
3
Selalu saja bermunculan, memang tidak terlalu berbahaya, tetapi sangat merepotkan.
Efron, Chalia, dan Raph berlindung di balik semak. Sementara Raven, Helena, dan Han berlindung di atas pohon berdaun cukup lebat sambil mengenakan sesuatu untuk menutupi kepala.
Suara keras dan menakutkan terdengar tepat di atas mereka. Burung Haireat terus berdatangan. Kawanan burung berbulu hitam itu sekarang menyerupai awan mendung yang membuat kesan menakutkan.
“Semuanya, dengar, tim harus dibagi dua. Aku, Chalia, dan Raph akan terus berjalan untuk menangkap dan melindungi hewan elemen itu agar tidak dimakan. Sisanya ... Raven. Helena. Cobalah melindungi kami. Tahan serangan Haireat Bird.”
Raven yang mendengar perintah Efron dari atas pohon tertawa keras. Tentu saja tiga rekannya menatap heran pemuda berbadan tinggi dengan kain hitam yang terikat di kepalanya. Rambutnya yang panjang berwarna hitam mulai berpendar kemerahan.
Kenapa orang ini tertawa? batin Helena.
“Kau memang paling tahu kalau aku menyukai pertarungan, Kapten,” sahut Raven sambil tersenyum.
“Lagi pula, akan sulit kalau harus bertahan sambil melindungi dari dekat.” Raven melirik Helena, Helena menoleh dan menatapnya sengit.
“Apa maksudmu? Kau mau bilang aku adalah beban bagimu?” tanya Helena dengan nada meninggi.
“Tidak, kau bukan beban. Hanya saja, kau membatasi ruang gerakku dan secara tidak langsung membuatku kurang leluasa,” ucap Raven. Ia berdiri, tangan kanannya mengangkat Helena.
Satu tangan? Helena terkejut, Raven mengangkatnya dengan satu tangan.
“Maaf, aku sedikit kasar,” kata Raven yang bersiap melempar Helena.
“Raph!” teriak Raven sambil melempar Helena ke arah tiga orang di bawahnya. Saat ketiganya terfokus pada Helena yang sengaja dilempar, saat itu juga Han berlalu dengan Raven di atas kepalanya.
Belum sempat Efron mengejar Raven yang berusaha bertindak sendirian, ia melihat sehelai rambut hitam kemerahan melayang dan jatuh di depan kakinya.
Rambut memancarkan sinar yang sangat terang dan membentuk siluet bercahaya tubuh seseorang. Sesaat kemudian, cahaya tersebut memudar dan tubuh itu makin jelas.
“Halo, Kapten! Ada yang bisa kubantu?” sapanya sambil nyengir.
Chalia mengernyit. “Raven? Raven 2? Raph 2?”
“Hahaha, maaf, aku lupa. Namaku Gifon, kloning Raven sama seperti Raph,” jawab Gifon yang merupakan kloning Raven yang lain.
“Sayangnya itu berarti waktuku tidak akan lama. Raven tidak bisa menguasai masalah duplikat ini sebaik ibunya. Maklum, kami bukan penyihir,” jelas Raph.
“Benar. Omong-omong, berapa lama lagi waktu kita?” tanya Gifon pada Raph.
“Hmmm, masih tiga puluh menit lagi,” jawab Raph, Gifon hanya mengangguk.
Melihat Gifon dan Raph yang berbincang layaknya anak kembar, Efron sedikit memahami kalau masing-masing klon seolah memiliki kesadarannya sendiri, meski jiwa mereka masih saling terhubung dengan Raven.
“Baiklah, ayo mulai mencari. Gifon dan Raph, mengingat kalian hanya kloningan, kalian berdua cukup berjalan di depan dan belakang kami saja. Chalia, sejauh mana pandanganmu? Sudah mendapat kabar? Uno akan melacak dari dalam tanah. Helena, sebaiknya kau ikuti rubah Chalia. Ada tambahan?”
“Kenapa kami hanya menjaga kalian?”
“Memangnya kami tidak mampu bertarung?”
“Kau meremehkan kami?”
Gifon dan Raph tidak terima dengan tugas yang diberikan Efron. Keduanya protes sambil saling menimpali.
Efron menghela napas dan menatap kedua kloningan Raven tajam. “Aku memang tidak memercayai kalian berdua. Pertama, kalian bukan anggota timku yang sesungguhnya. Apa yang bisa diharapkan dari sebuah kloningan bernyawa tiga puluh menit? Kedua, yang aku mau adalah kerja sama tim. Bukan tindakan heroik yang didasari oleh insting impulsif semata. Ketiga, kita mewakili sekolah, satu tindakan bodoh bisa mencoreng nama baik sekolah.”
