Maple High School Academy Hidden Year 3

Maple High School Academy Hidden Year 3
Marionette Feather in WAET CCXXII - Mischievous Male, Wolfe!




Mischievous Male, Wolfe!


BABAK SATU BELUM usai. Zovras, Zeon, Wolfe, dan Axel yang telah mendapatkan bola elemen masih ragu dan kebingungan untuk melepaskan segel bolanya. Mereka telah mencoba beberapa cara klasik, seperti menghancurkannya dengan pukulan atau batu, tetapi tidak berkesan sama sekali. Namun, Zovras tak menyerah dan berpikir lagi. Turnamen ini berhubungan dengan elemen, segala rintangan saat mendapatkan bola juga demikian. Apakah untuk membuka segel ini juga sama? Harus menggunakan sihir elemental?


"Hm ... coba pikir, elemen apa yang biasanya dilambangkan dengan warna biru langit seperti ini?" ucap Zovras mengerutkan dahinya berpikir.


"AIR!" teriak Zeon.


"Got it! Tepat sekali," sahut Zovras sembari menjentikkan tangan tanda kejeniusan.


"Benar sih, tapi bisa tidak kalau berbicara dengan antusias itu jangan berteriak? Telingaku rasanya ingin meledak mendengar suara nuklirmu!" ucap Axel julid.


"Hehehe." Zeon menyengir.


"Hey, stop it boys! Let me try my power!" Zovras merapalkan mantra sihir air.


Air mengalir indah memenuhi motif pada permukaan bola. Cahaya biru kehijauan berkilau, sehingga keindahannya terpancar ke seluruh arena. Seluruh penonton terkagum melihat cahaya itu. Seekor ular bersayap putih yang begitu imut muncul bersamaan hilangnya cahaya. Ia membuat tim Zovras terheran dan lengah, hingga berhasil melarikan diri dari mereka.


"Axel! Tangkap dia!" ucap Zovras spontan.


"Marionette Thread!"


Benang emas muncul dan memelesat ke arah makhluk kecil itu. Benang itu bergerak dengan cepat, menghujam, dan berhasil menangkap ular imut bersayap itu. Namun, penyerang Zovras sebelumnya berulah lagi, ia menyerang benang Axel dengan sambaran petir hingga putus.


"Axel kejar dan tangkap hewan itu!" titah Zovras.


Axel mengangguk, ia melebarkan sayap dan memelesat terbang mengejar ular kecil itu. Kejaran Axel tak semudah yang dibayangkan, penyerang itu kembali memojokkannya dengan sambaran petir. Axel berhasil menghindari maut, serangan-serangan baru dihalau Zovras dengan lincah.


Zovras semakin kesal melihat tindakan kotor itu. Ia mereplika diri menjadi tiga. Dua replika elemen angin dan air berkolaborasi menghalau dan menyerang balik. Tepat sasaran, ia terpental jauh dari pegasus. Zovras memanfaatkan kesempatan itu untuk menyuruh Zeon memanggil Falcon dan mereka terbang menyusul Axel.


Setelah keluar dari selubung arena, Zovras, Zeon, dan Wolfe kini mengedarkan pandangannya mencari Axel. Mereka menemukan dirinya terdiam di atas karang terjal, memandangi benang emasnya berkelap kelip.


"Axel, bagaimana?" ucap Zeon.


Axel menggelengkan kepala, menandakan dia gagal menangkap hewan itu.


"Ck ... bagaimana bisa kau gagak menangkap hewan kecil itu? Dasar tak berguna!"


Hello! Orang yang satu-satunya cocok dikatakan tak berguna itu kau serigala tolol, batin Zeon. Axel menghela napas, merasa kecewa karena tak bisa mengatasi hal kecil itu.


"Hm ... sudahlah, ayo Axel! Save your energy and join us here," ucap Zovras.


Axel terbang mendekati mereka. Duduk tepat di belakang Wolfe. Zeon memandu burungnya melewati hutan Well of Time. Tiba-tiba, benang Axel kembali bercahaya, jauh lebih terang dari sebelumnya. Zovras melihat perubahan itu, seakan memberi tanda kepada Axel untuk melepaskan kekuatan marionette-nya. Dua jam berlalu semenjak mereka mengudara keluar dari lapangan arena, penglihatan mereka malah tertuju ke sebuah benda yang menggantung di atas pohon dekat sumur waktu, bergerak-gerak.


