
Darkville
“MIGUEL!”
Ternyata retakan pada badan sampan membawa berita buruk bagi seluruh anggota. Sampan yang mereka naiki hancur sebelum sampai di tempat tujuan, hanya setengah perjalanan yang dapat dilewati. David dan Nastradamus menutup mata pasrah apabila tenggelam ke dalam sungai.
Di pagi yang cerah ini, mengapa harus mandi dengan air dingin, batin Nastradamus.
“Miguel, bodoh! Aku membencimu!” teriak David saat dirinya hampir menyentuh air sungai.
Refleks, Thann dan Miguel menumbuhkan sayap, kemudian menarik lengan sisa anggota yang hampir berenang di sungai. Mereka menempuh sisa perjalanan menggunakan sayap.
Thann berhenti terbang ketika akan memasuki wilayah Darkville yang cukup gelap. Ia melihat ke bawah kakinya, ternyata Nastradamus sama bingungnya. “Nastradamus, wilayah ini cukup gelap, bagian mana yang menjadi awal perjalanan?”
Nastradamus menggeleng. “Sejujurnya, wilayah yang paling sulit ditebak adalah Darkville, karena kegelapan selalu menguasai tempat ini. Kita akan kesulitan di sini. Jadi, jangan pernah terpisah apa pun keadaannya,” ujar Nastradamus memperingatkan.
Miguel terbang menghampiri dua seniornya. “Lantas bagaimana kita mencari altar Noir berada dengan kegelapan yang menyelimuti seluruh wilayah?”
“Matahari sudah berada di atas kepala di wilayah lain, terang. Mengapa hanya wilayah ini yang masih gelap,” tambah David.
Nastradamus sendiri bingung daerah bagian mana yang menjadi awal mula perjalanan mereka. Melihat wilayah yang berbeda dari sebelumnya, membuat mereka kesulitan menyusun rencana pemusnahan Noir.
“Sebaiknya kita mendarat lebih dulu, baru menyusun rencana. Tubuhku lelah membawa beban,” sindir Thann, membuat Nastradamus tak enak hati.
Mereka memasuki wilayah Darkville, waspada bahkan untuk mendarat saja, harus memastikan tanah yang akan dipijaki tak berbahaya. Dirasa aman, mereka saling berpegangan agar tak terpisah.
Wilayah Darkville lebih gelap dari wilayah lainnya. Ketika matahari di puncak kepala, sama terangnya dengan wilayah lain pada waktu subuh. Seperti saat ini, mereka sampai ketika matahari bersinar terang di wilayah lain, berbanding terbalik dengan Darkville.
Gelapnya malam di daerah ini tidak dapat ditembus kecuali dengan sihir cahaya tingkat tinggi. Tidak ada pohon yang dapat tumbuh di wilayah ini, hanya ada jamur serta hewan yang berevolusi untuk memakan jamur, alih-alih rumput dan dedaunan.
“Bagaimana kita akan menyusun rencana kalau untuk jalan saja kesulitan?” gerutu David.
Thann menepuk bahu Nastradamus. Mereka hanya memiliki si penyihir sebagai petunjuk pertama dan terakhir. “Apa tidak ada sesuatu yang dapat digunakan sebagai penerang dalam perjalanan yang gelap ini?”
Nastradamus mengembuskan napas kasar. Ia mengacak rambut kesal karena harus datang ke daerah yang kurang cahaya ini.
Gloongi merupakan jamur yang hanya tumbuh di dataran Darkville dan merupakan penyebab gelapnya wilayah ini. Jamur ini lahir dari mayat para petarung zaman dahulu dan menyebarkan spora yang mengisap cahaya matahari. Spora tersebut jatuh ke tanah dan membuatnya lebih subur untuk Gloongi baru. Gloongi tidak beracun, tetapi rasa dan teksturnya seperti segenggam pasir.
“Tempat ini tidak dapat ditembus kecuali dengan sihir cahaya tingkat tinggi. Kita akan berjalan dalam gelap dan kesulitan mencari altar untuk Noir,” keluh Nastradamus.
Harapan satu-satunya pun menyerah melihat kegelapan yang menghalangi perjalanan yang mereka tempuh. “Pasti ada cara, kita tidak boleh kalah dalam turnamen!” Thann memberi semangat.
David dan Nastradamus terlihat putus asa, sedangkan Miguel mencoba menciptakan sebuah bola api, saat itu juga tempat yang gelap menjadi cukup terang. Mereka akhirnya melihat apa yang ada di wilayah buangan tersebut.
Sebuah jamur raksasa berwarna putih tumbuh setinggi dua meter atau lebih, hewan seperti rusa bernama Shine sedang memakan jamur kecil di tanah, terdapat rumah kaca yang menjadi tempat jamur berwarna-warni tumbuh, dan para pekerja kebanyakan mantan kriminal yang telah direhabilitasi.
