
Majestic Winderham Wood
“THANN, BERHENTI!”
“Ada apa?” Thann melihat ke bawah kakinya.
Nastradamus melepaskan pegangannya dan kembali menapaki permukaan bersama si Fallen Angels. Penyihir itu menoleh ke belakang lorong yang tadi mereka lewati. “Sepertinya kita terpisah,” gumam Nastradamus melihat kegelapan lorong.
Thann tertegun, sayapnya yang mengatup dan hilang kembali tumbuh. Ia baru menyadari kalau terpisah dari dua anggotanya. “Ayo, kita harus mencari mereka sebelum sesuatu terjadi.”
Sepertinya perjalanan ini membawa perubahan pada tiap anggota, termasuk kapten.
Keduanya menelusuri lorong yang tadi dilalui. Saat tiba di tiga cabang tempat mereka terpisah, Thann berhenti.
“Jalan mana—”
“Miguel!”
Terdengar teriakan dari salah satu jalur. Thann mengepakan sayapnya menuju sumber suara. Di ujung lorong, ia melihat David yang terikat terbalik dan lubang pada ubin yang hampir tertutup.
Melihat kedua seniornya muncul, David merasa lega sekalipun pikirannya kalut. “Miguel jatuh ke lubang!”
Nastradamus melepaskan kaki Thann, mengamati ubin yang menghasilkan lubang di tengah. Perlahan-lahan, retakan itu kembali menutup, seolah tidak pernah ada lubang sebelumnya.
Thann mengepakkan sayap, memelesat memasuki celah yang nyaris tertutup. Bagian bawah piramida gelap tanpa sedikit pun cahaya, malaikat bangsawan itu nyaris tidak bisa menemukan Miguel. Ia bisa merasakan dinding tanah menyempit dan mengenai kedua sayapnya, ketika itulah tubuh Miguel terlihat. Jatuh dengan posisi tertelungkup di dasar lubang.
“Miguel!”
Ada sesuatu yang menarik lengannya, Miguel membuka mata. “Thann?” Meskipun tidak bisa melihat, ia mengenali suara berat bernada tegas tersebut.
Sang Kapten menarik lengan Miguel menuju secercah cahaya yang merupakan sisa celah ubin, berlomba-lomba dengan dinding yang nyaris mengapit mereka. Thann memiringkan tubuh dan mengepakkan sayapnya dengan sangat keras. Sepasang sayap hitam itu mengatup, sementara tubuh pemiliknya didorong angin menuju atas.
Rantai yang mengikat David sudah dilepaskan Nastradamus. Keduanya gelisah menanti-nanti. Mereka membuang napas lega saat melihat kemunculan Thann. Malaikat bangsawan itu merentangkan sayapnya lebar-lebar ketika berhasil keluar dari dalam celah. Di bawahnya, retakan pada ubin sudah menutup sempurna. Sedetik saja terlambat, maka Thann dan Miguel dipastikan tinggal nama.
Thann menurunkan Miguel di sebelah David. “Apa yang terjadi?” tanya Thann pada mereka.
“Noir ada di ruangan besar di ujung sana.” Miguel menunjuk ruangan berdinding batu kelabu yang tak jauh dari mereka.
Nastradamus memandangi pintu masuk ruangan itu, sekilas teringat bahwa Noir berada di dalamnya. Baru saja ia hendak bicara, sebuah suara menginterupsi. Tidak jelas apakah itu suara lelaki atau perempuan, lebih seperti gema yang berbunyi dalam kepala.
Selamat. Kalian melewati ujian dengan baik. Ambil apa yang kalian cari, kemudian pergi. Sebuah petualangan besar menanti, semua hal yang kau lalui adalah kunci. Saling menjaga dan melindungi, jika tidak, anggotamu akan mati.
“Suara siapa itu?” tanya Thann waspada.
Miguel menepuk bahu seniornya. “Suara itu yang memberiku dan David ujian, sekaligus memberitahu keberadaan Noir,” jelas Miguel tenang. Ia berhasil menguasai diri hingga tak lagi ketakutan.
Nastradamus kebingungan, ketika ia melihat, tidak ada suara aneh yang terdengar. Hanya sebuah kilasan mengenai tempat Noir berada. Mungkin ini adalah aturan piramida, suara itu hanya bisa didengar ketika ada yang datang.
“Miguel, kau ambil hewan itu. Setelah itu kita harus pergi.” Thann memberi perintah.
Miguel menumbuhkan sayap putihnya kemudian terbang menuju patung naga di dalam ruangan. Noir terlelap di sana, membuat Miguel berdecak, “Enak sekali kau tidur sedangkan aku hampir mati.”
Perjalanan keluar terasa lebih mudah karena seekor kunang-kunang—yang datang entah dari mana—memandu mereka. Pada masing-masing bahu anggota, mendapat pelajaran berharga dari tempat ini. Tiap pengalaman yang dilalui membawa perubahan dan pengalaman.