"Zovras, coba lihat ke sana!" ucap Wolfe, "Ada sesuatu bergerak."


"Hm ... iya. Itu bergerak, mungkin itu hewan yang kita cari. Ayo mendarat!" sahut Zovras.


Zeon mengarahkan burungnya mendekat. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat segerombolan wanita yang terkurung di dalam jeratan. Mereka turun dari Falcon dan secara ajaib tunggangan mereka menghilang. Kegilaan wolfe kambuh lagi saat memandang semua gadis cantik dan menawan itu.


"Waduh, awo! Ada wanita cantik nih," goda Wolfe.


Bug! Pukulan keras berhasil mendarat di kepala Wolfe. "Dasar serigala mesum! Kebiasaanmu kambuh lagi!"


Wolfe menggeram. "Telinga panjang sialan! Selalu menggangguku! Apa, sih, maumu! Jangan-jangan kau suka kepadaku, makanya selalu mencampuri urusanku!" tuduh Wolfe, taringnya muncul.


"Dih, najis! Tingkat kepedeanmu melebihi pecundang yang tak tahu malu!" balas Zeon sambil melipat tangan—sombong.


"APA! SINI KAU BERENGSEK!"


Wolfe mengeluarkan taring dan cakar buas serigalanya. Ia mengejar Zeon dengan ganas, tak menghiraukan wanita cantik yang masih menggantung di sana. Zeon menghindar, berlari sekencang mungkin dari amukan serigala itu. Zovras semakin kesal, ia merapalkan mantra tanah dan membuat mereka tersandung. Para gadis tertawa dan mereka menunduk malu.


"Hey, boys! Kalian datang ke sini niatnya hanya melihat atau menolong? Pegal nih, jangan seperti boc—"


BRUK!


Belum sempat Lily bernapas, Axel menggunakan kekuatannya. Menembakkan laser benang emas dan memutus tali ikatan itu. Mereka semua terempas ke tanah, Lily kesal karena tidak diingatkan terlebih dahulu.


"Keparat! Bukannya diberi aba-aba, malah menjatuhkan orang seenaknya. Sini kau!" ucap Lily mendekati Axel.


"Hm ... mau apa?" sahut Axel.


"Su-sudahlah Lily, yang terpenting kita selamat," ucap gadis berkulit seputih salju itu.


"Argh!" Lily mengempaskan tangan Lavina dan melepaskan diri, kemudian menepuk lengannya beberapa kali sembari menatap Axel kesal. Merlin juga melakukan hal yang sama dari balik punggung sang kapten.


"Awas saja kalau ketemu lagi, lain kali tak ada ampun bagimu!" ancam Merlin.


"Yah, sama-sama. Aku anggap itu ucapan terima kasihmu!" ucap Axel sembari berbalik badan. "Ayo, kita segera berangkat!"


"Lalu, mereka bagaimana?" tanya Wolfe heran.


"Mereka sudah aman, apalagi ada Lily. Cewek liar paling parah di akademi."


Akhirnya Zeon memanggil lagi hewan kontraknya, Falcon Autumn, untuk membawa mereka kembali mengikuti jejak sang ular. Mereka naik satu per satu, sementara Wolfe masih menggoda gadis yang tengah sibuk membersihkan seragamnya.


"Wolfe, sudahlah! Ayo, waktu kita tak banyak!" teriak Zovras.


Wolfe memberikan salam perpisahan kepada para gadis. Matanya berkedip sengaja, respons yang ia dapat tak semanis perlakuannya.


"Kami pergi dulu, kalian berhati-hatilah, dan kamu Zaadia manis, jangan marah lagi, ya! Nanti cantiknya luntur, loh." Ucapan manis Wolfe berhasil membuat gadis itu tersipu malu, meskipun tangannya masih mengepal kuat karena kesal.


Wolfe lalu melirik Lavina beberapa saat. Zeon melihat gadis yang dipandangi Wolfe itu malah melirik Axel yang baru saja menaiki Falcon. Ia menahan tawa, betapa sakitnya hati teman serigalanya itu jika tahu kenyataan yang sebenarnya.


