
Catch the Klorofox
BUNYI SERANGGA-SERANGGA MALAM menjadi soundtrack perjalanan Irish dan tim ke dalam hutan. Beberapa kali Lily mengeluhkan hewan kecil tersebut, yang tidak lain adalah si pengisap darah, yaitu nyamuk. Bahkan Merlin beberapa kali menggaruk kulit kepalanya yang sudah bentol karena gigitan serangga kecil itu.
“Bukannya menemukan Klorofox, malah kita yang ditemukan oleh kawanan nyamuk,” keluh Lily menggaruk lehernya. “Lady belum mengirimkan sinyal keberadaan Klorofox juga.” Dia melirik kilau licin kepala Merlin di depannya sedang dihinggapi seekor nyamuk, Lily memukulnya tanpa dosa.
Merlin yang terkejut karena rasa sakit yang diterima, langsung menoleh. “Untuk apa pukulan itu!” berang Merlin, alisnya mengerut seperti karet lesu.
Lily menunjukkan nyamuk mati yang sudah pipih menempel di tangannya. “Ada nyamuk di kepalamu. Hehehe.” Lily hanya menyengir.
Merlin melotot, kemudian menutupi kepalanya dengan jubah yang dikenakan dan melanjutkan langkah. Merlin yakin sekali, kalau jalan yang sedang mereka lewati adalah jalur yang sebelumnya dilewati dengan Irish. Namun, tidak ada ada tanda-tanda keberadaan Klorofox di sana. “Sepertinya rubah itu sudah terbang jauh.”
“Kau yakin? Jangan-jangan kamu hanya berhalusinasi tadi!” Lily menepuk bahu Merlin.
“Tidak mungkin aku dan Irish berhalusinasi hal yang sama! Lihat!” tunjuk Merlin pada dahan-dahan patah yang tadi dia buat. Di bawah situ, ular besar yang sebelumnya menyerang Irish dan Merlin sudah tidak ada.
“Sepertinya ular sanca barusan sudah pergi,” kata Irish setengah berteriak. “Jangan-jangan dia mengejar Klorfox!” Irish makin panik.
“Memangnya itu apa?” Vina mendekat pada dahan-dahan yang berantakan di hadapan Merlin.
“Tadi ular itu terjebak di sini,” jawab Merlin singkat, lagi-lagi menepuk nyamuk di wajahnya.
Bersamaan dengan itu, Vina mendapatkan sinyal pesan dari Riger. “Klorofox ada di pohon dengan daun warna-warni dan buah bercahaya,” terang Vina.
“Baiklah, kalau begitu kita menuju arah timur dan mencari pohon berwarna-warni!” titah Lily berbelok ke sebelah kanan, memotong jalan dengan mengendalikan semak-semak, sehingga terbuka lintasan jalan yang luas. “Ayo! Lewat sini!” Lily berlari lebih dulu diikuti oleh Irish dan yang lain. Untung saja Lily memiliku bakat untuk mengendalikan tanaman, jalur yang tadinya ditutupi oleh semak atau pohon, dapat dibuat menjadi lebih luas.
Lily menepuk bahu Vina, memintanya untuk bertanya pada Riger lagi lokasi Klorofox. Dia ingin memastikan rubah hijau yang diincar tidak pergi lebih jauh. Ternyata lolongan Merlin dibalas dari arah yang berbeda!
“Kita salah jalan Lily!” Vina panik.
“Aku akan memastikan lokasi dulu!” Vina mengembangkan sayap kelabunya, gadis pirang itu memelesat ke atas dan mengambang beberapa saat di antara puncak pepohonan. Dia menoleh ke kanan dan kiri, tidak lama dia berteriak tidak jelas dengan menunjuk ke arah tenggara.
“Turunlah, aku tidak dapat mendengarmu!” panggil Lily, yang dipanggil pun turun perlahan dengan lembut.
“Aku melihat pohon-pohon dengan daun banyak warna dan bercahaya di arah sana,” tunjuknya ke arah tenggara. Timnya mengangguk. Lily kemudian memanggil Lady untuk kembal menuntun.
“Irish, lihat! Keluargamu!” Lily mendorong Irish mendekat pada pohon dengan daun warna-warni itu. Mata Irish langsung tertuju pada buah di tengah daun berwarna biru, ungu, dan putih. Rupanya buah ketapang. Buah itu menyala seperti lampu kecil yang berpendar-pendar.
