Maple High School Academy Hidden Year 3

Maple High School Academy Hidden Year 3
Marionette Feather in WAET CCXXII - The Lost Beast




The Lost Beast


SANG BASKARA PERLAHAN turun ke peraduannya. Bias jingga memecah bidang cakrawala, menciptakan ilusi optik yang begitu menawan mata. Manusia serigala liar itu belum juga kembali. Terasa janggal bagi mereka, tetapi tak ada tanda-tanda bulu kelabu itu pulang.


"Guys, there's something wrong here. We must check it now!" Zovras mengajak Axel dan Zeon menuju kerumunan yang tak pernah bubar semenjak mereka tiba.


Melewati setapak yang mulai sepi, mereka mengedarkan pandangan. Zovras mencari keberadaan Wolfe sembari mendekat, sementara yang lainnya berhenti tepat di tempat yang ia minta. Benar saja, keanehan terlihat. Kerumunan orang-orang yang mereka lihat hanyalah ilusi, hanya bayangan semu yang seolah tampak nyata bergerak.


"Gawat! Wolfe menghilang!" teriak Zovras dari ujung trotoar jalan lainnya.


"Sial! Menghilang ke mana serigala berlapis buaya itu? Bagaimana kalau dia kenapa-kenapa? Berengsek, aku harus menemukannya," ucap Zeon pelan.


"Kau mengkhawatirkannya?" Ucapan Axel menangkap basah kepedulian Zeon, "aku makin curiga kalau kau benar-benar menyukainya."


"Matamu! Dasar cowok cuek bebek! Bahkan kepedulian saja kau salah artikan," ketus Zeon melipat tangan di dada.


"Kalau bukan begitu, lalu apa?" balas Axel datar.


"Huft! Sudahlah aku mau pergi sendiri mencarinya!" Zeon memanggil Falcon Autumn, ia terbang membawa kekesalan. Tak menghiraukan apa pun, termasuk teman timnya.


Axel menembakkan benang emas ke arah kaki burung raksasa itu tanpa sepengetahuan Zeon dan menatap kepergian Elf itu tanpa ada rasa bersalah.


Apa aku salah mengatakan hal itu? batin Axel.


"Hei! Mana Zeon?" tanya Zovras setibanya di tempat Axel berdiri.


"Itu!" Axel menjawab dengan santai dan menunjuk ke arah langit. Sekelabat bayangan Zeon masih terlintas di awan.


"Astaga ... baru saja Wolfe menghilang, sekarang Zeon pergi sendirian. Benar-benar sial timku kali ini," ucap Zovras santai sembari memijit keningnya, "Kau? Tak mau pergi juga?"


"Entahlah. Kalau kau tak membutuhkanku, aku bisa pergi."


Hm ... benar-benar menyebalkan. Selepas misi turnamen ini berakhir, aku akan meminta  liburan dari kepsek, batin Zovras frustrasi.


"Ya sudah, ayo kita cari mereka!"


 "Ayolah! Tunjukan di mana kamu berada, Serigala Nakal."


Zeon semakin frustrasi. Sudah makin sore dan dia belum menemukan jejak keberadaan Wolfe. Entah berapa kali ia melewati tempat yang sama, tetapi nihil. Zeon memutuskan berhenti sejena dan meminta Falcon untuk turun di Blossom Forest bagian utara. Tiba-tiba, suara tapak kaki terdengar datang bersahut-sahutan. Zeon memutuskan segera bersembunyi di balik pepohonan.


"Hihihi! Kita mendapatkan tahanan bagus, Tuanku. Seekor Werewolf muda. Tuanku bisa menjadikannya budak kalau mau, saya akan mencuci otaknya!"


Suara wanita itu begitu mengerikan, aura jahatnya membuat Elf malang itu ketakutan. Zeon mengintip perlahan lewat semak belukar. Namun, ia tak menemukan apa pun.


"Kamu melihat apa anak kecil?" Suara yang berasal dari belakang Zeon mengagetkannya. Mereka berlima sudah berdiri di belakang Zeon.


Gawat! Aku harus menjaga jarak, batin Zeon.


"Menjauhlah! Bayonetta : Phantom Dark Gate!"


Kibasan rambut Zeon berhasil merobek dimensi, membuka gerbang alam monster. Ia memerintahkan beberapa monster menyerang mereka, tetapi tampaknya mereka tak gentar sedikit pun.


"Stannis, majulah!"


"Hehe ... dengan senang hati, Bos!"


