
Hidden Treasure
Song : Justin Bieber - Ghost
"LALU, APA YANG harus kita lakukan sekarang? Menunggu keajaiban terjadi?"
"Ya ... mungkin bisa dikatakan seperti itu," sahut Zeon datar.
Wolfe mengacak rambut, tampak frustrasi melihat teman-temannya hanya diam dengan kesibukan masing-masing. Ia berjalan mondar mandir dengan sesekali mengacak pinggang dan menendang batu ke arah danau, sekadar melepaskan kekesalannya sendiri. Axel tengah asyik bermain dengan hewan kontraknya dan Zeon sibuk menyusun batuan kristal pada lubang retakan marmer di tepi danau.
Zovras menyadari sesuatu ketika melihat reaksi danau akibat tendangan batu itu. Ia berkata, "Wolfe, coba ulangi sekali lagi!"
"Apa?" sahut Wolfe masih dalam keadaan kesal.
"Tendang atau lempar batu lagi, tapi kali ini tepat ke tengah danau itu!" Zovras menunjuk ke tengah danau.
Wolfe melakukan hal yang diperintahkan penyihir bintang itu. Tak disangka, lemparannya tepat mengenai tengah danau. Pantulannya menciptakan gelombang air dengan bentuk motif sihir misterius. Namun, ada kejanggalan yang ia lihat. Bentuknya belum sempurna, seperti sengaja dibuat menjadi teka-teki yang harus dipecahkan.
"Ada bagian yang hilang," ucap Zovras tengah melipat salah satu tangannya dan meletakkan yang lainnya di dagu, seperti sedang berpikir keras.
"Maksudnya?" ucap Wolfe penasaran.
"Lihat gelombang air yang tercipta itu. Terlihat bentuk motif segel di sana, tetapi belum sempurna."
"Di mana? Aku tak melihatnya," sahut Wolfe yang tengah menelisik jauh. Ia melempar batu lagi dan berhasil melihat apa yang Zovras katakan. "Ah iya ... aku melihatnya."
"Tanpa disadari, motif itu semakin jelas. Bagian yang hilang itu mengarah ... Zeon!"
Zovras bergegas menuju tepi danau, tempat di mana Zeon tengah asyik menyusun batuan kristal pada lubang marmer. Ia dan Wolfe membantu Zeon menuntaskan puzzle itu. Namun, saat selesai malah tak terjadi apa pun. Hanya sebuah motif segel yang sempurna, tetapi tak tahu bagaimana cara membukanya.
"Argh! Sial! Sekarang kita malah terdiam lagi ketika menemukan tempat altar itu disembunyikan," gerutu Wolfe.
Axel yang sedari tadi bermain dengan Haggis, masih mengabaikan teman-temannya yang kesulitan. Wolfe makin geram ketika mata mereka saling bertatapan, tetapi Axel tak merespons sedikit pun. Malah sibuk berlari ke sana kemari bersama anjing hitam itu.
"Woi, Malaikat Kuno, bisa tidak kau hentikan kerjaan tak bergunamu itu! Kemarilah dan bantu kami!" ucap Wolfe sembari berkacak pinggang. "Buruan sini!"
Axel bersungut-sungut melangkahkan kaki menuju tempat itu. Haggis pun mengikutinya. Setibanya Axel di sana, Wolfe langsung menggerakkan tangannya seolah ingin menjitak Axel. Namun, gerakan itu dihentikan Haggis dengan gigitan kuat. Wolfe kesakitan, melompat ke sana kemari melepaskan gigitan Haggis.
"Haggis, sudahlah lepaskan serigala lemah itu."
Anjing hitam dengan ekor kelabu itu menuruti tuannya. Motif emas di dada hingga leher dengan anting di telinganya membuat orang-orang yang ada di tim Axel menjadi iri, termasuk Zeon. Axel mengelus kepala Haggis saat mendekat. Malaikat itu kemudian melihat ke tengah danau, motif segel yang begitu familier baginya.
"Tunggu sebentar! Motif ini ...," ucap Axel mendekati lubang marmer berukiran arsitektur Rainville. "Sepertinya aku tahu bagaimana membukanya."
