
Shappire Moon Gifts in Crystal Lake
Song : Alessia Cara - How Far I'll Go
PERASAAN sedih dan kecewa terhadap diri sendiri bercampur aduk dan menyelimuti hati Axel. Ia pernah berjanji dengan ibunya sebelum napas terhenti kalau ia tak akan melepaskan kekuatan itu. Namun, ia gagal mengontrol amarah yang telah tercampuri oleh dendam pada seseorang yang suka meremehkan kemampuan orang lain. Karena prinsipnya mau selemah apa pun kekuatan itu akan sangat berguna apabila dilancarkan dengan strategi yang efektif. Beginilah akhirnya, ia hanya bisa terduduk diam sendirian memandangi bintang dan bulan bergandengan memancarkan cahaya, serta sesekali merutuki diri sendiri.
"Axel ... boleh aku duduk?" pinta Zeon, merasa takut dan gugup karena kejadian sebelumnya.
Axel yang begitu akrab dengan pemilik suara itu berusaha mengabaikan, meskipun ia tak tega mendengar nada suaranya. Malaikat yang tengah frustrasi itu akhirnya mengangguk dan membiarkan Elf itu mengambil posisi duduk ternyamannya. Axel masih menenggelamkan kepalanya, sesekali mengangkat dan mengacak-acak rambut. Zeon melihat hal itu, perasaannya menjadi lebih hancur melihat perpecahan karena ia lemah tak berdaya. Laki-laki bersurai putih dengan telinga panjang itu ingin mengelus rambut temannya, tetapi ia takut malah akan memperparah suasana hati Axel.
Zeon mengambil ranting kayu dan menggambar sesuatu di atas tanah. Ia memberanikan dirinya dan berkata, "Maaf ...."
Axel tertegun sembari menatapnya dan bertanya, "Untuk apa? Kau tak salah."
Zeon terdiam sejenak. "Karena ulahku kalian jadi bertengkar. Itu semua salahku menjadi lemah," tuturnya dengan nada suara yang begitu halus di telinga.
"Lemah? Bagiku, kekuatanmu itu kuat dan unik. Hanya saja kau tak menyadarinya."
"Hm ... Axel, boleh aku bertanya?" Mata Zeon berbinar seolah ingin menangis.
Hm ....
"Kenapa kau peduli denganku? Bahkan sampai menggunakan kekuatan terlarang seperti itu. Sebelumnya belum pernah ada yang begitu peduli denganku." Ucapan Zeon berhasil menyita perhatian Axel.
Axel terkejut karena kekuatannya menjadi pusat perhatian. Ia kemudian bertanya, "Bagaimana kau mengetahuinya? Padahal aku tak memberitahu siapa pun."
"Itu sangat mudah diketahui, Axel. Melihat munculnya lambang aneh yang diikuti banyak perubahan signifikan padamu. Kekuatan apa itu? Dari mana kau mendapatkannya?" tanya Zeon mulai merasa penasaran.
"Maaf ... itu rahasia." Axel kembali menenggelamkan kepalanya dalam lipatan tangan di kaki.
"Axel, apa boleh aku minta satu hal?"
Axel tak merespons kembali, ia tampaknya benar-benar merutuki kebodohannya sendiri.
"Berbaikanlah dengan Wolfe! Aku tahu ini sulit, tetapi aku mohon." Zeon menggenggam tangan Axel, berharap Axel luluh. Namun, yang terjadi malah sebaliknya.
Axel mengempas tangan Zeon dan berkata, "Pergilah jika kau masih membela berengsek yang selalu merendahkan orang lain itu."
"Ayolah, Axel!"
Axel masih tetap mengabaikannya. Axel sungguh kesal melihat tingkah Zeon, padahal ia sudah diperlakukan semena-mena.
"Ya sudahlah ... lebih baik aku menenggelamkan diriku dalam Danau Kristal. Karena ulahku dan kemampuan yang tak ada gunanya, kalian jadi terpecah belah."
Zeon bangkit dengan perasaan kesal. Ia berjalan menuju danau. Axel dilema. Satu sisi ia tak ingin menjatuhkan harga dirinya karena meminta maaf, tetapi ia tak ingin membunuh temannya secara tidak langsung. Ia mengacak rambutnya gusar dan akhirnya berdiri.