Pria berambut pirang bermata cokelat kehitaman berjalan mendekati arah datangnya serbuan monster Zeon. Ia membuka sarung pedangnya, kilauannya mengaburkan pandangan Zeon. Secepat kilat, gerakan pria itu tak terbaca sedikit pun. Ia menutup sarung pedangnya dan seketika tubuh monster-monster itu terbelah. Tak ada yang tersisa.


Matilah aku! Ternyata kekuatannya melebihi ekspektasiku. Dia swordmaster yang begitu piawai dengan pedangnya, batin Zeon. Keringat perlahan menetes dari wajahnya.


"Kenapa? Terkejut?" ucap salah satu pria di samping Stannis, seolah mampu membaca yang Zeon pikirkan.


"Hei, Zavier! Jangan buat tikus kecil kita ketakutan, dong!"


Zeon mengambil kesempatan, ia memanfaatkan perdebatan mereka untuk mengambil serulingnya. Saat ia hendak memainkannya, tiba-tiba ia tak bisa bergerak. Seolah membatu karena sesuatu.


"Dasar tikus menjijikkan!" Pria bertubuh atletis bersurai kelabu dengan bekas cakaran di mata kiri menggunakan kekuatannya.


Pria itu memiliki tanda salib di telapak tangannya. Ia mengangkat Zeon ke udara seakan boneka kendali jarak jauh. Ia mengetatkan genggamannya, ternyata berdampak pada Zeon. Zeon memuntahkan darah segar. Belum selesai, pria itu mementalkan Zeon hanya dengan sekali ayunan tangan.


"A-Axel ... to-tolong a-ku."


-•o0o•-


DEG!


Axel berhenti tiba-tiba. Firasatnya memburuk bersamaan dengan benang penanda Zeon bereaksi tidak wajar. Zovras melihat perubahan sikap Axel dan merasakan keanehan.


"Ayo, ikut aku! Aku merasakan Zeon dalam bahaya," ucap Axel sembari melebarkan sayapnya, merangkul Zovras dan membawanya terbang menuju arah benangnya bereaksi.


Zovras tersengat perasaan yang sama. Entah mengapa, ia mengkhawatirkan Wolfe juga mengalami keadaan yang sama. Apalagi melihat kecepatan terbang Axel yang tidak biasa. Matanya juga terlihat serius dan semakin menakutkan. Lima belas menit berlalu, mereka akhirnya sampai. Mereka melihat Wolfe yang terkurung di dalam sangkar dengan tatapan kosong, sementara Zeon terkapar tak berdaya di dekat pohon cedar.


"Zovras! Bergegaslah replika diri dan tolong mereka!" ucap Axel menukik tajam ke arah tempat kejadian, kemudian melemparkan Zovras.


Zovras mereplika diri menjadi empat dan langsung mengeluarkan kekuatannya. Memecah kelompok itu menjadi berpencar. Axel terbang mendekat dan mengangkat tubuh Zeon yang mulai kehilangan kesadaran hingga tak sadar seseorang akan menyerangnya. Suara ledakan terjadi, Zovras berhasil menghalau serangan itu.


"Kau tak apa-apa?"


"Iya, bertahanlah! Aku akan membawa Zeon menepi dulu."


"Aman," jawab Zovras santai.


Axel secepat kilat terbang dan memindahkan Zeon ke tempat yang aman. Sekilas, ia melihat seseorang yang pernah hadir di masa lalunya, tetapi ia masih belum percaya. Setelah mengamankan Zeon, ia bergegas kembali. Melihat Zovras yang tampaknya terpojok, Axel bergerak membantu.


Axel menangkap Zovras menggunakan benangnya dan berkata, "Butuh bantuan?"


"Yeah, seperti yang kamu lihat. Tampaknya tak seimbang, bukan?"


"Iya, berhati-hatilah dengan pria bersurai kelabu itu. Kekuatannya mungkin bisa meratakan sebuah pulau," ucap Axel sambil menurunkan Zovras.


Axel dan Zovras beserta replikanya menyerang balik seluruh komplotan itu. Sekarang keadaannya berbalik, mereka lebih unggul. Namun, ada sedikit keanehan di hati Axel. Pria yang sepertinya ia kenal itu, masih diam saja melihat teman-temannya kewalahan. Hingga tiba-tiba ia mengangkat tangan sehingga memperlihatkan tanda salib di telapaknya.


"Longinus!"


"GAWAT! ZOVRAS MENGHINDAR!"