"Ayo, Serigala Genit!" teriak Zeon.


Wolfe mendadak kesal kembali mendengar suara Zeon, seakan-akan mendengar suara  musuh di pertarungan. Ia menggeram, kemudian berlari menaiki Falcon. Tampaknya ia ingin segera membalas perbuatan Elf itu. Namun, Zeon malah mengerjainya. Belum lagi benar pada posisinya, Zeon mengarahkan burungnya terbang. Wolfe terpeleset dan terjatuh.


"Menyebalkan! Sungguh beban," ucap Axel sembari menggunakan kekuatannya menangkap kaki Wolfe dan membiarkannya bergelantungan. Para gadis itu kembali menertawainya, betapa malunya Wolfe. Ia berjanji dalam hatinya akan membalas perbuatan Elf nakal itu.


 "Woi, kalian yang di atas! Apa masih jauh lagi? Tanganku pegal bergelantungan di sini dan sekarang kita sudah memasuki wilayah petir abadi. Apa kalian tidak kelelahan?" rengek Wolfe.


"BERISIK! BERTAHANLAH DI SANA SERIGALA LEMAH!"


"KEPARAT KAU TELINGA PANJANG SOK TAMPAN! AWAS AJA KALAU SUDAH TURUN, YA!"


"APA? AKU TAK MENDENGAR SUARAMU! PELAN SEPERTI PUTRI MALU!"


"AWAS NAN—"


Belum sempat menuntaskan omongannya, Zeon meminta hewan kontraknya memutus benang Axel. Wolfe jatuh dan tercebur ke dalam sungai.


"Ups! Maaf sengaja, tapi jauh lebih baik, 'kan? Mulut kotormu menjadi lebih wangi karena sungai itu," ucap Zeon sambil tertawa.


Mereka perlahan turun tepat di daratan dekat Wolfe jatuh. Axel, Zovras, dan Zeon turun bergantian. Setelahnya Falcon Autumn milik Zeon menghilang. Zovras yang melihat raut murka Wolfe akhirnya mendekati Zeon untuk berjaga-jaga apabila terjadi perkelahian.


"Minggir, Zovras!"


Zovras hanya diam di tempat. Tak memberikan respon sedikit pun.


"Minggir, aku bilang minggir, Zovras bajingan!"


"Apa kau bilang?" Zovras merapalkan mantra angin dan air bersamaan. Melesatkan tinju kolaborasi angin dan air. Wolfe terpental jauh, terus menerus, sesering apapun berusaha bangkit.


"Sepertinya kau perlu diajari sopan santun, Wolfe. Amarahmu juga tak terkontrol. Bahkan tindakanmu seolah tak menghargai aku, kakak tingkatmu di akademi. Majulah! Akan kubuat kau sadar akan kesalahanmu!" ucap Zovras jauh lebih serius.


Wolfe kelelahan dan lebih memilih diam. Ia tak ingin menghabiskan tenaganya untuk pertarungan yang jelas bukan tandingannya. Wolfe bersumpah akan merobek-robek mulut Elf itu. Belum pernah ada yang menghinanya separah Zeon.


Tunggu waktumu, batin Wolfe sembari menyeringai jahat.


Wush! Wush! Wush!


Tiba-tiba kepakan ratusan sayap terdengar mendekat. Pusat perhatian mereka beralih ke arah langit utara, tempat di mana suara itu berasal. Mereka semua saling mendekat agar lebih mudah bekerja sama nantinya. Sekawanan burung hitam legam mulai terlihat di angkasa. Matanya merah dengan sedikit warna emas di paruhnya. Cakarnya setajam serigala dengan serbuk aneh menyebar bersama kepakan sayapnya.


"Gawat! Kita dalam bahaya," ucap Zovras tiba-tiba memecah keheningan.


"Gawat? Itu hanya kawanan burung lemah. Kau terlalu berlebihan, atau jangan-jangan kalian emang lemah," balas Wolfe meremehkan.


"Dasar bodoh! Kau terlalu meremehkan kawanan burung Haireat itu. Kalian berhati-hatilah," sahut Zovras bersamaan dengan ia mereplika diri. Axel dan Zeon bersiaga, sementara Wolfe jauh lebih santai.


"Huh! Kita lihat saja nanti siapa yang bodoh!"