
The Fox Monster
SETELAH TERBEBAS DAN hantu perempuan di Windz Castle, Irish dan ketiga rekan turnamennya kembali ke halaman luar kastel. Rembo masih di sana dengan tenang setelah kenyang memakan rerumputan di sekitarnya. Mereka berempat pun melanjutkan perjalanan.
Vina menunjuk arah timur, di mana dia melihat secercah cahaya yang melayang di atas kolam. Rembo langsung melaju pada arah yang ditunjuk, rusa besar itu kembali segar setelah beristirahat dan makan, meskipun dia tidak mendapatkan air minum untuk mencegah tenggorokan yang kering, tetapi hewan kontrak kesayangan Irish ini sudah terbiasa dengan kekurangan air minum dan makanan.
Kurang lebih 30 menit perjalanan, tujuan tim Lily makin dekat. Pandangan Irish lurus ke depan. Begitu terlihat kolam-kolam lingkaran, dia yakin tujuan mereka sudah tepat. “Hei, kita sudah sampai!” pekik Irish.
Rembo memperlambat langkahnya ketika mendekati kolam-kolam di sana. Ternyata semua itu bukanlah kolam, melainkan lubang-lubang angin yang sesekali mengeluarkan angin layaknya semburan air dari ikan paus.
“Ini bukan kolam, ternyata hanya lubang angin!” tukas gadis berambut pirang di belakang Irish. Vina menyadari kalau dia sudah salah mengira lubang-lubang angin itu adalah kolam air. Bola matanya bergerak ke segala arah, mencari cahaya melayang di salah satu lubang. Ketika Rembo melintas di sebelah sebuah lubang, angin yang dahsyat keluar dari sana.
Mereka terkejut dengan suara tiupan angin yang kuat tadi. Merlin berpikir akan berbahaya jika jatuh ke sana. Tentu saja, jika ada yang jatuh akan dilontark ke antah-berantah, atau mungkin Malice Island.
“Itu dia! Cahaya yang melayang!” Irish menunjuk salah satu lubang dengan ukuran diameter paling besar, lebarnya sedikit lebih kecil dari lebar pohon beringin, tetapi lebih besar dari mangga. Kira-kira 3 pohon mangga cukup untuk dimasukkan ke dalamnya.
“Ayo kita turun,” titah Irish yang langsung melompat. Rembo langsung merendahkan dirinya agar yang lain turun lebih mudah ketimbang melompat seperti Irish. “Kembalilah Rembo, tugasmu sudah selesai.” Irish meniupkan jemarinya lalu mengusap jari-jarinya ke tanda benih di keningnya. Rembo langsung berbalik dan berlari, perlahan dia bercahaya lalu hilang setelah cahayanya menjadi menyilaukan.
Kempat gadis tangguh itu mendekat pada lubang angin yang besar di depan mereka, cahaya yang melayang di tengah sekejap memudar. Rupanya cahaya tadi memang altar yang gadis-gadis ini cari. Altar itu lumayan pendek, warnanya putih kebiruan mirip dengan bola elemen yang Lily tangkap. Ada ukiran berbentuk Klorofox di bagian depannya, di dalam sebuah bingkai emas.
“Bagaimana cara menaruh Klorofox di atas sana?” tanya Lily mendongak. Dia menatap altar yang mengambang stabil di tengah lubang angin. Saat itu juga, angin berembus luar biasa kuat dari lubang besar itu. “Vina, apakah kamu bisa menghadang anginnya?” Lily melihat Vina yang mengangga lebar.
“Aku tidak akan bisa terbang jika ada angin yang keluar dari sana.” Vina tercengang melihat kekuatan angin tadi.
“Kita lempar?” Lily bertanya lagi. Kali ini pertanyaannya tidak disambut baik oleh anggota tim.
“Lily, sepertinya efek salep antisial kamu sudah habis. Sejak tadi usulmu tidak ada yang terdengar cerdas.” Merlin melipat tangan di perut.
“Tidak mungkin! Addison bilang salep ini tahan air dan bisa bertahan dua hari!” Lily lalu terdiam. “Ini hari kedua ….” Perempuan jangkung itu tersadar efek salep ajaib Addison mulai habis.
“Kita harus cepat! Bagaimana caranya, Lily?” Merlin menekan Lily dengan tatapan kesal. “Kamu bilang, kamu ketuanya. Jadi, apa yang harus kita lakukan?” Merlin hampir hilang kesabaran. Emosinya keluar bersamaan dengan angin dari lubang raksasa itu. Vina tersenyum senang, malaikat cantik itu sedari tadi menghitung selisih angin yang keluar ke embusan berikutnya.
“Mari kita coba! Aku akan terbang ke sana. Angin dari lubang ini keluar setiap satu menit!” pungkas Vina yakin. “Irish tolong ikat salah satu kakiku, jadi ketika anginnya keluar kalian bisa menarikku kembali!” usulnya lagi. Merlin tidak jadi marah karena ide dari Vina. Vina membentangkan sayapnya yang kelabu dan mengambang rendah agar Irish dapat mengikat kakinya.
“Baiklah, tapi tetap berhati-hati!” Irish mengingat kaki Vina, setelah itu malaikat bersayap kelabu itu memelesat ke altar. Bibirnya sibuk menghitung sampai enam puluh sebelum angin berembus dari lubang di bawahnya. Namun, ketika sangkar Klorofox sudah berdiri di atas altar, sangkar itu pecah! Klorofox membesar, hingga sangkar rakitan Lily hancur berkeping-keping!