“Sialan! Aku harus bilang berapa kali kalau aku tidak lahir dari biji ketapang!” Tanduk ranting Irish langsung tumbuh, pipinya mengembung saat marah. Lily puas menertawakan respons Irish yang diledeki. Klorofox yang bertengger di pohon, menoleh pada keributan yang tertangkap oleh telinga panjangnya.
“Sudah-sudah, ini bukan waktunya bercanda!” Merlin melerai kedua gadis di hadapannya. Lily menghapus air matanya yang mengintip di pelupuk mata karena terbahak-bahak. Irish masih dengan raut wajah yang sama menatap Lily, heran.
“Lihat!” tunjuk Vina. Ternyata, Klorofox terbang membelakangi mereka.
“Ini karena kalian terlalu berisik!” Merlin emosi. Dia melempar bola api pada Klorofox. Binatang ajaib itu berbalik dan melolong, lolongan itu sangat keras hingga mampu menyapu segala yang ada di depannya,. Irish dan teman-temannya terdorong gelombang suara sampai jatuh. Mereka berpegangan pada batang pohon atau batu di dekat sana.
“Merlin, jangan memperparah keadaan!” Vina ikut kesal, baru kali ini Irish melihat teman lembutnya itu marah.
Merlin menatap Vina kecut. “Kalau begitu, lakukan sesuatu!” Merlin berteriak lagi. Tiba-tiba Riger datang menyerang Klorofox dari atas dengan cakar di kedua kakinya dan menggigit hidung si rubah.
“Bagus, itu cukup membantu.” Merlin melihat kedua hewan itu saling menyerang. Klorofox menjerit kesakitan beberapa kali karena gigitan Riger.
Lily seketika melebarkan matanya. “Vina, suruh Riger untuk melepaskannya! Biar Lady yang mengurus mamalia nakal itu.” Lily melepas Lady, kepik itu dijadikan umpan untuk Klorofox yang sudah lepas dari elang perkasa Vina. Bibir Klorofox meneteskan liur, lidah hijaunya menjilat liur yang nyaris jatuh saat melihat Lady di ranting kecil. Kumbang merah itu membuka-tutup sayapnya, menggoda Klorofox untuk menyantapnya.
“Kau gila, ya? Mengumpankan hewan kontrakmu?” Merlin melirik Lily, tetapi empunya tampak tidak peduli.
“Irish, ketika rubah itu terbang mendekat, jerat dengan sulurmu!’ Lily terdengar optimis, dia punya rencana untuk menangkap hewan elemen nakal ini.
Klorofox mengendap-endap mendekati Lady, serangga mungil berbintik itu masih membuka-tutup sayapnya. Lily menyeringai, memberi aba-aba pada Lady dengan telepati agar terbang saat Klorofox sudah tergoda. Katika Klorofox hendak menyantap Lady dari belakang, kepik merah itu memelesat menuju Lily, sayap kecilnya mengepak-ngepak cepat. Irish bersiap dari balik pohon, menyiapkan sulurnya dari balik kemeja. Begitu Lady lewat, Klorofox juga terbang melewati Irish, perempuan kecil itu langsung melontarkan sulur tanamannya. Sulur hijau itu mengikat kaki Klorofox. Karena terus melawan, Irish kewalahan menarik hewan itu. Vina dan Merlin dengan sigap membantu, keduanya memegang sulur Irish dan menariknya bersama Irish.
Saat jarak hewan itu sudah dekat dengan Irish, Lily mendekat dengan sangkar buatannya. Sangkar itu terbuat dari ranting-ranting tanaman yang disatukan sedemikian rupa. Irish mengarahkan tangkapannya pada sangkar, lalu melepas sulur dengan cepat sebelum Lily menutup sangkar untuk mengurung Klorofox.
“Kerja bagus, Tim!” pekik Liy bersemangat. Dia angkat tinggi-tinggi sangkar dengan Klorofox yang memberontak.
“Kamu yakin sangkar itu cukup kuat?” Irish merapikan sulurnya sebelum masuk kembali ke lengan baju.
Lily mengangguk yakin. “Aku yakin ini cukup kuat, semua ranting itu sudah menyatu tanpa diikat.” Gadis itu kembali memamerkan sangkar buatannya. Ketiga anggotanya melihat dengan saksama.
“Baiklah, sangkar ini terlihat meyakinkan.” Merlin mengakui hasil karya Lily. “Kerja bagus, Tim!” Perempuan botak itu tersenyum bangga.