
Scramble Element Ball
WISTERIA ACADEMY ELEMENTRIZ adalah turnamen yang diselenggarakan oleh Wisteria Academy setiap tahun dan sampai sekarang sudah yang ke-222 kali. Tahun ini, Maple Academy menjadi sekolah tamu dan mengirim beberapa tim sebagai perwakilan.
Sebelumnya, Mr. Navarro telah mengirimkan tim untuk mengikuti turnamen ke Wisteria Academy, tetapi entah apa yang terjadi, keempat tim itu tidak pernah sampai di Autumnland. Pihak Maple Academy masih menyelidiki hilangnya mereka. Ada yang mengatakan kalau mereka terlempar ke masa lalu, atau lebih parah, tersesat di luar angkasa dan kehabisan napas. Sepertinya Maple Academy akan berkabung besar-besaran karena kehilangan 16 siswa berbakat sekaligus.
Setelah dilakukan rapat darurat, maka langsung dikirimkan tim cadangan yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari oleh Mr. Navarro dan Lord Betelgeuse. Salah satu tim cadangan itu diketuai oleh Thann Clyfland Iziah yang beranggota Nastradamus, David priscio, dan Miguel Ignazio.
Beberapa hari yang lalu, seluruh tim cadangan sampai di Autumnland dan dipandu oleh Miss Elafir yang mengomel sepanjang perjalanan, karena pihak Wisteria Academy tidak memberikan akomodasi transportasi, padahal mereka yang mengundang.
"Oh! Betapa kerennya lapangan arena ini!" decak David ketika mereka sudah berdiri di atas pilar putih berukir burung phoenix. “Andaikan sekolah kita punya arena sekeren ini juga. Walaupun kita tahu tidak akan terjadi karena Miss Elafir pelitnya melebihi ibu tiri soal pengeluaran.”
Miguel melirik David. "Dasar lebay!"
"Apa kau bilang?"
Miguel mengangkat bahu tak acuh lalu menghampiri Nastradamus. Entah apa yang diucapkan keturunan Demigod itu, ia tak mau dengar. Miguel melihat Thann dari atas pilar dan memberikan semangat.
Sebenarnya Miguel juga mengagumi arena sekolah ini. Lapangan arena Wisteria Academy memiliki tribun tempat duduk penonton yang dibuat dua tingkat. Kini, semua tribun telah terisi oleh orang-orang yang tengah bersorak-sorai.
“SELAMAT DATANG PARA PENONTON DALAM TURNAMEN MENAKJUBKAN ABAD INI, WISTERIA ACADEMY ELEMENTRIZ TOURNAMENT CCXXII! TAHUN INI KITA KEDATANGAN SISWA-SISWI DARI MAPLE ACADEMY! BERI SAMBUTAN YANG MERIAH!” ucap pembawa acara. Suara riuh penonton bergemuruh, mengisi ruangan besar arena itu.
Di tengah arena, seluruh kapten membentuk lingkaran. Mereka sedang diberi pengarahan dan beberapa hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama pertandingan oleh pihak penyelenggara. Setelah pengarahan selesai, para kapten menaiki pegasus masing-masing dan menghadap lurus ke tempat kepala sekolah Wisteria Academy dan jajarannya berdiri. Di belakang orang-orang terhormat itu, dibangun sebuah monumen berwarna putih susu dengan kristal biru yang melayang di tengah.
Setelahnya, kepala sekolah merapalkan mantra dan kristal biru memancarkan cahaya yang mengarah ke langit, tepat di langit lapangan arena. Cahaya itu bagaikan kembang api yang berpendar lalu melingkupi langit lapangan arena. Bentuknya seperti setengah bola atau kubah.
"Apakah itu selubung?" gumam Miguel.
"Kau benar, El. Itu selubung yang dibuat kepala sekolah Wisteria Academy dari kristal melayang di monumen berwarna putih susu tersebut," celetuk Nastradamus.
Kepala sekolah mengetuk bola emas yang melayang dan sembilan bola elemen langsung terbang memasuki arena. Bola elemen yang berada di tengah lapangan berputar lalu melambung ke udara secara bersamaan.
Suara terompet pun terdengar di penjuru arena sebagai pertanda dimulainya pertandingan. Saat itulah, para kapten menerbangkan pegasus masing-masing dan melakukan putaran penuh sebelum memperebutkan bola elemen.
"Nastradamus, bisakah kau menggunakan kekuatanmu?" tanya David.