"Hentikan langkah licikmu," ucap Axel sarkas, "kau sungguh naif. Aku akan meminta maaf padanya. Namun, sekali ini saja."
Zeon sangat bahagia mendengarnya, tetapi ia tak ingin diketahui Axel. Malaikat bersayap cokelat itu perlahan menyusul langkahnya. Tak sengaja mereka bertemu Zovras yang tengah membawa kayu dan ranting kering.
"Kalian mau ke mana?" tanya Zovras.
"Kami ingin mencari Wolfe, Kapten." Raut wajah Zeon yang semanis panda membuat Zovras geli.
"Untuk apa?" Zovras menahan tawanya, "lebih baik kalian membantuku dengan kayu bakar ini."
"Tapi ...."
"Tenanglah! Wolfe hanya butuh waktu merenung. Aku yakin ia akan segera kembali," sahut laki-laki penyihir itu dengan santai.
Dalam hati Axel merasa sangat senang karena tak jadi menjatuhkan harga diri dengan meminta maaf. Akhirnya, mereka membantu Zovras mendirikan tempat berkemah dan menghidupkan api unggun sebagai penghangat, kemudian memutuskan tidur beristirahat. Berharap esok semuanya akan kembali baik-baik saja.
Yang benar saja! Semua orang menyalahkanku. Huft ... sangat mengesalkan! Padahal aku hanya ingin menyelesaikan misi ini dengan keren. Namun, argh ... sial!
Umpatan demi umpatan meluncur dalam batin serigala putih itu. Ia melampiaskan kekesalan dengan melempar batu gepeng ke arah danau. Batu-batu itu terpantul. Pantulannya berupa gelombang cahaya aurora berkilauan. Tiba-tiba terdengar suara begitu merdu di balik semak yang menutupi tepian danau lainnya.
I wish I could be a perfect daughter,
But I come back to the water,
No matter how hard I try,
Every turn I take, every trail I track,
Every path I make, every road leads back,
Suara indah itu menghanyutkan pikiran Wolfe. Ketenangan dan kedamaian perlahan menghapus kekesalannya. Membawa langkah kakinya menuju sumber harmoni itu tercipta. Namun, dalam sekejap ia teringat bahwa sebelumnya pernah hampir terbunuh karena hipnotis wanita yang ia tolong. Wolfe akhirnya memutuskan tetap waspada agar kesalahan yang sama tak terulang.
Ia mengambil batu kerikil dan melangkah tanpa suara. Tepat dalam jangkauan dua meter di hadapannya, Wolfe melemparkan batu itu dan berhasil mengenai sesuatu.
"Auh! Sakit! Hei, siapa sih yang melemparku?"
Nada yang lembut terdengar di telinga itu memantapkan hati Wolfe untuk mengecek. Semak belukar itu saling beradu, menimbulkan suara berisik yang membuat pemilik suara itu terdiam. Hingga betapa terkejutnya Wolfe ketika menatap sosok cantik di depannya.
"Kamu? Si-apa?"
"Kyaa! Dasar cowok penguntit mesum! Enyahlah!" Wanita cantik yang tengah berusaha menutupi tubuhnya berteriak dan mengempaskan air danau kepadanya.
Serigala itu berhasil mandi tepat tengah malam. Ia tersadar dan beranjak pergi dari tempat itu, kembali ke tempat awal ia duduk dan melepas kekesalan.
"Sedang memandangi apa?" ucap wanita itu sembari mencari arah pandang Wolfe, "Apa kau memikirkan hal kotor tentangku?"
Wolfe menatap wanita yang berdiri di sebelahnya dan berkata, "Hah? Ti-dak kok. Aku minta maaf soal kejadian tadi dan batu kerikilnya juga."
Oh, jadi kau yang melempar ya, batin wanita bermata biru galaksi itu.
"Hm ... kau benar. Aku kesal karena temanku semua menyalahkanku. Padahal itu semua karena mereka lemah, alhasil misi membunuh binatang sihir pada turnamen Wisteria terhambat."
Yang benar saja! Memang kau yang terlalu egois, batin wanita berkulit putih pucat yang memandanginya, "Kamu yakin? Kalau memang seperti itu kenapa kalian saling bertengkar dan hampir saling membunuh?"
"Bagaimana kau mengetahuinya?" tanya Wolfe penasaran, "sebenarnya kau siapa? Mengapa mandi di danau berbahaya tengah malam begini?"