Axel mengeluarkan kekuatannya dan benang emas muncul tepat di hadapannya. Ia menyayat tangannya dan cairan merah kental mengalir. Ia meneteskan tepat pada lubang itu. Retakan kristal itu bereaksi, seberkas cahaya biru bersinar menyilaukan. Motif segel bintang terukir di tengah danau, pusaran air terbentuk dan menaikkan sebuah altar indah dari dalamnya. Namun, pusaran air lainnya bermunculan satu per satu. Tamu tak diundang berdatangan, monster-monster air penjaga berlari dan mengamuk ke arah mereka.
"Huft! Rasanya tulangku mau encok saja. Tak ada habisnya gangguan ini," keluh Wolfe terduduk di tempatnya.
"Namanya juga turnamen. Kalau mau gampang dan tak capek, ya, hanya menggoda wanita," ledek Zeon. "Benar, tidak? Hahaha!"
"Kau sialan! Tapi memang benar juga, hahaha."
Elf itu bangkit dari duduknya dan mencoba mengeluarkan kekuatan Bayonetta dengan rambutnya. Namun, gerbang itu tak terbuka karena rambutnya kini menjadi pendek. Ia terpaksa memanggil Falcon Autumn dan terbang mengudara meninggalkan teman timnya yang lain. Seperti merencanakan sesuatu yang berbahaya.
"Tenanglah, Wolfe! Dia tak seegois dirimu," ucap Zovras santai, tak menghiraukan kekesalan Wolfe.
Zeon memainkan seruling, Flute of Destiny. Nada itu jauh lebih menyeramkan dibandingkan biasanya. Anting Zeon terlepas dan melayang, kemudian bersinar dan membentuk gerbang portal. Lima monster berukuran setinggi Axel keluar, bergerak mengadang dan menghancurkan beberapa monster pelindung altar. Alunan itu serasa mengisi kekuatan Axel. Tenaga yang meluap-luap, Berserk Mode, membuat Axel memelesat menghujam para monster. Wolfe juga merasakannya, ia mulai lihai menggunakan kekuatan gigantic dalam bentuk manusia serigala imutnya. Hanya Zovras yang tak terkena pengaruh, karena ia adalah penyihir elementalis murni.
"Kekuatan apa ini? Rasanya tenagaku meluap-luap, sungguh menyenangkan!" ucap Wolfe kegirangan menghabisi monster-monster yang berdatangan.
"Bayonetta Vertus ... itu mode terlarang dari kekuatan inferno biasa. Bagaimana bisa mereka memiliki kekuatan terlarang sebesar itu? Apakah mereka menelan serpihan asteroid? Sungguh mengejutkan," ucap Zovras dengan rinci, ia tercengang melihat adik angkatan tiga Maple Academy yang penuh kejutan.
Mereka bertiga berpesta pora menghabisi monster penjaga yang terlihat seperti lalat itu. Zovras hanya duduk tenang di bawah pohon rindang. Menikmati alam dengan santai memantau adik-adiknya berkembang pesat.
"Hua ... akhirnya aku bisa bersantai ria. Sepertinya doaku terkabul kali ini, hahaha!" Zovras tertawa girang sambil mengelus Elyosa. "sepertinya sudah selesai. Ayo kita lihat, Elyosa!"
Pria berambut biru galaksi itu berjalan mendekati tiga adik tingkatnya yang tertawa riang sehabis berperang. "Well done, team! Ah, sepertinya jika kita setim lagi, aku bisa duduk bersantai lebih sering, nih!"
"Hahaha! Jelas dong, aku yang paling keren." Wolfe berkacak pinggang dan sesekali mengibaskan rambutnya ke udara.
"Bisa-bisanya kau se—" Zeon tumbang, ia kehabisan tenaga.
Zovras menggunakan kekuatannya membentuk bantalan empuk. "Ia benar-benar memaksakan diri. Selalu saja begitu, huh!"
"Axel, masih memiliki tenaga, tidak?" tanya Zovras.