Mereka saling tatap, lantas tersenyum setelah berhasil keluar. Senyum mereka lenyap saat sekawanan burung hitam legam bermata merah dan paruh emas menukik ke arah mereka. Hewan itu adalah utusan Wisteria Academy bertugas memantau, mengikuti, dan memberi tantangan pada setiap tim.
“Miguel, buat bola api,” titah Thann. Rahangnya mengeras dan alis hitamnya tertekuk.
Miguel mengangkat tangan kiri dan bola-bola api bermunculan satu per satu. Tanpa perintah, bola api itu terbang dan mengelilingi sekawanan burung Haireat agar tidak mendekat.
“Astaga!” Nastradamus terkejut saat Noir mencakar tangannya dan menggeliat hingga terlepas. Kucing bersayap kelelawar itu terbang menjauh, melewati bola-bola sihir ciptaan Miguel.
Burung Haireat itu mulai menyebar serbuk kebahagiaan yang apabila terhirup, dapat menyebabkan korbannya tertawa sampai pertandingan selesai. Setiap bola api melahap serbuk berbahaya itu. Setelahnya membesar seperti dituangi bensin. Kawanan burung itu terkunci dalam lingkaran api, sementara tim melarikan diri ke dalam hutan.
Setelah merasa aman, mereka berhenti untuk mengisi paru-paru dengar udara. Thann menatap Nastradamus tajam, sementara penyihir itu menundukkan kepala. Merasa déjà vu dengan kecerobohan serupa sewaktu fieldtrip.
Thann membuang napas gusar dan memijat kening. “Sekarang, cobalah untuk bertanggung jawab,” geram remaja laki-laki itu.
Nastradamus mengangguk kemudian memejamkan mata. Sensasi dingin dan panas menyapu kulit, seperti menggenggam es batu di depan api unggun. Tak lama, sebuah gambaran muncul di dalam kepalanya seperti penggalan film. Nastradamus megerjap setelah melihat sesuatu.
“Noir berada di sebuah gua, di Majestic Winderham Wood. Namun, gua itu terlihat samar.”
David mengernyit. “Gua? Bukankah tempat ini memiliki gua yang begitu banyak?” Nadanya terdengar skeptis.
“Bagaimana bentuk gua itu?” tanya Miguel.
“Dari dalam, gua ini memiliki air terjun, tidak seperti Avotonis Cave. Gua ini terlihat gelap dan terang sekaligus,” jelas Nasradamus.
Thann menyipitkan mata, menatap pepohonan menjulang, pemukiman utama warga Woodville. “Kita bisa meminta petunjuk dari penduduk mengenai gua tersebut. Perjalanan kali ini ditempuh dengan jalan kaki untuk menghemat mana.”
Perjalanan melintasi Majestic Winderham Wood diisi keluhan David yang kelelahan. Thann tak menanggapi keluhan pemilik awan itu. Sementara Miguel hanya memperhatikan wilayah yang memiliki beragam tanaman untuk ramuan itu, di otaknya kini tersusun berbagai rencana untuk mendapatkan beberapa tumbuhan berkhasiat.
Miguel menyukai hal yang berhubungan dengan ramuan, ia suka bereksperimen untuk menghasilkan sesuatu. Menurutnya, berada di laboratorium kemudian mencampur satu bahan dengan bahan lainnya cukup menyenangkan. Khayalan Miguel terganggu oleh koak sekawanan burung Haireat yang berhasil menemukan tim.
Thann membuka telapak tangan, sebentuk bola pejal hitam muncul di atas tangannya dan berputar-putar seperti lubang hitam kecil. Ia menembak energy shoot pada burung Haireat, tetapi cara ini tidak maksimal karena jumlah burung yang begitu banyak. Miguel menggerutu. Ia mencoba mengeluarkan kekuatan lainnya, tetapi gagal.
Karena diserang tiba-tiba, tim yang kelelahan dan tidak mempersiapkan diri dengan baik sedikit terpecah. Setiap orang diserang sekitar lima burung Haireat, hingga tanpa sadar, seorang anggota berlari menjauh untuk menghindari sekelompok burung yang mulai menyemprotkan serbuk gatal.
“Dasar burung Haireat menyebalkan, turnamen tidak berguna, dan aku benci Wisteria Academy yang mengirim burung Haireat sebagai pengawas!” gerutu David sambil berlari menjauh. Ia lari tak tentu arah memasuki hutan Majestic Winderham Wood. Remaja Demigod itu berhenti setelah kehabisan napas sambil memegang lututnya yang ngilu.
“Oh, tidak!” Burung-burung menyebalkan itu tidak kunjung pergi. “Rain storm,” gumam David saat burung Haireat lagi-lagi menyempotkan serbuk gatal.
Cuaca cerah di langit perlahan berganti dengan gumpalan awan hitam, diiringi sambaran petir yang bersahutan. Meski ditutupi puncak-puncak pohon, tim yang berada di sisi lain hutan dapat menyaksikan perubahan cuaca tersebut. Gemuruh di langit membuat warga Majetic Winderham Wood memasuki rumah masing-masing.