Seketika Nastradamus menyadari daerah bagian mana yang menjadi awal perjalanan. “Matikan api itu, Miguel!” perintah Nastradamus cepat.
Api sebagai penunjuk jalan pun padam membuat mereka kesulitan dalam melihat.
Thann mengguncangkan bahu Nastradamus dengan ekspresi meminta penjelasan. “Apa maksudmu, Nastradamus!” bentaknya.
Nastradamus menyentak tangan Thann kasar. “Jika kau membiarkan Miguel menciptakan api di sini sama saja mengantar nyawa, bodoh!”
Mereka terkejut saat Nastradamus berkata demikian. Si penyihir biasanya akan berbicara pelan untuk menjelaskan sesuatu, tetapi kali ini kemarahan yang Nastradamus pendam seperti tak bisa lagi bisa ditahan.
“A-apa maksudmu?”
Wilayah yang mereka datangi ialah Garden of Dawn yang merupakan tempat perkembangbiakan jamur untuk dieskspor ke daerah lain sebagai bahan ramuan atau makanan. Pekerjanya kebanyakan mantan kriminal yang telah direhabilitasi.
Meski mantan kriminal telah direhabilitasi, ada kemungkinan mereka diserang jika melakukan sesuatu yang mencolok, seperti menciptakan api di tempat yang tak memiliki cahaya ini. Nastradamus mencoba untuk menghindari bahaya, tetapi yang lain berbalik ingin mengantar nyawa.
“Lantas bagaimana sekarang?” tanya David putus asa.
Nastradamus menggeleng. “Entah.”
Thann mencoba mengingat apa yang ia lihat saat Miguel menciptakan api beberapa menit lalu. Ia teringat ada jalan yang cukup sepi dan hanya ditumbuhi jamur raksasa, serta Shine yang tengah memakan jamur kecil.
“Jika melewati jalan yang cukup sepi dengan satu penerangan saja, apa itu masih mengundang para kriminal?” tanya Thann serius.
Thann memegang bahu Nastradamus, membuat bocah asal Rainville itu mendongak. Ia melihat ada keyakinan di mata Thann untuk bisa memenangkan turnamen ini. Di hadapannya, berdiri seorang yang suka meremehkan orang lain dan berkata sarkas, tetapi kali ini ia akui jika Thann memberi aura positif untuk anggota yang merasa putus asa, seperti dirinya.
“Kami bergantung padamu dalam turnamen ini. Maaf membuat emosimu meledak.” Thann tersenyum, ia berusaha meyakinkan Nastradamus. “Kita akan memenangkan turnamen ini bersama. Usaha yang telah dilakukan harus dibayar mahal dengan kemenangan. Sebagai kapten, kau kuperintahkan melihat tempat apa yang menjadi altar bagi Noir, kemudian jalan mana yang harus dilewati.”
Noir menggeliat dalam gendongan Nastradamus, kemudian terbang dan duduk di atas pundak Thann. Kucing hitam itu menatap Nastradamus seperti meyakinkan. Tak lama, tepukan di kedua bahunya membuat ia terkejut.
“Kami percaya padamu,” kata David dan Miguel berbarengan.
Merasa mendapat dukungan dari teman-temannya, membuat Nastradamus yakin. Ia memejamkan mata, rasa dingin dan panas seperti memegang es di depan api yang membara terasa nyata. Tak lama, muncul gerakan layaknya potongan film yang samar.
Setelah lima menit, Nastradamus mengerjap. Ia melihat sebuah tempat yang tak jauh dari Garden of Dawn sebagai altar Noir berada, tetapi akan ada sesuatu yang mengadang mereka. “Kita akan pergi ke suatu tempat. Namun ….”
“Namun?” tanya Thann gelisah.
“Akan ada musuh.”
Akhirnya, mereka melanjutkan perjalanan mengikuti jalan yang Thann lihat tadi. David yang ingin menggunakan kekuatan cuaca panas untuk menghasilkan cahaya matahari pun gagal, jamur raksasa itu menyerap cahaya matahari buatannya.
Thann pun meminta Miguel membuat bola api kecil sebagai penerang, kemudian Nastradamus merapalkan mantra pelindung untuk si rambut putih agar bola apinya tak padam. Cara terakhir yang sebenarnya mengambil risiko, tetapi tak ada pilihan lain. Jamur raksasa pun tak menyerap cahaya dari api buatan Miguel, hanya redup.
Sebagai sumber cahaya, Miguel berada di depan dengan Nastradamus di belakang sebagai penunjuk arah, disusul David, dan terakhir Thann. Mereka memasang mode waspada, si penyihir mengatakan jika cahaya akan mengundang sesuatu selain Shine yang berkeliaran dengan tubuh yang bercahaya.