“Vina!” jerit Irish panik, sulurnya bergerak tidak stabil karena Vina terus bergerak spontan. “Cepat kembali!” Irish menarik sulurnya sekuat tenaga, bersamaan dengan Vina yang terbang ke arahnya. Sayangnya karena pukulan monster rubah itu, Vina terdorong ke arah Irish hingga jatuh di atas Zaadia itu.
“Maafkan aku Irish!” Vina berusaha bangkit. Merlin dan Lily membantu keduanya berdiri. Klorofox yang membesar menjadi lebih menyeramkan! Badannya terlihat lebih kekar, dengan cakaran yang panjang, mata merah, dan mulut bertaring yang terus mengeluarkan liur.
Klorofox memukul ke arah gadis-gadis itu berkumpul! Untungnya mereka bisa menghindar. “Sial! Kita bahkan belum siap!” keluh Lily.
“Efek salepmu sudah memudar Lily,” kata Merlin menggeleng heran.
“Tidak! Ini belum berakhir!” jerit Lily. “Vina panggil Riger, incar matanya! Buat rubah sialan itu buta!” perintah Lily. Lily meniupkan ruh pada tanaman bonsai golemnya, tanaman itu langsung membesar dan dapat bergerak seperti monster pohon berwajah seram.
Vina menuruti perintah Lily. Riger datang dengan cepat, berputar-putar di atas kepala si rubah yang berusaha untuk mengapai elang itu. Riger lebih lincah, saat ada celah, dia mencolok mata Klorofox dengan cakarnya! Karena kesakitan, dia malah melolong keras sampai memekakkan telinga. Monster bonsai milik Lily meninju wajah Klorofox yang meraung kesakitan.
Sementara Irish masih terus menembaki Klorofox. Tusukan demi tusukan tidak mempan pada tubuh besar monster rubah itu. Merlin bangkit untuk membantu, dia menembaki Klorofox dengan bola api. Sialnya, api memang mengenai monster rubah itu, tetapi monster malah melolong lagi lebih keras!
Semua anggota tim menutup telinganya karena lolongan Klorofox. Lily menunduk sembari menutup telinga, melihat duri-duri yang Irish tembak tadi berserakan di tanah. Dengan keberuntungan yang tersisa, dia pungut beberapa duri, kemudian berlari sambil terus melempari duri yang diubah menjadi sebesar tombak!
“Bagus, dia tertusuk!” Merlin berteriak semangat melihat reaksi tombak duri yang Lily lempar. Namun, Klorofox belum juga tumbang. Irish kesal, tanduknya keluar dari kepalanya. Gadis itu benar-benar sudah tidak tahan lagi. Setelah sekian lama, akhirnya kekuatan yang dia tutupi diaktifkan kembali. Salah satu cabang tanduk dari kepalanya dapat dicabut dan berubah menjadi dua bilah pisau perunggu! Pisau itu memiliki racun yang dapat melumpuhkan musuh jika terkena sabetannya.
Irish mendekati kaki Klorofox, menyerang kaki mamalia raksasa itu dengan pisaunya hingga berbekas sayatan yang lebar!
“Irish hati-hati!” Vina panik, dia terbang mendekat pada Klorofox.
Lily dan Merlin mengikuti Vina dari belakang. “Vina! Ketika Irish menyerang monsternya lagi, empaskan dia dengan sayapmu!” Lily memerintah lagi. Vina mengangguk. “Merlin, begitu monster oleng, serang dengan bola api yang paling besar kamu bisa buat! Tunggu aba-abaku!” Lily mengendalikan monster bonsainya agar memegangi Klorofox, terlihat Irish memanjat di tubuh monster rubah itu.
Irish memanjat lebih tinggi ke tubuh Klorofox, dia mengincar kepala si rubah, tetapi karena merasa gatal, Klorofox memukul lengan yang Irish panjat! Gadis Zaadia itu menusuk lengan yang dia panjat untuk bertahan dengan pisau di tangan kanannya dan bergelantungan di sana!
“Irish! Serang jantungnya!” Irish mendengar teriakan Lily dari bawah. Semua anggotanya sedang berlari mendekati Klorofox. Irish pun melompat, dengan sebilah pisau dia menusuk dalam tepat di jantung Klorofox! Irish pun terjatuh ke tanah setelah melakukan serangan tadi. Monster bonsai Lily melepasan dekapannya dari Klorofox dengan kasar.
“Vina, sekarang!” titah Lily. Vina membalikkan badan dan mengepakkan sayap dengan kuat hingga Klorofox oleng.
“Merlin ayo, bersama-sama!” Lily menyiapkan tombak durinya, Merlin pun menciptakan bola api yang sangat besar! Merlin berlari beriringan dengan Lily, menunggu aba-aba sang ketua. Begitu Klorofox sudah di posisi sangat miring, Lily memberi sinyal, “Sekarang!” Lily dan Merlin melempar senjata mereka masing-masing pada Klorofox! Rubah raksasa itu jatuh ke lubang angin yang besar tadi hingga terjadi ledakan dahsyat!
Keempat gadis itu memandang ledakan dengan napas terengah-engah. Tak berapa lama, mereka melihat satu lingkaran sihir yang sangat besar, lalu sebuah portal muncul di depan lubang angin tempat Klorofox meledak. Beberapa orang memakai seragam turnamen Maple Academy keluar dari sana seperti ditembakkan dan terjatuh dengan keras di tanah.
“Kalian!”