Nastradamus menoleh lalu mengangguk. Ia memegang mata kiri lalu memejamkan mata. Rasa panas dan dingin menyapa kulitnya secara bersamaan, seperti menyentuh sesuatu yang membuat bulu romanya berdiri. Sebuah kilasan secara singkat pun terlihat.
"Miguel! Peringatkan Thann untuk berhati-hati. Ada kapten Wisteria Academy berambut pirang dengan dengan kaca mata kotak mengejar bola yang sama," perintah Nastradamus setelah melihat.
Remaja Fallen Angels itu mengangguk, ia menghirup udara kemudian berteriak, “Thann menyebalkan! Ada kapten berambut pirang dengan kaca mata kotak mengincar bola yang sama!”
Nastradamus dan David saling melirik. Dasar Miguel bodoh! batin keduanya.
Thann tetap terbang seolah tak mendengar teriakan Miguel yang membahana. “Sepertinya gelang ini mencegah kita membantu kapten,” kata Miguel sambil melirik gelang yang diberikan pihak penyelenggara kepada mereka sebelum pertandingan.
Ketika terompet kedua berbunyi setelah putaran penuh, semua kapten memelesat dengan pegasus masing-masing menuju bola elemen. Sementara itu, ubin arena bergetar dan retak. Muncul magma dengan batu dan api di sisi kiri serta es yang menjulang tinggi di sisi kanan, ada juga tumbuhan liar di pinggir arena.
kepala sekolah Wisteria Academy menyungingkan senyum tipis yang begitu misterius. Sebelumnya, tidak ada pemberitahuan soal arena yang berubah drastis seperti arena battle. Ternyata kepala sekolah sudah menyiapkan hadiah untuk tiap tim yang mengikuti kompetisi ini.
"Apa-apaan ini!" pekik David yang hanya didengar oleh Miguel dan Nastradamus karena sorak-sorai penonton yang makin meramaikan suasana saat kejutan itu muncul.
Tak peduli rintangan yang ada di depan mata, Thann mengarahkan pegasus hitamnya terbang menuju bola elemen berwarna hitam.
Namun, balok es muncul ketika Thann menuju bola elemen yang berada di antara batu dan magma di bawah. Karena tak siap dengan balok yang bermunculan, Thann terjatuh dari punggung pegasus.
"Balok es menyusahkan!" geram Thann, lalu terbang menuju pegasus dengan sayap hitamnya.
Pegasus itu tak lagi menuju bola elemen, melainkan pepohonan yang muncul di pinggir lapangan arena. Thann pun menyerap energi tumbuhan yang ada di sana sampai layu. Setelah itu, Thann mengarahkan pegasus itu terbang menuju bola elemen. Seperti di awal, balok es kembali muncul mengadang. Namun, kali ini ia menembakkan energy shoot pada setiap balok es yang bermunculan.
Thann melihat seorang kapten dari Wisteria Academy yang berambut pirang seperti David dengan potongan curtains dan kaca mata kotak yang juga mengincar bola elemen yang sama.
"Bisa kau lebih cepat?" bisik Thann pada pegasus hitam tungganggannya.
Seakan mengerti ucapan Thann, pegasus itu terbang cepat sambil menghindari balok es yang bermunculan. Raut wajah Thann semakin keruh saat kapten lain hampir menyentuh bola elemen incarannya.
Thann pun menyerang kapten berambut pirang itu dengan energy shoot, lalu memacu pegasus agar terbang cepat. Namun, semburan magma membuat pegasus berbelok ke kiri dan hampir menabrak bebatuan yang muncul dari dalam magma. Tampak magma yang keluar seperti air mancur.
Malaikat bersayap hitam itu mencoba mencari celah sebelum bertindak. Menghabiskan beberapa detik, ia kembali mengarahkan pegasus itu terbang tinggi, lalu berhenti dan turun. Gerakan pegasus yang Thann tungganggi menukik seperti pesawat jatuh.
Tim yang memperhatikan dari atas pilar dibuat bingung dengan rencana kapten mereka.
"Astaga, dia ingin menyeburkan diri ke dalam magma?" tanya David kebingungan.
"Bukan! Thann akan berhasil mendapat bola elemen!" seru Nastradamus, membuat Miguel dan David menoleh bersamaan.
Sedikit lagi, pegasus itu hampir mendekati bola elemen yang berada di atas batu. Magma yang keluar bagai air mancur pun dilewati dengan gerakan zig-zag.
Thann menembakkan energy shoot pada magma yang muncul tepat di bawah pegasus. Ia berhasil mengambil bola elemen setelah menahan magma yang muncul tadi. Sorak-sorai keramaian pun memenuhi arena. Ternyata ia kapten pertama yang mendapatkan bola elemen.