Mereka semua terdiam, Efron yang terkenal irit bicara, sekarang berbicara panjang lebar tepat di depan mereka. Sungguh keajaiban dunia.
“Baiklah, saatnya kita berpencar!”
Sementara itu, Raven berada di atas pohon tertinggi bersama Han, bersiap menahan serangan sambil mendengarkan timnya melalui perantara klon.
“Aish, kenapa kapten timku sangat sensitif? Seharusnya dia merasa beruntung aku mau mengorbankan diri bertarung demi melindungi mereka. Baiklah, kera emasku yang kuat dan tampan, mereka sudah datang. Apa kau sudah siap?” tanya Raven pada Han saat melihat kumpulan burung tampak mendekati mereka.
“Selalu siap sedia, tuanku yang hebat,” jawab Han tegas.
“Sepertinya sudah dimulai,” ujar Efron.
Dari bawah, semua anggota tim dapat mendengar suara pertarungan antara rombongan burung Haireat melawan Raven dan Han. Bahkan tak jarang terdengar geraman Han akibat terpatuk dan rambutnya dicabut.
Anak ayam itu cukup membuat seluruh anggota kerepotan. Terkadang ia terbang atau bersembunyi di antara semak-semak dan akar pepohonan. Sehingga, tak jarang tim menjadi terjebak. Beruntung, Uno adalah hewan yang cukup akrab dengan daratan sehingga dapat membantu.
“Raph, bagaimana rasanya kejatuhan gadis cantik?” tanya Gifon memecah keheningan. Dia mengingatkan kejadian saat Raph menangkap Helena yang dilempar Raven.
“Aku yakin kau sudah tahu. Kenapa?” sahut Raph yang masih fokus mencari.
“Tidak, hanya bertanya saja,” jawab Gifon, tiba-tiba Raph menatap Gifon dengan tatapan jail.
“Hehe, kau cemburu, ya? Ya, 'kan? Ya, 'kan?” goda Raph.
“Tidak.”
“Ayolah, kita, kan, berasal dari sumber yang sama. Itu berarti kita saudara. Ada pepatah mengatakan, jangan berbohong pada saudaramu tentang kebenaran atau ia akan menjadi musuhmu,” jelas Raph.
“Sesukamu saja,” balas Gifon yang langsung menjauh.
“Ayolah, saudaraku. Tubuhmu tidak bisa berbohong,” paksa Raph.
“Sudah kubilang, kalau aku tidak cemburu!” bentak Gifon, tetapi Raph hanya tertawa.
“Berisik!” Helena membentak sambil memukul keduanya dengan ranting. Entah sejak kapan, gadis itu sudah berada di belakang mereka. “Kalian niat mencari, tidak? Kalau niat, jangan bercanda!” Helena berlalu bersama rubah milik Chalia.
“Seperti rombongan anak kecil, bukan?” bisik Chalia pada Efron yang melihat obrolan mereka.
“Hm, lupakan. Ayo cari lagi,” jawab Efron. Dia memijit keningnya pelan. Pengalamanya melalui petualangan bersama Lily dan Maya sepertinya menjadi bekal yang lumayan untuk memandu tim ini.
“Aaargh, sial! Anak ayam itu sangat merepotkan!” keluh Chalia, Efron hanya tersenyum.
“Ayolah, kalau mudah, mana mungkin menjadi tugas turnamen antar sekolah sihir. lagip—”
Master, target sudah ketemu!
Belum selesai Efron bicara, Uno memberi kabar kalau anak ayam itu sudah ditemukan. Sesuai petunjuk Uno, Efron dan yang lainnya segera menuju lokasi. Mereka mengambil tempat bersembunyi yang cukup dekat dari anak ayam itu.
“Ssst, tetap tenang! Jangan sampai anak ayam itu pergi lagi,” ujar Helena. Baru saja selesai bicara, tiba-tiba Raph dan Gifon perlahan mulai memudar.
“Waktu kami hampir habis,” ujar Gifon.
“Jangan hiraukan kami. Setelah kami menghilang, maka tubuh asli kami akan mendapatkan ingatan dan langsung datang,” sambung Raph.
“Siapa juga yang peduli denganmu?” sindir Gifon.
“Apa maksudmu?” tanya Raph dengan nada tak suka.
Setelah menyampaikan itu, sosok keduanya makin memudar dan berubah menjadi dua helai rambut.
Helena terkikik geli. “Dasar! Benar-benar kloningan dari Werewolf bodoh itu. Sama berisiknya dengan Raven,” ujar Helena yang tentu saja disetujui Chalia.
“Siapa yang kau bilang bodoh, Gadis Galak?”