Shine atau hewan yang hidup di Darville ialah sejenis rusa kecil dengan tubuh yang mengeluarkan cahaya berwarna hijau toska. Ketika pagi sampai sore, cahaya Shine masih terlihat, kecuali malam. Hewan itu memakan jamur kecil alih-alih dedaunan dan rumput. Kotoran Shine dapat menumbuhkan jamur lain.
“Tetap waspada jangan sampai lengah,” peringat Thann.
Rumah kaca yang berada di Darkville digunakan sebagai tempat jamur berwarna-warni tumbuh, para kriminal lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja di dalamnya sebagai pembudidaya jamur. Jamur berwarna pelangi juga menghasilkan cahaya, tetapi hanya saat pagi sampai sore.
“Tempat ini memiliki banyak jamur, memang ada kegunaan lain selain dimakan?” tanya David sambil berjalan pelan.
Nastradamus yang berada di depan David mengangguk pelan. Di tangan kirinya ada Noir yang tertidur, sedangkan tangan kanan berpegangan pada Miguel. Mereka saling berpegangan, entah pundak atau seragam, cahaya yang Miguel buat tak terlalu besar untuk meminimalisir bahaya.
“Cih, Tukang Makan,” ejek Miguel yang masih terdengar oleh David.
“Apa kau bilang!”
Thann berdecak saat dua perusuh mulai mengibarkan bendera perang, Miguel selalu menyulut api kemudian David akan terbakar atau sebaliknya. “Bisa diam, tidak! Keributan yang kalian ciptakan bisa saja mengundang kriminal itu datang!”
Seketika dua manusia itu terdiam sementara Nastradamus tersenyum karena anggota yang kadang menghibur dirinya.
Jamur di wilayah ini dijual dengan harga tinggi di daerah lain, sehingga kebanyakan penduduknya dapat memenuhi kebutuhan hidup dengan mudah. Jamur raksasa terkadang tumbuh setinggi pohon dan sering digunakan untuk membangun rumah. Jadi, keuntungan jamur bagi wilayah Darkville pun cukup banyak.
“Pantas saja banyak jamur tumbuh.” Miguel melirik rumah kaca yang bersinar oleh jamur pelangi yang tumbuh di dalamnya. “Mungkin menjual jamur di Maple Academy akan membawa keuntungan,” gumamnya.
Nastradamus yang mendengar rencana Miguel pun memukul kepala anak itu pelan. Setelah mencuri racun akar klaveries, bocah ingusan itu masih ingin mencuri jamur untuk dijual di Maple Academy. Ia merasa jika Miguel semakin mirip dengan Addison, yang memanfaatkan sesuatu untuk menghasilkan uang.
Langkah mereka terhenti ketika seorang kriminal mengadang jalan. Miguel mengirim kode pada Thann untuk tetap berjaga di belakang. Kriminal itu berbadan besar dengan tato bergambar aneh, meski begitu Miguel tak merasa takut lantaran tinggi pria bertato itu hanya sepundaknya.
“Bisa kau menyingkir?” tanya Miguel tenang.
Thann waspada, saat suara langkah kaki yang begitu banyak terdengar menghampiri, ia memperingati David dan Nastradamus akan kemungkinan terburuk.
“Ingin ke mana kalian?” tanya pria tato aneh di hadapan Miguel.
Miguel memegang dagu seolah berpikir. Ia menyinari wajah pria bertato aneh itu agar terlihat jelas, lalu mengitari kriminal itu seolah tengah menilai sesuatu. Melihat Miguel yang bertingkah aneh membuat Thann geram.
Bodoh! Apa yang kau lakukan! Thann merutuk.
Saat itu juga Thann maju ke hadapan si kriminal yang menatapnya tak suka. Thann melirik Miguel sinis, kemudian beralih menatap pria bertato dengan pandangan remeh. “Kami akan pergi ke Boneyard. Bisa kau menyingkir?”
Nastradamus melirik ke kanan dan kiri. Dalam gelap yang membuat mereka seakan buta, dirinya merasakan banyak orang yang datang. Sepertinya bola api yang berukuran bola kasti itu memang telah mengundang orang lain untuk datang.
Konsentrasi Nastradamus seketika buyar, saat teriakan David mengisyaratkan jika dirinya tak boleh lengah, atau kepulangannya ke Maple Academy hanya tinggal nama. Sayangnya, ia telat menyadari bahaya yang mengincarnya sedari tadi.
“Nastradamus!”
Selamat tinggal Ashlen dan Wolfe, aku menyayangi kalian meski menjadi arwah sekalipun.