Thann segera terbang menuju tim yang menunggu di atas pilar. Saat mendarat di atas pilar, sebuah perisai melingkupi pilar dengan bentuk setengah bola. Perisai ini berwarna keemasan, berbeda dengan selubung yang transparan.
“Luar biasa! Kita tim pertama yang mendapatkan bola elemen!” David mengambil bola elemen dari tangan Thann. Namun, bola itu melayang di udara.
"Sesuai arahan penyelenggara, membuka segel bola elemen harus memakai elemen yang sama," kata Thann memberitahu.
"Bola elemen berwarna hitam dengan kalung tengkorak ...," gumam Miguel.
Semua mata memandang Nastradamus. Sementara yang ditatap kebingungan. "Ada apa?"
"Kau mengetahui daerah dengan tumpukan tengkorak?" Tim bertanya serempak.
Nastradamus kembali memperhatikan bola elemen yang melayang di udara. Ia pun menyentuh kalung tengkorak tersebut. "Aku tahu!"
"Cepat katakan!" desak David penasaran.
"Begini, kalung ini hanya dimiliki oleh satu wilayah di Auntumnland. Wilayah ini adalah tempat para Necromancer berada." Nastradamus memberi sebuah petunjuk.
Miguel memiringkan kepala, "Kau memberi kami tebak-tebakan saat suasana genting?" tanyanya sebal.
Thann memperhatikan bola elemen sekilas lalu melihat wajah Nastradamus. "Wilayah yang dikuasai oleh necromancer?" tebak Thann, diangguki oleh Nastradamus. "Wilayah itu hanya ada satu. Disebut wilayah kegelapan."
Seketika mata mereka terbelalak menyadari sesuatu. "Darkville!"
Senyum Nastradamus mengembang saat tim menyadari wilayah bola elemen.
"Namun, di antara kita tidak ada yang memiliki kekuatan Necromancer untuk membuka segel," runtuk David.
Miguel tersenyum sinis pada David. "Terkadang kau memang bodoh. Kenapa bisa kau diterima di akademi? Apa kau menyogok Perekrut?” sindirnya.
"Apa!"
Thann menahan David yang akan menyerang Miguel. "El, diamlah!"
Miguel pun mendengus lalu melihat ke arah lain. Di mana beberapa kapten belum mendapatkan bola elemen dan berpencar secara acak.
"Kau seorang penyihir yang berasal dari Auntumnland, artinya hanya kau yang bisa membuka segel bola elemen," ujar Thann.
Tim yang diketua oleh Thann memiliki satu anggota dari ras penyihir, ialah Nastradamus. Dengan kekuatan seer.
Nastradamus mengangguk sekali. "Akan kucoba." Kemudian Nastradamus menyentuh bola elemen, lalu mengucapkan selarik mantra yang membuat bola elemen bereaksi.
Bola elemen semakin membumbung tinggi ke udara, lantas meledak dengan cahaya hitam pekat. Seekor hewan kecil muncul dengan tubuh dan sayap hitam. Ada sebuah kalung tengkorak yang menghiasi lehernya. Hewan itu ialah kucing hitam bersayap.
"Noir!"
Semua mata tertuju pada David yang berteriak. "Apa maksudmu?" tanya Miguel heran.
"Oh! Apa sekarang kau yang menyogok Perekrut untuk bisa masuk akademi?" balas David sinis.
"Kau!" geram Miguel.
Thann menggeram marah. "Jika kalian terus bertengkar, akan kutenggelamkan kalian ke dalam magma di sana!" ancam Thann.
Kedua anak itu pun terdiam.
Kucing hitam bersayap itu mengepakkan sayap beberapa kali, sebelum memelesat dengan kecepatan tinggi dan meninggalkan tim yang melongok.
"Astaga kita kehilangan hewan itu!" David panik.
Thann menepuk bahu Nastradamus. "Bisa kau melihat ke mana hewan itu pergi?"
Nastradamus menggangguk. Ia menutup mata kiri dengan sebelah tangan. Sensasi dingin dan panas kembali menyapa seperti memegang es di depan api unggun. Setelah melihat, ia mengerjap beberapa kali.
"Jadi ke mana hewan itu pergi?" tanya David setelah Nastradamus melihat ke mana hewan itu terbang.
Semua mata kebingungan saat Nastradamus menunjuk sebuah tanaman di pinggir arena lapangan yang menjadi rintangan mengambil bola elemen.
"Woodville. Noir berada di sana."