Ledakan besar berhasil meruntuhkan beberapa pepohonan, efeknya merusak sangkar yang mengurung Wolfe. Untung saja Axel berhasil menangkap Zovras asli tepat waktu.


"Apa itu?" ucap Zovras sedikit ketakutan kepada Axel.


"Tak ada waktu menanyakan hal itu. Lebih baik sekarang kita selamatkan Wolfe dan pergi menjauhi mereka," jawab Axel jauh lebih ketakutan.


Mereka membagi tugas, Zovras mereplika kembali dirinya, menciptakan badai debu dan badai es untuk mengaburkan pandangan, sementara Axel menggunakan benangnya. Mereka mengambil kesempatan emas itu untuk melarikan diri.


"Gawat, Tuan! Mereka berhasil membawa tahanan kita," ucap Lola.


"Apa perlu saya kejar, Tuan?" ucap Gilga, seorang pemberontak dari ras Fallen Angel.


"Tak usah! Kita akan bertemu dengan mereka di lain waktu," ucap pria bersurai kelabu itu dengan senyuman misterius.


 Zovras dan Axel berhasil melarikan diri dari kejaran pemberontak menakutkan itu. Seumur-umur, Zovras belum pernah menemukan orang semengerikan itu. Kekuatannya tak bisa diprediksi, hampir saja nyawanya melayang. Kini mereka sudah tiba di tempat Zeon diselamatkan. Di aliran sungai di bawah Raijin Temple, tepat di seberang Eternal Thunder. Zovras merapalkan mantra penyembuhan untuk Zeon, perlahan Elf petakilan itu siuman.


"A-aku d-di mana?" ucap Zeon membuka matanya perlahan, "MANA PEMBUNUH BERDARAH DINGIN ITU?"


"Hey! Calm down, dude. You just woke up," ucap Zovras menenangkan.


"Fyuh! Syukurlah ... di mana Wolfe?"


"Payah! Bisa-bisanya kau masih mengkhawatirkan orang lain. Cih! Itu yang katanya tidak peduli," sahut Axel sarkas. Ucapannya benar-benar tak mencerminkan dirinya yang biasanya irit berbicara.


Zeon menatapnya sangat kesal, meskipun perkataan Axel memang ada benarnya. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke Zovras. Penyihir itu menangkap maksudnya.


"Itu! Dia ada di sana tak sadarkan diri. Sepertinya pengaruh 'cuci otak' masih menempel padanya. Bisa kamu murnikan?"


"Akan kucoba," balas Zeon singkat. Ia bangkit perlahan dan mendekati tubuh Wolfe, kemudian mulai menggunakan kekuatan sylph-nya.


Axel malah pergi ke tepi sungai, duduk diam dan menatap air yang tenang. Zovras memiliki segudang pertanyaan kepadanya, tetapi mengurungkan niat karena melihat raut wajah Axel jauh lebih suram dari biasanya.


"Are you okay?" ucap Zovras sembari memberi makanan kepada Axel, "boleh aku duduk?"


"Hm ... ya."


Zovras mengambil posisi duduk di sebelah Axel dan mencoba mencairkan suasana. Ia kemudian berkata, "Apakah kau mengenal mereka?"


"Aku tidak begitu yakin, tetapi salah satunya mungkin, iya."


"Siapa? Apakah yang berambut kelabu seperti asap itu?"


"Iya, aku merasa dia adalah teman masa kecilku dulu. Ia Alexander, kami menempa bakat bersama dulu."


"Oh begitu, lalu kekuatan apa itu tadi? Daya hancurnya mengerikan," tanya Zovras kembali.


"Itu Longinus, bakat unik dari ras Fallen Angel."


Axel menjelaskan kisah masa lalunya. Ia bahkan melanggar kebiasaannya menjadi cowok apatis, dingin, dan irit berbicara. Malam itu, ia mengatakan semua tentang kekuatan aneh yang barusan mereka lawan. Zovras memerhatikan dengan serius, seakan terheran dengan perubahan sifat Axel ketika menuturkan kisah di balik dirinya itu. Perlahan, lampion jingga hadir dan berterbangan di langit kuil Raijin. Pemandangan indah itu membawa mereka kepada kedamaian. Kunang-kunang harapan juga hadir menambah indahnya suasana dengan embusan angin malam menyejukkan. Suara batuk Wolfe membuat mereka tersadar akan euforia itu, mereka bangkit dan menghampiri Zeon dan Wolfe. Berkumpul dan menikmati malam indah yang begitu tenang.