Astaga aku keceplosan. Wanita manis itu mulai salah tingkah. "Ah, itu ...." Wanita itu terdiam, "Bagaimana tidak aku ketahui? Perkelahian kalian membuat hampir separuh Rainville cemas karena getaran pergerakan daratan."
Mencurigakan! Namun, ada benarnya juga, sih, batin Wolfe yang tengah menyipitkan mata memandangi wanita di sebelahnya. "Menurutmu begitu? Hm ... apa mereka benar kalau aku hanya akan menjadi beban bagi mereka? Aku tak bisa mengontrol kekuatanku."
"Tidak, kalau kau mampu menggunakan kekuatan penghancurmu tanpa harus berubah menjadi raksasa," sahut wanita itu, "ah iya ... kau tak perlu tahu namaku, kenali saja sebagai Putri Bulan."
"Bagaimana bisa kau seyakin itu?"
"Aku bisa membantumu jika mau?"
Mata Wolfe berbinar sesaat setelah mendengar penawaran wanita Putri Bulan itu. Wanita itu bangkit dari tempat duduknya, merapalkan mantra dan mereplika dirinya menjadi tiga.
"Ayo sekarangtangkaplah aku!" Wanita itu memelesat secepat kilat di antara pepohonan. Wolfe dengan semangat berusaha menyeimbangkannya. Meloncat dari satu pohon ke pohon, melewati batu dan kubangan air, bahkan sesekali hampir tercebur ke dalam danau. Karena terlalu terobsesi, Wolfe tak fokus dengan dinding tanah di depannya. Dan terjadilah tabrakan.
"Hahaha! Dasar serigala haus nafsu dan perhatian. Perhatikan langkahmu!"
Wolfe naik darah karena untuk pertama kalinya dipermalukan seorang wanita. "Bagaimana bisa tembok tanah ini muncul? Apa ini ulahnya?"
Wolfe tak sadar kalau ada seseorang lagi yang tengah mengawasi latihannya. Senyum misterius terukir jelas di balik pepohonan rindang.
"Apa kau sudah menyerah, Kucing Nakal?"
"Serigala nakal? Perhatikan perkataanmu, Wanita Usil!"
Kekesalan Wolfe mencuat. Ia berlari dan meningkatkan superspeed-nya. Ia hampir berhasil menyamai gerakan lincah wanita itu. Tangannya berusaha meraih lengan Putri Bulan, tetapi itu hanya ilusi. Serigala itu marah, urat lengannya mulai terlihat seolah ia ingin segera menjadi raksasa dan menangkap wanita nakal itu.
"Eits! Jangan lupa peraturannya, Kucing Nakal! Jangan berubah, tetapi manfaatkan kekuatannya pada tubuh manusiamu!"
Entah dari mana datangnya suara itu, Putri bulan seakan lenyap di antara pepohonan. Wolfe mencoba melakukan apa yang diperintahkan wanita itu, tetapi ia gagal karena amarahnya.
"Cobalah tetap tenang dan fokus! Jangan mudah terpancing amarah!"
Wolfe menarik napas panjang, membuang kekesalannya bersama udara yang keluar. Matanya mulai fokus dan telinganya mulai melacak langkah wanita itu. Suara kebisingan hutan dan makhluk penghuninya perlahan menghilang. Ia berusaha meredam dan mencari target perburuannya.
Ketemu!
Secepat angin, ia berlari menerjang gelapnya hutan. Rintangan yang bermunculan mulai dari tembok tanah, angin kencang, tembakan air, dan batang pohon yang seolah menghalangi berhasil ia singkirkan. Wolfe berhasil menemukan targetnya yang berlari menjauh. Ia mencoba meraih kembali lengannya, tetapi petir menyambar entah dari mana. Wolfe tetap mencoba tenang dan fokus, mengambil belatinya dan memantulkan kilat itu. Sekelabat cahaya berkilau muncul menyelimuti Wolfe. Perubahan bentuk fisik terjadi bersamaan hilangnya cahaya itu.
"Kau berhasil Wolfe, selamat!"
Semak belukar di sekitar tempat Zeon, Axel, dan Zovras berkemah saling beradu menimbulkan suara gaduh yang membangunkan mereka. Axel yang menyadari Zeon semakin tak berdaya akibat racun, bangkit dan berdiri menjadi perisainya.