Tak lama, hujan mengguyur wilayah tempat David berdiri. Remaja itu berdiri di antara guyuran air hujan, burung-burung Haireat mulai menjauhinya dan mencari tempat berteduh. Sekitar sepuluh menit, hujan buatan David mereda.
David terduduk, kelelahan akibat menggunakan kekuatannya. Meski baru menguasai dua musim dengan kekuatan cuaca, tetapi ia kewalahan saat mengaktifkan salah satunya. Beruntung seragam Maple Academy-nya tidak basah karena menyesuaikan dengan kekuatan pemilik, sehingga David tidak kedinginan.
Menyadari sesuatu, David celingukan. “Eh, di mana yang lain?” Dia tidak menemukan siapa pun. “Burung Haireat tak berguna! Sekarang aku malah terpisah!”
David mengembuskan napas, antara kesal dan lega. Namun, hanya sebentar, karena suara kawanan burung Haireat kembali terdengar. Saat David menoleh ke belakang, burung-burung itu siap menyemprotkan serbuk gatal lagi. Davin pun lari sekencang mungkin, tak tentu arah menerobos hutan
Dia berlari sambil mengucapkan mantra untuk mengaktifkan kekuatan musim panas. Namun, tidak berhasil. Panik membuat dirinya lupa cara mengaktifkannya. Karena tak memperhatikan arah lari, David tersandung batu dan jatuh terjerembap dengan wajah lebih dulu, sementara kakinya mengucurkan darah.
David meringis. “Bagaimana ini?”
Segerombolan burung Haireat berada tak jauh darinya dan bersiap menyemprotkan serbuk gatal. David terlentang di atas tanah, menatap burung Haireat dengan pasrah. “Mungkin akan ada kabar bahwa David Priscio mati dengan cara konyol akibat menahan tawa dan gatal saat turnamen,” gumam David, lantas menutup mata saat serbuk berhamburan.
Suara kepakan sayap disertai dekutan burung—yang berbeda dari milik Haireat—membuat David memiliki harapan. Seperti ada sesuatu yang akan menolongnya dari pengintai itu. Ketika ia membuka mata, ada perisai yang melindunginya dari serbuk berbahaya juga burung merpati berbulu seputih salju. David terpukau melihatnya.
Perisai yang melindungi David terbuat dari air hujan yang menggenang. David menyentuh perisai itu, ternyata tidak lembek melainkan kokoh seperti dinding es. Burung merpati itu menyerang kawanan Haireat dengan air hujan yang dibuat menjadi gelembung air. Sekawanan burung Haireat terjebak oleh gelembung, mengakibatkan mereka kehabisan napas.
Burung merpati yang menolong David mengisyaratkan dirinya untuk mengikuti. Setelah cukup jauh, David bersandar di pohon. Burung merpati itu pun bertengger di atasnya dan berdekut lembut.
“Hai, Merpati Putih. Terima kasih sudah menyelamatkanku,” kata David tulus.
Tentu. Mengapa kau sendiri? Kemarin aku melihatmu bersama beberapa orang?
“Burung Haireat tadi membuatku terpisah dari tim,” decak David, “kau sudah menjalin pet contract?”
Burung merpati itu berdekut merdu sebagai balasan. Belum, ada apa?
“Apakah kau mau menjalin pet contract denganku?”
Namun, apa aku harus meninggalkan wilayah ini dan ikut denganmu?
David tersenyum. “Bukan masalah kau ikut atau tidak, bagaimana?”
Baiklah.
Seketika hutan di sekitar David bergembira. Hewan-hewan seakan bernyanyi dan menari mengelilinginya.
Kau bisa memberiku nama.
“Namamu adalah Aux.”
Setelah mengikat kontrak dengan merpati putih yang diberi nama Aux, David melanjutkan perjalanan mencari timnya. Ia menanyai Aux letak gua yang memiliki air terjun dengan pencahayaan unik yang terang sekaligus gelap. Aux terbang, sementara David mengikuti.
Sekitar sepuluh menit berjalan, David sampai di mulut gua yang terlihat menyeramkan. Aux terbang memasuki gua, sedangkan David mewaspadai bahaya yang datang. Arti gelap dan terang bersamaan, seperti yang Nastradamus katakan ialah gua yang gelap dengan stalagmit yang ditumbuhi bunga bercahaya.
“Indah.” David bergumam.
Terdengar air mengalir dari dalam gua. Jika gua ini benar, maka ada air terjun di sana. Sesampainya di ujung gua, David melihat tim tengah duduk sambil membicarakan sesuatu. Untuk kali ini, ia merasa bahagia melihat mereka.
“Teman-teman, aku kembali!” teriak David penuh haru.
Tim menoleh. Miguel pun berdiri dengan ekspresi datar. “Dari mana saja kau, hah!”