Maple High School Academy Hidden Year 3

Maple High School Academy Hidden Year 3
Cathing Victory - New Hair Style




New Hair Style


IRISH DAN TIMNYA berlari lagi. Meski tanpa tujuan yang jelas, mereka mengarah ke Tunnelove, karena yakin Klorofox akan melewati jalan itu sebelum terbang meninggalkan kawasan Wisteria Academy. Keempat gadis itu berlari berdekatan, di depan terowongan ungu, bunga-bunga wisteria menyambut mereka. Sebagian tim lain terlihat terbang di atas terowongan ungu itu, saat itulah Merlin melihat benda hijau mencolok terbang di antara bunga-bunga.


“Klorofox!” pekik Merlin yakin. “Cepat! Nanti dia terbang lagi!”


Irish mengarahkan matanya pada ujung telunjuk Merlin, benar saja di sana ada Klorofox sedang bergantung di salah satu bunga dan mengunyah kumbang besar. Mereka berempat akhirnya memasuki Tunnelove, bunga-bunga di sana mengingatkan Irish akan namanya yang berasal dari nama bunga dengan warna serupa, ungu. Irish tersenyum selagi mendekati Klorofox.


“Biji Ketapang, kenapa tiba-tiba tersenyum? Kamu senang sekali, ya, karena Wolfe menyebutmu manis tadi?” Lily menyikut lengan Irish. Wajah Zaadia keriting itu langsung memerah. Sebenarnya, dia lumayan senang disebut manis oleh Wolfe, tapi dia juga kesal karena itu membuatnya terlihat memalukan.


“Sembarangan!” Irish melotot pada Lily, “dan berhenti memanggilku Biji Ketapang!” Irish mengalihkan matanya pada Klorofox yang tepat di depan mata.


“Gunakan sulurmu, tangkap dia,” bisik Lily mencolek lengan Irish. Irish mengangguk, dia merentangkan tangan agar sulur tanamannya keluar dari lubang lengan seragam. Sulur itu muncul dari lengan atas Irish, merambat ke tangan lalu keluar dari celah pakaian, merambat cepat seperti lontar ke arah Klorofox. Sayangnya, jarak sulur Irish sudah mencapai batas untuk mengapai Klorofox. Sebagai seorang Zaadia, Irish memiliki kemampuan yang berhubungan dengan tanaman, gadis keriting ini memiliki pertahanan tubuh berupa duri dan sulur tanaman. Tidak hanya itu, tanduknya yang mencuat saat marah pun adalah senjata yang mampu mendorok atau menyeruduk musuh.


“Aku bantu!” Lily menyentuh sulur Irish, hingga sulur yang Irish tambatkan menjadi lebih panjang. Dari ujung sulur itu tumbuh cabang-cabang sulur kecil yang keriting, mirip rambut Irish yang melingkar-lingkar kecil.


Sialnya, Vina yang geli terhadap aroma bunga, bersin dengan keras hingga mengagetkan timnya. Tidak hanya tim, bahkan Klorofox terkejut sampai menoleh ke sumber bunyi yang nyaring itu. Tentu saja, karena Vina dapat mengendalikan panas angin, bersinnya sendiri sudah mampu menerbangkan dedaunan.


“Sialan! Dia kabur lagi!” keluh Lily menangkis udara. Klorofox itu membuang santapannya begitu saja lalu terbang melewati celah-celah bunga wisteria.


“Riger! Kejar dia dan lacak tujuannya!” titah Vina. Spontan dia memanggil pet contract-nya, seekor elang yang dinamainya Riger. Elang itu seketika muncul dan memelesat menuju Klorofox.


“Kerja bagus, Vina.” Merlin menepuk bahu Vina, menatapnya bangga karena kesigapan adik tingkatnya itu. “Ayo, kita keluar dari sini!” titah Merlin, Lily tiba-tiba memasang wajah kesal


“Halo? Ketua tim ini siapa, ya?” Nada bicara Lily terdengar tidak ramah. Bola matanya memutar tidak peduli, Merlin tersenyum kecut dan mengangguk menatap Lily.


“Ayo, Tim! Kita keluar dari terowongan ini!” perintah Lily. Vina dan Irish bertukar pandang, Irish mengangkat bahu lalu dibalas dengan Vina senyum canggung. Empat gadis itu tidak lagi berlari, mereka hanya berjalan agak cepat menuju ujung terowongan. Merlin berjalan di belakang sambil menatap Lily, bibirnya sibuk komat-kamit dengan berbagai keluh.


Berbeda dengan Merlin, Irish justru terlalu bersemangat sampai berjalan paling depan dari tiga rekan timnya.


“AAGH!” jerit Irish. Rasanya akar rambutnya tertarik lalu menyisakan pedih di kulit kepalanya. Ternyata Haireat Bird langsung memberi sambutan pada Gadis-Gadis Tangguh itu di ujung terowongan!


“Pfftt! Hahahaha!” Lily terbahak-bahak menyaksikan rambut Irish yang tengah diseruput burung yang mirip gagak itu.


