu dengan Lily, keduanya saling tatap dengan panik. Irish dan Vina tidak terlihat. Serempak mereka menyelam dan melihat Vina yang tidak bisa berenang itu sedang bergelut dengan air. Lily menarik gadis berambut pirang itu ke permukaan. Sedangkan Merlin masih mencari adik tingkatnya yang satu lagi.
“Di mana Irish?” Merlin muncul dari dalam air, melihat Lily sudah merangkul Vina yang terkulai lemas, Lily hanya menggeleng. Merlin menyelam lagi, kali ini dia mendekati perahu mereka yang terbalik, di sana terlihat sepasang kaki yang mengambang seperti rumput laut. Ketika dia dekati, rupanya Irish sedang berusaha membalikkan kembali perahu. Merlin dengan sigap membantu Irish mendorong pohon perahu tersebut hingga kembali pada posisi semula.
“Ayo, semuanya naik!” pekik Merlin pada Lily. Pertama, dia membantu Vina dulu untuk naik, disusul Irish yang memangku kepala Vina di pahanya. Merlin dan Lily menyusul ke perahu. Merlin kembali ke belakang perahu dengan kedua tangannya masuk ke air.
“Berpeganganlah, perjalanan ini tidak akan lama!” Dalam sekejap, perahu mereka berjalan lebih stabil melewati ombak-ombak. Merlin mengendalikan ombak-ombak yang akan datang mengadang agar lebih pelan. Tidak lama, daratan mulai terlihat, gadis-gadis malang itu merasa lega.
Begitu mendekati bibir pantai, mereka turun buru-buru. Lily membopong Vina, Irish mengambil jubahnya dari tiang perahu untuk menyelimuti diri yang kedinginan, sedangkan Merlin mengeringkan dirinya dengan elemen udara, kemudian bergantian mengeringkan anggota timnya. Vina masih sadar, tetapi dia terlalu lemas hingga harus dibopong.
“Sebaiknya kita istirahat dulu di dekat hutan, hewan seperti Klorofox akan mencari makan di sana,” saran Irish berusaha untuk merangkul Vina yang jauh lebih tinggi. “Di hutan juga kita lebih mudah mencari makanan untuk mengisi perut,” lanjut Zaadia pendek itu.
“Kalau begitu, kita sebaiknya menuju Highland, di sana banyak pepohonan. Kita bisa mencari bahan makanan dari tumbuhan.” Merlin menyetujui saran Irish. Lily mengangguk sepakat. Keempat gadis itu akhirnya menuju Highland untuk bermalam.