Maple High School Academy Hidden Year 3

Maple High School Academy Hidden Year 3
Elementriz Battle on Maple Hill - 9




9


PERTARUNGAN ANTARA BURUNG berapi dan tim Maple Academy terus berlanjut. Serangan demi serangan pamungkas terus dilancarkan dari kedua belah pihak.


“Makhluk yang merepotkan jika menjadi musuh,” ujar Raven, sedang Efron masih fokus menyerang dengan sihir dan kemampuan bergerak cepatnya.


Tiba-tiba, ada hujan anak panah yang menganyam kepala burung phoenix itu hingga tersungkur.


“Chalia!” seru Raven.


Sesaat kemudian puluhan gelembung air berisi belut listrik melewati ketiganya dan menyerang burung phoenix itu. “Aku juga ada di sini, lho,” tegur Helena yang sekarang seluruh tubuhnya hampir dilapisi es, seperti baca zirah. ”Ini baju pelindung es yang sangat kuat. Meski kalian terbakar nanti, aku tetap selamat.”


Mendapat serangan kejutan tersebut, bukan mundur, burung tersebut malah semakin murka. Ia mengamuk sejadi-jadinya sambil menyemburkan api ke mana-mana.


 “Awas, seragan ini berbahaya!” teriak Efron. Mendengar itu keempatnya bergerak menghindar.


Tunggu, arah itu, kan… Mengetahui arah serangnya, Raven seketika memanggil Han dan mulai menyatu dengan hewan peliharaannya. Dia menahan semburan api secara langsung.


“Bodoh, mundur Raven!” teriak Efron. Namun, teriakannya tidak didengarkan.“Jika aku lepaskan, altar itu akan hancur!” balas Raven sambil menahan serangan itu. Beruntung penyatuannya dengan Han membuat dia sedikit lebih kuat, sehingga bisa mengurangi dampak yang akan terjadi.


“Anak bodoh!” umpat Efron.


“Tak ada habisnya,” sahut Chalia melepaskan anak-anak panah berkecepatan cahaya.


“Biar aku hajar sekali lagi,” ucap Helena dengan baju zirah es dan sabit yang bergerak liar. Sabit itu hampir saja menghilangkan kepala Raven kalau saja ia tidak cepat-cepat menunduk.


Serangan kombinasi itu membuat burung api tak hanya tersudut, tetapi juga membuatnya marah dan menyerang mereka secara brutal.


“Sial, awas!” teriak Raven berusaha menahan serangan itu.


“Semuanya, berpencar!” teriak Efron.


Mengikuti arahan Efron, semua anggota tim berpencar dan menyerang bergantian sampai burung itu kebingungan. Serangan tanah dari Efron, panah Chalia yang seperti hujan, dan sabit es milik Helena saling menjalin menjadi satu, mengenai titik yang sama dari tubuh burung itu. Belum lagi pertarungan jarak dekat Raven-Han yang tentu saja membuat burung itu geram.


“Jangan berhenti!” teriak Raven.


“Buka jalan untuk serangan Raven!” teriak Efron yang langsung meninju tanah dengan tangan kirinya. Tanah pun bergejolak tak beraturan. Burung api mulai berdiri oleng karena tanah tempatnya berpijak tak tenang.


Helena menyerang dengan gelembung belut listrik dan sabit es, lalu dikombinasikan dengan panah milik Chalia yang seketika membuat burung itu semakin tersiksa.


“Inilah pukulan terkuatku!” teriak Raven yang langsung memukul kepala burung itu dengan tongkatnya. Namun, Raven diempaskan sayap burung itu hingga terpental dan membentur batu besar.


Tubuh Han langsung terlepas dari Raven. Dengan sigap ia menangkap tuannya.


Tuan, bangunlah. Jangan mati.


“Han,” gumam Raven.


Ini aku, kumohon jangan mati, aku tak mau sendirian lagi.


“Bodoh, aku tak akan mati semudah itu.” Raven berusaha bangkit, tetapi berapa kali pun mencoba, ia tetap gagal. “Tidak bisa begini, aku punya janji dengan Kakek, aku tak boleh mati!” seru Raven. Percuma, ia tetap jatuh tersungkur. Pada akhirnya aku tetap lemah.


Han masih berusaha menyadarkan Raven. Tuan, bangunlah tuan! panggil Han sambil mengguncang tubuh Raven. Orang lain hanya melihat Han mengguncang tubuh Raven dengan suara yang lirih.


Hah, dasar kera cengeng, begitu saja menangis!


Kau ke mana saja? Kenapa saat tuan sekarat kau baru muncul? hardik Han pada Stain.


Apakah dia memanggilku? Tidak, dia tidak memanggilku, padahal saat nyawanya terancam seperti ini aku yang melindunginya. jelas Stain.


Jadi maksudmu?


Betul, Tuan tidak terkena sapuan sayap burung jelek itu dan juga tidak terbentur batu. Kau pikir siapa yang melakukannya, pergi dan perhatikan batu itu! Lambang naga ada di sana, sakit tahu!” oceh Stain.


Jadi, Tuan masih hidup?


Ya, dia hanya tidur, jawab Stain.


Kau berhasil membuatku panik, ucap Han hendak menampar Raven.


Sekali kau tampar aku, tak akan kubagi pisang padamu, ancam Stain


Hal itu sukses membuat Han berhenti.


Aku hanya bercanda.


Saat Han dan Stain sedang berbincang lewat telepati, Raven bermimpi bertemu dengan orang yang paling ia hormati.


“Guru, maaf, aku datang terlambat,” sapa Raven.


“Kau tidak terlambat, Nak. Kau datang terlalu cepat,” jawab gurunya.


“Maksud guru?” tanya Raven keheranan.


“Belum saatnya kau datang. Pulanglah, kau belum cukup siap untuk berada di sini,” jawab gurunya.


“Tapi Guru, bagaimana keadaan orang tuaku?” tanya Raven.


“Mereka tidak ada di sini, tapi aku tau mereka sehat dan baik-baik saja,” jawab gurunya.


“Syukurlah, aku bisa bernapas lega.”


“Pulanglah, Nak, mereka menunggumu,” ujar gurunya sambil menunjuk pada Han, Chalia, Helena, dan Efron yang bertarung mati-matian.


“Jadi guru, apa yang harus aku lalukan?” tanya Raven sambil menggaruk kepalanya.


“Tutup matamu.”


Raven menutup mata dengan patuh, perlahan tapi pasti ia merasakan tubuhnya berat, hawa sejuk yang semula ia rasakan kini menjadi panas, telinganya yang semula hanya mendengar hal yang begitu tenang, kini mendengar suara pertempuran.


“Di mana aku?” tanya Raven saat sadar.


Tuan! panggil Ham dengan suara haru, sementara Stain hanya diam seolah tak peduli.


“Kemarilah Stain,” panggil Raven lembut. Stain menurut lalu datang. “Aku tau kau yang melindungiku sejak tadi.”


Tidak, itu bukan aku, jawab Stain.


“Jangan malu begitu, aku sudah tahu, dan sekarang pun aku yakin kau pasti sudah tahu apa yang kuinginkan,” ujar Raven.


“Bisakah aku meminjam sedikit kekuatanmu? Hanya untuk menolong mereka, setelah itu kau boleh bersembunyi di balik bajuku lagi, bagaimana?”