Vina nyaris mengira ketuanya terkena serbuk tertawa karena tertawa sekeras itu. Vina lantas menyerang Haireat Bird dengan pusaran angin yang dibuat dari tangannya. Burung itu berhasil disingkirkan, tetapi Merlin yang berada di belakang lebih sial lagi. Rupanya dia tengah kewalahan karena dua ekor burung berparuh emas dan sayap hitam sedang menikmati rambutnya dari kanan dan kiri.


Lily tertawa lagi. Vina lalu mendorong burung-burung itu dengan pusaran anginnya. Keberuntungan belum berpihak pada kelompok Gadis-Gadis Tangguh dari Maple Academy itu, rupanya burung-burung pemakan rambut itu tidak sedikit. Merlin yang sudah terselamatkan langsung mengeluarkan amarahnya, dari kedua tangannya keluar bola api yang membara.


“Unggas pembawa sial!” Dilemparkannya bola-bola api itu pada burung-burung yang berkerubung. Satu tembakan Merlin mengenai burung hingga kehilangan keseimbangan dan menabrak kawanannya. Merlin menembakkan lagi bola api di tangan kirinya pada kawanan unggas bersayap belang itu. Napas Merlin menggebu-gebu menyaksikan burung-burung itu kewalahan.


“Cepat! Kita harus lari sebelum mereka menyerang lagi!” titah Merlin berbalik pada tim. Semua anggota langsung menuruti dan kabur dari sana. Burung-burung tadi malah terbang ke arah mereka dengan sayap yang penuh asap. Vina dengan sigap mengeluarkan sayap abu-abunya, melayang sejenak, menunggu jarak yang tepat, sementara anggotanya masih berlari menjauh.


“Tunggu, Vina!” Lily menyadari salah satu anggotanya tertinggal, Merlin dan Irish berbalik. Di sana Vina melayang rendah tanpa gentar, ketika Haireat Bird mendekat dengan jarak setengah meter, ia membalikkan badan dan mengepakkan kedua sayapnya. Burung-burung Haireat Bird itu seketika terdorong jauh oleh empasan angin dari sayap Vina.


“Mereka sudah pergi, sekarang kita sudah aman.” Vina menatap ketiga anggotanya yang terpukau.


“Tidak aku sangka sayapmu bisa melakukan hal seperti itu,” puji Lily bangga. Vina tersenyum mendengar pujian dari ketua timnya.


“Iya, hebat. Aku akui kamu teman yang keren,” Irish memuji dengan nada datar dan ekspresi yang sama datarnya. Mentalnya menolak kenyataan bahwa sekarang dia setengah botak. Namun itu belum seberapa, Merlin malah sudah botak sempurna karena dua burung yang melahap rambutnya.


“Oh, iya, kalian botak! Hahaha!” Lily memeluk perutnya yang sakit akibat tertawa terbahak-bahak. Vina menahan tawanya dengan menutup mulut pakai tangan, tetapi tidak sampai beberapa detik, dia juga tertawa keras.


“Kau beruntung, setengah rambutmu masih ada. Sedangkan aku, kepalaku benar-benar terasa dingin sekarang,” ujar Merlin dengan mata sayu.


Irish memasang ekspresi bingung sembari menggigit bibirnya. “Aku tidak merasa beruntung sama sekali,” balas Irish mengelus kepala bagian kirinya yang botak, dia membuang napas. “Hah….”


Merlin dan Irish bersamaan menatap Lily yang sudah terduduk menahan tawa, sesekali Lily menyeka air matanya dan terbatuk kecil karena tenggorokannya kering.


“Sudah cukup Lily, sebaiknya kamu melakukan sesuatu untuk rambut kami.” Merlin menarik Lily agar berdiri.


Lily bangun dan menepuk pakaiannya dari pasir. “Ketapang Pitak! Kemarilah, karena kamu terlahir dari biji ketapang mungkin aku dapat menumbuhkan rambutmu. Kamu tidak mau kan dilihat oleh Wolfe dengan rambut seperti itu?” Lily bahkan masih sempat menggoda gadis Zaadia yang terlahir di saat matahari terbit itu.


“Satu, aku bukan biji ketapang! Dua, berhenti menggodaku dengan Werewolf itu! Sekarang, tolong tambuhkan rambutku lagi.” Irish mendekat pada Lily yang terus terkekeh, kedua tangan Lily menyentuh bagian pitak di kepala Irish. Perlahan tumbuhlah rambut keriting hijau.


“Wah! Terima kasih Lily!” Irish melompat senang untuk memeluk Lily, Lily membalas pelukan itu dan mengelus surai Irish yang ditumbuhkannya tadi. Vina menyaksikan itu tidak sanggup berkata-kata.


“Lalu bagaimana denganku?” Merlin memecahkan suasana.


“Nanti akan kuberikan ramuan penumbuh rambut dari Efron saat kita pulang ke Maple.” Lily menggigit bibir atasnya menahan tawa saat berhadapan dengan Merlin, “tapi aku tidak berjanji.”  Tawa Lily pecah lagi.