"Why? Should I fly to the Holy Altar?" tanya Axel balik seolah bisa membaca pikiran Zovras. "Maybe I can."
"Go Ahead! We must finish this tournament soon!" titah Zovras.
Axel merentangkan sayap berzirah perak. Kekuatannya bertambah semenjak kontrak darah dengan Haggis. Hal itu mempengaruhi penampilan fisik yang semakin menawan. Ia bergegas menunaikan tugas dengan membawa kurungan benang emas Moonchibi. Tak lupa Zovras memberikannya sihir perlindungan untuk berjaga apabila terjadi serangan mendadak. Malaikat itu tiba dan meletakkan Moonchibi di tengahnya, kurungan Axel terlepas sendiri.
Altar bereaksi mengeluarkan cahaya kebiruan, bersamaan dengan embusan angin kencang menyapu permukaan air danau. Ular itu berevolusi, membesar, dan berubah menjadi seekor naga laut Scylla. Naga itu menyemburkan serangan es dan hawa kematian menyeruak ke sekitar daratan danau. Volume air danau meningkat seirama dengan injakan kaki Scyllia. Getaran retakan tanah terdengar dan altar hancur akibat kibasan ekor Scylla.
"Gawat! Aku mengira misi ini telah berakhir, tetapi sepertinya ini akan menjadi awal dari kehancuran kita," ucap Wolfe frustrasi.
"Ini tak seperti kau yang biasanya? Wolfe yang kukenal tak akan ciut nyali saat bertemu naga," ledek Zovras disertai tawa. "Apa kau takut sekarang?"
"Argh! Bukan begitu, aku hanya kelelahan. Bahkan selama misi aku tak bisa mencuci mata untuk sekadar menghibur diri, huh!" celutuk Wolfe, masih memikirkan euforia pribadinya.
"Kukira berubah, ternyata sama saja!" sindir Axel sambil mengelus Haggis.
Wolfe berjalan mendekatinya. Taring tajam terlihat, menandakan ia sangat kesal. Serigala putih itu menarik kerah baju Axel, tetapi malaikat itu malah bersikap biasa saja. Zovras yang memerhatikan mereka segera melerai.
"Oh dude ... we'd better get rid of the dragon immediately than waste time and energy for fighting each other!"
Zovras memberi jarak di antara mereka dan langsung mereplika dirinya. Ia menggunakan seluruh tenaga untuk memasang pelindung separuh bola dan mencegah serangan penghancur naga terhadap daratan Rainville. Dua replika terkuatnya menerjang dengan cepat Scylla, tak memberikan kesempatan untuk mengamuk. Axel dan Wolfe bergerak membantu Zovras. Wolfe mengeluarkan kemampuan gigantic dan bergulat satu lawan satu dengan Scyllia. Sementara Axel memanfaatkan kesempatan dan menggunakan kekuatan Marionette untuk mengunci pergerakan sang naga.
Kekuatan mereka tak sebanding, naga itu masih jauh mengungguli mereka. Zovras terempas ke daratan tepi danau, begitu pula dengan Axel. Sementara Wolfe hampir sebagian badannya tak bisa digerakkan karena membeku. Tiba-tiba rasa gatal yang hebat muncul, mengacaukan fokus tiga replika Zovras yang tengah menjaga perisai. Retakan semakin melebar, akhirnya serangan itu menyebar ke luar.
"Ti-dak ... bu-bukan s-seperti ini se-harusnya." Zovras tak bisa mengendalikan diri, darah segar mengalir dari celah bibirnya.
Axel bangkit dari balik pepohonan yang hancur. Haggis berhasil meredam waktu beberapa detik, sehingga mampu menyelamatkan nyawa Axel. Di balik kepulan asap yang membubung tinggi ke angkasa, beberapa bayangan orang lain terlihat. Kesatria Sihir daratan Rainville muncul, merapalkan sihir pelindung dan mengurung Zovras juga rekannya bersama naga yang harus dibinasakan.
"Huft ... syukurlah. Setidaknya jika aku mati, tak ada rasa bersalah yang membuat arwahku tak tenang."