"Siapa itu? Keluarlah atau aku akan menghabisimu!" Axel sudah siap dengan kekuatannya.
Sesosok makhluk muncul dari balik gelapnya hutan pada waktu fajar. Telinga serigala putih dengan ekor mengibas ke segala arah. Ia hanya diam di tempat membawa sebuah botol bermotif bulan dengan warna biru permata safir.
"Tenanglah, ini aku," ucapnya dengan nada manis.
Axel dan Zeon tertegun saling menatap. Suasana hening tak ada respons, tetapi setelahnya tawa kencang menggelegar dari mereka berdua.
"Apa benar itu kau, Wolfe?" tanya Zeon di sela tawanya, "yang benar saja! Kau begitu imut."
Wolfe menahan malu dengan perubahannya, tetapi kibasan ekornya yang semakin cepat membuat Zeon dan Axel semakin tertawa geli.
"Argh! Hentikan tawa kalian! Ini untukmu, segeralah minum," ucap Wolfe sembari menyerahkan botol ramuan itu.
Zeon meminumnya, perlahan racun itu berhenti menyebar dan menghilang. Zeon kembali bertenag dan kulit pucatnya kini sudah berona.
"Terima kasih, Wolfe!"
Seulas senyum indah terukir di wajah Zeon. Hal itu membuat Wolfe semakin tersipu malu. Wolfe menyadari ada yang hilang, ia mencari kapten mereka.
"Mana Zovras?"
"Ah iya, ke mana kapten?" sahut Zeon, "padahal kemarin ia tidur di batang pohon itu."
"Tenanglah, aku hanya mencari angin sejenak." Zovras kembali membawa beberapa ikan bersama Elyosa tepat di atas kepalanya.
Mereka akhirnya berbaikan dan berkumpul kembali. Waktu penggunaan kekuatan Wolfe habis, ia kembali normal. Mereka saling tertawa sambil bercerita satu sama lain. Zovras dan Axel sibuk memanggang ikan. Namun, suara berisik mereka memanggil tamu tak diundang. Elyosa menunjukkan reaksi tak suka.
"Teman-teman, itu ... bu-bukan macan, 'kan?" Zeon terdiam ketakutan.
Wolfe, Axel, dan Zovras bersiaga. Tampaknya makhluk itu sedang mencari mangsa di pagi buta begini. Wolfe menerjang dengan cepat hewan itu, tetapi dengan natural ia mampu menghindari serangan Wolfe. Zovras bergerak membantu, begitu pula dengan Axel. Namun, tak ada hasilnya. Tiba-tiba Axel menyadari bahwa makhluk itu hanya fokus pada serangan langsung ke arahnya tanpa strategi. Ia akhirnya memasang jebakan dan dengan sigap menghalau serigala besar itu ke arahnya. Tepat pada waktunya, Axel mengaktifkan mantra jebakan, benang emas itu melilit dan berhasil menangkapnya.
Serigala besar itu tersenyum dan pergeseran dimensi tercipta. Axel terbawa ke ruang hampa semesta bersama hewan itu. "Hah ... tak kusangka ramalan itu benar. Akhirnya aku menemukanmu setelah menunggu hingga berlumut di tempat menyedihkan ini."
"HAH!" Axel sontak kaget melihat hewan mistis berbicara.
"Kenapa begitu terkejut? Bukannya hal itu wajar?" sahut hewan itu seolah mampu membaca keterkejutan Axel.
"Ah iya, lupakan saja! Namun, tunggu, apa maksudmu tentang ramalan itu?"
"Kau adalah pemilikku. Hanya kau yang diramalkan bisa menundukkanku," jawab hewan itu. "Namaku Haggis! Keturunan terakhir ras Laplace Moon."
Haggis mendekati Axel. Tangan malaikat itu bergerak tak sesuai perintahnya. Ia menyayat tangan Axel dan kontrak darah pun terjadi. Perlahan, dimensi itu pecah dan menghilang. Kesadarannya menghilang tertelan kegelapan.
"Axel, bangun!" teriak Zeon yang hampir membuat telinga kedua seniornya tuli.
Axel bangkit dan memegang kepalanya yang sedikit sakit. Serigala besar itu tertidur di pahanya, tanda malaikat yang ada di kening Axel kini tercipta juga di keningnya. Ia tersenyum bahagia, akhirnya bisa memiliki teman dalam misi.